Polisi Diduga Tutupi Kasus Merkuri di Bombana

0

BOMBANA, SUARAKENDARI.COM-Kasus penangkapan atas pengguna Merkuri di Kelurahan Lameroro Kecamatan Rumbia, Kabupaten Bombana hingga kini masih jadi perbincangan hangat dikalangan masyarat.Pasalnya, pasca penyergapan oleh aparat Polisi dan pihak BLH Bombana, akhir Agustus lalu. Kelanjutan terkait kasus ini, seolah jalan ditempat. Masyarakat mulai bertanya-tanya, kapan kelanjutan pengusutan kasus tersebut.

Iwan warga Lameroro mengaku kecewa atas lambannya kinerja aparat. Sebab pengguna Merkuri tersebut kata dia, sudah sepatutnya ditindak tegas.”Mereka itu dengan nyata, telah meracuni masyarakat umum. Bayangkan pengolahaannya (permunian emas menggunakan merkuri) dilakukan ditengah pemukiman masyarakat. Ini jelas pelanggaran. Efek negatif Merkuri itu sangat dasyat,” pungkas iwan.

Bukan cuma persoalan bahan kimia berbahaya itu, namun permunian yang dillakukan di pemukiman Lameroro itu, rupanya tidak memiliki amdal. “Keterlaluan sekali mereka itu, sudah tidak miliki Amdal, gunakan pula bahan Merkuri. Lebih dasyatnya lagi, mereka dengan entengnya, lakoni aktivitasnya ditengah pemukiman penduduk. Ini sungguh keterlaluan bagi rakyat Lameroro,” kesal Iwan

Bahkan menurut PNS Bombana ini, dirinya sangat curiga bahwa pengusaha itu adalah WNA (Warga Negara Asing). “Mereka itu harus diperiksa terkait izin tinggalnya atau keimigrasiannya di Bombana. Dia kemungkinan WNA, sebab tidak tahu Bahasa Indonesia. Saat di grebek pihak polisi dan BLH saat itu ada saya dilokasi kejadian. Saya curiga kemungkinan pengusaha itu dari Negara Cina,” cerita Iwan.

Sebelumnya, Makmur, Kabid Amdal BLH Bombana mengakui bahwa aktivitas permunian emas di Lameroro Itu menggunakan bahan Merkuri. Makmur juga tidak menampik, bila permunian itu tidak memiliki Amdal. “Tapi kita di Bombana ini belum memiliki PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil). Jika ada temuan seperti itu, kita serahkan kepada aparat kepolisian. Mereka yang tindak lanjuti,” tukas Makmur belum lama ini.

Lambannya atas pengusutan kasus ini,
Iwan meminta pemkab agar lekas merekrut Penyidik PNS. “Kalau kasus ini tidak kunjung di usut atau ditangani. Ini jadi pembelajaran bagi Pemkab Bombana dan masyarakat. Pemerintah sudah sepatutnya merekrut Penyidik PNS. Kasus ini ada didepan mata kita dan bahayanya sangat dasyat. Saya minta Pemerintah jangan tinggal diam,” tukasnya.

Diketahui pasca penggrebekan akhir Agustus lalu, permunian emas di Lameroro ditututp atau tidak beraktivitas lagi. Meski begitu, menurut Iwan pelanggaran atas tindak pidananya tidak boleh berhenti begitu saja.

“Mereka sudah melakukan aktivitasnya sekitar satu bulan. Jika ini dibiarkan atau tidak ditindak, maka siapa saja boleh melakukan hal yang sama di Bombana Ini. Lalu apa jadinya daerah ini kedepan nanti? Atau kapan ada efek jera itu. Makanya, siapapun pelakunya itu, harus ditindak tegas,” harapnya. (DAR)

Leave A Reply

Your email address will not be published.