Perlu Diperbanyak Spot Wisata di Sultra

Suarakendari.com-Animo masyarakat Sultra yang cukup besar pada pariwisata nampaknya menjadi prioritas besar bagi daerah untuk terus menciptakan spot-spot wisata massal. Spot wisata yang dapat dikembangkan itu tersebar hampir merata d seluruh daerah, khususnya yang berada dekat dengan akses ibu kota. Daerah yang potensial diantaranya, Kabupaten Konawe Selatan, Konawe, Konawe Utara dan Kolaka Timur termasuk Bombana.

“kecenderungan wisatawan lokal yang massal selalu mencari lokasi wisata baru, yang ada kaitannya dengan wisata alam seperti pantai dan sungai, sehingga peluang ini harus mampu ditangkap para penggiat wisata di daerah,”kata Isna, penggiat Komunitas Ruruhi Project.

Potensi wisata yang sebagian besar ada di pedesaan perlu terus didorong demi menciptakan peluang-peluang bisnis baru di desa yang pada gilirannya akan mendorong percepatan perbaikan ekonomi desa. “Desa sesungguhnya sangat kaya akan potensi dan ini harus terus digelorakan semakan membangun pariwisata desa,”ungkapnya.

Lanjut Isna, makin besarnya animo masyarakat berwisata merupakan peluang besar bagi desa untuk memperoleh tambahan pendapatan baru yang digerakkan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMdesa). “Saya kira inilah saatnya orang-orang di desa bergerak memperkuat ekonomi dengan menangkap peluang-peluang yang ada saat ini, salah satunya melalui sektor pariwisata,”ujarnya. SK

Puncak Tiriondahi di Hutan Wolasi Layak Menjadi Obyek Wisata

Suarakendari.com-Pegunungan Wolasi memiliki daya tarik tersendiri, selain karena kawasan hutan yang masih terjaga, juga memiliki panorama alam yang layak dikembangkan menjadi obyek wisata alam. Salah satu sudut yang layak dikembangkan adalah Puncak Tiriondahi yang berada di wilayah administrasi Desa Tanea, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan.

Karena posisinya berada di ketinggian di puncak Tiriondahi kita dapat menyaksikan lokasi persawahan, pemukiman penduduk bahkan teluk Kendari di kejauhan. Dan pada waktu-waktu tertentu, kabut tebal akan terlihat menutupi seluruh kawasan yang berada di bawah, sehingga terasa seperti berada di atas awan.

Karena potensi inilah, Pemerintah Desa Tanea berencana mengembangkan menjadi destinasi wisata alam. “Kami berencana mengembangkan area wisata di kawasan ini, salah satunya adalah puncak Tiriondahi,”demikian Kepala Desa Tanea.

Wilayah pengembangan obyek wisata Tiriondahi sendiri berada di kawasan hutan lindung wolasi, untuk itu Pemerintah Desa Tanea bekerja sama dengan pihak kehutanan selaku pemangku kawasan hutan. “Sejauh ini pihak kehutanan telah memberikan respon positif tentang pengembangan kawasan wisata di kawasan hutan wolasi, terutama soal perijinan pinjam pakai kawasan,”ungkap kades Tanea. DI wilayah administrasi Desa Tanea, sejumlah obyek wisata juga akan mudah ditemukan, diantaranya kawasan pemancingan air tawar dan obyek wisata bukit kaca. SK

Kapal Pengangkut Wisatawan Masih Minim Dilengkapi Jaket Pengaman

Suarakendari.com-Sektor pariwisata Sulawesi Tenggara menjadi surga bagi para pelacong atau wisatawan tanah air hingga luar negeri. Ini potensi wisata Sulawesi Tenggara yang terkenal dengan panorama alam yang indah, baik yang ada di darat maupun pesisir. Namun, di tengah membaiknya iklim pariwisata bumi anoa, masih belum dilengkapi dengan fasilitas yang memadai, khususnya di daerah tujuan wisata. Salah satu fasilitas yang masi abai adalah jaket pengaman pelayaran atau yang lazim disebut lifejacket.

Baju pelampung merupakan perangkat yang dirancang untuk membantu pemakai, baik secara sadar atau di bawah sadar, untuk tetap mengapung dengan mulut dan hidung berada di atas permukaan air atau pada saat berada dalam air. Perangkat yang dirancang dan disetujui oleh pihak yang berwenang dalam hal ini Biro Klasifikasi Indonesia untuk digunakan oleh sipil dalam rekreasi berlayar, pelaut, kayak, kano.

Mengingat jalur wisata dominan ada di pesisir maka fasiltas jaket pengaman mutlak diperlukan. Terlebih di musim timur yang memiliki kondisi ombak yang cukup besar. Maka sinyal tanda bahaya perlu ditingkatkan demi mencegah yang tidak diinginkan. Saat musim timur, ombak cukup tinggo, ini menjadi tantangan tersendiri bagi jalur wisata yang tengah dikembangkan saat ini, termasuk desa wisata namu karena letaknya berada di pesisir laonti, sehingga dibutuhkan lifejacket sebagai savety bagi mereka yang doyan bepergian ke tempat ini.

Pengamatan selama ini, seluruh kapal rakyat yang mengangkut wisatawan ke Desa Wisata Namu ternyata tidak ada yang dibekali dengan lifejacket sebagai syarat pelayaran. “Yang menyediakan lifejacket itu ranah dinas apa sebenarnya??? dinas perhubungan atau dinas apa? Komunitas Ruruhi yang bergerak di sosal dan wisata bersama pemerintah desa sebenarnya sudah pernah mengusulkan agar ada bantuan jaket pengaman bagi penumpang yang akan ke desa namu dst, namun hingga kini tidak ada perhatian,”ungkap Arlan, penggiat wisata dampingan Ruruhi yang juga warga Desa Namu. SK

Bangun Kawasan Pariwisata, Pemkab Konsel Teken MOU Bersama TNRAW-BKSDA

Suarakendari.com-Pengelolaan kawasan wisata yang gencar dilakukan Pemerintah Konawe Selatan membawa progres yang luar biasa, terutama ditingkat kerjasama antar kelembagaan terkait. Seperti yang dilakukan antara Pemda Konawe Selatan dan Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) serta Kalai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sultra, Rabu (4/7/2018) melakukan penandatanganan bersama terkait kerja sama pengelolaan kawasan untuk kepentingan pariwisata.

Setidaknya ada tiga kawasan yang menjadi fokus kerjasama ini, masing-masing kawasan Tanjung Peropa Air Terjun Moramo, Kawasan Desa Wisata NAmu dan rencana pengelolan wisata di kawasan Taman Nasional Rawa Aopa. Rencananya, penandatanganan MoU ini akan dilakukan langsung Bupati Konawe Selatan bersama kepala BKSDA dan Kepala BTNRAW di Andoolo.

“Penandatanganan MoU ini adalah sesuatu yang penting dalam upaya mendorong pengelolaan pariwisata di Konawe Selatan,”kata Surunuddin, Bupati Konawe Selatan. SK

Sungai Laeya Cocok untuk Wisata Arung Jeram

Suarakendari.com-Kondisi sungai yang lebar dan berarus deras menempatkan Sungai Laeya, Kecamatan Laeya, Kabupaten Konawe Selatan berpotensi untuk dikembangkan menjadi wisata arung jeram. Apalagi saat musim hujan, debit air sungai laeya akan kian membesar sehingga menjadi lokasi pilihan para penggiat olah raga arus deras. Panjang sungai laeya mencapai 20 KM yang berhulu di kawasan hutan lindung Wolasi, Kecamatan Wolasi, Kabupaten Konawe Selatan dan bermuara di perairan Desa Labokeo, Kecamatan Lainea.

Namun jika dikembang menjadi spot wisata arung jeram, maka spot yang cocok menjadi pilihan berada di daerah Desa Anduna dan Kelurahan Ambalodangge,Kecamatan Laeya. Di desa andona spot arung jeram berada di kawasan hutan skaligus Daerah Aliran Sungai, tepat di sisi kiri gunung abari. Sedangkan di Kelurahan Ambalodangge spot yang tepat berada di areal bendungan laeya. Selain memiliki lebar sungai yang ideal, di tenpat ini juga dimungkinkan dikembangkan spot rest area atau lokasi bersantai keluarga. Sejumlah komunitas seperti Bripala Green, Ruruhi Project tahun 2017 pernah berkolaborasi melakukan survey awal di spot sungai laeya dalam rangka menjajaki kemungkinan menjadi spot wisata.

Olah raga arung jeram telah dikenal di Indonesia sejak tahun 70-an melalui kegiatan kepencitaalaman, namun secara komersil wisata baru dimulai pada awal tahun 80-an di sungai Alas Aceh Tenggara. Pada perkembangan selanjutnya, arung jeram wisata berkembang pesat di Bali disusul kemudian di Jawa Barat dan hingga akhirnya menyebar ke daerah-daerah lain di Indonesia.

Wisata arung jeram saat ini tidak hanya diminati oleh wisatawan mancanegara, untuk sungai-sungai di Jawa dan di Sumatera arung jeram telah menjadi pilihan wisata yang populer bagi wisatawan domestik. Arung jeram merupakan salah satu kegiatan olah raga yang bernilai rekreasi (sport tourism) yang banyak menarik minat orang untuk mengikutinya. Selain diperlombakan sebagai suatu cabang olah raga, arung jeram juga dianggap sebagai wisata petualangan yang menantang sekaligus atraktif dan memberikan pengalaman yang cukup mendalam bagi yang pernah mengikutinya. Saat ini wisata arung jeram telah berkembang menjadi industri yang mampu mendorong peningkatan devisa dan pendapatan daerah serta membuka lapangan kerja yang tidak sedikit ditingkat lokal. SK

Mengungkap Pesona Pulau Hari, Konawe Selatan

Suarakendari.com-Secara georafis Pulau Hari terletak di bagian Utara dari Kabupaten Konawe Selatan, melintang dari Utara ke Selatan antara 04o 02’13.3 dan 04o 02′ 17.4 Lintang Selatan, membujur dari Barat ke Timur antara 122o 46’37.1 dan 122o 46’41.3 bujur Timur. Akses ke pulau ini membutuhkan waktu 2 jam dari Bandara Haluoleo Kendari yakni dengan menggunakan kendaraan darat baik mobil maupun taxi selama 1 jam dan dilanjutkan dengan kapal cepat (speed boat) dengan waktu tempuh sekitar 1 jam dengan mengambil posisi keberangkatan dari pelabuhan Beringin dan atau pelabuhan Wawonii.

Dalam perjalanan menunju pulau ini wisatawan maupun pengunjung dapat menikmati keindahan teluk Kendari diantaranya hutan bakau dan perumahan masyarakat nelayan atau pusat pemukiman nelayan di Kota Kendari serta berbagai aktivitas industri atau usaha masyarakat yang bermukim di sekitar teluk Kendari. Pulau ini memiliki pantai dengan pasir putih yang indah serta sejuk pada tiga sisi yakni pada bagian sebelah Barat dengan garis pantai yang landai kurang lebih 100 meter, demikian juga garis pantai sebelah Timur, sedangkan garis pantai sebelah Utara memiliki garis pantai yang landai kurang lebih 200 meter. Bagian Selatan pulau ini tidak memiliki pantai landai dalam arti garis pantainya langsung kedalaman dan sangat cocok untuk dermaga atau pelabuhan.

Pulau Hari yang hanya memiliki luas sekitar 5 Ha, terletak tidak jauh dari pesisir Kendari dan bias dijangkau sekitar 1,5 jam dengan perahu atau 45 menit dengan perahu cepat (speed boat). Kata “Hari” dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “siang hari”. Penduduk asli menghubungkan pulau ini dengan nama tersebut karena adanya refleksi sinar matahari yang intensif disebabkan oleh permukaan air yang tenang. Pulau ini dikelilingi oleh batu karang yang mengagumkan dan menawarkan kesempatan-kesempatan yang luar biasa untuk menyelam.

Pulau ini berada di bagian Timur Kota Kendari. Walaupun pelayanan jasa wisata belum memadai, namun rutinitas pengunjungnya cukup ramai. Pada hari-hari libur tertentu, wisatawan lokal asal Kendari memanfaatkan pulau ini sebagai tempat berwisata. Pulau dengan pasir putih dan memiliki perairan yang sangat jernih dengan temperature berksar diantara 28oC – 34oC.

Obyek wisata Pulau Hari merupakan obyek wisata bahari yang dapat dinikmati dengan menggunakan peralatan selam (dive gear) atau peralatan snorkeling. Ada 5 titik penyelaman utama di pulau ini, dan 3 titik penyelaman lainnya berada di daratan Laonti tepatnya di Desa Baho-Labuan Beropa. Jarak pulau Hari ke Desa Baho ini ±10 menit.

Saat ini, telah ada beberapa operator penyelaman dan dive center lokal yang setiap hari Sabtu hingga Minggu sangat intens melaukan kegiatan eksplorasi pulau ini. Begitu pula halnya wisatawan nasional baik dari lokal Kendari maupun dari daerah lain yang telah sering berkunjung ke pulau ini. Untuk wisatawan mancanegara, dalam beberapa kesempatan, terdapat beberapa pengunjung yang berasal dari negara lain walaupun frekuensi kunjungan tidak sesering wisatawan lokal.
(Tulisan dan foto ini diambil di Facebook Yusup Maulana Mana)
Sumber : Dive Directory – Provinsi Sulawesi Tenggara

Pesona Pulau Hari Strategis Jadi Penopang Destinasi Wisata Bokori

Dokumentasi Foto Dispar Konsel/Suartin Sianti

Suarakendari.com-Pulau Hari hanya sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Terletak di sisi timur kota Kendari Sulawesi Tenggara pulau ini terkenal dengan keindahan panorama alamnya yang masih alami. Terlebih keindahan bawah lautnya, menjadikan tempat ini menjadi spot andalan para penyelam.

Sayangnya pulau yang menjadi milik Pemda Konawe Selatan ini tak kunjung terurus dengan baik, sehingga cenderung diabaikan keberadaannya. Padahal, jika saja disentuh dengan program destinasi, maka bukan tidak mungkin akan menjadi destinasi andalan baru yang akan menopang keberadaan destinasi wisata pulau bokori yang sudah lebih dulu booming pengunjung.

“Sangat disayangkan, pulau cantik seperti itu dibiarkan tidak terurus, ini harusnya menjadi poin penting bagi pemda Konsel, khususnya dinas pariwisata Konsel segera mengarapnya dengan serius,”kata Rafi, penggiat komuitas Ruruhi Project.

Pulau Hari merupakan salah satu solusi bagi Anda yang butuh ketenangan dan tantangan alam bahari nan natural. Untuk menjangkaunya tak sulit. Dari kota Kendari, Anda bisa menempuh perjalanan laut menggunakan perahu atau speed boat selama kurang lebih ,5 jam.

Pemandangan pantai yang berpadu secara alami dengan garis-garis kebiruan air alut merupakan tantangan bagi pecinta fotografi untuk mengabadikan keindahan alam pualu ini.

Sedangkan untuk pengunjung yang hobi dengan diving atau snorkeling, pada kedalaman tujuh hingga delapan meter, beningnya air membuat mata telanjang pun mampu menembus pemandangan taman laut dengan warna-warna yang cantik dan menawan. Terdapat 15 site diving di pulau ini.

Informasi dari para penggiat dive di Kendari mengungkap panorama pulau hari. Di sekitar site diving, sejumlah ikan yang cantik akan menemani Anda berenang. Beberapa clown fish lucu yang mirip dengan Nemo, banyak dijumpai disini. Adapun jenis ikan Angel. Beberapa jenis ikan yang masuk dalam kategori hampir punah ada di sini, di antaranya ikan Sunu, Kerapu, Sotong, Gurita, Lobster, dan bila beruntung, pengunjung bisa melihat atraksi penyu.

Binatang laut yang tak kalah menarik adalah Kelinci Laut atau biasa dikenal Nudibranch dan Electrik Clamp, bentuknya adalah kerang laut yang mengeluarkan cahaya pada malam hari. Hewan ini bisa dijumpai pada kedalaman enam hingga delapan meter.

Saat ini, ada dua club diving lokal yang setiap hari sabtu hingga minggu intens mengeksporasi tantangan di pulau ini. Sedang untuk wisatawan nasional dan internasional , hampir disetiap tahun pasti ada yang berkunjung.

Akses munuju pulu har, dari kota Kendari, hany membutuhkan waktu satu jam dengan menggunakan boat yang banyak terdapat di pelabuhan Beringin, dengan menggunkan boat yang banyak di pelabuhan Beringin, kompleks Pasar Sentral Kota Lama, Kendari. Bila sore hari, sepanjang perjalanan pegunungan akan disuguhi pemandangan bawah laut pada kedalam 10-15 meter. Tapi bila Anda melakukan perjalanan pada siang hari, pemandangan bawah lautnya dapat dinikmati hingga kedalaman 30 meter. SK

Wisata Mancing Mania Berpotensi Dikembangkan di Konsel

Suarakendari.com-Memiliki perairan laut yang luas kurang lebih 400 KM menjadikan Kabupaten Konawe Selatan kaya akan potensi perikanan laut. Apalagi saat ini potensi tersebut telah ditopang dengan berbagai kebijakan, program dan kegiatan pembangunan di sektor kelautan dan perikanan oleh pemerintah daerah setempat.

Berkaitan dengan potensi laut, saat ini 9 dari 25 kecamatan di Kabupaten Konawe Selatan memiliki spot perikanan yang lumayan besar. Diantara kecamatan yang merupakan wilayah pesisir (minapolitan) yakni Tinanggea, Laeya, Lainea, Palangga Selatan, Laonti, Moramo dan Moramo Utara yang terbagi dalam 105 desa pesisir. “Ini cocok untuk budidaya rumput laut maupun sektor pertambakan ikan bandeng, lobster dan budidaya kepiting bakau,”kata Surunuddin dalam satu kesempatan bertemu dengan nelayan di Kolono Timur.

Ada juga beberapa desa di tujuh kecamatan itu memiliki kawasan perairan air tawar yang cocok untuk budidaya ikan air tawar (ikan nila, mujair dan ikan lele) Konsep Minapolitan itu merupakan tekad pemerintah kabupaten untuk menjadikan Kabupaten Konsel sebagai pusat pengembangan hasil perikanan laut dan air tawar di Sultra.

Kondisi perairan yang baik inilah yang kini tengah dijajaki untuk dikembangkan sebagai spot wisata bahari, berupa wisata pemancingan. Setidaknya ini menjadi poin besar bagi para pencinta mancing mania. “Kita sudah jelajahi sejumlah wiulayah di Konsel dan adfa beberapa yang memiliki spot mancing yang bagus karena potensial memiliki ikan dalam jumlah besar,”kata Indra, komunitas mancing mania Konawe Selatan. Tinggal kalender ivent dan kalender iklim yang harus padu padan segera dibuat untuk dapat menjadi agenda wisata ke depan.

Wisata Sungai Air Panas Konsel yang Terbengkalai

FOTO: BPHP Makassar

Suarakendari.com-Kabupaten Konawe Selatan punya potensi pariwisata yang luar biasa banyak, baik di pariwisata pesisir, daratan, hutan hingga alam bawah lautnya. Dan lokasi potensi wisata ini rata-rata dapat dijangkau dengan mudah dengan menggunakan berbagai aneka sarana transportasi. Salah satu potensi wisata yang dapat dijangkau adalah wisata sungai air Panas Lainea merupakan sumber air panas terdapat di dua tempat di Kecamatan Lainea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara . Sayang keberadaan potensi sungai air panas ini tak kunjung dilirik oleh pemerintah setempat, entah alasan apa. Walau sebenarnya jika mau serius, kawasan ini sangat cocok dikembangkan untuk areal wisata yang dapat menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara.

Saat melakukan explorasi wisata di kawasan ini, sensasi atmosfir wisata yang luar biasa besar ini sudah dapat dirasakan. Betapa tidak kita telah dapat menyaksikan eindahan panorama alam disepanjang sungai. Kepulan mirip asap memutih terlihat di kejauhan, tepatnya di sebuah kawasan hutan di Desa Kaindi.

Untuk menjangkau tempat itu, perlu melewati rute jalan setapak, setelah melalui areal perkebunan rakyat. Disarankan pula, untuk menjangkau tempat itu, Anda perlu menyewa gaet local yang siap melayani perjalanan anda.

Rerimbunan hutan jati yang banyak tumbuh di kawasan itu menjadi nilai tambah perjalanan ke kawasan itu. Namun aksi illegal loging menjadikan kawasan itu bergeser dari bentuk aslinya. Sebelum tiba di lokasi, kita akan mendapati sebuah bangunan permanen yang sudah tak terpakai.

Melihat bentuknya, tampak bangunan itu mirip bak penampungan air. Ukuran bangunan seluas 15 X 12 meter persegi dan letaknya dekat aliran sungai kecil yang membentang. Air sungai itu terasa hangat, terlebih pada pagi hari.

Air yang panas itu, disuplai dari sumber air panas yang ada di kawasan bukit hutan yang letaknya sekitar 1 KM. Sedang, air yang dingin, diambil dari sebuah sungai kecil yang mengalir sekitar 50 meter dari bak penampungan.

Ketika jarak semakin mendekati air panas, maka hawa panas sedikit demi sedikit akan terasa. Demikian pula, bau belerang tampak menyengat hidung.

Areal tempat air panas tak begitu luas. Terletas di bawah sebuah bongkahan batu besar. Saat tiba, secara tak sengaja, wartawan koran bertemu dua mahasiswa asal Makassar yang tengah melakukan penelitian di sumber air panas itu. Dari mereka diketahui titik didik air mencapai 50 derajat celcius.

Untuk mengetes titik didih air cukup mudah, dengan menaruh beberapa butir telur ke dalam air panas itu, maka hasilnya yang diperoleh cukup menakjubkan, sekitar 10 menit telur pun matang.

Selain di Desa Kaindi, di Desa Pamandati juga terdapat sumber air panas. Lokasinya tak jauh dari pemukiman penduduk yang sudah dibuat dalam bentuk kolam. Sejumlah sara wisata juga sudah dibangun di sana, diantaranya gazebo, tempat sampah dan kolam pemandiannya.

Bagi warga setempat, lokasi itu menjadi salah satu obyek wisata alternatif selain wisata laut. Selain jaraknya yang dekat –2 KM–, warga juga dengan mudah menjangkau tanpa sedikit pun dipungut bayaran.

Beberapa warga menaruh harapan agar pemerintah Kabupaten Konawe Selatan memberi perhatian pada lokasi itu. “Sebetulnya bila dikelola dengan maksimal, maka lokasi wisata ini bisa menarik pendapatan buat daerah,”kata Kasim, pemerhati kehutanan.SK

Desa Wisata Masa Depan Industri Pariwisata Konawe Selatan

foto: Imran Amir

Suarakendari.com-Kabupaten Konawe Selatan merupakan salah satu kabupaten terluas di Propinsi Sulawesi Tenggara, dengan luas wilayah daratan mencapai 451.420 Ha atau 11,83 persen dari luas wilayah daratan Sulawesi Tenggara. Sedangkan luas wilayah perairan (laut) ± 9.368 Km2.

Secara demografis Kabupaten Konawe Selatan memiliki jumlah penduduk sebesar kurang lebih 300 ribu jiwa dan merupakan terbesar kedua setelah Kota Kendari. Ada banyak lokasi wisata di daerah Konawe Selatan, tentu saja ditunjang dengan beragam adat istiadat, budaya hingga tradisi masyarakat menjadi keunggulan tersendiri. Begitu pula dengan hasil kerajinan lokal dan kekayaan alam yang dimiliki di daerah ini, menjadi ikon yang bisa lebih dikenal masyarakat luas.

Ruruhi Project sebagai organisasi komunitas yang menaruh perhatian khusus pada pengembangan sektor wisata berbasis masyarakat memandang setiap desa di Kabupaten Konawe Selatan memiliki potensi untuk dijadikan komoditas wisata unggulan. Peda posisi itu jika dikelola secara serius, maka akan dapat diarahkan pada pengembangan kepariwisataan, bahkan menjadi destinasi khusus yang pada akhirnya dapat mengundang wisatawan lebih banyak ke Konawe Selatan.

“Mengingat bahwa potensi alam dan budaya yang khas tersebut tersebar hampir di sebagian besar wilayah pedesaan di Kabupaten Konawe Selatan, maka besar kemungkinan untuk dikembangkan konsep desa wisata (village torurism),”kata Isna, program officer Rururhi Project.

Hal ini didukung oleh keberadaan potensi flora-fauna di sekitarnya dan didukung oleh panorama alam, diantaranya, potensi Wisata alam laut Pulau Hari, Desa Terapung di Desa Bungin, Kecamatan Tinanggea, Savana dan Potensi Rawa di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Desa Wisata Namu di Kecamatan Laonti, Air Terjun Moramo, Wisata Rafting di Kecamatan Laeya, Desa Adat di Desa Benua dan Desa Jati Bali, Sentra Kerajinan Kriya di Pangan Jaya, Kecamatan Laeya dan Kecamatan Basala dan lain sebagainya. Sehingga dalam pengelolaan tersebut perlu didukung oleh sarana prasarana pengunjung yang memadai dalam pengembangan sarana prasarana penunjang pariwisata.

foto: Jojon

Diungkapkan Isna, Desa Namu, Desa Jati Bali dan Desa Benua merupakan desa yang panorama alam dan kultur budayanya masih terlihat kental, terbukti bahwa Desa Jati Bali dan Desa Benua adalah sentra pariwisata berbasis budaya di Konawe Selatan. Sedangkan Desa Namu merupakan desa berbasis masyarakat wisata alam laut dan pesisir. Di Desa Namu juga merupakan laboratorium alam yang merupakan sarana yang lengkap untuk mendapatkan aneka informasi terutama flora dan fauna. Berdasarkan pada karakteristik dan potensi wilayahnya, maka Desa Namu, Desa Jati Bali dan Desa Benua merupakan desa yang memungkinkan untuk dikembangkan menjadi obyek kajian desa wisata (village tourism).

Konsep Desa Wisata merupakan suatu wilayah pedesaan yang memiliki potensi keunikan dan daya tarik wisata yang khas. Kriteria suatu desa dapat dikembangan menjadi desa wisata, apabila memiliki beberapa faktor-faktor pendukung antara lain; (1) Memiliki potensi produk dan daya tarik, (2) memiliki dukungan sumber daya manusia (SDM), (3) motivasi kuat dari masyarakat, (4) memiliki dukungan sarana dan prasarana yang memadai, (5) mempunyai fasilitas pendukung kegiatan wisata, (6) mempunyai kelembagaan yang mengatur kegiatan wisata, dan (7) ketersediaan lahan/area yang dimungkinkan untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata. Mengacu pada kriteria pengembangan desa wisata di atas, maka desa Namu di Kecamatan Laonti, Desa Benua, Kecamatan Benua dan Desa Jati Bali di Kecamatan Ranomeeto Barat Kabupaten Konawe Selatan yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi desa wisata.

Karena itu dibutuhkan Rencana Startegis Desa Wisata (village tourisme) di Kabupaten Konawe Selatan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk merumuskan rencana strategis pengembangan desa wisata yang berbasis pada keunikan dan sektor unggulan lokal (pertanian, peternakan, jasa dll) serta melalui pendekatan partisipatif masyarakat. SK