Kultur

Tradisi Haroa Menyambut Awal Ramadhan

×

Tradisi Haroa Menyambut Awal Ramadhan

Sebarkan artikel ini

Bagi Masyarakat Buton dan Muna di Sulawesi Tenggara memiliki tradisi menyambut bulan suci ramadhan yang diberi nama haroa. Masyarakat Muna menyebutnya Haroa Tembaha Wula.

Oleh dua rumpun etnis ini, sehari-hari haroa diartikan sebagai rangkaian acara baca doa dan pemanjatan rasa syukur pada Allah SWT. Doanya dipimpin seorang tetua pembaca doa yang disebut lebe.

Kegiatan Haroa digelar bisa karena menyambut perayaan besar Islam, semacam Maulid Nabi, datang dan berakhirnya ramadhan, dan nifsu sya’ban. Atau hajatan terkait pekerjaan, usaha, pendidikan, hasil panen, kematian, kelahiran, baru sembuh dari sakit, pindah rumah dlsb.

“Tidak itu saja, tradisi haroa juga memperkokoh hubungan kekeluargaan dan kekerabatan melalui tradisi budaya. Ini serupa tilikan David Schneider (1918-1995) yang mengurai hubungan-hubungan sosial emosional kekerabatan melalui simbol budaya,”tulis Erwin Usman, tokoh masyarakat Buton.

Pada momen haroa ini, disajikan aneka makanan dan kudapan tradisional. Kudapan tradisional ada onde-onde, wajik (waje), ubi goreng (ngkaowi-owi), cucur (cucuru), kue beras (baruasa), pisang goreng (sanggara), kue pasta (epu-epu), dan bolu.

Ada juga menu makanan nasi, telur dadar goreng, dan yang paling spesial: Manu nasu wolio (ayam masak khas wolio).

Penganan yang disebut terakhir, berupa ayam kampung yang dibakar dahulu, lalu dimasak dengan bumbu kelapa goreng, sereh, daun salam, ketumbar, bawang, kemiri, dan lada. Aromanya khas. Rasanya enak dan gurih. Bila disajikan ditaruh di dalam cangkir. Cangkir? Ya, cangkir teh atau kopi. Setiap orang akan dapat satu cangkir, berisi satu potongan ayam.

“Tradisi Haroa adalah momen paling dirindukan orang orang diperantauan seperti saya,”ungkap Erwin. **

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!