TARSIUS DI BELANTARA LAMBUSANGO

Primata endemik Sulawesi yang keberadaanya kian langka memang terus menjadi salah satu obyek penelitian para ilmuwan. Tidaklah gampang menemukan keberadaan tarsius, sebab, hewan satu ini tergolong sensitif dengan kehadiran manusia. Biasanya saat mengetahui keberadaan manusia, tarsius segera melarikan diri dengan cara bergelantungan dari satu dahan pohon ke dahan pohon lainnya. Butuh kesabaran waktu dan pemandu yang tepat untuk dapat menemukan primata satu ini. Biasanya waktu untuk mengamati kemunculan tarsius mencari makan antara pukul lima lewat empat puluh lima menit sore hari, dan pukul lima lebih empat puluh menit pagi hari.

“Para peneliti harus mengendap-endap berlama-lama untuk bisa mengamati dan mendokumentasikan tarsius,” kata Lasamudi, pemandu peneliti tarsius yang sudah bekerja belasan tahun di belantara hutan lambusango.

Berlama-lama mengamati di hutan memang memacu adrenalin, dan tentu saja ada kepuasan tersediri dari para pencinta hewan saat berhasil mendokumentasikan hewan langka ini.

Tarsius sendiri merupakan hewan bertubuh kecil dengan mata yang sangat besar, tiap bola matanya berdiameter sekitar enam belas mili meter dan berukuran sebesar keseluruhan otaknya. Kaki belakangnya juga sangat panjang.

Tulang tarsius di kakinya sangat panjang dan dari tulang tarsus inilah tarsius mendapatkan nama. Panjang kepala dan tubuhnya sepuluh sampai lima belas centimeter. Namun kaki belakangnya hampir dua kali panjang ini, mereka juga punya ekor yang ramping sepanjang dua puluh hingga dua puluh lima centimeter. Jari-jari mereka juga memanjang, dengan jari ketiga kira-kira sama panjang dengan lengan atas.

Tarsius merupakan satwa insektivora, dan menangkap serangga dengan melompat pada serangga itu. Mereka juga diketahui memangsa vertebrata kecil seperti burung, ular, kadal dan kelelawar. Saat melompat dari satu pohon ke pohon lain, tarsius bahkan dapat menangkap burung yang sedang bergerak. SK

KEMARAYA RAWAN LONGSOR

Satu unit rumah di Jalan Bunga Kolosua, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari tertimpa longsoran tanah, Selasa malam (9/1). Rumah milik Jayus Pagala (60 th) mengalami kerusakan parah di sisi kiri akibat tertimbun material tanah yang berasal dari bukit di sekitar lokasi. Beruntung peristiwa ini tidak menimbulkan korban jiwa. walau sebagian perabot rumah mengalami kerusakan. “Longsor terjadi sekitar pukul lima pagi, beruntung Kami semua selamat dari musibah ini,”kata Bako, anak Jayus Pagala. Ya, Ancaman tanah longsor menjadi momok sebagian warga yang berdomisili Kota Kendari. Terutama mereka yang menetap di daerah perbukitan. Topografi wilayah Kota Kendari kendari sebagian adalah kawasan perbukitan yang membentang dari Kelurahan Kemaraya hingga Kelurahan Mangga dua, Kecamatan Kendari Barat. Salah satu daerah yang kerap menjadi langganan longsor adalah Kelurahan Kemaraya terlebih saat musim penghujan tiba.  Warga harus ekstra waspada dengan pergerakan tanah yang cukup labil. “Saat musim hujan seperti ini warga selalu was-was akan ancaman longsor,”kata Rianto, salah satu ketua RT di Kemaraya.   Khusus di wilayahnya, lanjut Rianto, setiap tahun selalu ada korban rumah tertimbun longsor, meski tanggul penahan longsor sudah terbangun. Pergerakan tanah yang labil nampaknya menjadi problem besar,”ungkapnya. SK

SITUS BATU DI PANTAI SENJA MULAI DIRUSAK

Salah satu situs batu di pantai senja yang dirusak oleh aktfitas pertambangan batu. foto: Yoshasrul
Penampakan Salah satu situs batu di pantai senja yang dirusak oleh aktfitas pertambangan batu. foto: Yoshasrul

Situs batu di sepanjang pesisir pantai senja, kecamatan Wawatu, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan kini dalam kondisi mengenaskan. Sebagian situs batu kini telah rusak yang diduga akibat aktifitas pertambangan batu yang tengah marak belakangan ini. Hasil pengamatan di beberapa titik di kawasan itu ditemukan bongkahan batu yang selama ini berdiri tegak di bibir pantai kini telah rusak dengan cara dipecahkan. Ini terlihat dari struktur situs batu yang tidak lagi utuh. Bahkan dinding batu yang selama ini mengelilingi pulau juga telah dirusak oleh alat berat pemecah batu.

Di kawasan Moramo Utara khususnya Wawatu dan sekitarnya, terdapat sejumlah perusahaan tambang batu yang telah lebih tiga tahun beroperasi. Ironisnya aktifitas pertambangan batu ini diduga berada dalam kawasan hutan lindung dan hutan konservasi sehingga patut diduga adanya aktiftas yang telah merusak lingkungan sekitarnya. SK

MARAK PEMBOMAN IKAN DI PERAIRAN MORAMO UTARA

Sepuluh menit berdiri dua dentuman menggema di kejauhan. Lima menit berikutnya, satu dentuman dari arah timur, jaraknya cukup dekat, air laut sekitar Kami bergetar. Akhir pekan di laut memang sedikit memilukan, setidaknya tujuh kali dentuman terdengar sepanjang pagi hingga menjelang siang dan kami selalu menghitung hingga akhirnya semua kembali hening. 

“Sangat mengerikan aktiftas ilega fishing di wilayah ini, oknum oknum nelayan benar-benar tidak ramah lingkungan,”kat Dhany, pemerhati lingkungan.

Aktifitas pemboman ikan ini diduga telah berlangsung lama, namun luput dari pantauan aparat berwenang. Hampir dipastikan, akibat aktifitas pemboman ikan, karang disepanganjang pesisir Moramo Utara hingga Moramo induk kini dalam fase menghawatirkan. “Kemungkinan besar karang di perairan ini sudah banyak yang hancur, ini berkonsekwensi pada hilangn biodiversity bawah laut kita. Dan akan berpengaruh pada penghasilan ikan para nelayan itu sendiri yang kian menurun,”ujar Dhany yang juga seorang penggiat hoby mancing.

Dhany kuatir jika ini terus dibiarkan maka akan mengancam masa depan perairan di kawasan Moramo dan sekitarnya. “Saya berharap agar pemerintah dan aparat berwenang dapat mengatasi masalah ilegal fishing di wilayah ini dan memberi penyuluhan bahaya penggunaan bom ikan dan sejenisnya,”harapnya. SK

Komunitas mancing mengeluhkan maraknya aktifitas pemboman ikan di kawasan perairang Moramo Utara. foto: Yoshasrul

Ilegal Loging Marak, Debit Air Moramo Makin Kritis

Suarakendari.com-Pesona Air terjun moramo perlahan akan sirna, jika saja prakek ilegal logging yang terjadi disepanjang kawasan Tanjung Peropa terus terjadi. Ironisnya, praktik ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada upaya dinas terkait (dinas kehutanan-BKSDA Sultra) untuk mengatasi memberantasnya.

Kondisi ini tentu berdampak serius terhadap kelangsungan submer daya hayati di kawasan tersebut, termasuk berdampak pada kelangsungan pariwisata air terjun moramo. Dibanding saat pertama kali diperkenalkan, 20 tahun silam, debit air Moramo terbilang besar, tak hanya di musim hujan, di saat musim kemarau ketersediaan air tetap terjaga di kawasan ini, bahkan air menutupi seluruh lantai dinding air terjun. Berbeda dengan yang terjadi saat ini, debit air kian mengecil ditandai dengan hilangnya tutupan air di sebagian besar lantai air terjun. Ironisnya, sejumlah potongan gelondongan kayu jelas terlihat menumpuk di lantai air terjun.

Sumber di Desa Sumber Sari, KEcamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan, membenarkan maraknya aktifitas ilegal logging di kawasan Tanjung Peropa, khusunya yang berada di sepanjang wilayah hulu sungai yang menghubungkan Air Terjun Moramo. “Hampir setiap hari mobil truk keluar masuk mengangkut kayu dari kawasan hutan peropa,”kata sumber yang layak dipercaya. Warga Sumber Sari sendiri tidak kuasa mengawasi praktek yang melawan hukum tersebut, sebab, diduga aktifitas oleh oknum aparat. “Kami tidak berani menegur mereka, karena itu ulah oknum aparat,”kata sumber lagi.

Informasi tentang perambahan hutan ini ternyata telah didengar pihak BKSDA Sultra. “Iya Pak, Kami sudah mendengar informasi praktik ilegal logging, hanya saja para pelaku sangat lihat dan selalu mengetahui kalau mau ada razia,”kata seorang petugas BKSDA yang enggan disebutkan namanya. BKSDA akan terus melakukan pengawasan dan memberantas ilegal loging di kawasan ini.

Air terjun moramo sendiri terletak kawasan suaka alam tanjung peropa. Pesonanya memang sangat memikat pengunjung wisata, sebab udara di sekitar air terjun terasa sejuk serta menghadirkan suasana tenteram bagi siapa saja yang berkunjung di sana.

Air terjun moramo merupakan air terjun bertingkat (cascade) yang indah dengan ketinggian sekitar 100 meter. Dari ketinggian tersebut, air mengalir melewati tujuh tingkatan utama. Di samping tujuh tingkatan utama tersebut, terdapat juga enam [uluh tingkatan kecil yang sekaligus berfungsi sebagai tempat penampungan air (semacam kolam air).

Dari sekian banyak kolam tersebut, hanya satu yang dapat dimanfaatkan untuk berenang, yaitu kolam yang terletak di tingkat kedua dari 7 tingkatan utama air terjun tersebut.

Keindahan panorama alam, air terjun, kicauan burung yang bersahutan dan berpadu dengan tarian kupu-kupu beraneka warna-warni, menjadi daya tarik kawasan air terjun moramo.

Daya pikat yang tidak kalah menariknya dari air terjun ini adalah pesona bebatuan yang membentuk tingkatan. Bebatuan yang membentuk tingkatan tersebut tidak licin meski dialiri air secara terus menerus, sehingga para wisatawan yang berkunjung ke lokasi tersebut dapat mendaki sampai ke puncak.

Jika beruntung, Anda dapat melihat pelangi sebagai biasan cahaya di sekitar air terjun. Tak heran, kendati cuma mitos, masyarakat setempat Nampak mempercayai jika tempat ini sebagai pemandian para bidadari karena keindahannya. Di samping itu, bebatuan tersebut juga memberi pesona yang menakjubkan ketika tersentuh oleh sinar mentari. bebatuan tersebut akan memancarkan kilauan warna-warni yang didominasi oleh warna hijau yang begitu indah.

Untuk mencapai lokasi wisata ini, dengan jarak tempuh enam puluh lima kilometer dari Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara, wisatawan melakukan perjalanan darat selama dua jam menggunakan angkutan umum atau kendaraan pribadi. Perjalanan dapat pula dimulai dari bandara walter monginsidi yang terletak di Kabupaten Konawe Selatan.Dari bandara tersebut/ dapat langsung menuju arah kecamatan moramo/ langsung ke desa sumber sari. Setelah sampai di pemberhentian akhir kendaraan, perjalanan dilanjutkan ke lokasi air terjun dengan berjalan kaki sejauh dua kilometer.

Di lokasi wisata ini sudah tersedia parkiran yang luas di sekitar lokasi bagi para wisatawan yang datang menggunakan mobil pribadi. Sayangnya, kurangnya perhatian pemerintah setempat membuat obyek wisata ini terkesan kurang terawatt. Sejumlah sarana wisata kini mengalami kerusakan dan tidak lagi bisa digunakana para pengunjung. SK

APIK Bangun Kolaborasi dengan Sektor Bisnis untuk Pertanian Berkelanjutan

. Dok.foto: ADE.SIP

Suarakendari.com-Program USAID Adaptasi Perubahan Iklim (APIK) bersama dengan sejumlah sektor bisnis yaitu PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara (Bank Sultra), PT Asuransi Central Asia (ACA), dan Syngenta Indonesia menandatangani nota kesepahaman untuk berkolaborasi mendukung pertanian berkelanjutan melalui program pembiayaan bagi petani jagung untuk pertanian cerdas iklim di Konawe Selatan berbasis Akselerasi Sinergi dan Inklusi (AKSI PANGAN). Penandatanganan nota kesepahaman tersebut dilakukan dalam acara Temu Usaha (Business Gathering) Membangun Kerja Kolaboratif antara Pemerintah dan Dunia Usaha untuk Memperkuat Ketangguhan Masyarakat menghadapi Risiko Bencana dan Iklim di Sulawesi Tenggara.

Jagung merupakan salah satu komoditas unggulan di Sulawesi Tenggara. Permintaan jagung semakin tinggi dan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian juga menargetkan penanaman 3 juta hektar lahan jagung di tahun 2017 untuk menghentikan impor. Meski demikian, jumlah rata-rata produktivitas jagung di Sulawesi Tenggara masih jauh di bawah rata-rata dengan 2,84 ton/ hektar dibandingkan dengan jumlah rata-rata produktivitas nasional sebesar 4,1 ton/ hektar. Dengan kondisi potensi yang ada dan rendahnya produktivitas yang disebabkan oleh beberapa penyebab, faktor cuaca dan iklim dapat memperparah kondisi tersebut. Cuaca ekstrem dan tidak menentu telah menyebabkan munculnya penyakit dan hama, banjir dan kekeringan menyebabkan gagal panen. Untuk itu, penting untuk meningkatkan pemahaman petani mengenai cuaca dan iklim sebagai salah satu cara untuk meningkatkan ketangguhan mereka terhadap kondisi yang ada, dan di saat yang sama berpotensi meningkatkan produktivitas.

Dengan alasan itulah, program USAID APIK menggandeng Bank Sultra, ACA, dan Syngenta untuk bekerja sama mengimplementasikan program pilot pertanian cerdas iklim untuk budidaya jagung di Konawe Selatan yang akan dimulai pada Januari 2018. Bank Sultra akan menyediakan plot lahan, peralatan budidaya, serta akses permodalan untuk petani. Direktur Pemasaran Bank Sultra, Depid mengatakan, “Bank Sultra bangga dapat berkontribusi untuk meningkatkan potensi pertanian di Sulawesi Tenggara khususnya Konawe Selatan. Bank Sultra memiliki mandat untuk mendukung pengembangan sektor potensial dan dengan adanya perubahan iklim yang berdampak pada petani, secara langsung dan tidak langsung juga berdampak pada Bank Sultra. Melalui program ini, diharapkan dapat menghindari adanya kredit macet karena debitur terkena bencana, sekaligus sebagai bentuk kontribusi dalam upaya peningkatan ketangguhan petani.”

Sementara itu, pihak ACA akan menyediakan produk asuransi pertanian berbasis parameter atau indeks. Senior Vice President Micro Insurance ACA, Jakub Nugraha mengatakan, “ACA menyediakan jasa asuransi tanaman untuk mendukung program pemerintah dan meminimalisir kerugian petani melalui konsep manajemen risiko secara luas. ACA berkomitmen untuk mendukung upaya-upaya peningkatan produktivitas yang pada akhirnya berkontribusi terhadap pembangunan daerah. Kehadiran asuransi pertanian yang berbasis rantai nilai, merupakan pendekatan lunak yang manfaatnya dirasakan oleh banyak pihak. Asuransi pertanian akan mempercepat petani memulihkan kembali usahanya pasca musibah sehingga petani dan keluarganya lebih terjamin untuk menjalani kembali bisnisnya pasca musibah. Inilah peran yang ingin dijalankan ACA bagi dunia pertanian Indonesia, yaitu mempercepat pemulihan usaha petani pasca musibah, sehingga akan tercipta petani Indonesia yang tangguh terhadap bencana, tanpa semata-mata menggantungkan diri kepada bantuan atau uluran tangan pemerintah. ”

Selain asuransi dan permodalan, dari sisi teknologi agrobisnis, Syngenta turun tangan dan membantu menyediakan produk benih unggul jagung hibrida, menyediakan tenaga pendamping petani, serta bersama-sama menyediakan pelatihan untuk petani. Regional Sales Manager Syngenta untuk Sulawesi, Bahtiar Manadjeng menyatakan, “Syngenta menyediakan solusi untuk petani melalui inovasi teknologi pertanian agar petani lebih produktif, kami menyadari adanya risiko bencana dan iklim yang mengancam mereka. Diharapkan melalui program ini, petani menjadi lebih sejahtera dan pada akhirnya dapat membantu pencapaian ketahanan dan kedaulatan pangan”.

Program pembiayaan bagi petani yang berbasis rantai nilai pada akhirnya akan memberikan akses terhadap industri keuangan, pasar, dan teknologi untuk petani. Dengan kolaborasi antara ketiga akses ini, petani menjadi subjek, sehingga petani menjadi pintar dan mandiri tanpa harus disubsidi dan berkelanjutan. Produktivitas hasil panen tidak saja meningkat, namun biaya produksi menjadi lebih rendah, sementara kualitas hasil panen meningkat karena antara lain terjadinya penurunan gagal panen akibat serangan hama penyakit. Pertanian yang berkelanjutan di tengah ancaman bencana dan iklim diharapkan dapat dicapai melalui program kerja sama ini.

USAID APIK mengapresiasi seluruh sektor bisnis yang bersedia bekerja sama serta berkontribusi dalam upaya peningkatan ketangguhan masyarakat khususnya petani. Direktur Program USAID APIK, Paul Jeffery mengatakan, “Upaya peningkatan ketangguhan tidak hanya menjadi tugas kami dan juga pemerintah tetapi membutuhkan upaya dari berbagai pihak termasuk sektor bisnis. Semoga apa yang telah dirintis ini dapat menjadi penyemangat dan pendorong bagi para aktor bisnis lainnya agar menyadari adanya ancaman bencana dan iklim yang jika didiamkan dapat merugikan aset serta investasi perusahaan.” Ini hanyalah permulaan dan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Untuk mencapai masyarakat yang lebih tangguh dalam menghadapi bencana, kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Dengan bekerja bersama-sama, maka upaya peningkatan ketangguhan akan terasa lebih ringan dan pada akhirnya semua pihaklah yang akan merasakan manfaatnya di tengah kondisi cuaca dan iklim saat ini yang semakin ekstrem dan tidak menentu. Selain itu diharapkan kerja sama ini juga dapat menjadi contoh bagi sektor bisnis lainnya untuk mulai melihat faktor bencana dan iklim sebagai bagian dari manajemen risiko internal serta peluang untuk pengembangan bisnis yang berkelanjutan.SK

Komunitas Lingkungan Kendari Dukung Kota Layak Huni Berbasis Ekologi

Suarakendari- Walikota Kendari Adriatma Dwi Putra mengaku tertarik dan menyambut baik gagasan Kendari bersih yang digagas masyarakat berbasis komunitas lingkungan dan kelompok pencinta alam di Kendari, mengingat gagasan kendari bersih karena sejalan dengan Visi kota Kendari tahun 2020 sebagai kota layak huni yang baju berbasis ekologi, informasi dan teknologi yang menempatkan misi lingkungan menjadi prioritas pertama.
“Salah satu program prioritasnya adalah pengembangan taman-taman yang lebih representatif dan menunjang estetika kota Kendari, gagasan ini juga terkait program OPD DLHK Kota Kendari, khususnya program pengelolaan persampahan serta sekolah Adiwiyata,”kata walikota.
Saat ini terdapat 152 sekolah Adiwiyata di Kota Kendari, 6 sekolah diantaranya Adiwiyata Mandiri dan 24 sekolah Adiwiyata Nasional, selebihnya merupakan Adiwiaya tingkat Kota dan Propinsi.
Menurutnya dibutuhkan energi besar untuk melakukan pendampingan intensif kesekolah-sekolah, dan sinergitas melalui program gerakan kendari bersih ini menjadi energi baru untuk mendukung kampanye perubahan prilaku yang lebih ramah lingkungan di tingkat pelajar.
“Nanti kita bisa kumpul lagi untuk membahas realisasi program ini, termasuk jika dibutuhkan dukungan kebijakan walikota berupa regulasi nanti kita akan buatkan” katanya.
Dari audiensi dengan para penggiat lingkungan ini, juga direncanakan akan dilakukan peluncuran program ini pada bulan November –Desember tahun 2017 dan akan diimplementasikan selama setahun kedepan selanjutkan akan dievaluasi bersama.
Kegiatan audiens ini digagas Kelompok mahasiswa Mahasiswa Pencinta Alam (Mahacala) Universitas Haluoleo (UHO) dalam rangkaian perayaan hari jadinya ke 25, menggelar malam ramah-tamah dan audiensi dengan Walikota Kendari Adriatma Dwi Putra disalah satu hotel di Kendari.
Anggota Mahacala UHO Rudi mengatakan gerakan Kendari bersih pernah di inisiasi Mahacala UHO tahun 1993 lalu untuk mendukung program-program pemerintah Kota Kendari khusunya dibidang lingkungan.
“Kami siap mengaktifkan kembali Gerakan Kendari Bersih yang dulu pernah kami inisasi, mungkin dulu skalanya masih kecil, kedepannya bisa lebih besar lagi dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakt diantaranya para siswa, masyarakat umum maupun lembaga” katanya.
Untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat menurutnya dibutuhkan stimulan berupa penghargaan pada kelompok,lembaga, instansi pemerintah, kelurahan maupun kecamatan yang berprestasi dibidang lingkungan.SK

Pemda Konsel Kembangkan Budi Daya Tanaman Sagu

Suarakendari-Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan kini tengah berusaha melakukan budi daya tanaman sagu. Ini sebagai wujud kepedulian pemerintah setempat atas nasib tanaman sagu yang kini terancam punah menyusul makin berkurangnya kawasan tanaman sagu di daerah itu. Bupati Konawe Selatan, Surunudin Dangga menetapkan kawasan rawa aopa di Kecamatan Angata sebagai daerah pencadangan area tanaman sagu mengingat kawasan Angata merupakan area tangkapan air yang merupakan area yang cocok untuk budidaya. “Ini merupakan upaya untuk menyelamatkan sumber pangan lokal kita,”kata Surunudin. Untuk lahan budi daya tanaman sagu, pemda menyiapkan kurang lebih 60 hektar lahan di sepanjang kawasan rawa aopa dan akan melibatkan kelompok pelestari rawa dan tanaman sagu sebagai ujung tombak pengelolaan kawasan.

Seperti diketahui, tanaman sagu atau rumbia termasuk dalam jenis tanaman palmae tropical yang menghasilkan kanji (starch) dalam batang (steam). Sebatang pohan sagu siap panen dapat menghasilkan 180 – 400 kg tepung sagu kering. Tanaman sagu dewasa atau masa tebang (siap panen) berumur 8 sampai 12 tahun atau setinggi 3 – 5 meter. Oleh masyarakat Tolaki yang merupakan suku terbesar di daratan Provinsi Sulawesi Tenggara, sejak lama tepung sagu diolah menjadi makanan pokok atau biasa disebut sinonggi. SK

Mengenal Rawa Aopa Sebagai Kawasan Strategis Dunia

Suarakendari.com-Taukah Anda, Jika Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai merupakan kawasan strategis sebagai situs ramsar atau situs lahan basah yang dilindungi dunia. Rawa Aopa merupakan sebuah cekungan dengan substrat gambut yang dilintasi berbagai jenis burung migran dari Australia. Karena posisinya yang sangat strategis itulah membuah banyak negara berkepentigan menjaga kelangsungan sumber daya hayati kawasan ini. Pihak Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai sebagai pengelola kawasan menilai, untuk kepentingan nasional dan masyarakat Sulawesi Tenggara terkhusus, keberadaan Rawa Aopa diketahui sebagai tempat bermuaranya tiga sungah besar di Sulawesi Tenggara yakni Sungai Loea, Sungai Simbune dan Sungai Ladongi. Selain itu, rawa gambut yang luas ini merupakan daerah tangkapan air (catchment area). Air rawa ini lalu mengalir ke Sungai Konawe’eha yang artinya ikut memasok air minum bagi penduduk di Kota Kendari yang berjumlah kurang lebih 300.000 jiwa, sebelum akhirnya bermuara ke Laut Banda.Untuk itulah perlu adanya kolaborasi strategis antara semua pemangku kepentingan demi menyelamatkan kawasan rawa aopa dari kerusakan lingkungan, mengingat ekspansi industri ekstraktif seperti pertambangan dan perusahaan kelapa sawit yang kini menjadi ancaman serius di kawasan ini. Pemerintah Konawe Selatan sebagai salah satu daerah yang wilayahnya mencakup kawasan TNRAW tengah mengambil peran besar penyelamatan dengan melakukan pengelolaan kawasan untuk pangan lokal dan pariwisata. SK

Dengan Gas Metan Kendari, Toyota Layani Listrik Warga

Naoaki Amiya tengah berbaju putih, didampingi kadis DLHK Kota Kendari Moh.Nur Rasak dan Kabid Persampahan dan Limbah B3 Prayitno saat mengunjungi TPA Puwatu April lalu.(foto;Istimewa)

Suarakendari.com-Naoaki Amiya, seorang warga jepang , langsung datang dari Jepang atas perintah pemerintah jepang untuk melihat Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Puuwatu, Kota Kendari, Propinsi Sulawesi Tenggara.
Kedatangan Amiya, pada bulan April 2017, setelah mendapat informasi dari sebuah lembaga swadaya masyarakat di Jerman GIZ yang membuat laporan tentang pemanfaatan gas metan sebagai bahan bakar kompor dan bahan bakar pembangkit listrik yang dibuat pemerintah Kota Kendari di TPA Puuwatu.
“Kata Toyota dalam laporan GIZ yang membuat orang jepang itu penasaran sampai datang ke Kendari lihat TPA Puuwatu,” ujar Pelaksana Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kota Kendari, Moh. Nur Rasak, pekan lalu 10 November.
Nur Rasak menjelaskan ketertarikan pihak Jepang ke Kota Kendari, karena teknologi yang digunakan untuk mengaktifkan mesin mobil Toyota cukup sederhana dan murah namun dengan hasil yang maksimal.
Mesin mobil yang awalnya berbahan bakar premium (bensin) diubah menjadi bahan bakar gas metan dengan melakukan inovasi.
Awalnya inovasi yang dilakukan Dinas Kebersihan kala itu hanya ingin mengelola TPA agar bisa menghasilkan gas metan sehingga bisa dimanfaatkan untuk memasak, namun dorongan yang kuat dan tantangan dari Ir. Asrun Walikota Kendari saat itu, sehingga Nur Rasak dan rekan-rekannya akhirnya berhasil.
“Tahun 2013 kita sukses merekayasa genset kapasitas 7000 watt dengan bahan bakar gas metan, sehingga bisa menerangi kawasan TPA malam hari,” katanya.
Tak sampai disitu, inovasi terus mereka lakukan, sebuah mesin Mobil Toyota type 2F tahun 1978 menjadi sasaran inovasi. Sejumlah peralatan mobil pun dibongkar, sekira 20 unit karburator dan beberapa peralatan lainnya menjadi korban inovasi karyawan di workshop Dinas Kebersihan.
Ditambah sebuah dinamo, alhasil sebuah mesin genset dengan kekuatan 25 Kva berhasil mereka buat, dan bisa melayani listrik warga di kampung mandiri energi.
Kampung yang dihuni sekira 122 kepala keluarga ini mendapat pasokan listrik dari genset berbahan bakar gas metan di TPA Puuwatu, setiap rumah warga dialiri listrik sebesar 450 watt. Warga yang berprofesi sebagai pemulung dan petugas dinas kebersihan ini, menikmati listrik sekira 5-6 jam setiap harinya.
“Sekarang sudah ada 2 mesin genset yang kita punya, mesin yang satunya jenis Toyota Kijang tahun 1983, itu kita pasangkan dinamo dan bisa mengasilkan listrik 40 Kva”
Meskipun umur mesin terbilang tua, namun hingga kini masih berfungsi dengan baik, kalaupun terjadi keruskan, bukan pada mesinnya namun pada dinamo.
“Mesin Toyota ini kita pilih karena menurut teman-teman bandel dan peralatannya cukup mudah ditemukan”kata Nur Rasak.
Selain listrik, warga juga mendapatkan pasokan gas metan dari TPA untuk kebutuhan memasak sehingga mereka bisa menghemat membayar listrik dan kebutuhan gas LPG.
“Alhamdulillah, bantuan pemerintah kota ini sangat membantu kami, kami dibuatkan rumah, listriknya gratis, untuk memasak juga gratis karena pake gas metan,” ungkap Fajar Petugas DLHK Kota Kendari, salah satu penghuni kampung mandiri energi.
Kesuksesan mengelola TPA mendapat apresiasi dari berbagai pihak, sejumlah penghargaan diraih pemerintah Kota Kendari berkat TPA Puuwatu, diantaranya Adipura Kencana tahun 2014 dan 2015, TPA terbaik tahun 2016 dan 2017 dari Kementerian Libgkungan Hidup dan Kehutanan RI dan Penghargaan Energi Prabawa kategori the most inspiring dari kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI tahun 2015.
Menjadi TPA terbaik di Indonesia saat ini, TPA yang juga berfungsi tempat belajar dan tempat wisata ini, menjadi sasaran studi banding. Lebih dari 250 kabupaten dan kota di Indonesia telah berkunjung di TPA ini, bahkan sejumlah pemangku kepentingan dari beberapa negara didunia juga pernah menginjakkan kakinya di TPA wisata ini.
Dinas lingkungan Hidup mencatat, beberapa negara yang pernah berkunjung ke TPA diantaranya, Perancis, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, India, Jepang, Australia dan Singapura.
Kesuksesan mengelola TPA dan menghasilkan gas metan tak hanya dirasakan sendiri oleh Kota Kendari, pengelolaan TPA dengan sistem sanitary land fill ini juga sudah diduplikasi sejumalah kabupaten Kota di Indonesia dengan pendampingan langsung dari DLHK Kota Kendari, diantaranya Kota Bau-bau, Bone, Maros, Bulukumba, Kota Palopo, Tebo, dan Pasuruan.
Kota Palopo salah satunya, melalui pendampingan langsung, saat ini mereka telah mengelola TPA nya dengan sistem sanitary land fill dan menghasilkan gas metan.
“Alhamdulillah Kota Palopo sudah punya TPA dengan sistem sanitary land fill, berkat pendampingan Kota Kendari. Gas metan untuk kompor juga sudah dinikmati warga dan mesin genset 9000 watt sudah menyala” tutur Ibnu, Kasubid Sengketa Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Palopo via telepon.
Ia mengungkapkan untuk meningkatkan kapasitas TPA, saat ini Pemerintah Kota Palopo masih akan menambah luas TPA yang saat ini memiliki luas 13 Ha.
Saat ini mesin genset berbahan bakar gas metan masih digunakan untuk kebutuhan di dalam TPA, sedangkan untuk cita-cita yang lebih besar seperti kota Kendari, Ia hanya bisa menunggu kebijakan dari Walikota Palopo. (Sumarlin)