UNTUNG MANIS BISNIS BUAH NAGA DI KONAWE SELATAN

Kecamatan Lalembuu, kini menjadi sentra penghasil buah naga di Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara menyusul pengembangbiakan tanaman buah naga oleh sejumlah desa. Banyak petani kini merasakan manisnya keuntungan dari bertani buah naga. Berikut hasil reportase tim suarakendari.com.

TARSIUS DI BELANTARA LAMBUSANGO

Primata endemik Sulawesi yang keberadaanya kian langka memang terus menjadi salah satu obyek penelitian para ilmuwan. Tidaklah gampang menemukan keberadaan tarsius, sebab, hewan satu ini tergolong sensitif dengan kehadiran manusia. Biasanya saat mengetahui keberadaan manusia, tarsius segera melarikan diri dengan cara bergelantungan dari satu dahan pohon ke dahan pohon lainnya. Butuh kesabaran waktu dan pemandu yang tepat untuk dapat menemukan primata satu ini. Biasanya waktu untuk mengamati kemunculan tarsius mencari makan antara pukul lima lewat empat puluh lima menit sore hari, dan pukul lima lebih empat puluh menit pagi hari.

“Para peneliti harus mengendap-endap berlama-lama untuk bisa mengamati dan mendokumentasikan tarsius,” kata Lasamudi, pemandu peneliti tarsius yang sudah bekerja belasan tahun di belantara hutan lambusango.

Berlama-lama mengamati di hutan memang memacu adrenalin, dan tentu saja ada kepuasan tersediri dari para pencinta hewan saat berhasil mendokumentasikan hewan langka ini.

Tarsius sendiri merupakan hewan bertubuh kecil dengan mata yang sangat besar, tiap bola matanya berdiameter sekitar enam belas mili meter dan berukuran sebesar keseluruhan otaknya. Kaki belakangnya juga sangat panjang.

Tulang tarsius di kakinya sangat panjang dan dari tulang tarsus inilah tarsius mendapatkan nama. Panjang kepala dan tubuhnya sepuluh sampai lima belas centimeter. Namun kaki belakangnya hampir dua kali panjang ini, mereka juga punya ekor yang ramping sepanjang dua puluh hingga dua puluh lima centimeter. Jari-jari mereka juga memanjang, dengan jari ketiga kira-kira sama panjang dengan lengan atas.

Tarsius merupakan satwa insektivora, dan menangkap serangga dengan melompat pada serangga itu. Mereka juga diketahui memangsa vertebrata kecil seperti burung, ular, kadal dan kelelawar. Saat melompat dari satu pohon ke pohon lain, tarsius bahkan dapat menangkap burung yang sedang bergerak. SK

WISATAWAN MANCANEGARA NIKMATI TRADISI PEKANDE KANDEA

Puluhan turis mancenegara disuguhkan tradisi pekande kandea atau tradisi penyuguhan makanan tradisional. Para turis tampak duduk bersila dan menikmati aneka makanan tradisional asal Pulau Buton. Tradisi pekande-kandea ini merupakan tradisi masyarakat buton yang masih lestari hingga saat ini, pekande-kandea merupakan tradisi penghormatan bagi tamu. Berikut liputannya.

INI FILOSOFI TANAH BAGI ORANG KABAENA

UMUMNYA, penduduk Pulau Kabaena membangun pemukiman di lembah-lembah gunung yang terdapat aliran sungai dan sebagian lagi memilih bermukim di pesisir pantai. Di lembah, mereka menggarap tanah dan bercocok tanam. Sejak lama, tanah yang subur menjadikan sektor pertanian sebagai penyokong utama ekonomi warga Kabaena. Tak heran jika kerajaan buton saat itu menjuluki daerah ini dengan nama “kabaena” yang artinya negeri penghasil beras, meski orang-orang eropa lebih suka menyebutnya sebagai “comboina”. Orang-orang pribumi sendiri menyebut kampung halaman mereka sebagai tokotua. Nama “Tokotua Wonuanto” diabadikan warga di gerbang rumah berdampingan dengan tulisan nama desa dan kecamatan.  “Jadi Tokotua adalah nama lain dari Kabaena,”kata Abdul Madjid Ege.

Letak Desa Tangkeno berada di ketinggian, sekitar 650 meter dari permukaan laut (Mdpl), tepat di bawah kaki gunung Watu Sangia memiliki ketinggian 1100 Mdpl. Suhu udaranya cukup dingin.  Terlebih di bulan Oktober. Angin bertiup kencang, membuat atap-atap rumah seolah mau lepas dari jepitan. Di bulan itu warga menyiapkan jaket dan selimut tebal.  Di musim tertentu, awan akan sangat dekat dengan kepala Anda. Tak heran jika Desa Tangkeno dijuluki dengan nama “Negeri di Awan”.

Gunung Sangia Wita sebenarnya lebih rendah dari tiga gunung lain, masing-masing Gunung Sabampolulu yang memiliki ketinggian 1,500 mdpl (gunung tertinggi di Sulawesi Tenggara),  Gunung Puputandasa dan gunung Putolimbo yang memiliki ketinggian 1,200 Mdpl. Sedang di bagian depan ke empat gunung tadi berdiri kokoh gunung Watu Sangia (1,100 meter Mpdl).

Sangia Wita berarti Tanah Dewa, Watu Sangia berarti Batu Dewa.  Sedangkan, Sabampolulu artinya muncul dan mengejar. Sabampolulu sendiri memiliki arti muncul dan mengejar. “Jika dikaitkan dengan rencana Kabaena  menjadi daerah otonomi baru maka berarti nama Sabampolulu menjadi strategis, yakni, daerah baru yang mengejar ketertinggalan dari daerah lain,”ujar Madjid Ege.

Sejak dulu gunung-gunung Kabaena menjadi incaran para investor tambang. Di jaman penjajahan, tentara Jepang pernah berusaha untuk menambang nikel di kawasan ini. “Saat datang, Mereka (Jepang) memaksa rakyat menggali tanah dan membawanya ke kapal yang berlabuh di Sikeli,”kata Marudi, warga Tangkeno. Tak heran banyak terdapat lubang-lubang galian di sekitar gunung Sangia Wita, Puputandasa dan gunung Putolimbo.

Perang berakhir tak berarti penjajahan sumber daya alam pergi dari Kabaena. Kabaena menjadi daerah incaran investor asing. PT INCO, Tbk, bahkan, mengklaim wilayah  kabaena di bagian selatan dan tengah menjadi wilayah konsesi mereka, namun urun ditambang tanpa alasan yang jelas.

Booming tambang di tahun  2008 silam, negeri tokotua diserbu perusahaan tambang, dari  investor luar hingga lokalan. Tanah di seantero pulau Kabaena tak ada yang tidak dikapling. Tambang benar-benar mengubah pola hidup rakyat. Mereka  yang terlanjur tergiur duit instan berlomba menjual tanah. Budaya dan kearifan lokal pun terpinggirkan.  Kondisi yang membuat Madjid Ege resah.  “Dulu orang tua kami punya falsafah yang kuat atas tanah yang wajib dijunjung tinggi. Kehadiran tambang telah membuat orang-orang kabaena silau mata. Falsafah  leluhur itu telah diabaikan,”kata Abdul Madjid Ege.

Bagi Madjid, tanah adalah ruang hidup orang-orang Tokotua. Tak heran tanah benar-benar mendapat perlakuan  istimewa sebagaimana termaktub dalam falsafah hidup orang Tokotua.

Tentang itu, Madjid Ege menjelaskan tiga palsafah tentang tanah, yakni, wita wutonto atau Tanah adalah diri kita yang berarti, janganlah menjual tanah karena sama artinya menjual diri kita.

Kemudian, , wita toroanto  atau tanah adalah tempat kehidupan, mengandung arti Tanah adalah kehidupan kita, maka janganlah menjual tanah karena sama saja kamu menjual sebagian kehidupanmu. Dan, wita petanoanto atau tanah adalah kuburan kita yang mengandung arti janganlah engkau menjual tanah, karena sama saja menjual kuburanmu sendiri.

Dengan falsafah itu, orang kabaena saat hendak menjual tanah, maka pantang bagi mereka menyebut menjual tanah, melainkan menjual kebun atau rumah.  “Tidak boleh menyebut  menjual tanah, mengingat  tanah adalah sumber kehidupan kita,”kata Madjid.

Berpedoman pada falsafah itu, membuat Madjid teguh pada pendiriannya. Pria yang pernah meraih penghargaan sebagai Tokoh Anti Tambang dari Organisasi Jaringan Anti Tambang di Jakarta dengan tegas  menolak tanah-tanah di Pulau Kabaena eksploitasi untuk kepentingan tambang. “Walau sebagian besar tanah Kabaena sudah dieksploitasi oleh pertambangan, namun tidak untuk Desa Tangkeno !!!,”tegasnya. sk

GUBERNUR SULTRA LANTIK SULKARNAIN JADI WALI KOTA KENDARI

Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi SH melantik Sulkarnain, SE, MM menjadi Wali Kota Kendari definitif, Selasa 22 Januari 2019 di Aula Bahteramas Kantor Gubernur Sultra. Sulkarnain diambil sumpah jabatan dengan penuh khidmat dihadiri unsur muspida provinsi dan kota kendari. Sulkarnain sebelumnya adalah Wakil Walikota Kendari, Ia menggantikan Adratma Dwi Putra yang telah diberhentikan oleh Menteri Dalam Negeri karena tersandung kasus Korupsi. Dokumentasi video pelantikan dirilis kendari www.kendarikota.go.id

INI PROSESI SUMPAH ADAT DI SUKU TOLAKI

Etnis tolaki merupakan salah satu suku terbesar di daratan Provinsi Sulawesi Tenggara, memiliki keragaman budaya dan tradisi. Salah satu budaya yang masih dipertahankan adalah budaya adat Tolea Pabitara (juru bicara adat ). Dalam video ini para pelaksana adat diambil sumpahnya oleh sesepuh adat Tolaki dari Lembaga Adat Tolaki. SK

TRADISI MASYARAKAT TOLAKI MENCARI ROTAN

Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai salah satu wilayah di Pulau Sulawesi, dalam menjalankan kehidupan masyarakatnya memiliki banyak kearifan lokal berupa tradisi budaya yang khas. Salah satu tradisi mencari sayur rotan oleh masyarakat suku Tolaki . Berikut video liputan masyarakat Tolaki di Kecamatan Uluiwoi, Kolaka Timur mencari rotan, selamat menyaksikan.

MELIHAT LEBIH DEKAT PABRIK ASPAL BUTON

Bisnis pertambangan Asbuton sudah dimulai sejak jaman penjajahan Belanda pada tanggal 21 Oktober 1924, sedangkan pemberian konsesi pertambangan Asbuton selama 30 tahun untuk seorang pengusaha Belanda bernama A. Volker. PT Sarana Karya berubah menjadi Badan Usaha Milik Negara Perusahaan sejak 30 Januari 1984, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1984.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 91 Tahun 2013, tanggal 24 Desember 2013, seluruh saham PT Sarana Karya (Persero) dijual kepada PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Sejak 30 Juni 2014 PT Sarana Karya berubah nama menjadi PT Wijaya Karya Bitumen. Komposisi PT Wijaya Karya Bitumen atau PT WIKA Bitumen: PT Wijaya Karya (Persero) Tbk: 99% dan PT Wijaya Karya Bangunan: 1%.

Perusahaan akan dikembangkan untuk memasuki industri pengolahan Asbuton, menjadi produk bernilai tambah aspal yang dapat digunakan sebagai bahan untuk jalan dan industri bahan pendukung lainnya.