Hugua Optimis Menang Pilkada

Suarakendari.com- Ir Hugua, calon Wakil Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara nomor urut dua tetap optimis dapat memenangkan pemilihan langsung kepala daerah di bumi anoa, meski pasangannya, Ir Aasrun kini menjadi tersangka koruspsi dan mendekam di tahanan komisi pemberantasan korupsi ( KPK) di Jakarta.

Di tengah hujan yang mengguyur kota kendari, tak menyurutkan langkah Hugua untuk mendatangi tempat pemungutan suara untuk menyalurkan hak pilihnya, Rabu , pagi (27 juni 2018). Wakil cakada Hugua , datang sekitar pukul 11.00 pagi di temani isteri dan dua anaknya setelah mendapat kartu pemilih dari petugas pemilihan suara di TPS 12, Kelurahan Lahundape, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, Sulawesi tenggara.

Pada pilkada kali ini, Hugua harus bekerja ekstra setelah pasangannya, Asrun yang maju sebagai calon gubernur sulawesi tenggara ditangkap KPK pada pada Februari 2018 silam .

Aasrun ditangkap KPK bersama anaknya Ardriatma Dwi Putra yang juga Wali Kota Kendari akibat terlibat dugaan suap dengan salah satu pengusaha di kendari. Kasus tersebut tentu menjadi isu hangat yang menjadi bola panas menjelang pemilihan berlangsung.

Kendati demikian, Hugua mengaku tidak gentar dan tetap optmis memenangkan pemilihan gubernur sulawesi tenggara. Ia mengaku di pilkada ini akan mengukir sejarah/ bahwa seorang tersangka belum tentu bersalah dan asrun masih dicintai pendukungnya.

“Kami optimis masih bisa memenangkan pilkada di sulawesi tenggara dan akan mencatat sejarah bahwa seorang tersangka belum tentu bersalah dan akan membuktikan asrun akanmemenangkan pemilihan,”ungkapnya.

Hugua juga mengaku jika dirinya sudah sempat bertemu kepada asrun jauh sebelum pencoblosan. Kepada dirinya, Asrun menitip pesan agar terus berjuang mememenangkan pilkada serentak.

Di pilkada Sulawesi Tenggara 2018, pasangan asrun- hugua diusung lima partai politik diantaranya/ PDIP bersama partai amanat nasional (PAN), partai keadilan sejahtera (PKS), Partai Hanura, dan Partai Gerindra.

Pada plikada serentak disulawesi tenggara diikuti tiga pasang calon, masing-masing nomor urut satu pasangan ali mazi-lukman abunawas, pasangan calon urut dua ditempat pasangan asrun-hugua dan pasangan urut tiga masing-masing rusda mahmud- syafei kahar. Semnetara untuk jumlah pemilih sesuai dpt di sulawesi tenggara terdapat satu 1.628 suara. SK

Ratusan Rumah di Kendari Terendam Banjir

Suarakendari-Kota Kendari seolah telah menjadi langganan banjir setiap kali hujan mengguyur. Bahkan disejumlah kawasan terendam hingga setengah sampai satu meter.

Titik banjir terparat terdeteksi melanda kawasan Kali Wanggu, Kecamatan Baruga dan kawasan anduonohu, Kecamatan Poasia.

Di kawasan aundonohu ratusan rumah terendam air hingga meluap ke jalan utama kawasan itu. Sementara kawasan Kali Wanggu air merendam puluhan rumah hingga mencapai satu meter. Meski begitu belum ada laporan jatuhnya korban jiwa di bencana ini.

Sejumlah petugas tanggap bencana juga sudah siaga di lokasi bencana dan mengirimkan bantuan selimut dan makanan kepada para korban. Intensitas hujan yang cukup tinggi menjadi penyebab meluapnya sejumlah sungai dan merendam rumah warga. SK

Banjir Besar Landa Desa Lamokula

. Dokumentan foto: candra Suarakendari-Tingginya intensitas hujan membuat banjir melanda sejumlah daerah di Sulawesi Tenggara. Seperti tahun-tahun sebelumnya, banjir besar kerap menyambangi Desa Lamokula, Kecamata Moramo, Kabupaten Konawe Selatan. Banjir yang diakibatkan meluapnya sungai Lamokula ini merendam seratusan rumah dan memaksa penghuni rumah mengungsi ke lokasi yang aman, Senin (25/6/2018). Di desa ini terdapat tiga dusun yang terendam banjir setinggi satu sampai dua meter dan nyaris menenggelamkan rumah warga. SK

Perempuan Tua Asal Muna Tewas Ditelan Ular Piton

Suarakendari.com-Nass menimpa Wa Tiba (54). Wanita asal Desa Mabolu, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara tewas setelah ditelan hidup-hidup oleh seekor ular piton di sebuah kebun milik warga. Saat ditemukan oleh warga, Jumat, (15/6/18), kondisi korban cukup mengenaskan, tubuh wanita tua ini remuk dan berada dalam perut ular sepanjang delapan meter tersebut.

Penemuan mayat yang ditelan ular piton di Muna ini sempat viral di media social. Dari video dan foto yang diunggah di social media facebook, tampak warga beramai-ramai membelah perut ular besar tersebut, dan berhasil mengeluarkan korban dari perut ular. Diduga korban telah dua hari berada dalam perut ular sebelum akhirnya berhasil ditemukan.

Informasi menyebut, korban sempat dicari pihak keluarga karena sudah seharian tidak balik ke rumah. Sebelum tewas, korban diketahui hendak ke kebun, namun tidak kembali ke rumahnya. Keluarga yang cemas kemudian meminta bantuan polisi mencari korban.
Setelah dilakukan pencarian di sekitar kebun dan semak belukar, akhirnya warga menemukan seekor ular python dengan perut membesar di sekitar kebun warga. Warga yang curiga kemudian membelah perut ular dan menemukan tubuh korban. SK

Desa Batu Jaya Kaya Potensi Wisata Alam

Suarakendari-Satu lagi desa yang kaya akan potensi wisata alam di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Adalah Desa Batu Jaya yang berada di Kecamatan Laonti, memiliki potensi pariwisata yang patut diperhitungkan. Desa yang bertetangga langsung dengan Desa Wisata Namu ini kini tengah berbenah menuju pengelolaan pariwisata desa yang lebih serius.

“Saat ini kami tengah mendata potensi pariwsata desa Kami, yang pasti wisata alam seperti air terjun, pantai dan alam bawah laut menjadi potensi yang layak untuk kami kelola,”kata Basman, Kepala Desa Batu Jaya.

Desa dengan luas keseluruhan mencapai 16 KM2 ini juga memiliki potensi sumber air panas dan kekayaan flora dan fauna, seperti anoa, burung halo dan aneka ikan hias.

“Kami menyediakan satu spot andalan yang mungkin tidak ada di desa lain, yakni spot pengamatan anoa sekaligus menjadi lokasi tracking mangrove,”ungkap Basman.

Kades yang baru menjalankan tugas di periode pertama ini optimis Batu Jaya akan bisa mengikuti langkah kesuksesan desa tetangganya, Desa Wisata Namu. “Yang pasti Kami selalu siap untuk mengelola potensi wisata desa kami dan berharap bisa menjadi desa wisata,”ujarnya. YOS

Diaspora Nelayan Desa Lamongupa di Konawe Kepulauan

Suarakendari.com, KONKEP-Enam puluh Delapan tahun silam mereka hadir sebagai saudagar beras. gula, Oleh kebijakan distrik pada saat itu. mereka dibukakan satu desa khusus.Kini mereka 75 persen bekerja sebagai nelayan.
Hari menjelang sore, Burhan (49 tahun) nampak sibuk menghampar ikan di pinggir jalan desa yang tak seberapa luas. Ikan-ikan ini baru saja turun dari perahu sehingga nampak segar. Orang di kampong menyebutnya ikan sori, mungkin karena bentuk mulut ikan yang panjang. Burhan langsung menyimpan ke dalam baskom yang sudah dia siapkan sebelumnya, selanjutnya dijual ke warga sekitar dan warga di desa-desa tetangga.
Nama Lamongupa berasal dari dua suku kata yaitu Laa = sungai/kali (bahasa Wawonii) dan Mongupa = jambu/manggopa. Karena di sekitar wilayah Lamongupa saat itu terdapat kali besar yang hanya ditumbuhi oleh satu tanaman mongupa.
Desa ini merupakan wilayah pesisir pantai yang dihuni oleh sebagian besar para perantau Bugis – Bone. Proses diaspora suku Bugis di desa ini terjadi sekitar tahun 1947. Pada awal kehadirannya di Wawonii, mereka hadir sebagai pedagang menjual gula, beras dan lain-lain.
Karena mereka merasa cocok dan terjalin hubungan baik dengan masyarakat Wawonii pada saat itu, maka mereka memilih tinggal. Oleh kepala distrik Wawonii saat itu, mereka kemudian diberikan izin untuk tinggal di Desa Lamongupa.
Pada tahun 1957, Lamongupa yang masih merupakan salah satu dusun di Desa Lampeapi ditetapkan menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Wawonii yang pada saat itu camat pertama dijabat oleh Bapak Lasikende dan berkembang hingga kini.
Total jumlah penduduk Desa Lamongupa adalah sebanyak 68 KK (Kepala Keluarga), sebagian besar di dominasi oleh suku Bugis – Bone, kemudian Suku Tolaki/Wawonii dan sebagian kecil suku Buton. Seratus persen warganya beragama Islam.
Berberda dengan desa-desa sebelumnya, penduduk Desa Lamongupa justru menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Hal ini lebih didukung oleh kondisi desa yang sebagian besar wilayahnya merupakan daerah pesisir.
Sedangkan di bidang pertanian, hanya dijalankan oleh sebagian kecil masyarakat di desa ini dan hanya dianggap sebagai kegiatan sampingan bagi mereka.
Ikan hasil tangkapan biasanya di pasarkan oleh ibu-ibu ke desa-desa tengga hingga ke wilayah Kecamatan Wawonii Selatan.
Sukardin – Tokoh Adat – memaparkan bahwa Desa Lamongupa menyediakan suplay ikan bagi desa-desa tentangga di Wawonii Tengah, termasuk Wawonii Selatan.
Menurutnya, ada beberapa kendala yang kerap dihadapi oleh para nelayan di Desa Lamungupa, yakni belum tersedianya energi listrik di desa ini. Hal ini sangat berpengaruh terhadap tingkat kesegaran ikan hasil tangkapan terlebih jika ikan-ikan tersebut sudah tertangkap beberapa jam.
Keberadaan Desa Lamongupa juga memiliki pertautan sejarah perjalanan pendidikan di Sulawesi Tenggara. Sukardin – tokoh adat Lamongupa mengaku, bahwa DDI (madrasah ibtidaiyah tempo dulu) pertama di Sulawesi Tenggara berada di desa Lamongupa.
Selanjutnya pada tahun 1997 Desa Lamongupa dimekarkan menjadi sebuah desa. Sampai tahun ini, telah terjadi 3 kali pergantian kepala desa dan kepala desa yang ketiga bernama Abdul Rasyid.
Hak kepemilikan atas tanah di desa ini ditentukan oleh usaha di atas tanah warisan yang telah berlangsung secara turun temurun. Sayangnya hingg kini belum ada Program Nasional (Prona) sertifikasi lahan di desa ini. Ini juga menjadi kekhawatiran warga menyusul mekarnya wawonii sebagai daerah otonomi baru. Terlebih jika melihat fakta sumber daya alam desa yang konon terdapat potensi sumber daya mineral di sana.
Informasi yang diperoleh dari beberapa informan, disebutkan bahwa di desa ini terdapat 3 jenis sumber daya mineral, yaitu Chrome, Besi dan Pasir Kuarsa.
Sekitar tahun 2007, bahkan, pihak perusahaan tambang telah melakukan eksplorasi terhadap jenis-jenis sumber daya tersebut. Tetapi oleh masyarakat setempat, aktivitas ini di tolak dan akhirnya berhenti atas desakan masyarakat. ***

Ratu Kegelapan Tampil Memukau, Hibur Warga di Festival Benua

Suarakendari-Ratu Kegelapan akhirnya tampil dalam Opera Van Ndolaki di Festival Benua, yang berlangsung meriah, Sabtu (23/12/17). Selama kurang lebih 30 menit, Ratu Kegelapan bersama crew tampil memukau dihadapan ratusan warga yang hari itu antusias hadir dengan memadati panggung festival demi melihat langsung lawakan berkualitas san Ratu Kegelapan yang selama ini dikenal dengan humor khas berbahasa daerah Tolaki. Selain pementasan, Crew Ratu Kegelapan dengan ramah memberi kesempatan pada warga maupun fans mereka untuk berfoto bersama.

Penampilan Ratu Kegelapan di Festival Benua merupakan wujud dari komitmen mereka untuk terus membangun kesadaran kolektif agar warga khususnya di Bumi Konawe untuk bisa terus melestarikan budaya mereka, khususnya budaya cinta Bahasa Tolaki. “Ini merupakan upaya dari Kami selaku generasi muda Tolaki untuk terus melestarikan budaya dan bahasa tolaki di masyarakat melalui bidang seni,”kata Eko, manajer Ratu Kegelapan.

Eko mengaku terkesan dan bangga atas digelarnya Festival Benua sebagai ajang memperkenalkan kembali budaya Tolaki yang hampir punah, sepertti tradisi lulo ngganda ke masyarakat. “Semoga kegiatan pelestarian budaya melalui festival dapat terus dilakukan setiap tahun,”harapnya.

Crew Ratu kegelapan sendiri dikenal lewat penampilan mereka dalam film pendek bergendre humor bernuasa lokal Kendari. Mereka bahkan mereja panggung media social facebook di Sulawesi Tenggara. Short movie bergendre drama komedi yang diproduksi dengan peralatan yang cukup sederhana ini, bahkan mengalahkan seluruh film lokal yang pernah di produksi di bumi anoa dengan jumlah penonton mencapai 1 juta lebih penonton. Menariknya, para pemeran di film tersebut adalah orang-orang baru yang notabene tidak pernah terlibat produksi film sebelumnya.

Jumail Nick, salah satu pemeran film lokal mengatakan sangat senang dengan apresiasi yang diberikan para penonton di festival benua serta atas film-film pendek yang telah mereka produksi. SK

Pembangunan Desa Harus Transparan

Suarakendari.com- Kelahiran Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang desa tentu menjadi harapan baru bagi pembangunan daerah pedesaan di Indonesia. Dana yang mengalir ke desa pun tidak sedikit, jumlah mencapai triliunan rupiah yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan harapan desa dapat berdikari demi kesejahteraan rakayt. Namun, sayang sejak digulirkan tiga tahun silam harapan desa bisa sejahtera, nampaknyamasih jauh “panggang dari api”, alih-alih desa menjadi maju, yang terjadi progres pembangunan benar-benar belum terlihat sama sekali.

Dan yang membuat miris, banyak sekali elit desa khususnya Kepala Desa justeru terjerumus ke lembah korupsi. Padahal, tak sedikit himbauan dari pemerintah termasuk presiden Joko Widodo agar pemerintah desa dapat menggunakan dana desa secara transparan dan terencana sesuai kebutuhan pembangunan yang dimusyawarakan secara bersama rakyat.

Pengamat sosial yang juga akademisi Universitas Halu Oleo (UHO) Saifuddin Suhri Kasim dalam sesi pelatihan tata kelola aset desa mengatakan, dengan pemberian anggaran yang besar ke desa, maka sebaiknya pemerintah desa dapat lebih serius dan lebih fokus pada pembangunan desa mereka. Membangun dengan benar-benar sesuai potensi yang dimiliki desa, seperti jika desa memiliki potensi wisata maka sebaiknya desa memberikan prioritas besar pada perencanaan mereka. “Namun, fakta yang ada sebagian besar desa-desa belum benar-benar menerapkan pembangunan berbasis potensi, yang ada measih menggunakan paradigma lama menggunakan dana desa membangun sarana dan prasarana fisik saja. Ini tentu sangat disayangkan,”ungkap Saifudddin. SK

Pelaku Usaha Perhotelan Dorong Pelestarian Budaya Lokal Sulawesi Tenggara

Suarakendari.com-Upaya menghidupkan kazanah budaya di tingkat lokal kini kembali menjadi point penting dalam mendorong pariwisata di daerah. Dengan menggandeng unsur komunitas dan para penggiat pariwisata dan budaya, pelaku usaha perhotelan membuat strategi bersama, dalam rangka mendorong pelestarian budaya lokal. Strategi itu antara lain mendukung pelaksanaan kalender ivent pariwisata budaya serta memperkenalkan budaya lokal langsung ke loby-loby hotel. Gerakan menggunakan tenun lokal bagi karyawan hotel serta memberi ruang bagi para seniman maupun pengrajin lokal di untuk berkreatifitas di hotel. “Pelestarian budaya merupakan bagian dari tanggung jawab kita semua, termasik Kami yang di usaha perhotelan,”kata Yusuf Maulana, GM Plasa In Hotel.

Terobosan ini tentu sesuatu yang menarik, sebab para pengunjung hotel tidak sekedar menjadikan hotel sebagai tempat bersantai atau beristrahat semata, tetapi mendapatkan nilai plus yakni dapat menyaksikan secara langsung atraksi budaya di hotel.

“Kita ingin ada atmosfir budaya di setiap hotel di Sulawesi Tenggara. Nantinya, akan ada atraksi budaya yang kita tampilkan di hotel, misalnya musik gambus khas daerah Sulawesi Tenggara atau juga pengrajin tenun yang dapat membuat langsung tenunan lokal di hotel,”kata Yusuf Maulana. Terobosan lainnya, yakni, menyediakan layanan map pariwisata untuk para touris yang berkunjung ke Sulawesi Tenggara.

Pelestarian budaya lokal mendapat apresiasi dari pengurus DPW PHRI Sulawesi Tenggara. “Ini terobosan luar biasa dan diharapkan akan memberikan kontribusi positif bagi upaya pelestarian dan pengembangan budaya lokal di bumi anoa.,”kata Eko, sekretaris DPW PHRI Sulawesi Tenggara. SK

Luar Biasa, Short Movie Lokal Kendari Ini Ditonton Jutaan Orang

. Dok foto: Jumail Nick/FB

Suarakendari.com-Film pendek bernuasa lokal Kendari kini tengah viral di media social facebook. Short movie bergendre drama komedi yang diproduksi dengan peralatan yang cukup sederhana ini, bahkan mengalahkan seluruh film lokal yang pernah di produksi di bumi anoa dengan jumlah penonton mencapai 1 juta lebih penonton. Menariknya, para pemeran di film tersebut adalah orang-orang baru yang notabene tidak pernah terlibat produksi film sebelumnya.

Jumail Nick, salah satu pemeran film lokal mengatakan sangat senang dengan apresiasi yang diberikan para penonton atas film-film pendek yang mereka produksi. “Ya, saya senang karena film ini bisa diterima di masyarakat dengan baik,”katanya, saat ditemui di Hotel Plaza In, Kamis (14/12/17).

Film-film yang ditampilkan Juali Nick dan kawan-kawan tersebut memang terbilang cukup sederhana dan mengangkat kisah atau realita kehidupan seosial sehari-hari masyarakat di Kota Kendari. Film berdurasi pendek tersebut disuguhkan dengan bahasa khas suku Tolaki tentu saja dengan kemasan yang cukup sederhana pula. “Kami mengambil gambar dengan peralatan seadanya, seperti peralatan syuting yang hanya menggunakan handphone saja,”tambah pria yanga akrab disapa Umhe ini. Ke depan Jumail Nick berharap agar timnya dapat memproduksi film lebih serius tentu dengan dengan peralatan yang memadai.

Sepanjang bulan Desember 2017, Jumail dan kawan-kawan sudah memproduksi 5 film pendek diantaranya Film berjudul Mososangge 1, Mosangge 2. Film ini sendiri sengaja dibuat berbahasa tolaki sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya tolaki. SK