Environment

Hidup Mati di Hutan Mangrove Lanowulu

×

Hidup Mati di Hutan Mangrove Lanowulu

Sebarkan artikel ini

Merasakan denyut kehidupan di kampung nelayan tradisional Lanowulu, di Taman Nasional Rwa Aopa Watumohai (TNRAW), tepatnya perbatasan Konawe Selatan dan Bombana. Kampung yang dihuni kurang lebih 20 KK ini telah lama ada, warga berdiam di kawasan ini untuk menjaga sekaligus memanfaatkan sumber daya hayati di kawasan hutan mangrove lanowulu.

Mereka berdiam dalam ekosisytem mangrove yang terdapat 10 muara sungai yang menjadi lokasi perkampungan tradisional di atas air suku bugis. Mereka hidup dengan kondisi yang serba tradisional dan alami. Pada umumnya mereka bekerja sebagai nelayan tangkap tradisional, dimana mencari ikan, kepiting, udang dan kerang-keraangan merupakan kegiatan rutin mereka sehari-hari. Mereka hidup bergatung pada kemurahan alam dan menjaganya dengan baik tanpa menggunakan alat alat yang merusak.

Alat tangkap yang mereka gunakan adalah togo untuk menangkap udang ribbon (balaceng, dalam bahasa bugis) sebagai bahan baku pembuatan terasi, bubu untuk menangkap kepiting bakau dan kepitiing rajungan, sero serta jaring konvensional untuk menangkap udang putih dan berbagai jenis ikan muara.

Dalam operasional alat tangkap, mereka sangat patuh terhadap aturan adat tradisional yang tidak tertulis yang sesuai dengan kaidah-kaidah konvensional. Selain itu mereka gigih dalam melestarikan serta melindungi hutan bakau karena mereka sangat sadar bahwa kelestarian hutan bakaau adalaah harapan bagi mereka.

Keindahan panorama alam hutan bakau dengan kondisi yang masih alami dan lebat dengan zonasi yang teratus rapi secara alami, juga beberapa tappareng atau rawa payau dengan luasan 1 sampai 4 hektar main menambah keindahan dan ke khasan ekosistem mangrove.

#pesonaTNRAW #lanowuluIndonesia #jurnalistrip

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *