Humaniora

Perempuan Perempuan Penyapu Jalan

×

Perempuan Perempuan Penyapu Jalan

Sebarkan artikel ini
Ibu penyapu jalan di jalan baypass Kota Kendari

Ida, perempuan parubaya baru saja menyelesaikan separuh dari pekerjaan sebagai penyapu sampah di sepanjang jalan dan trotoar baypass di sisi Teluk Kendari. Sisa tenaganya disimpan dengan berehat sejenak, sembari duduk dipinggir trotoar melihat lalulalang kendaraan. Beberapa saat wajahnya memaling  ke arah halte bus, dua puluh meter dari tempatnya duduk. Ibu tiga anak ini, seperti ingin memastikan tidak ada lagi sampah yang berserakan di sana.

 

Baginya, area itu menjadi paling sering dan paling banyak ditemukan sampah bekas kemasan makanan dan sampah botol minuman. “Sudah bagian ini yang paling banyak sampah,”kata Ida.

Sampah-sampah itu  berasal dari ‘sumbangan’ para pengunjung dan pedagang kaki lima yang setiap malam berjualan di sepanjang baypass.

Dan siapa menyangka dan mungkin banyak warga yang tak mengetahui jika bersihnya jalur baypass ( terkhusus trotoar) depan hotel claro hingga pertamina jalan teratai adalah bagian kerja kerasnya.

Keluh kesah soal sampah seperti sudah hilang dari kamus hidupnya selama kurang lebih empat tahu menjani lakon sebagai pembersih jalan dan trotoar di kendari. “Ngeluh pernah, malah sering  Mau bagaimana lagi, pastinya semua sampah harus dibersihkan, ,”ujarnya.

Aktifitas membersihkan jalan juga dilakukan beberapa perempuan di sepanjang jalan protokol Jalan MT Haryono, Kawasan Kemaraya dan Keluarahan Watuwatu Kota Kendari. Sejak selepas subuh mereka mulai bekerja membersihkan dedaunan dan sampah air kemasan. “Ini sudah menjadi pekerjaan rutin Kami setiap pagi,”kata salah  diantaranya. Apalagi pada minggu malam di akhir februari, angin kencang baru saja berlalu menyisakan banyak dedaunan pohon yang rontoj di sepanjang jalan.

perempuan penyapu jalan di Jalan MT Haryono, kendari

Bagi Ida dan kawan-kawan bekerja membersihkan sisa sampah mungkin bagian dari kewajiban dirinya, namun, jika saja warga pengunjung dan pedagang bisa bersatu melawan sampah, maka secara tidak langsung juga membantu meringankan bebannya dan semua tenaga pembersih kota.

“Kesadaran warga akan sampah di kota ini masih minim, mereka masih saja membuang sampah sembarangan, walau sebenarnya pemerintah sudah menyediakan tong sampah,”Ida mencoba berpendapat.

Masalah sampah di kota kota besar seolah tidak ada habisnya. Kesadaran public akan kebersihan ibarat jauh panggang dari api.

Kisah ibu Ida setidaknya memantik empati banyak pihak, dan tak sedikit dari mereka yang mengingatkan agar membangun kebersamaan dalam melawan sampah.

“Sampah adalah musuh bersama di kota ini. Nah bagi siapa saja pengunjung atau yang berdagang di sepanjang baypass mungkin bisa membantu meringankan beban kerja para pembersih sampah dengan mengumpulkan, mengemas dan membuang sampah di tong sampah yang sudah disediakan pemerintah, atau kalo belum ada (mungkin) Anda bisa menyediakan tong sampah sendiri di dekat jualan Anda.  Jangan biarkan tenaga pembersih sampah membersihkan kota ini sendiri,”kata Fian, salah satu pemerhati masalah sampah di Kendari.

Seperti diketahui, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut, saat ini Indonesia menghasilkan  sekitar 64 juta ton sampah setiap tahunnya. Dari jumlah itu, sekitar 60 persen sampah diangkut dan ditimbun ke TPA, 10 persen sampah didaur ulang, sedangkan 30 persen lainnya tidak dikelola dan mencemari lingkungan.

sampah di bibir teluk kendari. foto: Joss

Di Kota Kendari sampah menghasil 250 ton setiap hari yang dihasilkan dari sampah rumah tangga, limbah pabrik dan  dihasilkan dari pedagang.  Dari jumlah itu, sampah yang disumbang paling besar adalah sampah plastic.

Sampah plastik kini sudah menjadi ancaman besar bagi kehidupan manusia. Dan ini menjadi tantangan utama bagi pengelolaan sampah di kota ini.

Jumlah produksi dan konsumsi plastik setiap tahunnya terus meningkat, dan kian parah karena  tidak diikuti dengan proses daur ulang yang memadai.

Parahnya, sampah-sampah yang tidak terkelola dengan baik ini, berakhir di lautan. Diketahui bahwa sekitar delapan juta ton sampah plastik masuk ke laut setiap tahun—mengancam kehidupan yang berada di dalamnya. SK

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *