Istri Asrun Sayangkan Sikap KPK

Suarakendari.com- Sriyatin ,isteri calon kepala daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, nomor urut dua Asrun yang kini jadi tersangka kasus korupsi oleh Komisi Pemerantasan Korupsi (KPK) menyayangkan sikap komisi anti rasuah yang tidak memberikan hak suara bagi suaminya untuk memilih di pemilihan kepala daerah langsung. Hal ini diungkapkan sriyatin usai mencoblos di tps 9 kelurahan lahundape / kecamatan kendari , Sulawesi Tenggara, Rabu pagi (27 juli 2018).

Menurut sri yatin seharusnya KPK dapat memberikan kesempatan pada suaminya, untuk menyalurkan hak suara nya sebagai warga negara, walau berstatus tersangka.

Meski begitu Sriyatin tetap menghormati keputusan KPK tersebut yang dinilai memiliki pertimbangan tersendiri, serta optimis pasangan asrun huga dapat terpilih di pilkada serentak.

“Harusnya beliau diberi kesempatan memilih, karena be;iau pasti sangat ingin menyalurkan hak pilihnya. Tapi kami optimis masih bisa memenangkan pilkada ,”kata Sriyatin.

Dalam tabel daftar pemilih tetap, Cakada Asrun mendapat kartu pemilih dari petugas pemilihan suara di TPS 9, Kelurahan Lahundape dan berada dalam daftar urut DPT 229.

Juswan, Ketua PPS setempat membenarkan jika Asrun mendapat surat suara di TPS 9. “Pak Asrun memilih di tps 9 ini, karena telah mendapat kertas suara sesuai domisili beliau, tapi saya tidak tau apakah beliau akan datang memilih atau tidak,”katanya.

Sesuai data di tps sembilan sendiri terdapat 493 wajib pilih yang menyalurkan hak suaranya di pilkada serentak tahun ini.

Pada plikada serentak di sulawesi tenggara diikuti tiga pasang calon masing-masing, nomor urut satu pasangan Ali Mazi-Lukman Abunawas, pasangan calon urut dua ditempat pasangan Asrun-Hugua dan pasangan urut tiga masing-masing Rusda Mahmud- Syafei Kahar. Semnetara untuk jumlah pemilih sesuai dpt di sulawesi tenggara terdapat 1.628.320 suara. SK

Hugua Optimis Menang Pilkada

Suarakendari.com- Ir Hugua, calon Wakil Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara nomor urut dua tetap optimis dapat memenangkan pemilihan langsung kepala daerah di bumi anoa, meski pasangannya, Ir Aasrun kini menjadi tersangka koruspsi dan mendekam di tahanan komisi pemberantasan korupsi ( KPK) di Jakarta.

Di tengah hujan yang mengguyur kota kendari, tak menyurutkan langkah Hugua untuk mendatangi tempat pemungutan suara untuk menyalurkan hak pilihnya, Rabu , pagi (27 juni 2018). Wakil cakada Hugua , datang sekitar pukul 11.00 pagi di temani isteri dan dua anaknya setelah mendapat kartu pemilih dari petugas pemilihan suara di TPS 12, Kelurahan Lahundape, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, Sulawesi tenggara.

Pada pilkada kali ini, Hugua harus bekerja ekstra setelah pasangannya, Asrun yang maju sebagai calon gubernur sulawesi tenggara ditangkap KPK pada pada Februari 2018 silam .

Aasrun ditangkap KPK bersama anaknya Ardriatma Dwi Putra yang juga Wali Kota Kendari akibat terlibat dugaan suap dengan salah satu pengusaha di kendari. Kasus tersebut tentu menjadi isu hangat yang menjadi bola panas menjelang pemilihan berlangsung.

Kendati demikian, Hugua mengaku tidak gentar dan tetap optmis memenangkan pemilihan gubernur sulawesi tenggara. Ia mengaku di pilkada ini akan mengukir sejarah/ bahwa seorang tersangka belum tentu bersalah dan asrun masih dicintai pendukungnya.

“Kami optimis masih bisa memenangkan pilkada di sulawesi tenggara dan akan mencatat sejarah bahwa seorang tersangka belum tentu bersalah dan akan membuktikan asrun akanmemenangkan pemilihan,”ungkapnya.

Hugua juga mengaku jika dirinya sudah sempat bertemu kepada asrun jauh sebelum pencoblosan. Kepada dirinya, Asrun menitip pesan agar terus berjuang mememenangkan pilkada serentak.

Di pilkada Sulawesi Tenggara 2018, pasangan asrun- hugua diusung lima partai politik diantaranya/ PDIP bersama partai amanat nasional (PAN), partai keadilan sejahtera (PKS), Partai Hanura, dan Partai Gerindra.

Pada plikada serentak disulawesi tenggara diikuti tiga pasang calon, masing-masing nomor urut satu pasangan ali mazi-lukman abunawas, pasangan calon urut dua ditempat pasangan asrun-hugua dan pasangan urut tiga masing-masing rusda mahmud- syafei kahar. Semnetara untuk jumlah pemilih sesuai dpt di sulawesi tenggara terdapat satu 1.628 suara. SK

Sekolah Lapang Iklim Promosikan Budi Daya Jagung Cerdas Iklim

Suarakendari.com-Petani jagung peserta Sekolah Lapang Iklim (SLI) bersama Pemerintah Daerah Konawe Selatan mengakhiri rangkaian kegiatan SLI dengan menggelar Panen Raya di petak percontohan (demonstration plot/demoplot) di Kelurahan Punggaluku, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Senin (25 Juni 2018). Dalam Panen Raya petani menyampaikan testimoni dan berbagi pengalaman selama mengikuti SLI, sementara Badan Pusat Statistik melaporkan hasil ubinan (perkiraan panen) dari petak percontohan.

Secara keseluruhan, hasil pengubinan di tiga petak percontohanmemuaskan, dengan lebih dari 8 ton pipilan basah per hektar. Dengan asumsi penyusutan ke pipilan kering 20 persen, maka hasil petak percontohan 6,4 ton pipilan kering per hektar melampaui rata-rata produksi Konawe Selatan yaitu 4-5 ton pipilan kering per hektar.

SLI merupakan kegiatan pendampingan petani yang diselenggarakan oleh program USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (USAID APIK) bekerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologidan Geofisika (BMKG), Dinas Pertanian, Badan Pengkajian Teknologi Pertanian, dan beberapa pihak lainnya.

Sebelumnya, SLI telah dilaksanakan untuk komoditas padi di Kelurahan Baruga, Kota Kendari pada Juli-Oktober 2017. Kali ini, SLI menyasar komoditas jagung dengan menggandeng pihak swasta yaitu Bank Sultra, Asuransi ACA, dan Syngenta. Komoditas jagung di Sulawesi Tenggara memiliki potensi yang besar dan produktivitasnya diharapkan meningkat guna memenuhi permintaan jagung nasional. Akan tetapi, produksi seringkali terkendala oleh perubahan cuaca ekstrem dan keterbatasan teknik budi daya. SLI jagung berupaya menjawab tantangan tersebut dengan menggunakan pendekatan pertanian cerdas iklim guna meningkatkan produktivitas dengan memperhitungkan faktor perubahan iklim.

Dalam SLI, petani menggunakan petak percontohan sebagai sarana belajar bersama. Ketiga puluh peserta melakukan pengamatan secara berkelompok setiap hari di petak tersebut untuk melihat kondisi dan pertumbuhan tanaman, parameter cuaca (suhu, kelembapan, curah hujan), serta mengamati organisme di sekitar kebun. Peserta bertemu setiap sepuluh hari untuk mendiskusikan dan menganalisis temuan di petak percontohan bersama para narasumber dan fasilitator untuk menentukan tindakan selanjutnya, sambil mendalami teknik budidaya cerdas iklim.

Faisal Habibie, prakirawan cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Kendari mengatakan, “Selama ini penggunaan informasi cuaca oleh petani masih minim, oleh karenanya SLI berupaya mendekatkan petani dengan dengan informasi tersebut. Memang di awal pertemuan, masih banyak petani yang bingung, namun karena langsung mengamati kondisi dengan menggunakan termometer dan alat pengukur curah hujan, serta mendiskusikannya, maka mereka lebih cepat paham.

Manajer regional program USAID APIK Sulawesi Tenggara, Buttu Ma’dika menjelaskan, “Melalui SLI, petani tak hanya belajar teori namun langsung mempraktikkannya di petak percontohan, sehingga proses pembelajaran lebih menyeluruh melalui pengalaman di lapangan. Selain itu, dengan keterlibatan BMKG, Dinas Pertanian dan sektor swasta maka petani lebih memahami informasi cuaca dan iklim, akses permodalan, dan perlindungan usaha sehingga dapat mengambil langkah yang tepat untuk meningkatkan usaha tani mereka,” ujarnya.

Salah satu peserta SLI dari Desa Aepodu mengaku melalui SLI ia dapat menghemat pengeluaran usaha taninya. “Biasanya kami gunakan pupuk kimia seperti urea atau TSP. Namun dari SLI kami belajar membuat pupuk organik, yang bahan-bahannya mudah didapat. Kami juga membuat pestisida nabati untuk mengusir hama. Dengan begitu kami dapat memotong biaya, dan juga, bahan organik lebih ramah lingkungan,” jelasnya. Ida menambahkan oleh BMKG ia diajarkan membaca informasi cuaca, seperti suhu, curah hujan dan ketersediaan air di kebun, sehingga tahu kapan waktu yang tepat untuk menanam.

Sektor swasta yang terlibat mengaku gembira dengan SLI. Jakub Nugraha, Senior Vice President untuk Micro Insurance dari Asuransi ACA menilai SLI menjadi wadah masing-masing pihak untuk belajar satu sama lain. Menurutnya, melalui SLI petani mendapatkan informasi yang jelas tentang pentingnya asuransi pertanian.

Sementara itu Depid, Direktur Pemasaran Bank Sultra berharap dengan melek finansial, petani dapat memahami skema pinjaman modal dan mengelola usaha tani lebih baik.

Sustainable Productivity Manager Syngenta, Maria Benedikta menekankan bahwa dukungan terhadap SLI sejalan dengan komitmen Syngenta dalam mendorong ‘The Good Growth Plan’ untuk meningkatkan hasil panen dan memberdayakan petani kecil.

Panen Raya ytang digelar menandai berakhirnya kegiatan SLI jagung, namun berbagai rencana masih akan berlanjut.Para peserta SLI mengaku siap untuk menyebarluaskan pengetahuan yang didapat kepada petani lain di desanya. Sementara itu, Asuransi ACA dan Bank Sultra berencana untuk mendampingi terkait
permodalan dan perlindungan usaha. SK

Banjir Besar Landa Desa Lamokula

. Dokumentan foto: candra Suarakendari-Tingginya intensitas hujan membuat banjir melanda sejumlah daerah di Sulawesi Tenggara. Seperti tahun-tahun sebelumnya, banjir besar kerap menyambangi Desa Lamokula, Kecamata Moramo, Kabupaten Konawe Selatan. Banjir yang diakibatkan meluapnya sungai Lamokula ini merendam seratusan rumah dan memaksa penghuni rumah mengungsi ke lokasi yang aman, Senin (25/6/2018). Di desa ini terdapat tiga dusun yang terendam banjir setinggi satu sampai dua meter dan nyaris menenggelamkan rumah warga. SK

Menjajal Jalur Offroad menuju Desa Wisata Namu

Suarakendari.com-Desa Wisata Namu tak hanya dikenal karena panorama alamnya yang indah , dibalik keindahan itu, banyak destinasi idaman para kaum offroader. Penyuka adventure roda dua atau empat akan menemukan jalur yang bisa dilalui dan penuh tantangan tentunya.

Jalur lingkar Langgapulu Namu Bay hanya berjarak 10 KM, namun memiliki track yang terbilang baik untuk kegiatan offroad. Untuk roda dua jalur trail Langgapulu – Namu terbilang cukup baik di musim kemarau dan menjadi jalur extreme di sebagian tempat saat hujan. Karakter tanahnya yang lengket sungguh pilihan yang menantang. Saat mencoba jalur ini pada April 2018 lalu, sekitar 15 offroader asal Konawe Selatan mengaku sangat tertarik dengan jalur track ini. “Sangat menantang karena jalurnya sangat ekstrem,”kata Rasyid, penggiat offroad Konawe Selatan.

Anggota DPRD Sulawesi Tenggara ini juga mengaku, selain disuguhkan dengan jalur ekstrim, sepanjang jalur juga dapat menemukan panorama keindahan yang cukup indah. “Dari puncak bukit kita dapat menyaksikan keindahan pantai dan laut,”ungkapnya.

Bagi offroader pemula sangat cocok untuk melatih skill dan ketahanan plus belajar pengenalan jalur. Bukit Batu Jaya dan Bukit Namu sangat variatif dari singgle track, jalur tanah / lumpur, batu cadas , kali kecil, kali besar , sampai ke jalur hill challange yang sulit untuk dilalui.

Perjalanan bisa dimulai dari belakang membelah jalur lingkar pesisir yang pekerjaan jalan dasar telah selesai di bangun, selain aksesnya gampang dan mudah untuk dijangkau. Menuju jalur puncak dua sebagai titik awal untuk melakukan pilihan jalur yang akan ditempuh.

Dalam dunia offroad ada istilah long trip short time / shot trip long time, pilihan nya bisa diarahkan ke jalur mana yg hendak dipilih, contoh :
1.LAnggapulu – lokasi tambang PNS– Batu Jaya ( jalur pendek – waktu lama). Dalam kondisi normal jalur ini bisa ditempuh dalam 1 jam saja.
2. Langgapulu – Desa Batu Jaya – puncak Namu ( jalur panjang – waktu pendek ) ini jalur medium bisa makan waktu 3 jam dng jarak 12 km.
3. Langgapulu –Btu Jaya – Namu Ini jalur extreme dan jarak tempuh panjang dan waktu yang lama, bisa makan waktu seharian .
Nah buat yang ingin jajal kawasanLanggapulu – Namu , tiga jalur tadi bisa menjadi pilihan. Tentukan saja sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Desa Sumber Sari Moramo Berpotensi Jadi Desa Wisata

Suarakendari.com-Dengan ragam potensi sumber daya alam yang dimiliki, Desa Sumber Sari, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan dapat berpotensi menjadi desa wisata. Potensi yang dimiliki desa berpenduduk kurang lebih 200 KK ini diantaranya. potensi pertanian sawah dan palawija, perikanan darat dengan ikan air tawar, Kehutanan baik hutan maupun hutan non kayu seperti rotan, madu, anggrek.

Jika terwujud, tentunya, akan sangat berpotensi menggaet minat wisatwan lokal yang selama ini biasa hidup di perkotaan dan beraktifitas di tengah hutan beton dan polusi udara. Mereka dapat merasakan sensasi berwisata di areal persawahan seperti menikmati makan di pinggir sawah. Begitu pula jika saja perikanan darat dikembangkan, maka wisatwan dapat menikmati sensasi memancing ikan air tawar di kolam ikan yang luas, sembari menikmati hidangan ikan bakar ala pedesaan.

Potensi ini kian besar karena Desa Sumber Sari menjadi pintu masuk di area pariwisata air terjun moramo yang dikenal memiliki keindahan tangga airnya, sehingga sangat cocok dikembangkan menjadi sebuah desa wisata. Tak hanya itu, desa yang didiami berbagai etnis ini memiliki ragam budaya dan agama yang dapat dikemas menjadi obyek wisata berbasis etnik.

Kepala Desa Sumber Sari mengaku sangat berharap agar desanya dapat berbenah menjadi salah satu desa yang mengembangkan pariwisata. “Mudah-mudahan kita dapat bekerja sama dengan banyak pihak mendorong terwujudnya desa wisata sumber sari,”ujarnya saat pertemuan dengan sejumlah komunitas wisata dan perguruan tinggi.

Untuk sarana rumah singgah maka desa sumber sari cukup layak mengembangkan homestay mengingat banyaknya rumah warga yang layak huni. Demikian pula potensi sumber daya manusia untuk mengembangkan guide wisata, karang taruna, kelompok sadar wisata sudah cukup memadai. SK

Perempuan Tua Asal Muna Tewas Ditelan Ular Piton

Suarakendari.com-Nass menimpa Wa Tiba (54). Wanita asal Desa Mabolu, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara tewas setelah ditelan hidup-hidup oleh seekor ular piton di sebuah kebun milik warga. Saat ditemukan oleh warga, Jumat, (15/6/18), kondisi korban cukup mengenaskan, tubuh wanita tua ini remuk dan berada dalam perut ular sepanjang delapan meter tersebut.

Penemuan mayat yang ditelan ular piton di Muna ini sempat viral di media social. Dari video dan foto yang diunggah di social media facebook, tampak warga beramai-ramai membelah perut ular besar tersebut, dan berhasil mengeluarkan korban dari perut ular. Diduga korban telah dua hari berada dalam perut ular sebelum akhirnya berhasil ditemukan.

Informasi menyebut, korban sempat dicari pihak keluarga karena sudah seharian tidak balik ke rumah. Sebelum tewas, korban diketahui hendak ke kebun, namun tidak kembali ke rumahnya. Keluarga yang cemas kemudian meminta bantuan polisi mencari korban.
Setelah dilakukan pencarian di sekitar kebun dan semak belukar, akhirnya warga menemukan seekor ular python dengan perut membesar di sekitar kebun warga. Warga yang curiga kemudian membelah perut ular dan menemukan tubuh korban. SK

Konsel Bangun Lumbung Sapi Terbesar di Sultra

Suarakendari.com-Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan tengah membangun sentra ternak sapi terbesar. Letaknya di Desa Anduna, Kecamatan Laeya, 52 KM dari ibu kota Sulawesi Tenggara.

Bupati Konawe Selatan, Drs H Surunudin Dangga, MSi mengungkapkan, pihaknya saat ini telah menyediakan lahan seluas 300 hektar yang nantinya akan dapat menampung sekira 80.000 ekor sapi. “Dengan demikian nantinya sentra ternak sapi ini akan dapat memenuhi swasembada daging di Sulawesi Tenggara,”ujar Surunudin.

Terobosan pembangunan “lumbung Sapi” ini sebagai bagian dari rencana panjang pemerintah Konsel yang mendorong Konawe Selatan sebagai kabupaten penghasil ternak sapi di bumi anoa. “Potensi daerah ini sangat besar dan sangat memungkinkan untuk dikembangkan usaha ternak sapi,”katanya. SK

APBD Kota Kendari Tahun 2018 Rp1,7 Triliun

Suarakendari-Walikota Kendari, Adriatma Dwi Putra menyerahkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2018 dan Raperda Pengelolaan barang milik daerah kepada DPRD Kota Kendari untuk dibahas.

Walikota Kendari dalam pidato pengantarnya mengatakan APBD Kota Kendari tahun 2018 merupakan penyusunan anggaran diperiode pertamanya sehingga mereka menetapkan sejumlah program strategis diantaranya Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Infrastruktur, Lingkungan, Kepemudaan dan Ketenagakerjaan.

“Penyusunan RAPBD tahun 2018 tetap mengedepankan prioritas pembangunan daerah yang telah kita sepakati bersama dalam KUA PPAS, yakni, pembangunan sarana dan prasarana penunjang utama dan fasilitas umum kepada masyarakat,” ujarnya.

Mantan Anggota DPRD Sultra ini menjelaskan APBD Kota Kendari Tahun 2018 teridiri dari Pendapatan Daerah sebesar Rp1.708 miliar, meliputi, Pendapatan Asli Daerah Rp672 miliar, dana perimbangan Rp946 miliar,serta lain-lain pendapatan daerah yang sah Rp90,3 miliar.

Sedangkan Belanja Daerah terdiri dari belanja tidak langsung Rp802,7 miliar dan belanja langsung sebesar Rp975,9 miliar.

Pembahasan RAPBD Kota Kendari tahun 2018 akan dilanjutkan hari ini Kamis (23/11/2017) ini dengan agenda pandangan umum fraksi-fraksi di DPRD Kota Kendari.(Alin)

Dengan Gas Metan Kendari, Toyota Layani Listrik Warga

Naoaki Amiya tengah berbaju putih, didampingi kadis DLHK Kota Kendari Moh.Nur Rasak dan Kabid Persampahan dan Limbah B3 Prayitno saat mengunjungi TPA Puwatu April lalu.(foto;Istimewa)

Suarakendari.com-Naoaki Amiya, seorang warga jepang , langsung datang dari Jepang atas perintah pemerintah jepang untuk melihat Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Puuwatu, Kota Kendari, Propinsi Sulawesi Tenggara.
Kedatangan Amiya, pada bulan April 2017, setelah mendapat informasi dari sebuah lembaga swadaya masyarakat di Jerman GIZ yang membuat laporan tentang pemanfaatan gas metan sebagai bahan bakar kompor dan bahan bakar pembangkit listrik yang dibuat pemerintah Kota Kendari di TPA Puuwatu.
“Kata Toyota dalam laporan GIZ yang membuat orang jepang itu penasaran sampai datang ke Kendari lihat TPA Puuwatu,” ujar Pelaksana Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kota Kendari, Moh. Nur Rasak, pekan lalu 10 November.
Nur Rasak menjelaskan ketertarikan pihak Jepang ke Kota Kendari, karena teknologi yang digunakan untuk mengaktifkan mesin mobil Toyota cukup sederhana dan murah namun dengan hasil yang maksimal.
Mesin mobil yang awalnya berbahan bakar premium (bensin) diubah menjadi bahan bakar gas metan dengan melakukan inovasi.
Awalnya inovasi yang dilakukan Dinas Kebersihan kala itu hanya ingin mengelola TPA agar bisa menghasilkan gas metan sehingga bisa dimanfaatkan untuk memasak, namun dorongan yang kuat dan tantangan dari Ir. Asrun Walikota Kendari saat itu, sehingga Nur Rasak dan rekan-rekannya akhirnya berhasil.
“Tahun 2013 kita sukses merekayasa genset kapasitas 7000 watt dengan bahan bakar gas metan, sehingga bisa menerangi kawasan TPA malam hari,” katanya.
Tak sampai disitu, inovasi terus mereka lakukan, sebuah mesin Mobil Toyota type 2F tahun 1978 menjadi sasaran inovasi. Sejumlah peralatan mobil pun dibongkar, sekira 20 unit karburator dan beberapa peralatan lainnya menjadi korban inovasi karyawan di workshop Dinas Kebersihan.
Ditambah sebuah dinamo, alhasil sebuah mesin genset dengan kekuatan 25 Kva berhasil mereka buat, dan bisa melayani listrik warga di kampung mandiri energi.
Kampung yang dihuni sekira 122 kepala keluarga ini mendapat pasokan listrik dari genset berbahan bakar gas metan di TPA Puuwatu, setiap rumah warga dialiri listrik sebesar 450 watt. Warga yang berprofesi sebagai pemulung dan petugas dinas kebersihan ini, menikmati listrik sekira 5-6 jam setiap harinya.
“Sekarang sudah ada 2 mesin genset yang kita punya, mesin yang satunya jenis Toyota Kijang tahun 1983, itu kita pasangkan dinamo dan bisa mengasilkan listrik 40 Kva”
Meskipun umur mesin terbilang tua, namun hingga kini masih berfungsi dengan baik, kalaupun terjadi keruskan, bukan pada mesinnya namun pada dinamo.
“Mesin Toyota ini kita pilih karena menurut teman-teman bandel dan peralatannya cukup mudah ditemukan”kata Nur Rasak.
Selain listrik, warga juga mendapatkan pasokan gas metan dari TPA untuk kebutuhan memasak sehingga mereka bisa menghemat membayar listrik dan kebutuhan gas LPG.
“Alhamdulillah, bantuan pemerintah kota ini sangat membantu kami, kami dibuatkan rumah, listriknya gratis, untuk memasak juga gratis karena pake gas metan,” ungkap Fajar Petugas DLHK Kota Kendari, salah satu penghuni kampung mandiri energi.
Kesuksesan mengelola TPA mendapat apresiasi dari berbagai pihak, sejumlah penghargaan diraih pemerintah Kota Kendari berkat TPA Puuwatu, diantaranya Adipura Kencana tahun 2014 dan 2015, TPA terbaik tahun 2016 dan 2017 dari Kementerian Libgkungan Hidup dan Kehutanan RI dan Penghargaan Energi Prabawa kategori the most inspiring dari kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI tahun 2015.
Menjadi TPA terbaik di Indonesia saat ini, TPA yang juga berfungsi tempat belajar dan tempat wisata ini, menjadi sasaran studi banding. Lebih dari 250 kabupaten dan kota di Indonesia telah berkunjung di TPA ini, bahkan sejumlah pemangku kepentingan dari beberapa negara didunia juga pernah menginjakkan kakinya di TPA wisata ini.
Dinas lingkungan Hidup mencatat, beberapa negara yang pernah berkunjung ke TPA diantaranya, Perancis, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, India, Jepang, Australia dan Singapura.
Kesuksesan mengelola TPA dan menghasilkan gas metan tak hanya dirasakan sendiri oleh Kota Kendari, pengelolaan TPA dengan sistem sanitary land fill ini juga sudah diduplikasi sejumalah kabupaten Kota di Indonesia dengan pendampingan langsung dari DLHK Kota Kendari, diantaranya Kota Bau-bau, Bone, Maros, Bulukumba, Kota Palopo, Tebo, dan Pasuruan.
Kota Palopo salah satunya, melalui pendampingan langsung, saat ini mereka telah mengelola TPA nya dengan sistem sanitary land fill dan menghasilkan gas metan.
“Alhamdulillah Kota Palopo sudah punya TPA dengan sistem sanitary land fill, berkat pendampingan Kota Kendari. Gas metan untuk kompor juga sudah dinikmati warga dan mesin genset 9000 watt sudah menyala” tutur Ibnu, Kasubid Sengketa Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Palopo via telepon.
Ia mengungkapkan untuk meningkatkan kapasitas TPA, saat ini Pemerintah Kota Palopo masih akan menambah luas TPA yang saat ini memiliki luas 13 Ha.
Saat ini mesin genset berbahan bakar gas metan masih digunakan untuk kebutuhan di dalam TPA, sedangkan untuk cita-cita yang lebih besar seperti kota Kendari, Ia hanya bisa menunggu kebijakan dari Walikota Palopo. (Sumarlin)