Bangun Negeri

Gerakan Literasi: Solusi Pelajar Atasi Sampah Negeri

×

Gerakan Literasi: Solusi Pelajar Atasi Sampah Negeri

Sebarkan artikel ini

BAUBAU, suarakendari.com-Gerakan Literasi Baubau (GLB) bersama Formasi 99 berkolaborasi dalam mengadakan Kompetisi Menulis Esai Tingkat SMA/SMK Sederajat Se-kota Baubau. Rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak 20 Maret hingga 13 April 2024 ini bertujuan untuk mewadahi para pelajar di kota Baubau dalam menyalurkan bakatnya di bidang literasi serta melatih kepekaan mereka dalam mengkaji permasalahan-permasalahan di daerah.

Tema yang diangkat dalam lomba esai ini ialah: Solusi Pelajar Menangani Sampah di Daerah (Studi Kasus Masalah Sampah di Kota Baubau). Sampah merupakan masalah besar yang dinilai sangat berbahaya terhadap kehidupan dari berbagai sektor, untuk itu penting bagi siapapun untuk mencari jalan keluar dalam menangani sampah, termasuk para pelajar sebagai penyokong majunya suatu wilayah dan peradaban.

Dr Muhammad Rasman Manafi SP, M.Si, selaku PJ Walikota Baubau mengatakan kegiatan ini merupakan satu bentuk kegiatan yang sangat baik untuk memastikan gerakan literasi kita berjalan di daerah. Orang nomor satu di Kota Baubau itu berharap, kegiatan ini akan terbentuk komunitas komunitas yang concern dalam bidang pengembangan literasi.

“Literasi itu merupakan hal yang sangat penting di daerah kita. Berdasarkan berbagai analis masih cukup rendah literasi kita. Dan literasi itu bukan sekadar membaca, berdiskusi dan menulis itu juga bagian dalam literasi. Saya kira ini kegiatan sangat baik dan terus dilanjutkan,” tuturnya saat membuka kegiatan ini di Malige Kota Baubau, 20 Maret 2024 lalu.

Rangkaian kegiatan ini dimulai dengan Capacity Building untuk pengurus OSIS SMA/SMK Sekota Baubau melalui seminar dan workshop literasi tentang tema yang menjadi fokus kajian. Halfia Hamiru, selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup memberi wawasan perihal masalah dan manajemen sampah di Kota Baubau. Dilanjutkan dengan Muh. Yunan yang membabar penangan sampah berbasis gerakan komunitas masyarakat. Aktifis lingkungan dan penggerak Trash Hero di Kota Baubau itu memberi kiat-kiat mengatasi permasalahan sampah melalui gerakan kolektif yang diinisiasi anak muda.

Para pelajar kemudian diajak Field Trip ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Wakonti. Tujuannya, agar mereka melihat langsung distribusi dan manajemen penanganan sampah di kota yang mendapat piala Adipura di tahun 2015 ini.

Capacity Building ditutup dengan workshop menulis yang dikawal oleh Gerakan Literasi Baubau. Menghadirkan Suhardiyanto sebagai pemateri yang memberi kiat-kiat praktis membuat esai kreatif dengan metode Quantum Learning.

Rangkaian kegiatan literasi dilanjutkan dengan Kompetisi Esai. Selama dua minggu, para pelajar diberi kesempatan untuk menuangkan gagasannya dalam menjawab permasalahan rumit nan turun temurun yang dihadapi kota Baubau.

Gedung Arsalana, 13 Maret 2024, tibalah waktu pengumuman yang dirangkaikan dengan Reuni Perak alumnus angkatan 1999 SMA Negeri 1 Baubau (Formasi 99).

Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) SMAN 1 Kota Baubau angkatan 99, La Ode Darmawan Hibali S.STP, M.Si, menjelaskan reuni bukan hanya seremonial dan pertemuan silatuhrahmi antara sesama alumni saja, namun melalui formasi 99 nantinya akan menjadi langkah pengabdian para alumni ke masyarakat khususnya di Kota Baubau.

“Sebelum diadakan kegiatan reuni perak ini, formasi 99 sudah melakukan tahapan mulai dari jenjang sekolah dengan melaksanakan kelas literasi, lomba karya tulis antar sekolah yang diikuti para pengurus OSIS SMA se-Kota Baubau,” ungkapnya.

Dari hasil lomba esai ini, panitia menemukan banyak gagasan dan solusi yang ditawarkan oleh pelajar terkait penanggulangan sampah daerah, khususnya Kota Baubau yang menyumbang sekitar 8-10 ton sampah per hari.

Izaura, siswa dari SMAN 1 Baubau dalam esainya menyebutkan bahwa sampah merupakan ‘bom waktu’ yang sangat mematikan. Menurutnya, bom waktu tersebut sewaktu-waktu akan meledak dan membahayakan seluruh makhluk hidup. Karena itu perlu penanganan serius dan hati-hati dalam menangani sampah yang jumlahnya mencapai ribuan ton/tahun. Cara yang ia tawarkan yaitu menerapkan konsep Zero Waste Lifestyle atau ‘gaya hidup bebas sampah’ seperti yang dilakukan oleh warga dan pemerintahan Singapura. Konsep Zero Waste ini menuntut setiap orang untuk meminimalisir penggunaan sampah plastik dan beralih ke penggunaan kemasan yang mudah terurai. Cara ini sangat efektif dalam menekan jumlah sampah plastik tiap harinya.

Solusi kedua datang dari Naura yang juga berasal dari SMAN 1 Baubau. Ia sebagai generasi millenial menawarkan media sosial dan AI (Artificial Intellegence) sebagai solusi dalam menangani sampah. Menurutnya konten positif terkait lingkungan yang di-posting ke media sosial akan memberi dampak besar terhadap kebersihan daerah. Ia mengambil contoh dari Group Pandawara yang dua tahun terakhir eksis di medsos sebagai pemerhati lingkungan yang kerap mengajak masyarakat untuk peduli terhadap sampah. Naura menawarkan solusi ini karena pemuda Indonesia sangat aktif dalam pembuatan konten-konten viral di media sosial.

Saran lainnya juga datang dari Muhammad Harun, siswa dari MAN 1 Baubau yang menawarkan solusi dengan melibatkan pelajar untuk ikut andil dalam memberikan kesadaran kepada masyarakat terkait cara pengelolaan sampah daerah. Strategi yang dia tawarkan sebagai pelajar yaitu dengan melaksanakan pendidikan lingkungan di sekolah, kampanye kesadaran di masyarakat, melakukan program pengumpulan sampah, serta berkolaborasi bersama industri dan bisnis kota.

Masih banyak solusi yang ditawarkan oleh para pelajar terkait penanggulangan sampah di Kota Baubau, semuanya menarik dan efektif untuk dilakukan hanya saja perlu kolaborasi untuk mewujudkannya, baik dari negara, pemerintah daerah, juga masyarakat selaku pelaku utama dalam produksi sampah. Selain itu dibutuhkan kesadaran dan empati terkait pentingnya menjaga lingkungan dan kebersihan untuk kehidupan yang lebih sehat.

“Kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini. Selamat kepada semua peserta yang telah mengikuti lomba. Kalian semua juara. Juara yang telah berani untuk menunjukkan karya (esai). Karya ini tidak mudah, dan kalian berhasil membuktikan pada diri sendiri, keluarga, sekolah, dan semua orang bahwa kalian bisa. Jangan berhenti berkarya. Ini langkah awal kita untuk kegiatan-kegiatan besar ke depan. Khususnya di bidang literasi,”tutup Harun.

Penulis: Tim Literasi Baubau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *