Perolehan Dana Parkir MTQ Fantasis. Tapi Menguap Kemana ?

SUARAKENDARI.COM- Hampir sepekan pelaksanaan pameran Halo Sultra diperkirakan telah menyedot puluhan ribu orang untuk mengunjungi stand pameran yang berlokasi di MTQ Square. Kemeriahaan ini tampak saat menjelang malam hari, pengunjung yag hendak cuci mata di stand pameran nampak cukup padat. Ada yang datang dengan berombongan hingga pengunjung yang hanya datang bersama keluarga.

Nah, di balik kemeriahaan pesta tahunan Pemerintah Sulawesi Tenggara tersebut, ternyata menjadi berkah  bagi para juru parkir.  Betapa tidak dalam semalam para juru parkir dapat meraup keuntungan besar yang nilainya mencapai jutaan rupiah. Seoran juru parkir mengaku untuk areal seluas 10 x 100 meter, dalam satu malam dapat diraup hingga 11 juta rupiah. Artinya, dengan besaran tersebut dapat dibayangkan keuntungan dari hasil parkiran dalam sepekan cukup fantastis, mengingat luas areal MTQ Square yang selama ini dikelola Dinas Pendapatan Provinsi Sulawesi Tenggara cukup besar yang diluasnya diprkirakan mencapai 10 hektar.

Sayangnya,  perolehan pendapatan dari hasil parkir  menguap begitu saja tanpa masuk ke kas negara. Sumber menyebut, pendapatan dari jasa parkir dikelola oleh oknum-oknum tertentu dinas tertentu. Modus operandi dari pengelolaan parkir ilegal tersebut diduga atas ijin dari salah satu instansi pemda  Sultra dengan cara bekerjasama dengan preman sebagai  juru parkir dadakan atau musiman. Salah satu warga yang enggan disebut namanya, mengaku mendapat ijin juru parkir dadakan dari seorang oknum yang mebgaku sebagai petugas Polisi Pamong Praja Provinsi Sulawesi Tenggara.  “Saya jadi juru parkir atas  ijin dari orang yang mengaku Pol PP, dana dari hasil parkir kita setor sama dia,”kata Usman, juru parkir dadakan.

Rawa Aopa ‘Surga’ Bagi Burung Air

SUARAKENDARI.COM-Tak dipungkiri, rawa aopa memang menyimpan panorama alam yang begitu indah. Di sana kita bisa menyaksikan ratusan jenis burung air tengah berburu makanan. Ya, rawa ini menjadi surga bagi burung-burung air karena menyimpan ketersediaan makanan yang cukup besar.

Sudah hampir tiga tahun saya tak pernah lagi mampir ke rawa yang luas ini, dan senang bisa kembali menjejak rawa ini sambil menikmati pemandangan di sana. Berperahu di sela-sela teratai yang tumbuh liar di air. Menyaksikan burung-burung air yang berjalan bebas di pinggiran rawa dengan mata tajam yang awas. Saya ditemani petugas balai taman nasional yang ramah.

Tak hanya rawa, Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai atau disingkat TNRAW memiliki kekayaan ekologis dengan empat tipe ekosistem, yaitu rawa, mangrove, savanna dan hutan dataran. Bentangan topografis bervariasi, mulai dari datar, bergelombang sampai berbukit.

Kondisi tersebut menyebabkan tingginya keanekaragaman hayati jenis flora dan fauna yang terdapat didalamnya. Sampai dengan tahun 2002 telah tercatat beberapa jenis satwa liar yang berhasil diidentifikasi. Dari kelompok mamalia sebanyak 23 jenis, reptilian 7 jenis, pisces 8 jenis, aves 2007 jenis, ampibi 4 jenis, insecta, dan lain-lain.

Kawasan ini juga menjadi habitat berbagai jenis burung, tercatat 155 jenis burung ada di dalamnya, 32 jenis diantaranya tergolong langka dan 37 jenis tergolong endemik. Burung-burung tersebut antara lain maleo (Macrocephalon maleo), bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus), bangau sandang lawe (Ciconia episcopus episcopus), raja udang kalung putih (Halcyon chloris chloris), kakatua putih besar (Cacatua galerita triton), elang-alap dada-merah (Accipiter rhodogaster rhodogaster), merpati hitam Sulawesi (Turacoena manadensis), dan punai emas (Caloena nicobarica).

Terdapat satu jenis burung endemik di Sulawesi Tenggara yaitu kacamata Sulawesi (Zosterops consobrinorum). Burung tersebut tidak pernah terlihat selama puluhan tahun yang lalu, namun saat ini terlihat ada di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.

Dari keseluruhan jenis burung (Aves) yang terdapat di kawasan TNRAW, diantaranya 38 jenis endemic Sulawesi dan 5 jenis endemic Indonesia. Data hasil survey tahun 2004 yang dilakukan LSM Celebes Bird Club, di TNRAW terdapat 99 jenis burung, 17 diantaranya merupakan jenis burung air.

Jenis-jenis burung air yang dapat ditemukan di TNRAW diantaranya jenis alcedinidae yang nama ilmiahnya halcyon chloris atau cekakak sungai atau nama local tasuke motai berwarna ungu, atau ada juga cekakak yang berwarna merah disebut halcyon coromonda.

Di TNRAW juga terdapat jenis burung air itik benjut atau grey teal berwarna coklat keabuan banyak terdapat di danau atau rawan di TNRAW. Ada juga jenis anatidae dengan nama itik penelope yang memiliki tiga bintik kas di seluruh tubuhnya, masuk dalam jenis burung pemgembara dan sering mengunjungi danau atau laut terbuka.

TNRAW juga menjadi perlintasan dan lokasi persinggahan sementara. Jenis-jenis yang melakukan mirasi dari Australia ke Indonesia, potensi TNRAW yang stategis membuat ribuan atau jutaan burung dapat dilihat dalam periode tertentu melakukan migrasi besar-besaran. Migrasi adalah perpindahan satwa dari sautu tempat ke tempat lain disebabkan adanya sifat migran, baik antar benua, dalam benua, ataupun dalam arfeal regional dari benua asia ke Australia dan sebaliknya.

Berdasarkan data hasil survey inventarisasi yang sudah dilakukan hingga tahun 2002, setidaknya di kawasan TNRAW tercatat sebanyak 501 jenis tumbuhan dari 110 famili. Diantaranya terdapat beberapa jenis tumbuhan yang dilindungi seperti Damar (Agathis homii) dan Kasumeeto (Dyospyros malabarica).

Sedangkan satwa liarnya, telah tercatat kurang lebih 23 jenis mamalia (antara lain :Codot Roset Sulawesi, Kuskus Beruang, Monyet Digo, Musang Sulawesi, Babi Hutan Sulawesi, Anoa, Rusa/Jonga, serta memiliki kurang lebih 7 jenis reftil antara lain : Biawak, Bulus, Buaya Muara, Ular Sawah, Soa-Soa dan Tokek). Selain itu TNRAW juga memiliki kurang lebih 8 jenis Pisces antara lain :Tambakang, Gabus, Lele, 207 jenis aves seperti Maleo, Mandar Dengkur, Kakatua Kecil Jambu Kuning dan 4 jenis amphibi dan jenis-je nis insecta.

Keanekaragaman tumbuhan di dalam kawasan ini sangat menonjol yaitu setidaknya tercatat 89 famili, 257 genus dan 323 spesies tumbuhan, diantaranya lara (Metrosideros petiolata), sisio (Cratoxylum formosum), kalapi (Callicarpa celebica), tongke (Bruguiera gimnorrhiza), lontar (Borassus flabellifer), dan bunga teratai (Victoria spp.).

Jenis primata yang ada yaitu tangkasi/podi (Tarsius spectrum spectrum) dan monyet hitam (Macaca nigra nigra). Satwa langka dan dilindungi lainnya seperti anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis), anoa pegunungan (B. quarlesi), soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), kuskus kerdil (Strigocuscus celebensis celebensis), rusa (Cervus timorensis djonga), babirusa (Babyrousa babyrussa celebensis), dan musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii musschenbroekii).

Dari sekian banyak jenis satwa yang mendiami areal Taman Nasional Rawa Watumohai, setidaknya terdapat 2 jenis satwa khas endemik Sulawesi yaitu Anoa (Bubalus sp) dan Maleo (Macrocephalon maleo). Selain itu masih banyak jenis satwa lain yang merupakan satwa endemik Sulawesi yang terdapat di areal TNRAW.

Inilah yang melatar belakangi sehingga Rawa Aopa Watumohai ditetapkan sebagai Taman Nasional. Rawa Aopa yang ditetapkan berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 756/kpts-II/1990 ini, telah ditata batas sejak tahun 1985 s/d 1987, dengan panjang batas keseluruhan 366.647 km yang terletak di empat wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Konawe, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Konawe Selatan, dan Kabupaten Bombana.

Kawasan Rawa Aopa Watumohai menampilkan empat ekosistem, yakni ekosistem rawa, ekosistem savana dengan luas sekitar 30.000 hektar, dan ekosistem hutan mangrove (bakao) yang luasnya sekitar 6000 hektar, setiap ekosistemnya memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi baik berupa flora (tumbuhan) maupun fauna (satwa).

Keindahan alam hutan bakau di Muara Lanowulu masih dalam kondisi alami dengan zonasi yang teratur rapi, karena keanekaragaman hayati yang di miliki oleh hutan mangrove TNRAW ini, membuat daerah ini sangat cocok bagi kegiatan ekowisata.

Di kawasan ini, kita dapat melihat secara dekat perkampungan tradisional suku Bugis yang hidup di atas air, mereka adalah masyarakat yang menjadi mitra dari balai TNRAW dalam pelestarian hutan bakau yang telah lama bermukim di sepuluh muara sampai di kawasan ini, mereka hidup dengan kondisi yang serba tradisional dan alami dengan mata pencaharian utama adalah nelayan dengan menggunakan alat tangkap tradisional.

Di kawasan ini kita dapat melihat mereka menangkap ikan,kepiting dan udang dengan menggunakan alat tradisional seperti togo, bubu dan jaring. Jika ingin melintasi hutan mangrove dan perkampungan tersebut, kita harus menggunakan kapal body kayu atau katinting.

Cara pencapaian lokasi: Kendari-Punggaluku-Tinanggea-Lanowulu (+ 120 km) dengan waktu dua jam 30 menit, atau Kendari-Motaha-Tinanggea-Lanowulu (± 130 km) selama tiga jam, dan Kendari-Lambuya-Aopa-Lanowulu berjarak + 145 km dengan waktu tempuh sekitar empat jam menggunakan mobil. (SK)

Tarik Ulur Jadwal Muswil PAN Sultra

SUARAKENDARI.COM, Musyawarah Wilayah (Muswil) Partai Amanat Nasional (PAN) Sulawesi Tenggara (Sultra), hingga saat ini masih tarik ulur. Belum ada kepastian tentang kapan jadwal pasti akan diselenggarakannya pemilihan ketua PAN yang baru.

Abdul Rahman Saleh selaku Stering Komite Muswil PAN, mengatakan bahwa muswil PAN diagendakan pada Februari mendatang, melihat saat ini masih banyak agendakan yang harus diselesikan.

“Muswil inikan merupakan sebuah perhelatan, dimana pesta yang merupakan kebahagian bagi setiap partai, sehingga harus dirasakan oleh semua kadernya. Mengingat saat ini masih banyak agendakan yang harus diselesiakan maka Muswil PAN kita agendakan pada pertengahan Februari mendatang,” terangnya, Rabu (13/1/2016).

Dalam perhelatan tersebut dipastikan rombongan Ketua Umum akan ikut membuka dan memeriahkan Muswil PAN, dimana tentu menjadi sebuah harapan bagi kader PAN akan mendapatkan motivasi dari ketum untuk tetap mempertahankan kebesaran partai. Dikatakannya pula, pemilihan ketua DPW akan diagendakan bersamaan dengan pemilihan ketua DPD se- kabupaten/kota yang ada di Sultra sehingga memang pihaknya memilih waktu yang tepat.

Ia berharap dalam kegiatan muswil tersebut semua kader PAN bisa ikut meramaikan dan ikum memberikan masukan dengan tujuan agar PAN tetap berjaya dan besar menjadi sebuah partai politik yang bisa membangun daerah dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. (LINA).

Kenapa Status Tanah Adat di Sultra Masih Diabaikan Pemerintah Daerah

SUARAKENDARI.COM- Jalan panjang perjuangan masyarakat adat di Sulawesi Tenggara (sultra) terkait hak-hak tenurial seolah tak berujung. Pasalnya hingga kini pemerintah daerah belum memberikan pengakuan atas tanah adat yang selama ini diklaim masyarakat di sejumlah daerah kabupaten di Sultra.

Problem ini menjadi topik diskusi dari para penggiat LSM dan kelompok masyarakat adat di Kantor Wahana Lingkungan Hidup (Walhi Sultra), Selasa (12/1/2016).

Arifudin, dari kelompok masyarakat Adat Tolaki Desa Lamooso, Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan, mengungkapkan, hak-hak masyarakat adat tolaki atas tanah belum mendapat pengakuan dari pemerintah daerah dengan berbagai alasan. Padahal, dalam sejarahnya, tanah-tanah adat masyarakat tolaki sangat jelas status asal usulnya pengelolaannya. “Dalam masyarakat adat tolaki sistem tenurial sudah berlangsung turun temurun. Status tanah adat ada yang namanya walaka. Walaka  bagi orang tolaki merupakan tanah atau lokai masyarakat beternak sapi/kerbau,”ungkap Arifudin.

Keengganan pemerintah memberi pengakuan pada tanah adat hingga kini berdampak pada konflik agraria antara masyarakat dengan investor seperti sawit dan tambang. “Tanah adat adalah milik komunal, jadi tidak bisa diperjual belikan,”katanya.  SK

Bom Peninggalan Perang Dunia Ditemukan di Teluk Kendari

SUARAKENDARI.COM-Sebuah bom yang diduga sisa peninggalan perang dunia ke dua di temukan dalam pengerukan lumpur teluk kendari, Rabu pagi, sekitar pukul 09.00 wita, tepat di lokasi proyek pembangunan jembatan teluk kendari.

Bom yang diduga sisa perang dunia ke dua ini terangkat kepermukaan setelah dilakukan pengerukan sedimen lumpur di kawasan teluk kendari dengan menggunakan alat ekscavator .

“Saat itu saya sedang bekerja melakukan pengerukan teluk kendari, dengan tidak sengaja alat berat yang saya operasikan mengangkat sebuah benda yang menyerupai bom,”kata Pian seorang operator alat berat yang menemukan bom tersebut.

Adapun titik pengangkatan bom yang sudah berkarat dan berlumpur ini berada di kedalaman sekitar empat meter, persis di lokasi rencana pembangunan proyek jembatan teluk kendari yang akan menghubungkan Kelurahan Kandai Kota Lama dan Kelurahan Lapulu.

Benda yang diduga bom tersebut, kini masih berada disekitar proyek pembangunan jembatan bahtramas dengan penjagaan ketat dari pihak kepolisian sambil menunggu pihak dari tim gegana brimob untuk melakukan indentifiaksi.

Penemuan ini sontak menjadi perhatian warga sekitar dan titik penemuan bom di tandai dengan garis polisi .

Dimana diketahui dari hasil survey yang dilakukan oleh tim dari TNI Angakatan Laut Kendari beberapa waktu lalu,bahwa di teluk kendari diduga masih banyak terdapat ranjau peninggalan perang terdahulu yang tersimpan didasar laut dan titik penyebaran bom berada di beberapa tempat . Upaya pendeteksian dan pengangkatan bom telah direncanakan akan di laksanakan oleh TNI Angkatan Laut dengan menggunakan sonar khusus. YJ/LL

 

Ramai-ramai Menjarah Kawasan TNRAW

SUARAKENDARI.COM-Luas lahan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, (TNRAW) terus menyusut, dari luas 105 ribu hektare diperkirakan separuhnya sudah tergerus ragam kepentingan. Kepentingan pun bermacam-macam, dari pembukaan lahan perkebunan rakyat hingga kepentingan pertambangan. Namun yang paling membuat miris, pencamplokan tanah TNRAW oleh warga dengan menanami aneka tanaman perkebunan seperti kakao dan palawija. Kendati ada larangan bermukim dari petugas Balai TNRAW, namun warga tak mempedulikan. Kini sudah ada 96 desa dan satu kecamatan berdiri disepanjang kawasan itu.

“Setidaknya saat ini kurang lebih 3000 orang menduduki lahan di sana.  Mereka bahkan telah membentuk pemerintahan otonomi desa dan kecamatan,”ungkap Mustari petugas Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai saat mengatar rombongan jurnalis trip. Kecamatan yang dimaksud adalah Kecamatan Basala di Kabupaten Konawe Selatan.  Legitimasi ini diperkuat dengan pengesahan oleh pemerintah kabupaten melalui  persetujuan perwakilan rakyat setempat.

Para perambah kawasan ini umumnya adalah orang-orang pendatang. Mereka menguasai lahan setelah melalui transaksi jual beli tanah.  Harga per satu hektar di jual dengan kisaran 1 juta dan sampai 2 juta rupiah. Mereka bertransaksi layaknya pemilik lahan.Yang membuat heran petugas, orang-orang lokal sangat jarang dijumpai memiliki apalagi menjual lahan di sana. “Jual beli lahan ini didominasi warga pendatang asal Sulawesi selatan,”terangnya.

Petugas Balai tak tinggal diam menegakkan aturan hukum. Terungkap sejak 2010 saja sedikitnya 100 orang ditangkap petugas dengan tuduhan merambah kawasan dan illegal logging. Sebagaian dari mereka bahkan, telah melalui proses hokum di peradilan dan dijebloskan dalam tahanan. Bahkan awal 2011 silam petugas balai bersama aparat kepolisian membumihanguskan puluhan rumah kebun yang berdiri di dalam kawasan.

Dapat dibayangkan jika saja dilegalkan maka akan banyak sekali orang masuk menguasai lahan. “Mengacu pada aturan, kawasan konservasi sesungguhnya  tak boleh didiami manusia. Jika aturan ini ditegakkan, maka akan banyak orang yang ditangkap. Bisa-bisa penjara di Kendari ini akan penuh dengan para perambah,”katanya.

Saat melakukan trip luptan ke lokasi kawasan Taman Nasional, tepatnya  di Desa puriala, Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe ditemukan banyak permasalahan. Di sana petugas mendapati sejumlah bukti adanya perusakan tapal batas hutan yang ditanam petugas yang diduga dilakukan oknum warga.  Mustari yang sudah tahunan  berttugas di Balai TNRAW mengaku, oknum warga sengaja merusak tapal demi menguasai lahan di sini.

Sepanjang perjalanan  ditemukan areal perkebunan masyarakat dengan aneka jenis tanaman.  “Di lokasi ini  dulunya hutan lebat, oleh karena aktifitas penggundulan dan pembakaran yang dilakukan oknum warga, hutan menjadi tandus,”kata Mustari.

Yang tumbuh kini tinggal padang savanna. Sebagai langkah antispasi petugas kembali melakukan restorasi lahan hutan dengan melakukan penanaman aneka bibit pohon, diantaranya bibit sengon dan kayu jenis meranti.

Meski begitu, pihak Balai tak melulu melakukan pendekatan hokum dalam menyelesaikan problem dengan masyarakat. Terutama warga yang telah lama berdiam di sepanjang kawasan. Pihak Balai tetap melihat historis keberadaan warga di sana, karena tidak bisa dipungkiri ada sebagain kecil masyarakat, telah lebih dulu ada dan bermukim di kawasan ini, dari  pada penetapan kawasan taman sendiri.

Sebagai langkah penyelesaian, pihak balai kemudian melakukan zonasi khusus pada wilayah yang telah ditempati tersebut. “Bagi warga yang mencari ikan (nelayan), maka kami memberikan zonasi khusus berupa zona tradisional serta zona pemanfaatan untuk kepentingan pariwisata,”kata Mustari.

Tak cukup sampai disitu,  pihak balai kian resah saat mengetahui pemerintah daerah (baik pemerintah daerah provinsi dan kabupaten) ‘berkolaborasi’ menurunkan status TNRAW dari status kawasan hutan konservasi menjadi hutan produksi terbatas, sebagaimana tertuang dari usulan Rencana Tata Ruang Tata Wilayah (RTRW) Provinsi Sulawesi Tenggara . “Mau bagaimana lagi, semuanya sudah kemauan orang-orang di atas,”ujarnya pelan. Sesekali ia menarik napas panjang bercerita panjang lebar tentang suka duka  menjaga taman nasional.

Situs Ramsar Menunggu Ajal

Ancaman serius dialami kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) kini, yakni, aksi perambahan kawasan oleh oknum masyarakat untuk kepentingan lahan perkebunan serta aktifitas pertambangan oleh investor. Sedimentasi disebabkan adanya aktifitas penggundulan dan perusakan hutan di daerah hulu oleh masyarakat menyebabkan sebagian kawasan rawa kini mengalami degradasi .

Kondisi ini membuat tingkat sedimentasi dalam ekosistem rawa semakin tahun semakin besar. Hingga tahun 2011 sedimentasi lumpur terus meningkat dan sebagain lahan basah telah menjadi lahan kering. “Tahun 1980-an dalamnya rawa mencapai 12 meter, dan pada hasil pengukuran terakhir tahun 2011 ini kedalaman tinggal 6 meter saja,”kata Mustari.

Kondisi ini tentu saja menjadi beban baru bagi TNRAW sebagai situs Ramsar dunia. TNRAW dinobatkan sebagai situs ramsar dunia melalui sebuah konvensi mengenai Lahan Basah, dan  mulai berlaku untuk Indonesia pada tanggal 8 Agustus 1992. Konvensi tentang Lahan Basah pertama kali  berlangsung di Iran tahun 1971 dan  disebut “Konvensi Ramsar”. Konvensi ini merupakan perjanjian antar pemerintah yang mewujudkan komitmen negara-negara anggotanya untuk menjaga karakter ekologis dari Wetlands International.

Berbeda dengan konvensi lingkungan global lainnya, Ramsar tidak berafiliasi dengan sistem PBB Perjanjian Lingkungan Multilateral, tetapi bekerja sangat erat dengan MEA lain dan merupakan mitra penuh di antara cluster “keanekaragaman hayati” perjanjian dan kesepakatan.

Indonesia sendiri hingga saat ini telah memiliki 5 situs yang ditunjuk sebagai Wetlands International dengan luas permukaan 964.600 hektar, TNRAW adalah salah satunya.

Ditunjuknya TNRAW sebagai situs ramsar dunia, sebagai mana ditulis dalam Website Ramsar, tak lepas dari kondisi TNRAW yang merupakan salah satu kawasan konservasi yang paling penting di kawasan Wallacea, yang terdiri dari mangrove, padang rumput rawa gambut, hutan hujan dataran rendah tropis dan sub-montana hutan.

Situs ini kaya secara biologis, dengan lebih dari 500 spesies yang dicatat flora, 200 spesies burung, sebelas spesies reptil dan lebih dari 20 jenis ikan dan mamalia. Spesies endemik dan terancam banyak ditemukan di sini, dengan lebih dari 15 mamalia endemik Sulawesi seperti Anoa dataran rendah yang terancam punah (Bubalus depressicornis) dan rentan Sulawesi Luwak (Macrogalidia musschenbroeckii).

Taman ini merupakan persinggahan burung air bermigrasi penting untuk, dan mendukung populasi lebih dari 170 Sakti Bangau rentan (Mycteria cinerea) yang morethan tiga persen dari populasi dunia. Situs ini berisi habitat mangrove yang tersisa besar di Sulawesi Tenggara yang merupakan wilayah pembibitan penting dan pemijahan bagi ikan, udang dan kepiting.

Rawa-rawa dalam taman nasional (terutama Aopa Rawa Gambut) adalah pengatur penting dari air. Ini bertindak sebagai reservoir untuk air tawar, sedangkan run-off habitat membantu untuk mengontrol debit air. Rawa Aopa adalah lahan basah rawa gambut hanya mewakili di Sulawesi.

Ancaman ke situs ini termasuk pembalakan liar, perburuan burung air dan pengumpulan telur. Sebuah bagian dari Rawa Aopa sedang dikuras untuk mengarahkan air ke sekitar daerah-daerah pertanian.

Tekanan terhadap keberadaan taman nasional tentu saja dengan beragam kepentingan  melatarinya. Dalam analisis kepentingan  politik, pemerintah dan DPPRD sangat besar. Ini bisa jadi  soal jaul beli suara pada setiap momen pemilu.

Dampak paling serius dari berbagai tekanan yang dialami TNRAW saat ini adalah berpengaruh langsung pada ekosistem dalam kawasan. Praktik illegal logging, permbahan dan pembakaran  menjadi ancaman paling nyata terhadapan keanekaragaman hayati di sana saat ini. Sebab taman nasional tak hanya rawa, melainkan memiliki kekayaan ekologis dengan tipe  ekosistem berbeda seperti, ekosistem mangrove, savanna dan hutan dataran. Bentangan topografis bervariasi, mulai dari datar, bergelombang sampai berbukit.

Luas ekosistem Rawa sendiri mencapai 24 ribu hektar, sedangkan  savana sekitar 30 ribu  hektar, dan ekosistem hutan mangrove (bakau) yang luasnya sekitar 6.000 hektar, setiap ekosistemnya memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi baik berupa flora (tumbuhan) maupun fauna (satwa).

Kondisi tersebut menyebabkan tingginya  keanekaragaman hayati jenis flora dan fauna yang terdapat didalamnya. Sampai dengan tahun 2002 telah tercatat beberapa jenis satwa liar yang berhasil diidentifikasi. Dari kelompok mamalia sebanyak 23 jenis, reptilian 7 jenis, pisces  8 jenis, aves 2007 jenis, ampibi 4 jenis, insecta, dan lain-lain.

Berdasarkan data hasil survey inventarisasi yang sudah dilakukan hingga tahun 2002, setidaknya di kawasan TNRAW tercatat sebanyak 501 jenis tumbuhan dari 110 famili. Diantaranya terdapat beberapa jenis tumbuhan yang dilindungi seperti Damar (Agathis homii) dan Kasumeeto (Dyospyros malabarica).

Sedangkan satwa liarnya, telah tercatat kurang lebih 23 jenis mamalia (antara lain :Codot Roset Sulawesi, Kuskus Beruang, Monyet Digo, Musang Sulawesi, Babi Hutan Sulawesi, Anoa, Rusa/Jonga, serta memiliki kurang lebih 7 jenis reftil antara lain : Biawak, Bulus, Buaya Muara, Ular Sawah, Soa-Soa dan Tokek). Selain itu TNRAW juga memiliki kurang lebih 8 jenis Pisces antara lain :Tambakang, Gabus, Lele, 207 jenis aves seperti Maleo, Mandar Dengkur, Kakatua Kecil Jambu Kuning dan 4 jenis amphibi dan jenis-je nis insecta.

Keanekaragaman tumbuhan di dalam kawasan ini sangat menonjol yaitu setidaknya tercatat 89 famili, 257 genus dan 323 spesies tumbuhan, diantaranya lara (Metrosideros petiolata), sisio (Cratoxylum formosum), kalapi (Callicarpa celebica), tongke (Bruguiera gimnorrhiza), lontar (Borassus flabellifer), dan bunga teratai (Victoria spp.).

Jenis primata yang ada yaitu tangkasi/podi (Tarsius spectrum spectrum) dan monyet hitam (Macaca nigra nigra). Satwa langka dan dilindungi lainnya seperti anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis), anoa pegunungan (B. quarlesi), soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), kuskus kerdil (Strigocuscus celebensis celebensis), rusa (Cervus timorensis djonga), babirusa (Babyrousa babyrussa celebensis), dan musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii musschenbroekii).

Dari sekian banyak jenis satwa yang mendiami areal Taman Nasional Rawa Watumohai, setidaknya terdapat 2 jenis satwa khas endemik Sulawesi yaitu Anoa (Bubalus sp) dan Maleo (Macrocephalon maleo). Selain itu masih banyak jenis satwa lain yang merupakan satwa endemik Sulawesi yang terdapat di areal TNRAW. Inilah yang melatar belakangi sehingga Rawa Aopa Watumohai ditetapkan sebagai Taman Nasional.

Rawa Aopa yang ditetapkan berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 756/kpts-II/1990 ini, telah ditata batas sejak tahun 1985 s/d 1987, dengan panjang batas keseluruhan 366.647 km yang terletak di empat wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Konawe, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Konawe Selatan, dan Kabupaten Bombana.

Minimnya jumlah petugas menjadi problem tersendiri menjaga luasnya kawasan TNRAW. Saat ini seluruh personil Balai TNRAW hanya ada 30 petugas polhut dan  enam orang staf kantor.

Dengan luas kawasan 105.000 hektar maka dari julah petugas yang ada tentu tidak sebanding, yang artinya seorang petugas polhut harus menjaga 3500 hektar. Padahal idealnya satu petugas harusnya menjaga 900 Hektar pada kondisi  taman yang sudah lengkap sarana dan prasarana sebagaimana yangberlaku di sejumlah taman nasional di pulau Jawa. Sungguh suatu ironi. (Yoshasrul)

Pria Tuna Netra Piawai Stand Up Comedy

[youtube id=”ibi5_oxz-Qk” align=”right” mode=”normal” autoplay=”yes”] Namanya Jack, pria asal Jakarta, penyandang disabilitas ini piawai melakukan stand up comedy. Ia tampil memukau dihadapan festival media yang diselenggarakan Aliansi Jusrnalis Independen (AJI) Indonesia di kampus Atmajaya Universitas Kristen Indonesia. Beikut videonya.

Rehabilitasi 29.000 Ribu Pengguna Narkoba Sultra Kemana?

 

SUARAKENDARI.COM-Sulawesi Tenggara, saat ini menjadi surga bagi peredaran narkoba, pihak Kepolisian maupun Badan Narkotika Nasional Sultra terus melakukan penangkapan dan pembinaan terhadap pengguna maupun pengedar barang haram tersebut.

Sayangnya, sebagian pihak menganggap pembinaan pengguna narkoba di Sultra masih minim, pasalnya rehabilitasi untuk pengguna hampir tidak dilakukan.”Ketakutan kami, jangan sampai hanya didata terus dipulangkan dan tidak ada tindakan pembinaan,”ungkap Anto, aktivis Gerakan Anti Narkoba (GAN) Universitas Halu Oleo sebagaimana dilansir Media Kendari.

Menurut Anto hingga saat ini belum ada data rehbilitasi yang valid yang dilakukan Sultra. “Dimana ditempatkan, seperti apa perlakuannya, tidak ada yang diketahui,”tambahnya.

Namun hal tersebut dibantah pihak BNN Sultra, melalui Kepala Bidang Rehabilitasi BNN Sultra, La Mala, Msi mengatakan, setiap minggu pihaknya memasukan data dan melaporkan perkembangan seperti apa rehabilitasi pengguna narkoba.

“Kami selalu laporkan, biasanya pada hari kamis. Untuk data minggu ketiga itu sudah mencapai 462 orang sedangkan data rehabilitas yang sudah di rawat inap itu sudah mencapai 120 orang sedangkan data rehabilitas rawat jalan sudah mencapai 362 orang sesultra “jelasnya.

Target BNN Sultra untuk tahun ini mencapai angka kisaran 700 orang untuk direhabilitasi, walaupun itu hanya sebagian kecil dari pengguna barang haram tersebut.

Mencegangkan, prediksi BNN Sultra pengguna narkoba di Sultra kini sudah mencapai 29.000 orang ini menurut data penelitian 2014.“Untuk merawat seribu orang itu sangat berat, karena kita tidak tahu nama, alamat mereka,tetapi kami masih berusaha dan melakukan razia, sosialisasi lewat media, baliho dan spanduk supaya masyarakat tahu, bahwa narkoba itu sangat berbahaya bagi masa depan anak bangsa ‘’tuturnya.

Pihak BNN juga menegaskan, bahwa, bagi korban penyalahgunaan narkoba tidak perlu takut untuk melaporkan dirinya dan tidak akan di pidana akan tetapi akan di rehabiltasi.

“Kita harapkan media juga bisa memeberikan pemikiran dan publikasi kepada masyarakat bahwa pecandu narkoba itu adalah penyakit dan perlu di obati,”tuturnya.

Untuk rawat inap BNN sultra menitipkan ke lapas, SPN, balai rehabilitasi yang berada di Makassar,smarinda BNN sultra hanya melakukan rawat jalan saja,akan tetapi kategori rawat jalan itu hanya berlaku bagi pengguna atau pemakai pemula

“Tahanan bulan ini berjumlah 30 orang dan sudah sementara di lapas ini adalah tahap kedua dan merupakan napi WBP ini yang sementara kita rehab dalam rangka pemberian grasi,”katanya. (R1/MK)

Soal Reklamasi, Perusahaan Tambang Benar-benar Tak Patuh

Suarakendari.com-Kondisi lingkungan di areal tambang paska penghentian operasi pertambangan tanggal 12 Januari 2013 lalu benar-benar memprihatinkan.
Dinas Pertambangan Sultra mencatat sebanyak 56 perusahaan pemegang Izin Usaha pertambangan(IUP) sama sekali tidak melakukan reklamasi.
Kepala seksi pertambangan dinas Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM) Kamrullah menjelaskan temuan itu mereka dapat setelah melakukan pengawasan disejumlah lokasi pertambangan di wilayah Sultra.
“Harusnya para pemegang IUP melakukan program reklamasi sesuai undang-undang no.32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan peraturan presiden no 78 tahun 2010 tentang reklamasi paska kegiatan pertambangan ” terangnya.
Berdasarkan aturan itu pemegang IUP yang sudah melakukan eksplorasi dan eksploitasi diwajibkan untuk melakukan reklamasi berupa penutupan lubang dan revegetasi terhadap lingkungan.
Meskipun sebagian besar pemegang IUP tidak melakukan reklamasi, namun masih terdapat 2 perusahaan yang tetap menjalankan kewajibannya melakukan reklamasi yakni PT Aneka tambang (antam) dan PT Putra Mekongga.
Kamarullah menambahkan perusahaan yang tidak melakukan reklamasi berdasarkan UU no 32 tahun 2009 akan dikenakan sanksi Hukuman pidana 3-10 tahun penjara dan denda Hingga Rp. 10 Milyar .