Humaniora

Kendari Makin Kumuh

×

Kendari Makin Kumuh

Sebarkan artikel ini
Lapak pedagang kaki lima bertebaran di kawasan teluk kendari. foto: Joss

 

Setengah terburu buru tiga pemuda segera merapikan tenda, saat matahari baru saja beranjak, kamis pagi. Matanya mulai nampak sayu, efek begadang semalam suntuk. “Tidur cuman sejam, itu seperti tidur ayam,, sebentar sebentar terbangun,” mata Yanto, pedagang makanan berlabel sari laut ini.

Yanto dan dua kawannya sudah tiga tahun berjualan di sana. Ia mengambil space halaman yang cukup luas di kawasan baypass, depan sebuah stasiun pengisian baham bakar minyak. Ia berjualan selepas ashar hingga dini hari. “Pelanggan kadang baru rame kalo tengah malam menjelang pagi,”ungkapnya. Jadilah mereka harus mengikut anomali pembeli dengan ikut begadang sampai pagi.

Wajah kendari di kawasan baupass yang dipenuhi pedagang kaki lima. foto: Joss

Saat pagi itulah tenaga mereka seolah terkuras. “Jujur lemas mas, pagi maunya langsung tidur aja,”kata pria ini dengan logat jawa kental.

Masalahnya Yanto kesulitan membongkar dan menyimpan barang tenda yang ukurannya cukup besar. Apalagi sampai membawa ke rumahnya. “Cukup repot,”katanya. Jadilah bogkaran tenda disampirkan ke bawah tembok pembatas teluk.

Tak hanya tenda milik Yanto, tenda tenda serupa  tampak bertebaran di sepanjang jalur baypass. Warung tenda bahkan terpasang selama berhari hari. Bentuk bentuk bangunan pun macam-macam, dari yang bangunan tenda besi hingga warung angkringan sistem dorong.

Yanto adalah satu dari sekian ratus pedagang yang saat ini menyerbu berjualan di pinggiran teluk kendari. Kehadiran mereka bak jamur di musim hujan, tumbuh subur tiga tahun terakhir. Tak ada pelarangan. Seolah pedagang benar benar diberi ruang, sebebas bebasnya. Ya tentu saja bebas mengkapling bahu jalan dengan ukuran lahan ‘semau gue’. Pedagang makanan, kafe tenda, warung kopi, minuman tumpah ruah, campur aduk di sana.

Diperkirakan setidaknya ada seribuan orang pedagang kini berjualan di pinggir teluk. Mereka menempati seluruh trotoar jalan dari pelelangan ikan, kendari beach hingga ke arah jalan tapak kuda baypass . “Tak ada ruang bagi pejalan kaki, semua dikapling pedagang,”kata Sumarto (32 tahun), warga kendari.

Kehadiran PKL tentu bukan tanpa masalah, selain membuat wajah kota kendari semakin kumuh, mereka meninggalkan sampah yang tidak sedikit dan parahnnya sebagian pedagang maupun pengunjung mencari mudahnya dengan membuang sampah seenaknya, di teluk kendari. Sampah yang sebagian besar berbahan plastik inilah yang saat pagi mengambang di lautan. Sampah sampah ini menjadi penyumbang sedimentasi terbesar hinggga terus mendangkalnya teluk kendari.

Inilah yang menjadi kesaksian Amir seorang pemulung tua yang sehari-hari memulung sampah di pinggir teluk kendari. “Sangat banyak sampah pak, terlebih saat air pasang, sampah-samaph plastic seperti botol mineral terbawa hingga ke pinggir teluk,”katanya.

Pada malam hari, kafe kafe tenda yang bertebaran seantero teluk menyumbang kebisingan musik, kedengaran sampai berkilo meter jauhnya. Warga sebenarnya sangat terganggu, sebab, musik diputar nyaris tak mengenal waktu, dari sore hingga menjelang subuh.

Pemerintah Kota Kendari sendiri belum berencana menertibkan  PKL yang bertebaran seantero jalur baypass. Polisi penegak perda di kota kendari  masih terkonsentrasi pada operasi yustisi penanganan covid 19.

Padahal tidak sulit bagi pemkot menertibkan PKL. Kalau dibiarkan maka dalam jangka panjang kinerja pemerintah kota menertibkan PKL akan semakin sulit. Perlawanan PKL yang menolak  dipindah  akan semakin besar.

Ya, Tekanan yang dialami teluk kendari benar-benar difase mengkhawatirkan, jika saja tidak segera diatasi pihak pemerintah. SK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *