Sensasi Memancing di Rumah Bagang

Memancing di sungai atau di laut mungkin sudah biasa, namun memancing di rumah bagang patut dicoba sebagai menjadi alternatif pilihan diwaktu liburan anda di akhir pecan. Selain bisa memilih ikan berbagai jenis sesuka hati, Anda juga menikmati ikan bakar hasil pancingan sambil terus mengulurkan kail ke laut.
Ya,inilah yang dilakukan sekelompok warga di pesisir desa, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara yang memanfaatkan waktu liburan akhir pekan mereka dengan memancing di sebuah rumah bagang milik Sarifudin, warga nelayan setempat.
Rumah bagang sendiri berukuran 6 x 8 meter persegi, merupakan rumah panggung terbuat dari kayu yang berdiri kokoh di atas laut dan di bagian bawah rumah disimpan berbagai jenis ikan laut. ikan-ikan berbagai jenis dan ukuran ini disimpan dalam kolam air yang diseluruh sisinya di pasangi jaring -jaring yang berfungsi sebagai pembatas agar ikan tidak lari.
Memancing di bagang yang penuh ikan ini memang memiliki sensasi tersendiri bagi para pemancing, sebab di rumah bagang ini para pemancing bisa memilih jenis dan ukuran ikan hidup yang akan dipancingnya. Cara memancing pun sedikit berbeda dimana kail harus di turunkan melalui celah lantai rumah yang terbuat dari kayu. Tak hanya itu hasil pancingan yang masih hidup dapat langsung di bakar di perapian yang sudah disiapkan pemilik bagang.
Sarifudin pemilik bagang mengaku setiap minggunya, rumah bagang miliknya selalu di kunjungi para pemancing yang berasal dari Kota Kendari. Selain menawarkan paket ikan murah memancing di rumah bagang juga terasa alami karena didukung panorama alam laut yang alam sehinggai membuat orang yang datang betah duduk berlama-lama di rumah bagang.
Perairan laut konawe selatan memang menyimpan surga ikan bagi nelayan setempat. Apalagi di sepanjang pesisir daerah kecamatan laonti belum banyak dikembangkan rumah bagang seperti milik Sarifudin tersebut. Pemerintah konawe selatan masih berusaha mengembang pemberdayaan rumah bagang yang dapat mensejahterakan warga setempat.

Spot Wisata Dibangun di Desa Sumber Sari

Suarakendari.com- Pembangunan spot wisata mulai dikebut di Desa Sumber Sari, Kecamatan Moramno, Kabupaten Konawe Selatan. Pembangunan dilakukan atas prakarsa para penggiat wisata di desa sumber sari yang bekerjasama dengan Jurusan IT Fakultas Teknik Universitas Haluoleo dan Komunitas Ruruhi Project.

Spot wisata yang dibangun diantaranya, papan branding selamat datang di Desa Wisata Sumber Sari, spot selfie kupu-kupu dan taman wisata desa yang terletak di areal persawahan desa sumber sari. Spot-spot wisata ini sebagai pemantik giat wisata desa yang bertujuan untuk menggerakkan ekonomi desa dan menjaga kulitas lingkungan hisup di desa sumber sari.

“Pembangunan spot wisata ini adalah gerakan mendorong desa sumber sari untuk maju dan berkembang sesuai potensi yang dimiliki,”kata Isnawati, penggiat wisata desa sekligus dosen pembimbing dari mahasiswa IT Fakultas Teknik UHO.

Selanjutnya, pembangunan spot wisata masih akan diteruskan dengan membangun spot wisata seperti jembatan bambu di atas sawah dan pembangunan cafe sawah yang dapat menarik minat wisatawan lokal untuk berkunjung.

Menggenjot pembangun wisata di sumber sari tentu punya potensi besar, mengingat, sumber sari merupakan yang dilewati wisatwan saat berwisata ke air terjun moramo. “Dengan kata lain, desa sumber sari adalah penyangga pariwisata air terjun moramo,”jelasnya. SK

Perlu Diperbanyak Spot Wisata di Sultra

Suarakendari.com-Animo masyarakat Sultra yang cukup besar pada pariwisata nampaknya menjadi prioritas besar bagi daerah untuk terus menciptakan spot-spot wisata massal. Spot wisata yang dapat dikembangkan itu tersebar hampir merata d seluruh daerah, khususnya yang berada dekat dengan akses ibu kota. Daerah yang potensial diantaranya, Kabupaten Konawe Selatan, Konawe, Konawe Utara dan Kolaka Timur termasuk Bombana.

“kecenderungan wisatawan lokal yang massal selalu mencari lokasi wisata baru, yang ada kaitannya dengan wisata alam seperti pantai dan sungai, sehingga peluang ini harus mampu ditangkap para penggiat wisata di daerah,”kata Isna, penggiat Komunitas Ruruhi Project.

Potensi wisata yang sebagian besar ada di pedesaan perlu terus didorong demi menciptakan peluang-peluang bisnis baru di desa yang pada gilirannya akan mendorong percepatan perbaikan ekonomi desa. “Desa sesungguhnya sangat kaya akan potensi dan ini harus terus digelorakan semakan membangun pariwisata desa,”ungkapnya.

Lanjut Isna, makin besarnya animo masyarakat berwisata merupakan peluang besar bagi desa untuk memperoleh tambahan pendapatan baru yang digerakkan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMdesa). “Saya kira inilah saatnya orang-orang di desa bergerak memperkuat ekonomi dengan menangkap peluang-peluang yang ada saat ini, salah satunya melalui sektor pariwisata,”ujarnya. SK

Puncak Tiriondahi di Hutan Wolasi Layak Menjadi Obyek Wisata

Suarakendari.com-Pegunungan Wolasi memiliki daya tarik tersendiri, selain karena kawasan hutan yang masih terjaga, juga memiliki panorama alam yang layak dikembangkan menjadi obyek wisata alam. Salah satu sudut yang layak dikembangkan adalah Puncak Tiriondahi yang berada di wilayah administrasi Desa Tanea, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan.

Karena posisinya berada di ketinggian di puncak Tiriondahi kita dapat menyaksikan lokasi persawahan, pemukiman penduduk bahkan teluk Kendari di kejauhan. Dan pada waktu-waktu tertentu, kabut tebal akan terlihat menutupi seluruh kawasan yang berada di bawah, sehingga terasa seperti berada di atas awan.

Karena potensi inilah, Pemerintah Desa Tanea berencana mengembangkan menjadi destinasi wisata alam. “Kami berencana mengembangkan area wisata di kawasan ini, salah satunya adalah puncak Tiriondahi,”demikian Kepala Desa Tanea.

Wilayah pengembangan obyek wisata Tiriondahi sendiri berada di kawasan hutan lindung wolasi, untuk itu Pemerintah Desa Tanea bekerja sama dengan pihak kehutanan selaku pemangku kawasan hutan. “Sejauh ini pihak kehutanan telah memberikan respon positif tentang pengembangan kawasan wisata di kawasan hutan wolasi, terutama soal perijinan pinjam pakai kawasan,”ungkap kades Tanea. DI wilayah administrasi Desa Tanea, sejumlah obyek wisata juga akan mudah ditemukan, diantaranya kawasan pemancingan air tawar dan obyek wisata bukit kaca. SK

Kapal Pengangkut Wisatawan Masih Minim Dilengkapi Jaket Pengaman

Suarakendari.com-Sektor pariwisata Sulawesi Tenggara menjadi surga bagi para pelacong atau wisatawan tanah air hingga luar negeri. Ini potensi wisata Sulawesi Tenggara yang terkenal dengan panorama alam yang indah, baik yang ada di darat maupun pesisir. Namun, di tengah membaiknya iklim pariwisata bumi anoa, masih belum dilengkapi dengan fasilitas yang memadai, khususnya di daerah tujuan wisata. Salah satu fasilitas yang masi abai adalah jaket pengaman pelayaran atau yang lazim disebut lifejacket.

Baju pelampung merupakan perangkat yang dirancang untuk membantu pemakai, baik secara sadar atau di bawah sadar, untuk tetap mengapung dengan mulut dan hidung berada di atas permukaan air atau pada saat berada dalam air. Perangkat yang dirancang dan disetujui oleh pihak yang berwenang dalam hal ini Biro Klasifikasi Indonesia untuk digunakan oleh sipil dalam rekreasi berlayar, pelaut, kayak, kano.

Mengingat jalur wisata dominan ada di pesisir maka fasiltas jaket pengaman mutlak diperlukan. Terlebih di musim timur yang memiliki kondisi ombak yang cukup besar. Maka sinyal tanda bahaya perlu ditingkatkan demi mencegah yang tidak diinginkan. Saat musim timur, ombak cukup tinggo, ini menjadi tantangan tersendiri bagi jalur wisata yang tengah dikembangkan saat ini, termasuk desa wisata namu karena letaknya berada di pesisir laonti, sehingga dibutuhkan lifejacket sebagai savety bagi mereka yang doyan bepergian ke tempat ini.

Pengamatan selama ini, seluruh kapal rakyat yang mengangkut wisatawan ke Desa Wisata Namu ternyata tidak ada yang dibekali dengan lifejacket sebagai syarat pelayaran. “Yang menyediakan lifejacket itu ranah dinas apa sebenarnya??? dinas perhubungan atau dinas apa? Komunitas Ruruhi yang bergerak di sosal dan wisata bersama pemerintah desa sebenarnya sudah pernah mengusulkan agar ada bantuan jaket pengaman bagi penumpang yang akan ke desa namu dst, namun hingga kini tidak ada perhatian,”ungkap Arlan, penggiat wisata dampingan Ruruhi yang juga warga Desa Namu. SK

Sungai Laeya Cocok untuk Wisata Arung Jeram

Suarakendari.com-Kondisi sungai yang lebar dan berarus deras menempatkan Sungai Laeya, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan berpotensi untuk dikembangkan menjadi wisata arung jeram. Apalagi saat musim hujan, debit air sungai laeya akan kian membesar sehingga menjadi lokasi pilihan para penggiat olah raga arus deras. Panjang sungai laeya mencapai 20 KM yang berhulu di kawasan hutan lindung Wolasi, Kecamatan Wolasi, Kabupaten Konawe Selatan dan bermuara di perairan Desa Labokeo, Kecamatan Lainea.

Namun jika dikembang menjadi spot wisata arung jeram, maka spot yang cocok menjadi pilihan berada di daerah Desa Anduna dan Kelurahan Ambalodangge,Kecamatan Laeya. Di desa andona spot arung jeram berada di kawasan hutan skaligus Daerah Aliran Sungai, tepat di sisi kiri gunung abari. Sedangkan di Kelurahan Ambalodangge spot yang tepat berada di areal bendungan laeya. Selain memiliki lebar sungai yang ideal, di tenpat ini juga dimungkinkan dikembangkan spot rest area atau lokasi bersantai keluarga. Sejumlah komunitas seperti Bripala Green, Ruruhi Project tahun 2017 pernah berkolaborasi melakukan survey awal di spot sungai laeya dalam rangka menjajaki kemungkinan menjadi spot wisata.

Olah raga arung jeram telah dikenal di Indonesia sejak tahun 70-an melalui kegiatan kepencitaalaman, namun secara komersil wisata baru dimulai pada awal tahun 80-an di sungai Alas Aceh Tenggara. Pada perkembangan selanjutnya, arung jeram wisata berkembang pesat di Bali disusul kemudian di Jawa Barat dan hingga akhirnya menyebar ke daerah-daerah lain di Indonesia.

Wisata arung jeram saat ini tidak hanya diminati oleh wisatawan mancanegara, untuk sungai-sungai di Jawa dan di Sumatera arung jeram telah menjadi pilihan wisata yang populer bagi wisatawan domestik. Arung jeram merupakan salah satu kegiatan olah raga yang bernilai rekreasi (sport tourism) yang banyak menarik minat orang untuk mengikutinya. Selain diperlombakan sebagai suatu cabang olah raga, arung jeram juga dianggap sebagai wisata petualangan yang menantang sekaligus atraktif dan memberikan pengalaman yang cukup mendalam bagi yang pernah mengikutinya. Saat ini wisata arung jeram telah berkembang menjadi industri yang mampu mendorong peningkatan devisa dan pendapatan daerah serta membuka lapangan kerja yang tidak sedikit ditingkat lokal. SK

Pesona Pulau Hari Strategis Jadi Penopang Destinasi Wisata Bokori

Dokumentasi Foto Dispar Konsel/Suartin Sianti

Suarakendari.com-Pulau Hari hanya sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Terletak di sisi timur kota Kendari Sulawesi Tenggara pulau ini terkenal dengan keindahan panorama alamnya yang masih alami. Terlebih keindahan bawah lautnya, menjadikan tempat ini menjadi spot andalan para penyelam.

Sayangnya pulau yang menjadi milik Pemda Konawe Selatan ini tak kunjung terurus dengan baik, sehingga cenderung diabaikan keberadaannya. Padahal, jika saja disentuh dengan program destinasi, maka bukan tidak mungkin akan menjadi destinasi andalan baru yang akan menopang keberadaan destinasi wisata pulau bokori yang sudah lebih dulu booming pengunjung.

“Sangat disayangkan, pulau cantik seperti itu dibiarkan tidak terurus, ini harusnya menjadi poin penting bagi pemda Konsel, khususnya dinas pariwisata Konsel segera mengarapnya dengan serius,”kata Rafi, penggiat komuitas Ruruhi Project.

Pulau Hari merupakan salah satu solusi bagi Anda yang butuh ketenangan dan tantangan alam bahari nan natural. Untuk menjangkaunya tak sulit. Dari kota Kendari, Anda bisa menempuh perjalanan laut menggunakan perahu atau speed boat selama kurang lebih ,5 jam.

Pemandangan pantai yang berpadu secara alami dengan garis-garis kebiruan air alut merupakan tantangan bagi pecinta fotografi untuk mengabadikan keindahan alam pualu ini.

Sedangkan untuk pengunjung yang hobi dengan diving atau snorkeling, pada kedalaman tujuh hingga delapan meter, beningnya air membuat mata telanjang pun mampu menembus pemandangan taman laut dengan warna-warna yang cantik dan menawan. Terdapat 15 site diving di pulau ini.

Informasi dari para penggiat dive di Kendari mengungkap panorama pulau hari. Di sekitar site diving, sejumlah ikan yang cantik akan menemani Anda berenang. Beberapa clown fish lucu yang mirip dengan Nemo, banyak dijumpai disini. Adapun jenis ikan Angel. Beberapa jenis ikan yang masuk dalam kategori hampir punah ada di sini, di antaranya ikan Sunu, Kerapu, Sotong, Gurita, Lobster, dan bila beruntung, pengunjung bisa melihat atraksi penyu.

Binatang laut yang tak kalah menarik adalah Kelinci Laut atau biasa dikenal Nudibranch dan Electrik Clamp, bentuknya adalah kerang laut yang mengeluarkan cahaya pada malam hari. Hewan ini bisa dijumpai pada kedalaman enam hingga delapan meter.

Saat ini, ada dua club diving lokal yang setiap hari sabtu hingga minggu intens mengeksporasi tantangan di pulau ini. Sedang untuk wisatawan nasional dan internasional , hampir disetiap tahun pasti ada yang berkunjung.

Akses munuju pulu har, dari kota Kendari, hany membutuhkan waktu satu jam dengan menggunakan boat yang banyak terdapat di pelabuhan Beringin, dengan menggunkan boat yang banyak di pelabuhan Beringin, kompleks Pasar Sentral Kota Lama, Kendari. Bila sore hari, sepanjang perjalanan pegunungan akan disuguhi pemandangan bawah laut pada kedalam 10-15 meter. Tapi bila Anda melakukan perjalanan pada siang hari, pemandangan bawah lautnya dapat dinikmati hingga kedalaman 30 meter. SK

Wisata Mancing Mania Berpotensi Dikembangkan di Konsel

Suarakendari.com-Memiliki perairan laut yang luas kurang lebih 400 KM menjadikan Kabupaten Konawe Selatan kaya akan potensi perikanan laut. Apalagi saat ini potensi tersebut telah ditopang dengan berbagai kebijakan, program dan kegiatan pembangunan di sektor kelautan dan perikanan oleh pemerintah daerah setempat.

Berkaitan dengan potensi laut, saat ini 9 dari 25 kecamatan di Kabupaten Konawe Selatan memiliki spot perikanan yang lumayan besar. Diantara kecamatan yang merupakan wilayah pesisir (minapolitan) yakni Tinanggea, Laeya, Lainea, Palangga Selatan, Laonti, Moramo dan Moramo Utara yang terbagi dalam 105 desa pesisir. “Ini cocok untuk budidaya rumput laut maupun sektor pertambakan ikan bandeng, lobster dan budidaya kepiting bakau,”kata Surunuddin dalam satu kesempatan bertemu dengan nelayan di Kolono Timur.

Ada juga beberapa desa di tujuh kecamatan itu memiliki kawasan perairan air tawar yang cocok untuk budidaya ikan air tawar (ikan nila, mujair dan ikan lele) Konsep Minapolitan itu merupakan tekad pemerintah kabupaten untuk menjadikan Kabupaten Konsel sebagai pusat pengembangan hasil perikanan laut dan air tawar di Sultra.

Kondisi perairan yang baik inilah yang kini tengah dijajaki untuk dikembangkan sebagai spot wisata bahari, berupa wisata pemancingan. Setidaknya ini menjadi poin besar bagi para pencinta mancing mania. “Kita sudah jelajahi sejumlah wiulayah di Konsel dan adfa beberapa yang memiliki spot mancing yang bagus karena potensial memiliki ikan dalam jumlah besar,”kata Indra, komunitas mancing mania Konawe Selatan. Tinggal kalender ivent dan kalender iklim yang harus padu padan segera dibuat untuk dapat menjadi agenda wisata ke depan.

Desa Wisata Masa Depan Industri Pariwisata Konawe Selatan

foto: Imran Amir

Suarakendari.com-Kabupaten Konawe Selatan merupakan salah satu kabupaten terluas di Propinsi Sulawesi Tenggara, dengan luas wilayah daratan mencapai 451.420 Ha atau 11,83 persen dari luas wilayah daratan Sulawesi Tenggara. Sedangkan luas wilayah perairan (laut) ± 9.368 Km2.

Secara demografis Kabupaten Konawe Selatan memiliki jumlah penduduk sebesar kurang lebih 300 ribu jiwa dan merupakan terbesar kedua setelah Kota Kendari. Ada banyak lokasi wisata di daerah Konawe Selatan, tentu saja ditunjang dengan beragam adat istiadat, budaya hingga tradisi masyarakat menjadi keunggulan tersendiri. Begitu pula dengan hasil kerajinan lokal dan kekayaan alam yang dimiliki di daerah ini, menjadi ikon yang bisa lebih dikenal masyarakat luas.

Ruruhi Project sebagai organisasi komunitas yang menaruh perhatian khusus pada pengembangan sektor wisata berbasis masyarakat memandang setiap desa di Kabupaten Konawe Selatan memiliki potensi untuk dijadikan komoditas wisata unggulan. Peda posisi itu jika dikelola secara serius, maka akan dapat diarahkan pada pengembangan kepariwisataan, bahkan menjadi destinasi khusus yang pada akhirnya dapat mengundang wisatawan lebih banyak ke Konawe Selatan.

“Mengingat bahwa potensi alam dan budaya yang khas tersebut tersebar hampir di sebagian besar wilayah pedesaan di Kabupaten Konawe Selatan, maka besar kemungkinan untuk dikembangkan konsep desa wisata (village torurism),”kata Isna, program officer Rururhi Project.

Hal ini didukung oleh keberadaan potensi flora-fauna di sekitarnya dan didukung oleh panorama alam, diantaranya, potensi Wisata alam laut Pulau Hari, Desa Terapung di Desa Bungin, Kecamatan Tinanggea, Savana dan Potensi Rawa di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Desa Wisata Namu di Kecamatan Laonti, Air Terjun Moramo, Wisata Rafting di Kecamatan Laeya, Desa Adat di Desa Benua dan Desa Jati Bali, Sentra Kerajinan Kriya di Pangan Jaya, Kecamatan Laeya dan Kecamatan Basala dan lain sebagainya. Sehingga dalam pengelolaan tersebut perlu didukung oleh sarana prasarana pengunjung yang memadai dalam pengembangan sarana prasarana penunjang pariwisata.

foto: Jojon

Diungkapkan Isna, Desa Namu, Desa Jati Bali dan Desa Benua merupakan desa yang panorama alam dan kultur budayanya masih terlihat kental, terbukti bahwa Desa Jati Bali dan Desa Benua adalah sentra pariwisata berbasis budaya di Konawe Selatan. Sedangkan Desa Namu merupakan desa berbasis masyarakat wisata alam laut dan pesisir. Di Desa Namu juga merupakan laboratorium alam yang merupakan sarana yang lengkap untuk mendapatkan aneka informasi terutama flora dan fauna. Berdasarkan pada karakteristik dan potensi wilayahnya, maka Desa Namu, Desa Jati Bali dan Desa Benua merupakan desa yang memungkinkan untuk dikembangkan menjadi obyek kajian desa wisata (village tourism).

Konsep Desa Wisata merupakan suatu wilayah pedesaan yang memiliki potensi keunikan dan daya tarik wisata yang khas. Kriteria suatu desa dapat dikembangan menjadi desa wisata, apabila memiliki beberapa faktor-faktor pendukung antara lain; (1) Memiliki potensi produk dan daya tarik, (2) memiliki dukungan sumber daya manusia (SDM), (3) motivasi kuat dari masyarakat, (4) memiliki dukungan sarana dan prasarana yang memadai, (5) mempunyai fasilitas pendukung kegiatan wisata, (6) mempunyai kelembagaan yang mengatur kegiatan wisata, dan (7) ketersediaan lahan/area yang dimungkinkan untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata. Mengacu pada kriteria pengembangan desa wisata di atas, maka desa Namu di Kecamatan Laonti, Desa Benua, Kecamatan Benua dan Desa Jati Bali di Kecamatan Ranomeeto Barat Kabupaten Konawe Selatan yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi desa wisata.

Karena itu dibutuhkan Rencana Startegis Desa Wisata (village tourisme) di Kabupaten Konawe Selatan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk merumuskan rencana strategis pengembangan desa wisata yang berbasis pada keunikan dan sektor unggulan lokal (pertanian, peternakan, jasa dll) serta melalui pendekatan partisipatif masyarakat. SK

Saat Sampah Plastik Jadi Masalah Serius Pariwisata Bokori

Suarakendari.com- Minimnya kesadaran pengunjung wisata dalam menjaga kebersihan di lokasi wisata, jadi musuh utama kemajuan pariwisata di Sulawesi Tenggara. Hal ini terlihat di sejumlah area wisata andalan Sulawesi Tenggara, tak terkecuali destinasi wisata andalan Pulau Bokori.

Keindahan Bokori terusik dengan banyaknya sampah berserakan di setiap sudut area wisata ini, terutama di area pembuangan sampah yang berada di sekitar vila di sisi timur Bokori. Keberadaan sampah juga telah merusak habitat hewan dan tumbuhan yang ada di sekitar lokasi. Sampah yang menumpuk dominan adalah sampah plastik, seperti kemasan plastik air mineral dan sampah kemasan makanan berbahan streofoam yang terkenal berbahaya untuk kesehatan.

Kurangnya kesadaran pengunjung memang patut disayangkan, sebab, pihak pengelola sudah memasang tanda peringatan berupa papan pengumuman di lokasi wisata agar pengunjung tidak membuang sampah sembarangan. Pengelola dalam hal ini Dinas Pariwisata Provinsi sudah juga menyediakan tempat sampah yang disebar hampir di setiap sudut area wisata bokori.

Kondisi ini tentu saja sangat disayangkan, di tengah gencarnya promosi tempat wisata Bokori beberapa tahun belakangan. Kondisi ini dikuatirkan akan berdampak buruk bagi pariwisata Bokori di masa depan. “Promosi pariwisata Bokorimemang sangat gencar, tapi ini tak diiringi dengan kesadaran pengunjung soal sampah di lokasi wisata, akan berdampak buruk bagi pariwisata Bokori di masa depan,”kata Maman, pemerhati Pariwisata di Sultra. Untuk itu diperlukan solusi mengatasi masalah masalah persampahan di area wisata khususnya di Pulau Bokori. SK