Kultur

Mengenal Tradisi Pekambu-kambua, Tradisi 15 dan 27 Ramadhan di Buton

×

Mengenal Tradisi Pekambu-kambua, Tradisi 15 dan 27 Ramadhan di Buton

Sebarkan artikel ini

Baubau, suarakendari.com-Tradisi pekambu-kambua yang masih dilestarikan oleh warga Kelurahan Kaobula, Kecamatan Batupoaro, Kota Baubau. Tradisi ini telah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu dan dilakukan dua kali dalam sebulan Ramadan, yaitu pada saat qunut atau 15 puasa Ramadan, dan pada malam qadiri 27 Ramadan. Anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok untuk melakukan tradisi ini, dan tiap bulan Ramadan masyarakat sangat antusias dan bersemangat menantikan tradisi ini. Yang menarik, lirik dari tradisi pekambu-kambua ini menggunakan bahasa Wolio kuno yang tidak banyak dipahami oleh masyarakat saat ini. Namun, anak-anak yang datang untuk melakukan tradisi ini selalu membawa kotak sumbangan yang akan diberikan dari tiap rumah yang mereka datangi.

Secara harfiah, Pekambu-kambua merupakan nama tradisi yang dilakukan oleh warga Kelurahan Kaobula. Namun, tradisi ini tidak hanya sekedar memainkan alat musik tradisional, tetapi juga membawa kotak sumbangan dari rumah ke rumah. Oleh karena itu, tradisi ini memberikan makna dari segi sosial yang menekankan pentingnya gotong-royong dan saling membantu antara sesama anggota masyarakat dalam hal menjaga kerukunan.

Di sisi lain, tradisi pekambu-kambua ini juga memiliki makna yang lebih luas. Meskipun lirik yang digunakan dalam tradisi ini menggunakan bahasa Wolio kuno, namun tetap mempunyai nilai-nilai yang dapat diapresiasi oleh masyarakat luas. Sekalipun berbeda bahasa dan budaya, nilai-nilai sosial dan kemanusiaan tetap senantiasa relevan dan dapat diikuti oleh semua orang.

Tradisi pekambu-kambua yang dilakukan oleh warga Kelurahan Kaobula juga menjadi cerminan bagi keberagaman dan pluralisme budaya di Indonesia. Sebagai negara dengan berbagai macam suku, bahasa, dan agama, pelestarian budaya dan tradisi seperti ini dapat menjadi sarana untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Tradisi yang disertai dengan rasa sosial dan toleransi antar sesama ini seharusnya dapat diapresiasi oleh semua orang sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.

Dalam hal ini, pemerintah dan masyarakat setempat juga memiliki peran penting dalam melestarikan tradisi pekambu-kambua. Pemerintah harus memberikan dukungan dan fasilitas yang cukup baik bagi masyarakat untuk mempertahankan tradisi ini. Selain itu, partisipasi masyarakat dalam melestarikan tradisi pekambu-kambua juga sangat penting, seperti dengan memberikan bantuan finansial atau melakukan kegiatan yang dapat memperkuat kerjasama antar warga dalam menjaga keberlangsungan tradisi.

Sebagai hasilnya, tradisi pekambu-kambua yang menjadi bagian dari seni-budaya Buton dapat terus dilestarikan dan bahkan menjadi daya tarik wisata budaya bagi Indonesia. Terlebih lagi, nilai-nilai sosial yang terkandung dalam tradisi ini dapat membawa manfaat bagi masyarakat luas, khususnya dalam memperkuat ikatan sosial dan membangun toleransi antar sesama.

Melalui pemeliharaan dan pelestarian tradisi pekambu-kambua, kita dapat memperkaya nilai-nilai budaya dan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk terus menghargai dan melestarikan tradisi-tradisi seperti ini, sebagai bagian dari kekayaan budaya yang harus dijaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *