Seputar Islam

Hukum Iktikaf

×

Hukum Iktikaf

Sebarkan artikel ini

Sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan merupakan hari-hari yang spesial dan sangat diperhatikan oleh Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya.

Nabi Muhammad ﷺ berusaha untuk bisa iktikaf di hari-hari tersebut, serta memerintahkan para sahabat untuk mencari malam lailatulqadar dan iktikaf bersama beliau ﷺ.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah malam lailatulqadar di sepuluh malam yang terakhir di bulan Ramadan.”

Di antara kondisi terbaik untuk seseorang meraih malam lailatulqadar adalah dengan beriktikaf.

Ini bukanlah syarat bagi seseorang yang ingin meraih malam lailatulqadar, karena yang dimaksud dengan mencari malam lailatulqadar adalah seseorang bertemu dengan malam tersebut dalam kondisi beribadah kepada Allah ﷻ dengan optimal.

Sementara, kondisi paling sempurna untuk seseorang mengoptimalkan ibadah adalah dengan iktikaf.

Oleh karenanya, iktikaf adalah suatu kegiatan yang rutin dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Bahkan, ketika Nabi Muhammad ﷺ tidak sempat iktikaf pada sepuluh hari terakhir, maka beliau mengqadanya di bulan Syawal.

Bahkan, di akhir hayat beliau ﷺ, beliau beriktikaf sampai dua puluh hari terakhir di bulan Ramadan.

Dari sini, kita akan mempelajari tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan iktikaf, agar kita dapat mengerjakan iktikaf sesuai dengan yang diharapkan.
Hal ini menjadi penting untuk kita ketahui karena tidak semua orang yang beriktikaf bisa melaksanakannya dengan baik. Masih banyak orang-orang yang melakukan pelanggaran dan hal-hal yang tidak bermanfaat, sehingga membuat nuansa dan hakikat iktikaf itu tidak didapatkan.

Imam Ibnul Qayyim berkata tentang hakikat dari iktikaf,

‌وَرُوْحُهُ ‌عُكُوْفُ ‌القَلْبِ عَلَى اللهِ، وَجُمِّعِيَّتُهُ عَلَيْهِ، وَالخَلْوَةُ بِهِ، وَالْاِنْقِطَاعُ عَنِ الْاِشْتِغَالِ بِالْخَلْقِ، وَالْاِشْتِغَالُ بِهِ وَحْدَهُ سبحانه

“Ruh dari Iktikaf adalah hati yang fokus kepada Allah, mengumpulkan hati kepada-Nya, berkhalwat kepada-Nya, memutuskan hubungan dengan makhluk dan menyibukkan diri hanya dengan-Nya ﷻ.”

Sampai beliau berkata,

فَيَصِيرُ أُنسُهُ بِاللهِ بَدَلًا عَنْ أُنْسِهِ بِالْخَلْقِ، فيُعِدُّه بِذَلِكَ لِأُنْسِهِ بِهِ يَوْمَ الْوُحْشَةِ فِي القُبُورِ حِيْنَ لَا أَنِيسَ له

“Sampai dia merasa tenteram dan bahagia tatkala dia berduaan kepada Allah yang biasanya dia rasakan tatkala bersama makhluk, yang dengan demikian dia akan mempersiapkan dirinya untuk bisa merasa tenteram dengan Allah ketika dalam kubur di mana tidak ada teman ketika itu.”

Maka, seseorang harus bisa membiasakan diri untuk berbahagia ketika sendirian dengan Allah,

karena akan ada waktu yang panjang di mana ia akan sendirian di alam barzakh.

Jika dia telah terbiasa berbahagia tatkala sendirian dan berduaan dengan Allah,

maka akan mudah baginya untuk merasakan kebahagiaan di alam tersebut.

Demikianlah hakikat dari iktikaf, yaitu fokus kepada Allah ﷻ.

Hal ini senada dengan perkataan yang diucapkan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hambalirahimahullah,

قَطْعُ ‌الْعَلَائِقِ ‌عَنِ ‌الْخَلاَئِقِ لِلْاتِّصَاِلِ بِخِدْمَةِ الْخَالِقِ

“(hakikat iktikaf adalah)

memutuskan hubungan dari makhluk-makhluk, untuk berhubungan dengan sang Khalik.”

[5]

Sebelas bulan lebih kita telah sibuk berinteraksi dengan banyaknya orang, baik itu terhadap istri, anak-anak, teman bergaul, rekan kerja, dan yang lainnya.

Maka, sudah sepantasnya di sepuluh hari tersebut (akhir Ramadan) seseorang hendaknya mengkhususkan waktunya untuk fokus kepada Allah ﷻ dan memaksimalkan ibadah kepada-Nya.

Jika kita perhatikan, maka kita akan menjumpai bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ dahulu sangat serius dalam beriktikaf.

Bahkan, beliau sampai membuat kemah di masjid yang di mana mayoritas waktunya dihabiskan di sana.

Ini menunjukkan bagaimana perhatian beliau ﷺ yang sangat besar dalam beriktikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan.

Sangat disayangkan ketika iktikaf di zaman ini menjadi sebuah sunah yang kurang disukai oleh sebagian orang.

Mereka tidak merasa bahagia dengan beriktikaf karena merasa harus meninggalkan kebiasaan-kebiasaan, seperti kebiasaan berbahagia bersama orang lain, tempat tidurnya yang nyaman, rumahnya yang lapang, suasana yang ia rasakan, semua itu harus berubah agar ia dapat fokus berduaan dengan Allah ﷻ di tempat yang terbaik yaitu masjid. Oleh karenanya, ketika seseorang justru fokus beriktikaf dan bahagia dengan berduaan dengan Allah ﷻ, maka sungguh dia akan mendapatkan kebaikan-kebaikan yang sangat banyak.

([1]) HR. Bukhari No. 2020 dan
Muslim No. 1169.

([2]) HR. Bukhari No. 2033.

([3]) HR. Bukhari No. 2044.

([4]) Zaad al-Ma’ad (2/107).

([5]) Lathaif al-Ma’arif (hlm. 191).

([6]) Lihat: HR. Muslim No. 1167

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *