KulturSemarak Ramadhan

Haroa Tradisi Masyarakat Muna Sambut Ramadhan

×

Haroa Tradisi Masyarakat Muna Sambut Ramadhan

Sebarkan artikel ini

Muna, suarakendari.com-Setiap menjelang bulan suci Ramadhan Waode Rulia nampak akan selalu sibuk menyiapkan aneka penganan khusus yang tentunya disimpan dalam nampan (talang) yang juga khusus. Ibu dua anak ini seolah meneguhkan diri meneruskan  tradisi leluhurnya dengan penuh suka cita bersama keluarga di desanya .

Ya, Dalam tradisi leluhur masyarakat Muna, memasuki bulan suci Ramadhan akan dilakukan baca baca Haroa, yang mewakili filosofi keutuhan tubuh manusia. Haroa Tembaha Wula, atau yang berarti meneropong bulan, menandakan dimulainya Ramadhan yang suci. Tradisi ini tak lepas dari hidangan aneka makanan yang disimpan dalam talang khusus haroa.

Talang haroa yang terdiri dari berbagai jenis makanan, seperti ayam kakele, ayam kahole, telur singanga, telur rebus, lapaa2/ketupat, cucur, waje, srikaya, ngkea ngkea, pisang goreng utuh, nasi yang ditutup dengan telur dadar, dan pisang raja dua sisir, memiliki makna simbolis yang dalam dalam tradisi Muna.

Tradisi haroa pada dasarnya mewakili seluruh bagian tubuh manusia, mulai dari kaki hingga kepala. Namun, di dalam talang haroa masih terdapat dua item yang belum tergambar, yaitu pisang goreng utuh dan mbalo.mbalo. Untuk lebih memahami makna filosofis yang terkandung dalam talang haroa, dibutuhkan pemahaman yang lebih mendalam dari ahli.

Ramadhan sebagai bulan suci memang selalu dirayakan dengan penuh kegembiraan. Seluruh umat Muslim di seluruh dunia berpuasa sebagai tanda penghormatan dan cinta kepada Allah. Dalam menjalankan ibadah puasa ini, diharapkan kita bisa menyadari kebersamaan dan keutuhan sebagai manusia. Seperti halnya dalam talang haroa, tidak ada satu bagian tubuh manusia yang lebih penting dari yang lain.

Semoga seluruh umat Muslim dapat menunaikan ibadah puasa dengan lancar dan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT. Mari kita memaknai filosofi keutuhan tubuh manusia yang terkandung dalam talang haroa sebagai pengingat sebagai umat manusia, kita tidak bisa hidup tanpa adanya kebersamaan dan saling bantu membantu. Konsep kebaragaman dan persatuan harus tetap terjaga, serta selalu mengedepankan nilai kebersamaan. Sebagai manusia, kita harus saling bersinergi dan bersatu untuk mencapai tujuan yang sama.

Bagi umat Muslim, Ramadhan adalah saat paling suci untuk merefleksikan diri, memperkuat iman, dan memperbaiki diri. Mari kita belajar untuk menerima kebersamaan dan perbedaan, serta menghargai sesama manusia. Dalam bulan Ramadhan ini, marilah kita mengilhami nilai kearifan lokal yang terdapat dalam talang haroa di tradisi leluhur orang Muna sebagai wujud cinta kita kepada Allah dan sesama manusia. Semoga Allah meridoi dan memberikan keberkahan pada seluruh umat Muslim di seluruh dunia. Selamat menunaikan ibadah puasa dan semoga Allah SWT senantiasa memberkahi kita semua. SK

Dokumen Foto: Waode Rulia/ Fb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *