Mengurai Benang Kusut Ancaman Banjir di Kendari

BANJIR besar melumpuhkan 70 persen wilayah kota Kendari pada Juli 2013 lalu. Berbagai masalah penyebab banjir mengemuka , pasalnya untuk pertama kali dalam sejarah kota Kendari, status darurat siaga satu bencana banjir ditetapkan gubernur Sulawesi Tenggara.
Banyak korban banjir saat itu warga kelas ekonomi kebawah yang tinggal di sekitar area resapan air. Bagi seorang pakar lingkungan Universitas Haluoleo, La Ode Alwi, menyebut penyebab utama banjir saat itu, “pembangunan di atas daerah resapan air tanpa menyiapkan sistem drainase yang standar “.
—————————-
Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, tidak dapat dipungkiri kota Kendari berkembang pesat. Para pendatang yang telah lama meninggalkan Kendari, dibuat terperangah ketika melintasi kawasan Anduonohu dan wilayah pesisir teluk. Bangunan ruko (rumah toko) dan bangunan megah lainnya berjejer hampir sepanjang jalan-jalan utama. Namun sebagian besar bangunan itu berdiri di atas daerah resapan air rawa.
Begitu juga kawasan perumahan mentereng, menjamur di kawasan yang dulunya rawa dihuni habitat alami. Padahal, rawa merupakan daerah tangkapan air yang tebentuk secara alami, tidak boleh ditimbun dan mendirikan bangunan. Jika ditimbun, akan menyebabkan air kehilangan tempat penampungan, meluap menggenangi tanah.
Pemerintah kota Kendari mengklaim, laju pembangunan di daerah resapan air tidak merusak sistem alami daerah resapan air, alasannya masih banyak daerah tangkapan air di kota Kendari. Selain itu, pemerintah tidak dapat mengeluarkan larangan membangun di atas tanah resapan, sebab kawasan itu milik warga dibuktikan dengan kepemilikan Sertifikat Hak Milik (SHM).
“Area teluk masih lumayan bagus, kita betul-betul mengawasi tetapi masih terdapat beberapa orang yang bisa lolos membangun. Daerah sekitar teluk baru 30 persen yang digunakan, masih banyak daerah tangkapan lain. Kita tetapkan sebagi daerah tangkapan air tetapi itu bukan tanah pemerintah, kita tidak bisa melarang orang membangun diatas tanahnya sendiri. Idealnya adalah kita bebaskan lahan itu sebagi daerah tangkapan air, lalu dijustifikasi sebagai daerah tangkapan air”, kata Kepala Badan Perencanaan Daerah (BAPPEDA) Kota Kendari, Askar, saat ditemui diruang kerjanya.
Permasalahan lain, dari total anggaran pendapatan belanja daerah kota Kendari 2013 berjumlah Rp. 900 milyar, sebanyak 56 persen digunakan untuk menggaji Pegawai Negeri Sipil kota Kendari, sisanya sebanyak 44 persen digunakan untuk anggaran pembangunan. Pembagian porsi anggaran itu dinilai pemerintah tidak cukup untuk membebaskan lahan masyarakat di kawasan resapan air.
“Persoalannya, ketika pemerintah akan mengganti rugi lahan itu, anggaran kita sangat minim. Jalan harus dibuat, diperbaiki dan persoalan lain harus ditangani. Harga lahan dikota Kendari bukan hanya menanjak, tapi sudah terbang. Seperti di kawasan Rumah Sakit Abunawas, tadinya harga tanah Rp. 50 ribu per meter, sekarang Rp.2,7 juta per meter”, ungkap Askar.
Ia juga menegaskan pembangunan yang ada sekarang,cenderung memblok jalan air, jika itu terjadi jangan salahkan air kenapa masuk dirumah.
Tetapi bagi seorang pakar lingkungan Universitas Haluoleo, La Ode Alwi, membangun diatas daerah resapan air tanpa menyiapkan sistem drainase yang standar adalah penyebab utama banjir .
Dalam hitungannya, jika rata-rata tinggi timbunan tanah di daerah resapan mencapai 1,5 meter per hektar, akan memindahkan volume air sebanyak 10 ribu hingga 15 ribu kubik air ke tempat lain. Jika dalam satu tahun laju penimbunan di atas daerah tangkapan air seluas 100 hektar, akan berakibat pada meluapnya volume air sebanyak 1 juta hingga 1,5 juta kubik air.
Contohnya timbunan tanah yang menutupi area rawa dipesisir teluk untuk pembangunan kawasan perumahan elit di sekitar Rumah Sakit Abunawas, Jl. ZA. Sugianto, kelurahan Kambu. “Timbunan ini merupakan daerah parkiran air, yang sekarang ditimbun sehingga menyebabkan air menggenangi badan jalan pada musim hujan, dapat menjadi daerah banjir”, ujar La Ode Alwi.
Menurutnya, area timbunan harus dikelilingi sistem drainase berbentuk selokan yang memiliki lebar minimal 3 meter dengan kedalaman 1,5 meter.
Sementara, pembangunan ruko di beberapa wilayah resapan air merupakan pemicu lain banjir lantaran tidak menyiapkan sistem drainase yang baik. “Inilah salah satu contoh drainase perkotaan pada jalan utama yang salah, ini hanya kurang lebih 50 cm. seharusnya lebar drainase minimal 2 meter, kedalaman 1,5 meter untuk dapat mencegah banjir” tutur La Ode Alwi saat memperlihatkan proyek pembangunan selokan di ruas jalan Nasution, kelurahan Andounohu yang dinilai tidak memenuhi standar hitungan ilmiah.
Namun, pihak BAPPEDA Kendari berkilah dengan dalih “kita baru tahun ini rencanakan dan menghitung rencana induk darinase. Dari rencana induk drainase, kita akan menghitung berapa volume air yang datang saat hujan” pungkas Askar.
Bukan hanya drainase, pemerintah kota Kendari terkesan lemah mengawasi pembangunan ruko dibantaran sungai, seperti yang terjadi pada salah satu sungai kecil di jalan By pass. Disini, fondasi bangunan ruko berdiri menutup badan sungai.
“ini contoh pembangunan yang merusak lingkungan, sungai yang seharusnya dipertahankan bahkan dinormalisasi justru ditimbun. Ini berbahaya sekali pada musim hujan, air tidak bisa bergerak kesungai melalui salurannya, akan menempati lahan pemukiman. Akibatnya pemukiman tergenang air” tegas La Ode Alwi.
Solusi Panjang Ancaman Banjir
Kendati pemerintah berdalih buruknya tata kelola drainase bukan penyebab utama banjir. Namun, sejumlah pihak menyebut rusaknya bantaran Sungai Wanggu dan belasan sungai lain di kota Kendari menjadi penyebab utama banjir Juli 2013.
Ancaman banjir di kendari bagai mengurai benang kusut. Sejatinya apa prioritas utama menyelesaikan masalah banjir yang diprediksi akan terjadi setiap tahun ?
Secara topografi , dataran kota Kendari diapit bentangan dua pegunungan yang di dalamnya mengalir belasan sungai dan bermuara di teluk Kendari .
Dari belasan sungai itu, sungai Wanggu adalah salah satu penyumbang air banjir terbesar saat hujan deras intensitas tinggi pada pertengahan tahun 2013 lalu. Tidak sedikit rumah warga hanyut terbawa arus banjir.
Berdasarkan temuan La Ode Alwi, sungai Wanggu rusak akibat aktifitas pembukaan lahan pada area hulu di kabupaten Konawe Selatan dan pembangunan rumah dibantaran sungai Wanggu tidak sesuai dengan aturan pemerintah .
Di salah satu jembatan di jalan Boulevard yang menghubungkan kelurahan Aundonohu dan kelurahan Lepolepo, tampak memprihatinkan. Badan sungai yang dulunya lebar, mengalami penyempitan dan bibir sungai berubah menjadi daratan.
“Sungai ini sudah mengalami penyempitan 40 persen. Waktu saya penelitian tahun 2009 masih berbentuk badan sungai, kini menjadi daratan lahan kering ditumbuhi rerumputan” kata La Ode Alwi saat mengajak penulis melihat langsung percontohan rusaknya sungai Wanggu akibat ulah manusia.
Dalam penjelasannya, masa tanah turun ke pinggir sungai saat hujan deras mengguyur. Banyak sedimen pasir tertahan dibibir sungai sehingga daerah tikungan sungai berubah menjadi endapan tanah. Akibatnya air mengalami tekanan menggerus lapisan dasar sungai tempat berdirinya fondasi jembatan yang terbuat dari beton.
Dalam hitung-hitungan La Ode Alwi, jembatan tersebut akan roboh dalam hitungan tiga hingga lima tahun kedepan.
Temuan itu didukung data pemerintah yang menyebutkan, hampir 70 bantaran sungai Wanggu berdiri bangunan.
Rencananya, tahun ini pemerintah provinsi Sulawaesi Tenggara mendapat kucuran dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sebanyak Rp.48 milyar untuk membenahi sungai Wanggu .
“Kami akan membahas proses penormalan sungai Wanggu. Kami sudah mendapatkan bantuan dana dari APBN sebanyak 48 milyar. Ini upaya untuk mengurangi genangan air sungai Wanggu yang merembes atau melebar ke dalam kota kendari” kata Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam saat ditemui di tempat berbeda.
“Dari dana itu, sungai Wanggu akan diperdalam dan dibuatkan talut , lalu kemudian dibuat jalan. Saya meminta kepada perencana, jalan itu dapat dijadikan jalan wisata dan rumah dibangun menghadap ke sungai” tambahnya.
Dari sekelumit masalah banjir dan solusinya, sebenarnya apa prioritas utama menyelesaikan masalah banjir yang diprediksi akan terjadi setiap tahun?
“Kalau sungai-sungai kita tidak bisa membuang ke teluk, akan membuang air ke pemukiman masyarakat. Maka, teluk Kendari akan kita handle pertama secara bertahap dengan cara dikeruk” tutur Askar.
Sementara dalam kacamata pakar lingkungan terkait solusi banjir oleh pemerintah, “dampak negatif dari pembangunan, yang pikul adalah rakyat kecil dengan kemampuan ekonomi rendah. Apakah ini sebuah pembangunan adil?. Tidak ada lagi keadilan pada pembangunan itu” kata La Ode Alwi.
Menurutnya, disinilah pentingnya Peraturan Daerah yang menata, seharusnya di izin membangun satu paket dengan sistem drainase.
“Sistem drainase dibagi dua, sistem drainase alamiah sungai dan sistem aliran buatan yang dibuat manusia sesuai kebutuhan bukan keinginan. Kebutuhan memiliki kriteria dan hukum-hukum alam, tetapi keinginan tidak ada batasnya” tegas La Ode Alwi. (Riza Salman)

Pemkab Konsel Bidik Potensi Rawa Aopa

Suarakendari- Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan tertarik untuk mengembangkan kawasan rawa aopa sebagai salah satu destinasi wisata berbasis lingkungan mengingat potensi yang dimiliki rawa terbesar di Sulawesi Tenggara tersebut. Pengembangan kawasan wisata rawa aopa sendiri nantinya akan bekerja sama dengan multistakholder seperti Balai Taman Nasional Rawa Aopa (BTNRAW) dan tentu saja masyarakat sekitar kawasan.

Untuk pencanangan kawasan wisata, pemkab Konsel berencana menjadikan rawa aopa sebagai pariwisata berbasis air dengan membenahi dan membangun sarana pariwisata di sejumlah tempat, seperti pulau harapan satu dan pulau harapan dua sebagai area spot wisata. Di dua pulau ini pengunjung dapat menikmati pemandangan kawasan rawa dengan melihat ribuan burung air. Warga juga dapat menyaksikan aktifitas hewan air lainnya dan aktifitas nelayan lokal yang mencari ikan di kawasan ini dengan menggunakan sarana transportasi perahu.

Bupati Konawe Selatan, Drs.H. Surunudin Dangga menjelaskan, selain wisata setidaknya ada sejumlah potensi lain yang dapat dikembangkan di rawa aopa, yakni, potensi perikanan berupa budi daya ikan air tawar, potensi tanaman sagu untuk lumbung ketahanan pangan lokal, serta potensi ekologi sumber daya hayati kawasan mengingat kawasan aopa sebagai kawasan situs ramsar dunia.

Khusus untuk penyelamatan dan pengembangan sumbar pangan lokal, sagu pemda penyediakan puluhan hektar lahan budi daya sagu. Pencanangan yang ditandai dengan penanaman tanaman sagu perdana sudah dilakukan muspida Konsel bersama BTNRAW, pada Rabu, 15 November 2017.

Untuk pengembangannya, akan ada sinergi antara dinas terkait seperti pariwisata. dinas perikanan, dinas pertanian dan dinas kehutanan bersama Balai TNRAW dan masyarakat komunitas. SK

Tradisi Anak Pesisir Berburu “Tumbelu”

Pagi-pagi benar Udin, Awal dan Rahmat, tiga sekawan ini sudah mengayuh sampan. Mereka . Bergantian mendayung mengitari kawasan hutan bakau (mangrove), sekitar dua mil dari rumah mereka di Desa Puupi, Kecamatan Kolono, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Mereka mengejar waktu, sebelum metti (air pasang) mengairi hutan bakau. Hari itu tepat waktu liburan sekolah. Mereka memanfaatkan waktu dengan berburu “tumbelu”, hewan mirip cacing yang hidup di kayu bakau untuk dikonsumsi. Tumbelu sendiri hidup dan berkembang biak dalam pori-pori kayu bakau yang mati.

Tumbelu memang belum lama dikenal warga setempat. “Baru sekitar tujuh tahunan, ditemukan oleh warga etnis Tolaki yang bermukim di pesisir,”kata Burhan, sesepuh nelayan Desa Puupi. Uniknya, justeru masyarakat bajo sendiri sebagai suku laut, tidak mahir mencari tudmbelu. Bahkan nama tumbelu berasal dari bahasa Tolaki yang artinya cacing kayu.

Meski cukup berlumpur, anak-anak cukup menikmati mencari tumbelu. Udin (10 tahun) seorang anak pencari tumbelu mengaku senang mencari tumbelu, terutama saat musim liburan tiba. “Saya bersama teman-teman selalu mencari tumbelu di bako-bako (hutan bakau,Red), biasanya kami mencari di kayu bakau yang sudah lapuk,”katanya.
Cara mengambil tumbelu tidaklah rumit, dengan menggunakan kampak, kayu bakau yang telah rebah dibelah dua dan di dalam kayu berpori, tumbelu lalu diambil hidup-hidup. Sepintas Tumbelu mirip cacing tanah, panjang dan berlendir, hanya saja tumbelu sedikit lebih besar dan berwarna putih cerah.

Umumnya warga tidak memasak tumbelu, melainkan dimakan langsung dengan cara membersihkan dan membuang bagian isi perut tumbelu lalu di telan hidup-hidup. Bagi warga pesisir makan tumbelu memiliki kasiat untuk kesehatan tubuh. Tumbelu sendiri memiliki kandungan antitoksin yang tinggi yang berguna untuk kekebalan tubuh manusia.

Hutan mangrove di desa puupi memiliki kawasan paling luas dibanding ari desa-desa lain pesisir di kecamatan kolono. Setidaknya terdapat kurang lebih lima belas ribu hektar hutan mangrove dikawasan ini. Hutan mangrove sendiri memiliki fungsi menyimpan ekosistem rantai makanan di perairan laut, bermanfdaat besar bagi pelestarian kawasan pesisir. (SK)

Berjuang Demi Perbaikan Lingkungan Pesisir Morut

SUARA KENDARI-Saifudin (48 tahun) bukanlah orang sembarang, di desanya Ia mungkin tergolong manusia langka. Dari tiga ratusan orang warga yang berdomisili dipesisir  kecamatan Moramo Utara, boleh dikata yang peduli lingkungan pesisir dapat dihitung jari, salah satunya adalah  Saifudin.

Bapak tiga anak ini  sehari-hari bekerja sebagai nelayan tangkap dan budidaya di desanya. Kepeduliannya terhadap keberadaan terumbu karang  dan memerangi aktifitas pemboman ikan, menempatkan dirinya menjadi salah satu pejuang lingkungan di desanya.

Ia berkisah, suatu ketika Ia merasakan betapa sulitnya memperoleh ikan, padahal laut cukup dekat dari rumahnya. Kesulitan ini bukan tanpa sebab, aktifitas pemboman ikan telah menyebabkan habitat ikan rusak total. “Banyak sekali terumbu karang yang hancur akibat pemboman ikan, ini membuat kami masyarakat nelayan kesulitan karena ikan sudah tidak ada lagi yang bisa dikail,”kata Saifudin.

Ia pun berusaha memberikan nasihat pada pelaku-pelaku pembom ikan di desanya agar tidak lagi membom ikan, tapi niat baiknya tersebut justeru berbuah cibiran. “Saya dianggap sebagai   penghalang kegiatan illegal mereka,”kata Saifudin  mengenang kisah pilu itu.

Selain dikucilkan tak jarang Ia mendapat ancaman terror dari para pelaku. “Prinsip saya sepanjang niat baik untuk kebaikan bersama, maka saya pantang untuk mundur,”tegasnya.

Tak hanya memberikan nasihat, Saifudin bahkan dengan suka rela memperbaiki kembali terumbu karang yang rusak dengan merehabilitasi karang-karang buatan. Aktifitas saifudin ini sempat dianggap warga sebagai kegiatan orang gila. “Saya tidak peduli dengan cibiran orang, bekerja untuk memperbaiki lingkungan pesisir sudah menjadi tekad saya,”ungkapnya.

Dua tahun bergelut dengan perbaikan terumbu karang, warga pun menuai hasil. Dan ikan-ikan kembali berkembang biak dan warga pun senang.

Dari sanalah Saifudin diam-diam mendapat dukungan sebagian warga terutama para tokoh dan sesepuh kampong serta kepala desa. Bahkan inisiatif membentuk lembaga pengawas pesisir pun dibentuk dengan suka rela. “Alhamdulillah perjuangan saya tidak sia-sia kini banyak warga yang sudah beralih mendukung kegiatan perbaikan lingkungan pesisir,”ujar Saifudin.

Warga dan aparat desa juga membentuk kesepakatan untuk memerangi pemboman ikan, warga dengan suka rela melaporkan setiap temuan aktifitas pemboman ikan, jika perlu diteruskan ke aparat berwajib, sehingga perlahan membuat jera para pelaku.

Atas jasanya itu, kini Saifudin menjadi mitra tetap dinas kelautan dan perikanan Kabupaten Konawe Selatan, sebagai ketua kelompok kerja mitra bahari. (js)

Mendorong Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Bungkutoko

SUARAKENDARI.COM-Program Green City yang dijalankan  Pemerintah Kota Kendari patut diapresiasi  sebagai upaya  menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota ini.  Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kota Kendari bersama sejumlah penggiat lingkungan kembali  menanam bunga di sepanjang median jalan Poros Bungkutoko (Jembatan Talia). Sebanyak 500 pohon bunga berbagai jenis ditanam.

Ratna Sakai, Kepala Bidang Tata Lingkungan DLHK Kota Kendari mengatakan terdapat 200 bunga jenis terompet kuning dan 300 bunga jelita menambah koleksi taman di median jalan tersebut. .

Aksi tanam bunga sebagai upaya memanfaatkan taman median yang digagas oleh Wali Kota Kendari, Asrun  sepanjang satu kilo meter. “Kini sudah 600 meter yang tertanami bunga,” ungkap Ratna.

Menurut Ratna, RTH merupakan suatu bentuk pemanfaatan lahan pada satu kawasan yang diperuntukan untuk penghijauan tanaman. Klasifikasi bentuk RTH umumnya antara lain RTH Konservasi/Lindung dan RTH Binaan.

Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam.

Penyediaan dan pemanfaatan RTH dalam RTRW Kota/RDTR Kota/RTR Kawasan Strategis Kota/RTR Kawasan Perkotaan, dimaksudkan untuk menjamin tersedianya ruang yang cukup bagi:

  • kawasan konservasi untuk kelestarian hidrologis;
  • kawasan pengendalian air larian dengan menyediakan kolam retensi;
  • area pengembangan keanekaragaman hayati;
  • area penciptaan iklim mikro dan pereduksi polutan di kawasan perkotaan;
  • tempat rekreasi dan olahraga masyarakat;
  • tempat pemakaman umum;
  • pembatas perkembangan kota ke arah yang tidak diharapkan;
  • pengamanan sumber daya baik alam, buatan maupun historis;
  • penyediaan RTH yang bersifat privat, melalui pembatasan kepadatan serta kriteria pemanfaatannya;
  • area mitigasi/evakuasi bencana; dan
  • ruang penempatan pertandaan (signage) sesuai dengan peraturan perundangan dan tidak mengganggu fungsi utama RTH tersebut. SK

Pemkot Kendari Masih Andalkan TPA Puuwatu Raih Adipura

SUARAKENDARI.COM-Pemerintah Kota Kendari masih mengandalkan TPA Puwatu untuk meraih Adipura, hal itu terlihat dalam persentase Walikota Kendari dihadapan Dewan Adipura di Hotel Sultan Jakarta, Selasa (6/5/2017).

Dalam paparannya Walikota Kendari Asrun menjelaskan pemerintah Kota Kendari terus meningkatkan pengelolaan TPA Puwatu, jika sebelumnya pengelolaan sampah menggunakan sistem controlled landfill, maka saat ini sudah menggunakan sanitari landfill.

“Saat ini kita sudah menggunakan sistem sanitary landfill di TPA Puwatu, Insya Allah gas metan yang dihasilkan lebih besar dari sebelumnya, kami juga sudah membangun flying fox dan out bond sebagai sarana wisata di TPA, Pemanfaatan gas metan ini juga kami telah duplikasi dalam bentuk TPA komunal di Pasar PKL dan Perumahan PNS Baruga” ujarnya.

Untuk menampung lebih banyak warga tidak mampu, menurut walikota dua priode ini, pemerintah kota menambah jumlah pemukiman di kampung mandiri energi disekitar TPA Puwatu. Sehingga saat ini lebih dari 200 unit rumah yang dibangun di kampung mandiri energi.

Selain itu lanjut walikota meskipun Kendari belum terjadi macet, Pemerintah kota sudah mulai menggunakan transportasi masal bernama translulo. “Ini juga bagian dari mendukung program green transportasi” ucapnya.

Dari sisi pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau (RTH), selain menjadikan taman kota sebagai taman aktif, pemerintah kota juga terus menyediakan RTH bagi warga, seperti tracking mangrove, Bungkutoko, Lahundape Teluk Kendari dan Purirano, serta Kebun Raya Kendari.

Diakhir persentasenya walikota menyampaikan sejumlah program inovasi yang akan dikerjakan pemerintahan selanjutnya, diantaranya pembangunan waduk sungai wanggu untuk mengatasi banjir dan sebagai sumber air baku dan Pembuatan Aquarium disekitar teluk Kendari.ALIN

Jalur Transportasi di Konawe Utara Rusak Berat

Kondisi Jalan di Konawe Utara. dok foto milik Irawan Amarul/ FB
Ratusan kendaraan terpaksa antri. dok foto milik: dedi/FB

SUARAKENDARI.COM-Jalur transportasi yang menghubungkan Kota Kendari dan Kabupaten Konawe Utara kini mengalami rusak berat. Akibatnya, banyak  kendaraan yang melintas terjebak macet selama berjam-jam lamanya.

Sejumlah kendaraan yang mencoba nekat merobos kubangan jalan dilaporkan terguling di tengah jalan, sedang kndaraan terjebak dan nyaris tertimbun oleh lumpur merah. “Kondisi jalan yang rusak ini sudah berlangsung hampir dua pekan,”kata Mustaman.

Rusaknya jalur transportasi ini juga mengganggu arus  distribusi barang ke daerah itu mulai terganggu dan menyebabkan harga sembilan bahan pokok melambung tinggi karena minimnya pasokan.

Pihak kontraktor dituding sebagai biang kerusakan jalan, karena diduga tidak mengerjakan pekerjaan sesuai bestek.  SK

 

Bencana Banjir dan Tanah Longsor Masih Harus Diwaspadai

SUARAKENDARI.COM-Potensi hujan lebat dipicu yang  pergerakan gelombang atmosfer sepanjang
khatulistiwa diperkirakan masih akan terus berlanjut sepanjang bukan juni 2017.  Penomena pergerakan atmosfir ini dikenal dengan sebutan Madden Julian Oscillation (MJO). Untuk itu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) menghimbau masyarakat di wilayah  Indonesia bagian timur waspada terhadap bencana akibat hujan lebat.

BMKG menyebut Gelombang tersebut terus merambat ke wilayah timur Indonesia sampai lima hari ke depan, sehingga memicu peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian tengah
dan timur.

Selain memicu hujan lebat, fenomena MJO itu juga menyebabkan munculnya potensi angin kencang di wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur dan Maluku.

Gelombang tinggi juga terjadi di beberapa perairan Indonesia seperti Laut Banda, Laut Arafuru, Laut Timor, Perairan Selatan Jawa hingga Pulau Sumba dengan ketinggian 2-4 meter. Diperkirakan terjadi peningkatan curah hujan disertai angin kencang.

Masyarakat diminta waspada, terutama yang berada di Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku, Papua Barat, Papua. Peringatan ini disampaikan Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Yunus Swarinoto, Sabtu (3/6/2017). (KPS)

 

Mengurai Penyebab Banjir di Kendari

SUARAKENDARI.COM-Banjir bandang yang terjadi disejumlah anak sungai di Kota Kendari memiliki beberapa penyebab, pertama, pola perubahan cuaca ektrim dimana intensitas hujan cukup tinggi di kawasan Timur Indonesia sebab, hujan yang ddikuti bencana banjir juga terjadi di sejumlah wilayah provinsi di Indonesia. Berdasarkan pantauan update prakiraan cuaca yang dirili Badan Metereologi dan Geofisika (BMKG), di Sultra, hujan turun merata di seluruh wilayah. Dampaknya, bencana banjir  terdapat di sejumlah kawasan termasuk kota kendari.

Kedua, kerusakan kawasan hutan oleh perambahan dan alih fungsi hutan untuk perkebunan (kebun sawit, kebun rakyat, tambang di sejumlah wiilayah di Sultra memberi andil besar pada terjadinya kerusakan lingkungan yang cukup parah dalam satu dekade akibat pemberian perijian yang sporadis oleh pemerintah daerah kabupaten, tanpa memperhatikan kulitas lingkungan. Hampir separuh Wilayah hutan di perbatasan kota kendari (konsel-konawe-konawe utara) sudah berubah fungsi jadi kebun sawit.

Ketiga, pendangkalan teluk kendari menjadi problem panjang yang disebabkan oleh sedimentasi lumpur dan timbunan sampah (tong sampah raksasa warga kendari) dan prediksi akan menjadi deratan semakin nyata. Ditambah dengan aktifitas mafia tanah yg mengkapling teluk dan diperjualbelikan hingga terbitnya sertifikat tanas di atas laut menjadi hantu bagi bencana di masa depan sebab, semakin lama kawasan teluk semakin terdesak oleh pembangunan perumahan yang menghilangkan biodiversity dan lahan resapan air kota.

Ke empat, pembangunan perumahan dan perhotelan/ruko yang serampangan disepanjang daerah aliran sungai ikut andil  merusak bentang alam di wilayah daerah aliran sungai. Ironisnya, aktifitas  ini tidak mendapat perhatian serius pemerntah. Termasuk hilangnya sebagian biofori tanah akibat pembangunan lantai beton. Kondisi ini telah diingatkan banyak pakar lingkungan di Sulawesi Tenggara, salah satunya yang pernah disampaikan DR.H.Laode Alwi dalam berbagai kesempatan diskusi yang digelar jurnalis di Kendari.

Ke lima, tersumbatnya sebagian besar drainase jalan oleh timbunan lumpur dan sampah. Ini disebabkan minimnya kesadaran masyarakat akan permbaikan lingkungan di wilayah tempatnya bermukim, termasuk minimnya pengawasan intansi /dinas terkait.

Ke enam, topografi wilayah Kota Kendari yang berada dikerendahan menyebabkan, luapan air dari hulu cukup besar.SK

Banjir Rendam Perumahan Dosen di Kampus Lama UHO

SUARAKENDARI.COM-Kompleks perumahan dosen di kawasan Kampus Lama Universitas Haluoleo (UHO) tak luput dari bencana banjir, Rabu (31/5) siang. Banjir merendam hampir seluruh rumah di wilayah ini akibat  meluapnya anak sungai lahundape, Kendari. “Ini banjir kedua bulan ini akibat meluapnya sungai lahundape,”kata Tin, warga kompek UHO.

Wilayah yang berada di kerendahan dan minimnya saluran pembuangan air membuat kawasan ini menjadi salah satu titik rawan banjir. Terlebih adanya aktifitas pembangunan perhotelan di sepanjang jalur baypass membuat daerah ini tak lagi memiliki daerah resapan. Akibat banjir, sejumlah warga terpaksa harus menyelamatkan barang berharga mereka. SK