PAW Syamsul Ibrahim Pending

KENDARI, SUARAKENDARI.COM, Syamsul Ibrahim yang tercatat sebagai salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Tenggara (Sultra) yang berasal dari Partai Demokrat dan sudah menyatakan surat pengunduran dirinya untuk pindah ke Partai Amanat Nasional (PAN) hingga saat ini masih tetap berkantor di Gedung DPRD Sultra.

Pasalnya, hingga saat ini pengurusan PAW dari Syamsul Ibrahim masih pending karena belum ada surat pemberhentian secara resmi yang dikeluarkan dari Mendagri. Iwan Rompo, Komisioner KPU Sultra, menjelaskan bahwa pihaknya terpaksa menunda pengurusan PAW dari Syamsul Ibrahim karena tidak adanya surat pemberhentian resmi. Padahal dari Partai Demokrat sudah mengajukan Fatmayani, sebagai calon PAW dari Syamsul Ibrahim. “Kami di KPU Sultra tidak ingin lagi bermasalah dengan calon yang akan diganti, sehingga kami tidak ingin gegabah dalam mengurus PAW dari anggota dewan, dulu memang biasa diurus bersamaan antara surat pemberhentian dan PAW, tapi ini kami ingin lebih tegas, sehingga sebelum ditetapkan PAW, harus ada yang diberhentikan dulu,’ tegasnya, Selasa (21/1/2014). Menurutnya, tidak ada maksud dari komisioner untuk tetap mempertahankan Syamsul Ibrahim duduk sebagai salah seorang wakil rakyat, namun pihaknya hanya ingin agar peraturan yang termuat dalam UU No 15 tentang PAW tersebut, ingin lebih tegas lagi. “Dalam UU No 15 memang diatur, ada dua pilihan untuk memutuskan calon PAW, bisa diurus bersamaan, bisa juga diberhentikan dulu lalu kami urut PAWnya, tapi kami belajar dari pengalaman kami sebelumnya, biasanya kalau diurus bersamaan, maka kami digugat dari yang digantikan, kami hanya mencoba untuk menghindari konflik,” ujarnya.

Terkait aturan yang menegaskan bahwa tidak ada lagi pergantian atau PAW dari anggota DPRD enam bulan sebelum masa akhir periodenya berakhir, Iwan menuturkan bahwa untuk mengurus pemberhentian dan PAW dari Syamsul Ibrahim masih bisa dikejar. “Masa berakhirnya periode anggota DPRD Sultra periode 2009-2014, masih lama, kalau tidak salah akhir periodenya itu bulan September, jadi masih ada waktu untuk mengurus pemberhentiannya itu mungkin hanya memakan waktu sekitar satu bulan saja, jadi masih bisa tetap diurus,” tukasnya. (LINA)

Ketua AJI Kendari : Jurnalis Harus Paham Kode Etik

KENDARI,SUARAKENDARI.COM, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari, Zainal A. Ishaq menegaskan bahwa seorang Jurnalis profesional harus paham betul dengan kode etik dalam menjalankan tugasnya sebagai jurnalis. “Saya pikir seorang jurnalis itu harus benar-benar profesional dalam menjalankan tugas peliputannya di lapangan, jika semua jurnalis memegang teguh kode etik, maka tidak perlu takut akan bermasalah dengan hukum,” tegasnya, Selasa (21/1/2014).

Hal tersebut diungkapkannya berdasarkan pengalaman dari somasi yang dilayangkan Ketua KPU Sultra, Hidayatullah kepada Koran Tribun edisi 11 Januari 2014 dengan judul “Demo di KPU Sultra Diprakarsai Ketua KPU?”. Menurutnya, dalam menjalankan tugas jurnalistik, seorang jurnalis harus pandai dalam memahami suatu berita, bukan hanya karena mengejar deadline, lalu tidak melakukan konfirmasi kepada seseorang yang berkaitan dengan pemberitaan yang akan ditayangkan. Hal utama yang harus diperhatikan seorang jurnalis bagaimana bisa memahami kode etik dalam menjalankan semua tugas peliputan, jangan sampai dengan pemberitaan yang ditayangkan ada pihak yang tidak terkonfirmasi sehingga menimbulkan masalah dikemudian hari.

Terlepas dari semua itu, ia juga memberikan apresiasi kepada pihak Koran Tribun yang mau mengakui kesalahan dari jurnalisnya melalui permohonan maaf yang telah disampaikan secara resmi dan dimuat dari Koran Tribun dan Sultra Online (Portal Koran Tribun,Red). “Kita juga bersyukur bahwa masalah ini cepat selesai dan tidak berlarut-larut, sikap yang diambil Ketua KPU Sultra, Hidayatullah untuk melayangkan somasi juga sudah tepat karena merasa keberatan terhadap pemberitaan tersebut, jadi tidak langsung menempuh jalur hukum,” ujarnya. Namun demikian, masalah tersebut juga tidak lepas dari tanggung jawab pihak editor dalam hal ini redaktur dan Pimpinan Redaksi. Pasalnya, sebelum berita tersebut ditayangkan harus melalui beberapa proses editan sebelum dicetak.

Inal, sapaan akrabnya, berharap agar semua media khususnya yang ada di Sultra, dapat mengambil pelajaran dari masalah tersebut. Kedepannya, dalam memuat suatu berita harus tetap memperhatikan sumber dan keseimbangan dari berita yang akan dimuat. “Mudah-mudahan masalah ini menjadi pelajaran bagi semua media yang ada di Sultra, seorang jurnalis juga harus lebih berhati-hati lagi agar tidak tersangkut dengan masalah hukum lainnya,” harapnya. (LINA)

Jurnalis Kompas TV Pimpin AJI Kendari

KENDARI, SUARA KENDARI.Com – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kendari yang merupakan salah satu organisasi bagi jurnalis yang diakui Dewan Pers, kembali melakukan pemilihan terhadap kepengurusan AJI Kendari Periode 2013-2016.

Dalam pemilihan kali ini, pasangan Zainal Ishaq-Suwarjono unggul mengalahkan pasangan Ishak Junaedy-Arifuddin Mangka, dengan perolehan suara sebanyak 26, sementara pasangan Ishak Junaedy-Arifuddin Mangka hanya mendapatkan 7 hak suara. Sebelumnya, AJI Kendari dipimpin oleh Midwan dan Zainal Ishaq sebagai sekretaris.

Pemilihan anggota AJI kali ini diikuti oleh 33 peserta anggota AJI yang tidak hanya berasal dari Kota Kendari, melainkan beberapa wartawan daerah yang berasal dari Kabupaten Konawe, Bombana dan Kolaka Timur.

Midwan selaku Ketua AJI Kendari Demisioner mengatakan, sebagai anggota AJI, maka seluruh anggotanya harus tetap menjaga independensinya, apalagi momentum pemilu yang sudah semakin dekat.

“Kita harus tetap menjaga bagaimana nilai-bilai dan moral tetap menjadi bagian dari AJI dan kita harus tetap bertekad agar AJI bisa menjadi parameter yang baik bagi organisasi wartawan lainnya,” pesannya.

Menurutnya, anggota AJI harus bisa membuktikan bahwa AJI merupakan suatu organisasi yang selalu mengedepankan independensinya dan tidak dapat dibeli hanya untuk kepentingan pribadi atau kepentingan politik menjelang pemilu 2014.

Abraham, perwakilan AJI Indonesia juga berpesan kepada anggota AJI khususnya AJI Kota Kendari agar terus menjaga integritasnya dan terus melakukan verifikasi terhadap anggota AJI yang ada saat ini.

“Pemilihan dan penerimaan anggota AJI ini harus diverivikasi, kita harus membuktikan bahwa pengurus AJI merupakan jurnalis handal dan jelas medianya, tidak ada anggota AJI yang bukan jurnalis apalagi wartawan bodrex,” ujarnya.

Sementara itu, jurnalis Kompas TV, Zainal Ishaq, yang baru saja terpilih mengatakan bahwa ia dan sekretarisnya, Suwarjono, akan berusaha untuk tetap menjaga nilai-nilai dan semangat perjuangan AJI.

“kami berkomitmen untuk menjalankan seluruh program yang telah dipercayakan oleh AJI Indonesia. Selain mengembangkan kapasitas jurnalis didaerah sultra, yang tidak kalah penting adalah tetap menjaga integritas,” katanya.

Sebelumnya pelaksanaan konferta atau pemilihan ketua yang baru tersebut, dua hari sebelumnya AJI Kendari telah melakukan training penulisan berita lingkungan dan penerimaan anggota AJI, sehingga saat ini jumlah anggota AJI Kendari yakni sebanyak 91 jurnalis yang berasal dari beberapa media berbeda. (LINA)

Dilarang Berjualan di Kawasan RTH

KENDARI, SUARA KENDARI.Com – Tidak ada alasan bagi nelayan kerang-kerangan dan kepiting untuk tetap bertahan berjualan di sekitar jalan Bay Pass menuju jembatan triping. Pasalnya, pihak pemerintah telah membatasi bagi nelayan tersebut untuk berjualan.

Hamzah, salah seorang nelayan kepiting mengeluhkan sikap pemerintah yang melarang ia dan teman-temannya yang lain untuk menyambung hidup melalui hasil tangkapannya.

Menurutnya, ia bersama temannya yang lain tidak dapat berjualan di pagi hari karena pihak Satpol PP akan melakukan penertibatan di kawasan tersebut.

“Saya juga tidak tahu alasan pemerintah apa, yang jelas kami hanya bisa berjualan di sore hari karena kalau di pagi hari, meja jualan kami diamankan Satpol PP, jadi kami hanya bisa berjualan di sore hari mencuri waktu saja,” katanya.

Menurutnya, hal tersebut sangat disayangkan karena selama ini ia hanya membiayai kebutuhan keluarganya dari hasil tangkapan kerang-kerangan kemudian dijual. “Kalau tempat yang tetap saya tidak punya, kalau mau sewa lods juga uang dari mana, sementara saya hidup pas-pasan,” ujarnya.

Ia berharap agar pemerintah bisa lebih bijak dalam mengambil keputusan, apalagi ia hanya menggantungkan hidupnya dari hasil jualannya tersebut.

“Mudah-mudahan ada solusi yang diberikan kepada kami, supaya kedepannya kami bisa diizinkan untuk berjualan mulai dari pagi hari, kalau hanya sore hari penghasilan saya tentu sangat terbatas,” harapnya.

Kabag Humas Kota Kendari, Trikora Irianto, mengatakan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah tersebut merupakan kebijakan tepat demi tata kota, sehingga pemandangan Kota Kendari tidak terkesan semrawutan.

“Bukannya pemerintah kejam atau apalah namanya, tapi ini hanya diatur saja supaya kota kita tidak kelihatan kumuh, pemerintah juga sudah menyediakan beberapa pasar serta pelelangan kalau ada hasil tangkapan nelayan, tidak seharusnya buat tempat jualan sendiri,” tegasnya.

Trikora juga menuturkan bahwa pedagang yang berjualan di sekitar jalan Bay Pass tersebut baru bermunculan akhir-akhir ini, sehingga sangat mengganggu pemandangan kota.

Alasan utama bagi pemerintah menegaskan aturan tersebut karena kawasan itu masuk dalam kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sehingga tidak diperbolehkan untuk melakukan aktivitas jual beli. (LINA)

Puluhan Jurnalis Training Penulisan Berita Lingkungan

KENDARI, SUARA KENDARI.Com – Sejumlah jurnalis dari beberapa daerah di Sulawesi Tenggara (Sultra) menjalani training terkait berita lingkungan. Training tersebut dilakukan oleh AJI Kendari yang bekerja sama dengan D&P.
Antusias jurnalis untuk mengikuti pelatihan tersebut tidak lepas dari rasa ingin tahu para jurnalis yang ingin lebih mendalami penulisan tentang isu lingkungan.

Ketua AJI Kendari, Midwan, mengatakan bahwa pelatihan yang dilakukan hari itu betujuan untuk menambah pengetahuan para jurnalis yang selama ini tidak terlalu paham terkait teknik penulisan berita lingkungan.

Realitas keadaan lingkungan yang ada di Sultra saat ini juga tentu tidak luput dari perhatian media, mulai dari pemanfaatan sumber daya alamnya hingga berbagai kerusakan yang terjadi akibat terabaikannya lingkungan sekitar.

“Isu lingkungan yang menjadi perhatian serius karena realitas Sultra selama ini terkait pengelolaan sumber daya alamnya yang selalu bermasalah,” kata Midwan.

Akibat dari kerusakan linkungan tersebut, sehingga banyak hak dari masyarakat yang masih perlu diperjuangkan.

“Peran media ketika mengangkat isu lingkungan tentu akan berimplikasi yang sangat besar kepada masyarakat, ketika media mampu mengangkat solusi terbaik bagi masyarakat maka akan mendatangkan kebaikan bagi semua karena jika media saja tidak mampu memberikan solusi atau mengkritik terkait kerusakan lingkungan yang terjadi, maka tidak ada lagi yang akan melakukan berbaikan terhadap daerah,” ujarnya.

Ia berharap melalui training yang dilakukan hari itu, dapat menjadikan motivasi kepada para jurnalis untuk mengangkat isu lingkungan.

Ulfah, salah seorang jurnalis media cetak yang menjadi peserta training hari itu mengatakan bahwa dengan pelatihan yang diikutinya dapat menambah pengetahuannya yang selama ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi saja.

“Dengan adanya pelatihan yang dilakukan hari ini akan memberikan tambahan pengetahuan bagaimana cara menulis berita lingkungan yan baik dan benar, selama ini saya hanya belajar otodidsk meskipun sudah beberapa kali mengikuti liputan lingkungan tapi belum ada pelatihan seperti ini,” katanya.

Pelatihan yang dilakukan hati itu, tidak hanya sebatas pelatihan biasa saja, tapi AJI Kendari yang bekerja sama dengan D&P akan memberikan beasiswa peliputan kepada 12 jurnalis terpilih yang dinilai TORnya memenuhi persyaratan. (LINA)