Walikota Kendari Serahkan LKPJ 2018

Suasan rapat paripurna DPRD Kota Kendari yang dihadiri Walikota Kendari, Sulkarnain, Senin (8/3). Dok foto Humas Pemerintah Kota Kendari.

Walikota Kendari Sulkarnain K. SE. ME. menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kota Kendari dalam rangka Pidato Penjelasan sekaligus Penyerahan Laporan Keterangan Pertanggung Jawaban (LKPJ) Walikota Kendari TA 2018 di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Kendari, Senin (8/4).

Dalam kesempatan tersebut Sulkarnain menyampaikan beberapa hal di antaranya realisasi APBD Kota Kendari TA 2018 yang meliputi Pendapatan Daerah, Belanja Daerah, dan Pembiayaan Daerah. Walikota juga memaparkan situasi dan kondisi makro ekonomi Kota Kendari yang relatif mengalami peningkatan dan kesejahteraan masyarakat juga mengalami pertumbuhan dibanding tahun sebelumnya.

“Hal ini tergambar dari adanya aktivitas ekonomi daerah dan capaian tingkat kesejahteraan masyarakat , dimana dapat diukur dengan melihat peningkatan PDRB Per Kapita Kota Kendari atas dasar harga berlaku tahun 2018 yang mencapai 54,64 Juta. Angka ini mengalami pertumbuhan sebesar 8,52% jika dibanding tahun 2017 sebesar 50,35 Juta”, ungkap Walikota Kendari.

Walikota Kendari Sulkarnain menyerahkan dokumen LKPJ 2018 kepada Ketua DPRD Kota Kendari, Syamsuddin Rahim. Dokumen foto Humas Pemerintah Kota Kendari

Adapun laju pertumbuhan ekonomi Kota Kendari pada tahun 2018 lanjut beliau, mencapai 7,10% meningkat dibandingkan tahun 2017 sebesar 6,39%. Tingkat inflasi Kota Kendari tetap dapat dipertahankan di bawah 4% yaitu pada angka 3,00%. Demikian pula tingkat kemiskinan dapat diturunkan 2,25%, dari 5,01% pada tahun 2017 turun menjadi 4,90% pada tahun 2018. (Humas)

KEMARAYA RAWAN LONGSOR

Satu unit rumah di Jalan Bunga Kolosua, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari tertimpa longsoran tanah, Selasa malam (9/1). Rumah milik Jayus Pagala (60 th) mengalami kerusakan parah di sisi kiri akibat tertimbun material tanah yang berasal dari bukit di sekitar lokasi. Beruntung peristiwa ini tidak menimbulkan korban jiwa. walau sebagian perabot rumah mengalami kerusakan. “Longsor terjadi sekitar pukul lima pagi, beruntung Kami semua selamat dari musibah ini,”kata Bako, anak Jayus Pagala. Ya, Ancaman tanah longsor menjadi momok sebagian warga yang berdomisili Kota Kendari. Terutama mereka yang menetap di daerah perbukitan. Topografi wilayah Kota Kendari kendari sebagian adalah kawasan perbukitan yang membentang dari Kelurahan Kemaraya hingga Kelurahan Mangga dua, Kecamatan Kendari Barat. Salah satu daerah yang kerap menjadi langganan longsor adalah Kelurahan Kemaraya terlebih saat musim penghujan tiba.  Warga harus ekstra waspada dengan pergerakan tanah yang cukup labil. “Saat musim hujan seperti ini warga selalu was-was akan ancaman longsor,”kata Rianto, salah satu ketua RT di Kemaraya.   Khusus di wilayahnya, lanjut Rianto, setiap tahun selalu ada korban rumah tertimbun longsor, meski tanggul penahan longsor sudah terbangun. Pergerakan tanah yang labil nampaknya menjadi problem besar,”ungkapnya. SK

INI MAKANAN KHAS MUNA

Daerah Muna memiliki beragam makanan khas yang memiliki cita rasa luar biasa. Makanan sedikit banyaknya memiliki kesamaan dengan makanan-makanan dari daerah lain di Sulawesi Tenggara, khususnya dari bahan yang digunakan, cara pembuatannya maupun cara mengonsumsinya. Walaupun demikian, tetap saja ada suatu ciri yang membedakannya dengan daerah-daerah lain. Berikut ini adalah makanan khas daerah Muna :

1. Kabuto

Pada pembuatan kabuto ini dimulai dari ubi yang dikupas kemudian dikeringkan selama tiga hari di bawah sinar matahari sehingga memperoleh produk dalam keadaan setengah kering, dilanjutkan dengan fermentasi semalam dan dikeringkan kembali. Proses selanjutnya adalah memotong kecil-kecil ubi yang dikeringkan, kemudian direndam selama 6 jam dan dimasak dengan cara direbus atau dikukus selama 30 menit. Kabuto yang telah siap disantap dapat bertahan selama satu 12 jam dan untuk memperpanjang daya simpannya, maka dilakukan pemanasan kembali.

            Kabuto ini biasa dicampur dengan parutan kelapa saat dikonsumsi oleh masyarakat Muna. Selain itu, masyarakat juga lebih suka mengonsumsi kabuto ini dengan ikan asin. Sehingga saat mengonsumsi kabuto tanpa parutan kelapa dan ikan asin akan terasa kurang.

            2. Kambuse

Kambuse merupakan makanan tradisional masyarakat Muna. Makanan ini terbuat dari jagung putih yang sudah tua dan biasa juga disebut sebagai nasi jagung. Makanan ini tebuat dari biji jagung yang direbus dalam larutan air kapur mendidih selama 2-3 jam. Setelah itu buang air kapur dan mencucinya dengan air bersih. Kemudian proses terakhir adalah memasak ulang biji jagung dan bisa juga dicampur dengan kacang merah secukupnya agar lebih sedap dan bergizi. Kambuse ini akan lebih sedap jika dimakan dengan sayur bening  serta ikan asin.

            3. Katumbu

 Makanan yang terbungkus oleh kulit jagung ini juga merupakan salah satu makanan khas dari suku muna. Bahan dasar dari katumbu ini adalah jagung  tua yang telah dimasak yang kemudian dicampur dengan kapur, setelah itu dicuci hingga bersih, kemudian ditumbuk atau digiling, setelah itu campurkan dengan air secukupnya, tambah garam seperlunya, santan, dan gula merah. Kemudian masukkan kedalam kulit jagung, katumbu pun siap di hidangkan.  

            4. Kambewe

 Kambewe merupakan salah satu makanan khas dari suku muna yang berbahan dasar dari jagung muda yang telah di sisir dan ditumbuk halus, air kelapa, parutan gula merah, garam, dan kulit jagung. Adapun cara pembuatan kambewe ini yaitu dengan mencampur jagung yang telah ditumbuk halus dengan air kelapa, gula merah,dan garam yang kemudian ditumbuk sampai halus. Setelah itu ambil adonan sebanyak dua sendok makan dan meletakkannya diatas selembaran kulit jagung, bungkus, serta lipaat kedua ujung kulit jagung tersebut. Setelah itu dikukus hingga matang kira-kira 20 menit, kambewe pun siap disajikan.

            5. Kasuami

Kasuami merupakan makanan tradisional yang paling terkenal di Sulawesi Tenggara. Makanan ini juga cukup terkenal di daerah Muna. Kasoami memiliki bahan dasar ubi kayu yang dikupas dan kemudian diparut dan diperas sehingga terpisah antara air dan ampasnya. Setelah terpisaah antara ampas (tepung kaopi) dan air ini, kita dapat membuat kasoami dengan cara mengukus ampas ubi kayu selama 30-40 menit tergantung dari ukuran.

            6. Kadada Katembe

  Makanan yang berbahan dasar dari daun kelor ini merupakan salah satu makanan khas suku muna. cara pembuatan dari kadada katembe ini yaitu dengan memasakn air terlebih dahulu, setelah mendidih masukkan daun kelor yang telah dibersihkan, kemudian satu atau dua menit masukkan garam,dan bumbu penyedap rasa contohnya ajino moto kedalam masakan. Setelah beberapa menit makanan diangkat dan siap untuk dihidangkan. 

            7. Kaparende

 Kaparende merupakan salah satu makanan faforit suku muna yang berbahan dasar ikan dan ayam. Cara pembuatan dari kaparende ikan adalah dengan memasukan ikan dalam panci yang berisi air yang mendidih, kemudian masukan garam, ajino moto, asam dan bahan-bahan lain sesuai selera. Setelah itu di masak sampai matang sekitarn 30 menit. Ikan kaparende siap untuk di hidangkan.

Sedangkan cara memasak ayam kaparende tidak menggunakan berbagai macam bumbu dapur seperti yang terlihat pada daerah lain. Bahan-bahannya hanya terdiri dari daging ayam segar, garam secukupnya, penyedap rasa, cabai, dan yang paling utama adalah daun  kedondong.

8. Tunuha

Tunuha ini berasal dari ubi kayu yang diparut dan dicampur dengan gula merah dan biasa juga dicampur parutan kelapa. Setelah itu, campuran dari bahan makanan ini dimasukan dalam bambu atau tempurung kelapa yang ditutupi daun pisang dan kemudian disimpan dalam tanah yang telah sengaja digali dan ditutupi dengan batu yang telah dibakar hingga panas dalam waktu beberapa jam hingga masak.

9. Cucur

Cucur terbuat dari tepung beras ketan, gula merah dan santan. Uniknya makanan ini tidak semua orang dapat membuatnya. Untuk membentuk bulat dan berkelut pada tengahnya, harus menggunakan keahlian khusus. Makanan ini biasanya disajikan pada perkawinan atau syukuran. (SK)

NASIB PANGAN LOKAL SULTRA

Tak dipungkiri pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang selalu meningkat seiring perkembangan zaman. Perkembangan peradaban manusia dan masuknya budaya luar ke Indonesia mengakibatkan terciptanya berbagai macam jenis makanan baru sehingga makanan lokal yang bersifat tradisional semakin ditinggalkan oleh masyarakat.

            Tak terkecuali di Indonesia khususnya di Sulawesi Tenggara dimana negeri ini memiliki berbagai macam kuliner khas di setiap daerahnya, dan banyak dari makanan tersebut masih tergolong sangat tradisional. Seiring waktu, pola hidup masyarakat sedikit demi sedikit berubah dan mulai tergiur dengan makanan modern. Ini tentunya menjadi pukulan besar terhadap pangan lokal. Hal ini terjadi juga di daerah Sulawesi Tenggara dengan suku yang dominan diantaranya adalah suku Tolaki, Buton, Muna, Wakatobi, Wawonii dan masih banyak lagi. Setiap suku di Sulawesi Tenggara ini memiliki budaya pangan lokal yang berbeda-beda namun masih memiliki kemiripan baik dari segi bahan, proses pembuatan maupun cara mengonsumsinya.

            Daerah Muna misalnya memiliki beragam makanan khas daerah yang tergolong tradisional diantaranya adalah kabuto, kambuse, kambewe, kasoami atau kahogo, kapusu, kaparende, kadada katembe atau sayur bening khas Muna dan lain sebagainya. Beberapa dari makanan ini sudah tidak dikenal lagi oleh masyarakat khususnya generasi muda yang lebih memilih makanan bersifat modern. Hal ini akan berakibat pada hilangnya budaya panagan lokal, padahal tanpa disadari makanan lokal tiap daerah merupakan kekayaan bagi daerah tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan berbagai upaya untuk mempertahankan berbagai pangan lokal tersebut mulai dari penanaman kesadaran kepada masyarakat bahkan dengan cara memasarkan pangan lokal tersebut kepada masyarakat umum dengan membuat inovasi atau penambahan variasi dan peningkatan kualitas bahan pangan daerah agar dapat diterima dengan baik oleh semua masyarakat. SK

Bupati Konsel Resmikan Kampung Kreatif “Kamelia”

Suarakendari.com-Bupati Konawe Selatan H. Surunuddin Dangga, Kamis (22/11) meresmikan Kampung Kreatif Limbah Kayu (Kamelia) di Desa Pangan Jaya, Kecamatan Lainea. Turut hadir di kegiatan tersebut, sejumlah SKPD lingkup Pemkab Konawe Selatan, perwakilan Badan Usaha Milik Negara PT Permodalan Nasional Madani (PT PNM), PERUSDA konsel, para kepala desa, camat dan para pengrajin kriya Desa Iwoimendoro dan pengrajin Desa Pangan Jaya.

Peresmian kampung kreatif ini sekaligus penutupan klasterisasi meubel dan handycraft dari Badan Usaha Milik Negara PT Permodalan Nasional Madani yang sudah bekerja selama enam bulan bersama Dinas PAriwisata dan Ekonomi Kreatif mendampingi masyakat pengrajin kriya di Desa Pangan Jaya.

Dalam sambutannya Bupati Konawe Selatan, H. Surunuddin Dangga mengatakan, saat ini pemerintah konawe selatan tengah mendorong produk-produk unggulan desa salah satunya di Desa Pangan Jaya. Di desa ini selain pertanian, unggulan lainnya adalah industri kreatif. “Jadi penguatan organisasi melalui kampung kreatif ini adalah cara kita untuk mendorong penguatan ekonomi daerah sebagai satu kesatuan dan kebersamaan dalam menciptakan ekonomi baru, agar masyarakat lebih tertarik sebagai produk unggulan daerah,”kata Surunuddin.

Saat ini, lanjut Surunuddin, di Konawe Selatan lokasi pengrajin limbah kayu yang menjadi binaan pemda konsel, yakni di Desa Iwoimendoro, Kecamatan Basala dan Desa Pangan Jaya, Kecamatan Lainea. “Nanti rencananya kita akan terus perluas dan mendorong desa-desa lain yang juga memiliki potensi yang sama. Upaya yang dilakukan Pemda selain membangun kerjasama dengan BUMN seperti PNM untuk membantu permodalan bagi usaha kecil, juga telah mengupayakan adanya bantuan peralatan pengrajin melalui kerjasama Bekraf Pusat dengan harapan bisa menghasilkan produk yang lebih baik,”jelasnya.

Berikutnya, kata Surunuddin, pemda akan berupaya mencarikan pasar agar produk pengrajin kita bisa terjual. Salah satu upaya membuka jaringan pasar bagi pengrajian adalah pasar lokal. “Kita bisa membantu pengrajin dengan membuka pasar di wilayah kita dulu, jangan memasarkan jauh-jauh sementara kita sendiri belum pakai, kan ada banyak sekolah kita seperti PAUD, TK yang bisa menggunakan produk ini dan itu wajib digunakan produk lokal ini,”jelasnya.

Sementara itu perwakilan PT PNM yang secara khusus hadir menyambut baik peresmian Kampung Kreatif Kamelia. “Kami dari PT PNM sangat senang atas launching kampung kreatif ini. karena apa yang dilakukan PNM selama enam bulan sebelumnya kita membina industri mebel dan handycraft di desa pangan jaya ini ditindaklanjuti oleh Pemkab Konawe Selatan, walaun enam bulan itu belum apa-apa bagi PNM dan sifatnya hanya sebagai pemantik saja, jadi lanjutan menjadi kampung kreatif ini akan bagus sekali. Jadi apa yang PNM sudah lakukan kemarin tidak sia-sia. Harapan kami setelah kampung kreatif dilaunching, aktifitas dan kreatifitas limbah kayu di Desa Pangan Jaya ini akan lebih terkenal lagi. Kalau lebih terkenal lagi berarti pasarnya akan lebih terbuka sehingga akan lebih baik untuk industri kecil menengah di desa pangan jaya,”kata Octo Wibisono, Wakadiv PKU PT PNM.

“Alhamdulillah launching Kampung Kreatif Limbah Kayu “Kamelia” yang difasilitasi oleh PT. PNM Persero dan dilaunching oleh Bapak Bupati Konawe Selatan. Terimakasih yang tak terhingga untuk Bpk Bupati dan semua pihak yang telah bersinergi mewujudkan terwujudnya kampung kreatif limbah kayu “Kamelia”. Semoga Inovasi kampung Kreatif Limbah Kayu ” Kamelia “menjadi cikal bakal Kemajuan ekonomi kreatif diKonawe selatan utk mewujudkan Desa Maju Konsel Hebat,”kata Suartin Sianti, Kepala Bidang Ekraf Dinas Pariwisata Konawe Selatan. SK

Kepemimpinan Nusa Berakhir, Mendagri Lantik PJ Gubernur Sultra

sumber foto:id.wikipedia.org
Suarakendari.com-Sepuluh tahun kepemimpinan pasangan Nur Alam – Saleh Lasata sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara akhirnya berakhir 18 Februari 2018. Untuk menjalankan kepemimpinan daerah provinsi di Sultra maka Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo melantik Drs.H. Setya Budi, MPd sebagai pejabat Gubernur Sultra. Pelantikan Teguh yang juga Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) sesuai Keputusan Presiden (Keppres) No. 23/P Tahun 2018 tentang pemberhentian dengan hormat gubernur dan wakil gubernur (wagub) Sultra periode 2013-2018 dan pengangkatan penjabat gubernur Sultra.

Dua periode kepemimpinan pasangan Nur Alam -Saleh Lasata tentu telah membawa banyak perubahan pembangunan segala sektor di bumi Anoa, dengan melucurkan berbagai program pembangunan, diantaranya program pembanguna sarana daqn perasarana publik seperti Rumah Sakit Bahteramas, rumah ibadah, infrastrktur jalan raya yang menghubungan seluruh kabupaten/kota di Sultra, memperbaiki layanan ekonomi khususnya perbankan di Sultra, dan berbagai program yang menyentuh langsung pada kebutuhan masyarakat bawah. “Pembangunan yang telah dilaksanakan selama 10 tahun kepemimponan kami ini tidak mungkin akan terwujud tanpa ada kerjasama dari semua pihak. Saya berharap dapat bermanfaat bagi masyarakat. Tolong dioptimalkan pemanfaatannya sebaik mungkin,”kata Salah Lasata. SK

Gunakan Atabela Modivikasi, Hasil Panen Petani Wonggeduku Melimpah

Suarakendari- Kegembiraan nampak jelas diraut wwajah para petani Wonggeduku, Kecamatan Wonggeduku, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, saat melakukan panen padi, Senin 18/12/17 Desember 2017. Mereka mendapatkan hasil panen melimpah setelah menggunakan atabela modivisasi.

Penggunaan atabela modiviskasi BTP Sultra, sebagaimana diungkapkan Ketua Kelompoktani Wonosari 1, Khairul Amin, bahwa, hasil panen padi mereka musim ini cukup baik dengan harga yang mennggiurkan yaitu Rp 4500 per kg GKP.

Menurutnya, keuntungan dari penggunaan atabela modifikasi ini bisa bekerja cepat dan hemat tenaga kerja. Atabela modifikasi ini telah tersebar sampai di Baubau sebanyak 400 unit.
Panen padi menggunakan Combine Harvester dimana kemampuan alat sekitar 2-3 ha perhari.

Pada panen sawah di Wonggeduku ini dihadiri Kepala BPTP Sultra Ir. Muh. Asaad MSc, TNI, Dinas Pertanian, Peneliti , Penyuluh dan Kelompoktani.

Menurut penyuluh pertanian Wonggeduku, hamparan yang dipanen seluas 150 ha. Varietas yang ditanam Ciherang dan Mekongga. Produktivitas dapat mendapat sekitar 6 ton. SK

Pemkot Gelar Pasar Murah

SUARAKENDARI.COM-Mengantisipasi tingginya harga sembako di pasaran selama Ramadan, Pemerintah Kota Kendari (Pemkot) Kendari menggelar pasar murah.

Pasar murah  dilakukan di 11 kecamatan dan bertempat di kantor kecamatan masing-masing. “Kami buka sesuai jam kantor, satu minggu pada awal Ramdan nanti. Jelasnya kami akan gilir sampai 11 kecamatan terjangkau semua,” kata Yusri dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Koperasi Kota Kendari.

Pasar murah ini, pemerintah kota bekerjasama dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) sebagai supplyer pasar murah. Segala jenis kebutuhan dapur masyarakat akan disediakan dengan harga murah. Itu untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat terutama bagi yang kurang mampu agar bisa memenuhi kebutuhannya. “Selain itu, agar mereka juga tidak tergantung pada pasar yang kadang harganya melambung,” katanya.

Untuk teknis transaksi pemkot menyediakan kupon untuk warga yang akan ditukarkan kepada petugas. Warga per KK terutama bagi yang kurang mampu akan mendapatkan satu kupon sesuai pendataan kecamatan yangt disetorkan ke dinas. SK

Jejak Bencana Banjir Bandang di Kendari

SUARAKENDARI.COM-Banjir besar yang melanda Kota Kendari pada tanggal 13 dan 31 Mei  2017 adalah banjir yang terjadi untuk kesekian kalinya. Jejak banjir yang terjadi di wilayah ini sudah terekam sejak lama. Berikut jejak banjir yang terjadi di Kota Kendari.

1.Banjir bandang terjadi tahun 2006 di Kelurahan Benu-benua, Kota Kendari. Banjir menerjang pemukiman warga menyebabkan 14 rumah rusak berat dan hanyut terbawa banjir. Banjir juga merendam sekolah dan rumah sakit santa ana Kendari sehingga mengganggu aktifitas pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut. Di tahun yang sama banjir juga meredam wilayah kemaraya dan kelurahan kampung salo dan Mandonga. Warga menuding banjir akibat aktifitas perusakan kawasan hutan nipa-nipa oleh onum warga.

2. Tahun 2007, banjir besar yang menimpa Kelurahan Kampung Salo yang merendam rumah warga dan merendam asrama TNI serta fasilitas umum di wilayah itu. Warga menuding aktifitas perambahan hutan di wilayah hulu di pegunungan nipa-nipa menjadi penyebab banjir besar  yang merugikan warga.

3. Tahun 2009. Banjir melanda wilayah kelurahan kemaraya dan Kelurahan Lahundape dan merendam sebagain besar kawasan di wilayah itu.

4. Tahun 2013. Banjir melanda di bulan Juli saat curah hujan cukup tinggi dan turun selama berhari-hari. Hampir seluruh anak sungai meluap dan merendam hampir separuh wilayah Kota Kendari di 11 Kecamatan. Banjir sempat melumpuhkan transportasi di kota kendari dan melumpuhkan aktifitas ekonomi warga. Kerugian diduga mencapai puluhan miliar rupiah. Banjir diduga akibat kerusakan kawasan hutan tahura nipa-nipa, hutan nanga-nanga, buruknya drainase dan pembangunan tata kota yang tidak memperhatikan aspek lingkungan. Banjir juga dikaitkan dengan hilangnya sebagian besar kawasan tangkapan air di wilayah teluk kendari akibat praktik jual beli lahan oleh mafia tanah serta adanya aktifitas pendangkalan teluk kendari.

5. Tahun 2017. Tepatnya tanggal 13 dan 31 Mei 2017, banjir besar melumpuhkan transportasi dan aktifitas ekonomi, merusak sarana transportasi seperti jalan yang longsor dan merendam pemukiman ribuan warga. Pemerintah merilis, kerugian ditaksir mencapai Rp 75 miliar rupiah.  Banjir diduga akibat kerusakan kawasan hutan di tahura nipa-nipa, hutan nanga-nanga. Buruknya drainase dan pembangunan tata kota yang tidak memperhatikan aspek lingkungan juga dinilai memberi sumbangsi banjir. Banjir juga dikaitkan dengan hilangnya sebagian besar kawasan tangkapan air di wilayah teluk kendari akibat praktik jual beli lahan oleh mafia tanah serta adanya aktifitas pendangkalan teluk kendari. SK

BPBD Kendari Pantau Lokasi Banjir Bandang Kemaraya

SUARAKENDARI.COM-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) Kota Kendari meninjau langsung sejumlah lokasi bencana banjir di Kendari. Salah satunya lokasi banjir bandang di wilayah Kemaraya, tepatnya di sekityar bantaran anak sungai Lahundape, Jalan Bunga Kolosua, Kelurahan Kemaraya. Selain berkomunikasi dengan warga setempat, petugas BNPB juga mencatat sejumlah lokasi kerusakan baik rumah warga maupun tanggul yang roboh serta titik longsor akibat terjangan banjir.

Kehadiran petugas BNPB membuat warga berharap agar pemerintah segera memberikan respon secepatnya penanganan bantuan atas kerusakan fasiltas di wilayah itu. “Kami berharap agar tanggap darurat atas infastruktur yang rusak di wilayah ini segera ditindaklanjuti,”ujar Samsul, warga setempat. Seperti diketahui, banjir bandang yang terjadi Rabu siang (31/5) telah merusak sejumlah fasiltas jalan dan rumah warga serta  menimbulkan sejumlah titik longsor. SK