Humaniora

Terbentur di Tanah Kapita

×

Terbentur di Tanah Kapita

Sebarkan artikel ini
Petani Kopra Wawonii. foto: Joss Hasrul

KERESAHAN tergambar jelas di wajah Rahmat (68 tahun). Masalahnya, tanah tempat rumahnya berdiri selama berpuluh tahun tak akan pernah Ia miliki secara permanen. Rahmat dan umumnya warga di Kelurahan Munse terbentur status tanah yang mereka tempati. Tanah-tanah itu diklaim milik ahli waris Kapita Wawonii. Kapita /Lakino/ Mokole/Tawe  adalah julukan para raja atau penguasa di masa lampau.

Rahmat mengaku, dahulu penduduk Munse banyak berdiam dipinggiran pantai, namun dalam perkembangannya, seiring bertambahnya jumlah penduduk, Kapita Wawonii kemudian  memerintahkan sebagian penduduk untuk membuka lahan baru yang terletak dekat kawasan hutan. Di sana, warga membangun rumah dan diperbolehkan menanam tanaman jangka panjang seperti kelapa dan pala, sehingga kedua komoditi tersebut mendominasi tanaman petani sampai sekarang.

Nah, karena status tanah adalah tanah adat, maka  warga tidak diperkenankan diperjualbelikan lahan yang ada. Terlebih saat pemerintah menawarkan program sertifikat lahan PRONA, banyak warga Munse yang mengurungkan niat mensertifikasi lahan mereka. Kata Rahmat, ini situasi yang cukup dilematis bagi warga. Walau sebenarnya sudah banyak warga yang tidak lagi ambil pusing, mereka bahkan ada yang memperjualbelikan karena terdesak berbagai macam kebutuhan.

Selama berpuluh tahun, warga di Wawonii Timur Laut menggantung hidup mereka pada tanaman tumbuh. Mereka mengelola dan memanfaatkan hasil pertanian sesuai kebutuhan. Ada kelompok masyarakat yang menggunakannya untuk keperluan subsisten atau dikonsumsi sendiri, dan ada untuk dijual.

Usman petani di Desa Munse yang memiliki 1000 pohon kelapa dan ratusan pohon pala, misalnya, memanfaatkan hasil bumi sebagai kebutuhan pangan sekaligus di jual untuk kelangsungan hidup dalam jangka panjang. Berkat perkebunan, Usman dapat meneruskan hidup dan menyekolahkan anak-anak mereka hingga ke perguruan tinggi.

Usman  mengaku memanen tanaman palanya setiap setahun sekali, dan dapat menghasilkan 200 Kg. Itu belum dihitung Sedangkan produksi kelapa yang berlansung setiap tiga bulan sekali. Di desanya, kata Usman, setiap warga dapat menghasilkan kopra antara 5-8 ton per sekali masa panen.

“Saya sendiri dalam sehari dapat mengolah kopra hingga 100 Kg,”ungkapnya.  Untuk menjadi kopra melalui beberapa proses tahapan, diantaranya pengupasan kulit, kemudian membagi dua batok kelapa lalu diasapi di atas perapian. Proses selanjutnya daging kelapa dipisah dari batok hingga akhirnya daging kelapa dijemur  dan siap jual. Sayang harga kopra dirasakan warga sangat kecil, yakni  hanya 500 ribu rupiah per seratus kilo gram atau 500 rupiah per kilo gram. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *