Jelajah

Puncak Ahuawali dan Legenda Sumur Jin

×

Puncak Ahuawali dan Legenda Sumur Jin

Sebarkan artikel ini

 

Puncak ahuawali di 750 MDP. foto: Joss

Bude Seno baru saja membuka warung ketika seorang anak kecil datang dan menyodorinya uang 1000 rupiah yang sangat kumal. “Saya tanya Kamu mau beli apa. Anak itu lalu menunjuk gula-gula ditoples. Saya kasi permennya dan bilang tidak usah bayar. Tanpa ngomong apa apa anak kecil itu kemudian pergi, Saya masih sempat melihat dia jalan, tapi sekejab sudah menghilang, saya cari cari tapi anaknya sudah tidak ada,”cerita Bude Seno. Perempuan parobaya itu baru sadar kalo anak itu bukan manusia.

Cerita lain dari Bude Seno, satu waktu sejumlah polisi melakukan penghijauan di kawasan di puncak dengan menanam aneka bibit pohon. Saat beraktifitas mereka bertemu seorang anak kecil yang tengah bermain di kawasan puncak ahuawali. Kehadiran anak kecil itu membuat beberapa orang anggota polisi penasaran, mereka mencoba menegur, tapi anak itu memilih pergi dari puncak.  Saat turun dari puncak mereka (petugas) ke rumah bude seno. “Mereka bertanya ke saya kalau melihat ada anak kecil yang turun dari puncak, saya bilang tidak ada, para petugas benar-benar penasaran, mereka mengaku sangat yakin melihat ada anak kecil di puncak itu. Saya diam saja. Saya tau itu bukan manusia seperti kita, tapi wali atau jin di sana,”kata bude seno.

Puncak Ahuawali. foto: Joss
Papan nama puncak ahuawali yang dibangun BTNRAW. foto: Joss

Cerita Bude Seno tentu sebagian kecil dari misteri puncak  ahuawali yang kini menjadi obyek wisata puncak di Kabupaten Konawe . Ahuawali dalam bahasa local tolaki berarti sumur jin. Jumat (2/4/2021) lalu Saya melakukan pendakian di puncak ahuawali bersama tiga kawan di komunitas Ruruhi. Kami tiba saat malam hari. Kami beruntung karena puncak ahuawali tidak ada pengunjung, jadi bisa menikmati kesunyian puncak tanpa hiruk pikuk suara musik atau teriakan pengunjung. Saat malam di puncak, cuaca di langit benar-benar bersahabat, cerah dan Kami bisa menikmati milky way . Kita juga bisa menyaksikan kerlap kerlip lampu di perkampungan dari kejauhan. Di sisi barat Kami melihat gumpalan putih  di lembah  yang jauh di bawah sana, dan mencoba menebak jika warna putih itu adalah kabut. Tapi tebakan kami keliru, ternyata sebuah danau yang dari ketinggian menyerupai sebuah sumur. Entah inilah yang dimaksud orang-orang terkait dengan legenda sumur jin itu.

Saya mendengar banyak tentang keindahan puncak ahuawali, dan sesekali melihat foto-foto di social media, tapi baru kali ini bisa menginjakkan kaki di lokasi ini.

Ketinggian puncaknya mencapai 750 MDPL, di puncaknya ada satu bangunan rumah tanpa atap yang sebenarnya bangunan itu adalah selter pengamatan yang dibangun petugas Balai Taman Nasional Rawa Aopa. Hanya saja pembangunan gedung seukuran gardu jaga ini tidak rampung-rampung dan kini dibiarkan terbengkalai.

Untuk menuju puncak ada banyak jalur yang bisa dilalui, anak-anak sekolah memilih jalur di belakang pemukiman penduduk. Saat tahun baru 2021 lalu, ada banyak pengunjung khususnya anak sekolah dan mahasiswa yang datang, mereka lewat jalur dibelakang desa, mereka menghindari razia petugas menyusul instruksi pemerintah yang melarang aktifitas wisata di tengah pandemi covid19. “Motor pengunjung di titip di rumah warga,”kata Bude Seno.

Menuju area wisata puncsak ahuawali boleh dibilang cukup terjangkau, dari kota kendari kita berkendara kurang lebih 2 jam saja. Kita bisa melewati Desa Puriala dan juga Desa Puuhopa di Kecamatan Puriala, Kabupaten Konawe. Tapi keliatannya pengunjung lebih banyak melewati Desa Puuhopa, selain dekat juga infrastrutur jalannnya cukup bagus. Sayangnya jalan desa yang mulus ini kini dilewati truk-truk raksasa yang tonase angkutannya tidak sesuai dengan jalan. Kondisi ini membuat jalan desa mulai rusak. Banyak warga yang protes tapi tidak diindahkan para sopir. “Mereka menghindari jalan desa puriala karena jalannya rusak berat, jadi semua lewat sini,”kata Bude Seno.

Retribusi ke area wisata puncak ahuawali dikelola oleh petugas balai taman nasional rawa aopa mengingat wilayah tersebut masuk dalam zona kawasan TNRAW. Tapi sebulan belakangan pengelolaanya dikerjasamakan dengan aparat desa ahuawali, seperti jasa parkir dan retribusi masuk lokasi wisata. Pemerintah desa juga telah membangun pos retribusi lengkap dengan fasilitas MCK untuk pengunjung di pintu masuk kawasan. Jadi dari parkiran sampai fasilitas kamar mandi semua dikenakan tarif. Untuk kebutuhan makan  minum tidak usah kuatir karena orang-orang di desa menyediakan  menu makanan, seperti bakso, nasi kuning, gado-gado, dll, tinggal memilih saja, harganya pun cukup terjangkau.    SK

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *