Humaniora

Ngamen untuk Sekedar Makan dan Sebotol Bensin

×

Ngamen untuk Sekedar Makan dan Sebotol Bensin

Sebarkan artikel ini

 

Saat lampu merah menyala, empat anak muda bergerak, mengucap salam pada semua pengendara. Seorang dari mereka memetik gitar, dua lainnya bernyanyi dengan suara tak merdu. Tak semua lagu bisa selesai dinyayikan sesuai durasi, karena mereka harus berkejaran dengan waktu. Keempatnya hanya membutuhkan satu menit sebelum lampu hijau menyala. Saat hijau para pengamen ini kembali ke taman bunga dekat pembatas jalan. Wajah cemas juga menggelayut, was-was melihat kemungkingan adanya petugas sosial berazia.

Di wajah mereka ada tindik dan berhias tato. Kostum yang digunakan pun unik, sebagian bersepatu boot, celana berhias tantai, berkaos hitam hitam. Mirip anak anak funk. Dari tampilan, Mereka bukanlah orang orang lokal, melainkan pendatang yang sengaja mampir untuk mengais rezeki di lampu merah. Sebagian adalah pemotor vesva ektrim yang melintas antarwilayah.

Sebagain dari jawa dan sumatera. Penomena pengamen nomaden memang tengah menghingga sebagaian generasi muda Indonesia. Mereka bergerak dari kota kota besar menyebar ke kota kota kecil. Mereka bergabung dalam komunitas motor tertentu dalam jumlah kecil.

Mereka mengandalkan jalanan sebagai ladang mengais cuan. Bukan untuk kaya, tapi sekedar bertahan hidup. Uang yang dikumpul cuman sekedar pembeli makan dan membeli sebotol bensin untuk motor mereka. Kehadiran komunitas ini di Kendari memang tak lama. Ada yang ngamen sebulan, lalu bergerak ke kota lain. Di kendari mereka mengais rejeki di lampu merah, salah satunya lampu merah MC Donald. Mereka memarkir motor seadanya di pinggir trotoar.

Munculnya fenomena pengamen nomaden pemotor antarkota di jalanan tidak semata-mata karena faktor kemiskinan. Namun, fenomena tersebut muncul karena gaya hidup serta tidakadanya lapangan pekerjaan untuk mereka. Dengan mengamen akan lebih mudah mendapatkan uang tanpa mengeluarkan banyak tenaga.

“Ada anggapan bahwa pengamen itu cuma untuk orang yang ndak mau kerja keras. Alasan kenapa Saya ngamen karena sampai saat ini  belum dapat pekerjaan. Saya baru aja resign dari tempat kerja beberapa bulan yang lalu. Karena beban terlalu berat sedangkan gaji terlalu enteng. Dibandingkan ngamen sama kerja.Seya lebih memilih kerja. Ngamen hasilnya ndak seberapa. Belum lagi kalo ada orang yang iba. Rasanya pengen ketawa. Nangis. Saat ini Saya bertahan hidup dari hasil ngamen. Tapi ngamen juga ndak buruk buruk amat ada kesan manisnya juga. Hidup dijalan pasti bakal menemukan beragam manusia. Dan dapat ngilangin stress sejenak,”ungkap Hendra salah satu pengamen skaligus pemotor antik antarkota.

Nah yang menarik kehadiran pengamen nomaden ini rupanya salah satu  cara bertahan hidup atau survive bagi para  pemotor antarkota atau lazim disebut komunitas vespa underground. Aliran ini disinyalir sudah hadir di Indonesia sekitar awal 2000an. Pada tahun tersebut memang muncul beragam modifikasi motor merek Italia tersebut dengan cara di luar “kewajaran”.

Misalnya modifikasi “panjang”, atau Vespa dengan penambahan sasis sehingga panjangnya bisa di atas 1 meter atau di luar standar.

Lalu chooper, berikutnya sespan dengan beragam bentuk mulai dari standar, ‘rumah’ hingga menyerupai tank. Kemudian trikel (tiga roda), hingga gasrux atau ceper.

Komunitas tersebut biasanya juga tergabung dalam sejumlah komunitas dan doyan touring. Mereka kerap melakukan touring jarak jauh dengan jarak lebih dari 1.000 km, bahkan hingga keliling Indonesia.

Dalam perjalanan itu kemudian mereka mendapat banyak barang dan digantung atau ditempel pada bodi motor, seperti halnya stiker, kalung rantai, bendera, dan souvenir hingga barang-barang yang tidak lumrah dipasangkan di motornya.

Sedangkan, penamaan identitas Vespa gembel ini sendiri sercara sudut pandang sejarah mungkin dikarenakan mereka selalu terlihat lusuh, urakan dan kumal secara penampilan kendaraan dan pengendara, meski dalam modifikasinya, si pemilik tetap memasang lampu-lampu sebagai standar keselamatan berkendara dan tetap menggunakan helm.

Pergeseran makna

Saat ini banyak pelaku atau penggemar Vespa yang menilai ada pergeseran makna dari istilah ‘gembel’ pada Vespa.

Dahulu pengendara Vespa gembel lebih punya gaya terlihat apa adanya, tidak dibuat-buat. Selain itu perangkat yang dipasang pada Vespa memang memiliki dan mengandung nilai berkesan bagi mereka.

Vespa gembel pada awalnya tetap mengemas modifikasi secara utuh dari segi bodi.Sementara saat ini hal tersebut tampak tidak “laku”.

Penganut Vespa gembel masa kini banyak yang ‘menghancurkan’ bodi sepeda motor dengan berbagai cara agar terlihat rusak dan lusuh karena kehadiran barang-barang tidak lazim.

Penganut Vespa gembel cenderung mengambil barang apapun di jalan yang sekiranya pantas untuk ditempelkan pada bodi kendaraan, mengutip Scooteriarim Bobujang.

Dan yang terpenting, mereka juga terkenal memiliki solidaritas tinggi pada sesama. Sk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *