Sekolah Lapang Iklim Promosikan Budi Daya Jagung Cerdas Iklim

0

Suarakendari.com-Petani jagung peserta Sekolah Lapang Iklim (SLI) bersama Pemerintah Daerah Konawe Selatan mengakhiri rangkaian kegiatan SLI dengan menggelar Panen Raya di petak percontohan (demonstration plot/demoplot) di Kelurahan Punggaluku, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, Senin (25 Juni 2018). Dalam Panen Raya petani menyampaikan testimoni dan berbagi pengalaman selama mengikuti SLI, sementara Badan Pusat Statistik melaporkan hasil ubinan (perkiraan panen) dari petak percontohan.

Secara keseluruhan, hasil pengubinan di tiga petak percontohanmemuaskan, dengan lebih dari 8 ton pipilan basah per hektar. Dengan asumsi penyusutan ke pipilan kering 20 persen, maka hasil petak percontohan 6,4 ton pipilan kering per hektar melampaui rata-rata produksi Konawe Selatan yaitu 4-5 ton pipilan kering per hektar.

SLI merupakan kegiatan pendampingan petani yang diselenggarakan oleh program USAID Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan (USAID APIK) bekerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologidan Geofisika (BMKG), Dinas Pertanian, Badan Pengkajian Teknologi Pertanian, dan beberapa pihak lainnya.

Sebelumnya, SLI telah dilaksanakan untuk komoditas padi di Kelurahan Baruga, Kota Kendari pada Juli-Oktober 2017. Kali ini, SLI menyasar komoditas jagung dengan menggandeng pihak swasta yaitu Bank Sultra, Asuransi ACA, dan Syngenta. Komoditas jagung di Sulawesi Tenggara memiliki potensi yang besar dan produktivitasnya diharapkan meningkat guna memenuhi permintaan jagung nasional. Akan tetapi, produksi seringkali terkendala oleh perubahan cuaca ekstrem dan keterbatasan teknik budi daya. SLI jagung berupaya menjawab tantangan tersebut dengan menggunakan pendekatan pertanian cerdas iklim guna meningkatkan produktivitas dengan memperhitungkan faktor perubahan iklim.

Dalam SLI, petani menggunakan petak percontohan sebagai sarana belajar bersama. Ketiga puluh peserta melakukan pengamatan secara berkelompok setiap hari di petak tersebut untuk melihat kondisi dan pertumbuhan tanaman, parameter cuaca (suhu, kelembapan, curah hujan), serta mengamati organisme di sekitar kebun. Peserta bertemu setiap sepuluh hari untuk mendiskusikan dan menganalisis temuan di petak percontohan bersama para narasumber dan fasilitator untuk menentukan tindakan selanjutnya, sambil mendalami teknik budidaya cerdas iklim.

Faisal Habibie, prakirawan cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Kendari mengatakan, “Selama ini penggunaan informasi cuaca oleh petani masih minim, oleh karenanya SLI berupaya mendekatkan petani dengan dengan informasi tersebut. Memang di awal pertemuan, masih banyak petani yang bingung, namun karena langsung mengamati kondisi dengan menggunakan termometer dan alat pengukur curah hujan, serta mendiskusikannya, maka mereka lebih cepat paham.

Manajer regional program USAID APIK Sulawesi Tenggara, Buttu Ma’dika menjelaskan, “Melalui SLI, petani tak hanya belajar teori namun langsung mempraktikkannya di petak percontohan, sehingga proses pembelajaran lebih menyeluruh melalui pengalaman di lapangan. Selain itu, dengan keterlibatan BMKG, Dinas Pertanian dan sektor swasta maka petani lebih memahami informasi cuaca dan iklim, akses permodalan, dan perlindungan usaha sehingga dapat mengambil langkah yang tepat untuk meningkatkan usaha tani mereka,” ujarnya.

Salah satu peserta SLI dari Desa Aepodu mengaku melalui SLI ia dapat menghemat pengeluaran usaha taninya. “Biasanya kami gunakan pupuk kimia seperti urea atau TSP. Namun dari SLI kami belajar membuat pupuk organik, yang bahan-bahannya mudah didapat. Kami juga membuat pestisida nabati untuk mengusir hama. Dengan begitu kami dapat memotong biaya, dan juga, bahan organik lebih ramah lingkungan,” jelasnya. Ida menambahkan oleh BMKG ia diajarkan membaca informasi cuaca, seperti suhu, curah hujan dan ketersediaan air di kebun, sehingga tahu kapan waktu yang tepat untuk menanam.

Sektor swasta yang terlibat mengaku gembira dengan SLI. Jakub Nugraha, Senior Vice President untuk Micro Insurance dari Asuransi ACA menilai SLI menjadi wadah masing-masing pihak untuk belajar satu sama lain. Menurutnya, melalui SLI petani mendapatkan informasi yang jelas tentang pentingnya asuransi pertanian.

Sementara itu Depid, Direktur Pemasaran Bank Sultra berharap dengan melek finansial, petani dapat memahami skema pinjaman modal dan mengelola usaha tani lebih baik.

Sustainable Productivity Manager Syngenta, Maria Benedikta menekankan bahwa dukungan terhadap SLI sejalan dengan komitmen Syngenta dalam mendorong ‘The Good Growth Plan’ untuk meningkatkan hasil panen dan memberdayakan petani kecil.

Panen Raya ytang digelar menandai berakhirnya kegiatan SLI jagung, namun berbagai rencana masih akan berlanjut.Para peserta SLI mengaku siap untuk menyebarluaskan pengetahuan yang didapat kepada petani lain di desanya. Sementara itu, Asuransi ACA dan Bank Sultra berencana untuk mendampingi terkait
permodalan dan perlindungan usaha. SK

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.