ASAL MUASAL NAMA KENDARI

Penamaan Kendari Sebuah Pelurusan Sejarah

Selama ini historiografi Kendari menjadi perdebatan. Salah satunya terutama masalah penamaan Kendari, dan parahnya lagi seakan-akan penamaan Kendari terkesan mitologis dan melegenda. Hal ini disebabkan konstruksi yang dibangun tidak menggunakan sumber-sumber primer. 

Dalam tulisan Sejarah Kota Kendari yang dikarang oleh Prof. Dr. H. Anwar Hafid, M.Pd, (beliau  S1 pend.Sejarah,  S2 dan S3 jurusan pendidikan luar sekolah), disebutkan bahwa nama Kandari telah ditemukan dalam tahun 1926, kemudian dalam kata pengantar Wali Kota dan Ketua DPR pada saat itu memperkuat pendapat mereka, dan yang memberi nama adalah orang-orang Belanda. (Lihat Sejarah Kota Kendari, Bandung: Humaniora, tahun 2006 hlm. 30). Maupun karya-karya seperti Prof. Dr. Abdurrauf Tarimana, dan Prof. Dr. Rustam Tamburaka). 

Menulis sejarah bukan masalah guru besar tetapi harus dibekali dengan metodologi sejarah, filsafat sejarah, dan terutama kemampuan membaca sumber-sumber sejarah berkaitan dengan language sources terutama Bahasa Belanda.  Evidensi ini merupakan kesalahan fatal dan menyesatkan. Beberapa tulisan tersebut di atas sifatnya melegenda, dan anakronisme tidak berdasarkan urut-urutan waktu.

Setiap generasi dapat menuliskan sejarahnya, karena sejarah adalah dialog tanpa akhir. Sejarah bisa ditulis ulang jika seorang sejarawan menemukan fakta baru berupa sumber-sumber baru atau interpretasi baru. Mereka harus siap dikritik karena itulah ciri orang ilmiah bersifat terbuka, dan ilmu bersifat relativitas atau memiliki keterbatasan.

Berikut sejarah penamaan Kandari atau Kendari diberikan oleh orang-orang Portugis dan sudah ada sejak abad ke-16. Sumber yang menjelaskan hal tersebut berasal dari laporan Controleur Kendari bernama  L. Fontjine dalam tulisannya berjudul “Adatstaatsinstellingen van Indonesische Rechtgemeenschappen” bahwa penyebutan istilah Raja, Hadat, dan Laiwui sebenarnya bukan berasal dari daerah ini dan pada masa itu tidak terdapat istilah-istilah ini. Hal ini menjadi jelas bahwa istilah ini diperkenalkan dan dipergunakan oleh wakil pemerintah Hindia Belanda. 

Nama Laiwui menjadi muncul disini oleh karena menurut sebuah cerita berasal dari ketidaktahuan orang-orang Portugis dan penduduk pribumi. Pada saat itu orang Portugis menanyakan nama daratan ini kepada penduduk dan penduduk mengira bahwa orang Portugis menanyakan dimanakah terdapat air minum?-maka dijawab dengan “Laiwui”  yang berarti “banyak terdapat air”. 

Sejak itulah maka daratan ini oleh orang-orang asing disebut dengan nama Laiwui. Lihat juga tulisan J. Paulus “Encyclopaedie van Nederlandsch Indie, Leiden: Martinus Nijhoff, 1917, menjelaskan tentang nama Laiwoi dan Kendari. Fakta ini diperkuat bukti dalam tulisan Jasper dalam laporan perjalanannya dari teluk Kendari ke teluk Lasolo tahun 1926.

Pada permulaan abad ke-15 pada saat bangsa Portugis berlayar kearah timur mencari kepulauan  Maluku yang terkenal dengan rempah-rempahnya, mereka singgah di teluk Kendari tersebut. Pada saat perlawatannya ke daerah ini mereka bertemu orang yang membawa rakit yang terbuat dari bambu dengan menggunakan dayung panjang. Orang Portugis tersebut segera mendekati simpembawa rakit, kemudian menanyakan nama kampung yang mereka singgahi. Orang yang ditanya tersebut mengira bahwa portugis itu menanyakan apa yang sementara dikerjakannya, sehingga langsung dijawab Kandai yang artinya dayung atau  (mekandai) mendayung. 

Jawaban orang tersebut dicatat oleh orang Portugis sebagai pertanda bahwa kampung yang mereka masuki itu bernama Kandari. Akhirnya nama Kandai menjadi Kendari akibat penulisan. Sebagai contoh nama Mekongga dalam naskah Lagaligo disebut Mengkoka sedangkan dalam naskah lontarak Luwu disebutkan Mingkoka, dan dalam beberapa tulisan maupun laporan Belanda, Jerman menuliskan dengan nama Mingkoka, Bangkoka, Bingkoka. (Lihat Basrin Melamba, Kota pelabuhan Kolaka di Kawasan Teluk Bone,1906-1942, 2010). Bandingkan dengan penulisan nama Magelang, Surabaya, Pontianak, Pekalongan, Buton, dan beberapa nama kota lama di nusantara.

Dalam peta VOC daerah ini sudah dikenal sebagai daerah Laiwoi. Pasca penandatangan Perjanjian Bongaya, pada abad ke-17 dan 18, daerah ini sudah disebutkan Laiwui dengan kedudukanya di Kendari sebagai Vassal of Luwu atau dicaplok oleh Luwu sebagai bagian dari kekuasaannya. (Lihat Jan M. Pluvier, Historical Atlas of South-East Asia, E. J. Brill, Leiden-New York-Koln, 1995), tetapi dalam kenyataannya Luwu tidak secara utuh menguasai daerah ini, meskipun dalam sejarah Konawe diakui bahwa Luwu pernah melaksanakan ekspedisi ke daerah ini pada masa pemerintahan Mokole Lakidende bergelar Sangia Ngginoburu abad ke-17.(lihat Baden, 1925)

Basrin Melamba, M. A.

(email/fb: melambabasrin@yahoo. com)

HP. 081229452311

 Penulis adalah Alumni  Departement History, Culture Science Faculty Gadjah Mada University. Dan pengurus DPP Lembaga Adat Tolaki (LAT).

Ratusan Rumah di Kendari Terendam Banjir

Suarakendari-Kota Kendari seolah telah menjadi langganan banjir setiap kali hujan mengguyur. Bahkan disejumlah kawasan terendam hingga setengah sampai satu meter.

Titik banjir terparat terdeteksi melanda kawasan Kali Wanggu, Kecamatan Baruga dan kawasan anduonohu, Kecamatan Poasia.

Di kawasan aundonohu ratusan rumah terendam air hingga meluap ke jalan utama kawasan itu. Sementara kawasan Kali Wanggu air merendam puluhan rumah hingga mencapai satu meter. Meski begitu belum ada laporan jatuhnya korban jiwa di bencana ini.

Sejumlah petugas tanggap bencana juga sudah siaga di lokasi bencana dan mengirimkan bantuan selimut dan makanan kepada para korban. Intensitas hujan yang cukup tinggi menjadi penyebab meluapnya sejumlah sungai dan merendam rumah warga. SK

Pelaku Usaha Perhotelan Dorong Pelestarian Budaya Lokal Sulawesi Tenggara

Suarakendari.com-Upaya menghidupkan kazanah budaya di tingkat lokal kini kembali menjadi point penting dalam mendorong pariwisata di daerah. Dengan menggandeng unsur komunitas dan para penggiat pariwisata dan budaya, pelaku usaha perhotelan membuat strategi bersama, dalam rangka mendorong pelestarian budaya lokal. Strategi itu antara lain mendukung pelaksanaan kalender ivent pariwisata budaya serta memperkenalkan budaya lokal langsung ke loby-loby hotel. Gerakan menggunakan tenun lokal bagi karyawan hotel serta memberi ruang bagi para seniman maupun pengrajin lokal di untuk berkreatifitas di hotel. “Pelestarian budaya merupakan bagian dari tanggung jawab kita semua, termasik Kami yang di usaha perhotelan,”kata Yusuf Maulana, GM Plasa In Hotel.

Terobosan ini tentu sesuatu yang menarik, sebab para pengunjung hotel tidak sekedar menjadikan hotel sebagai tempat bersantai atau beristrahat semata, tetapi mendapatkan nilai plus yakni dapat menyaksikan secara langsung atraksi budaya di hotel.

“Kita ingin ada atmosfir budaya di setiap hotel di Sulawesi Tenggara. Nantinya, akan ada atraksi budaya yang kita tampilkan di hotel, misalnya musik gambus khas daerah Sulawesi Tenggara atau juga pengrajin tenun yang dapat membuat langsung tenunan lokal di hotel,”kata Yusuf Maulana. Terobosan lainnya, yakni, menyediakan layanan map pariwisata untuk para touris yang berkunjung ke Sulawesi Tenggara.

Pelestarian budaya lokal mendapat apresiasi dari pengurus DPW PHRI Sulawesi Tenggara. “Ini terobosan luar biasa dan diharapkan akan memberikan kontribusi positif bagi upaya pelestarian dan pengembangan budaya lokal di bumi anoa.,”kata Eko, sekretaris DPW PHRI Sulawesi Tenggara. SK

Luar Biasa, Short Movie Lokal Kendari Ini Ditonton Jutaan Orang

. Dok foto: Jumail Nick/FB

Suarakendari.com-Film pendek bernuasa lokal Kendari kini tengah viral di media social facebook. Short movie bergendre drama komedi yang diproduksi dengan peralatan yang cukup sederhana ini, bahkan mengalahkan seluruh film lokal yang pernah di produksi di bumi anoa dengan jumlah penonton mencapai 1 juta lebih penonton. Menariknya, para pemeran di film tersebut adalah orang-orang baru yang notabene tidak pernah terlibat produksi film sebelumnya.

Jumail Nick, salah satu pemeran film lokal mengatakan sangat senang dengan apresiasi yang diberikan para penonton atas film-film pendek yang mereka produksi. “Ya, saya senang karena film ini bisa diterima di masyarakat dengan baik,”katanya, saat ditemui di Hotel Plaza In, Kamis (14/12/17).

Film-film yang ditampilkan Juali Nick dan kawan-kawan tersebut memang terbilang cukup sederhana dan mengangkat kisah atau realita kehidupan seosial sehari-hari masyarakat di Kota Kendari. Film berdurasi pendek tersebut disuguhkan dengan bahasa khas suku Tolaki tentu saja dengan kemasan yang cukup sederhana pula. “Kami mengambil gambar dengan peralatan seadanya, seperti peralatan syuting yang hanya menggunakan handphone saja,”tambah pria yanga akrab disapa Umhe ini. Ke depan Jumail Nick berharap agar timnya dapat memproduksi film lebih serius tentu dengan dengan peralatan yang memadai.

Sepanjang bulan Desember 2017, Jumail dan kawan-kawan sudah memproduksi 5 film pendek diantaranya Film berjudul Mososangge 1, Mosangge 2. Film ini sendiri sengaja dibuat berbahasa tolaki sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya tolaki. SK

Penilaian Adipura di Kendari Berakhir


Suarakendari.com-Penilaian adipura tahap satu di Kota Kendari berakhir Rabu (29/11/2017) setelah tim penilai mengunjungi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Puwatu.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kota Kendari Moh. Nur Rasak memberikan apresiasi pada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang bekerja keras menjaga lokasi titik penilaiannya masing-masing.

“Alhamdulillah P 1 Kota Kendari sudah selesai, dan mudah-mudahan hasilnya bisa memuaskan” ujar Dakon sapaan akrab Moh Nur Rasak, Kamis(30/11/2017)

Menurutnya hampir semua titik pantau memberikan nilai signifikat terhadap penilaian tahap satu ini, meskipun masih ada kekurangan di beberapa titik pantau.

ia mencontohkan, masih terdapat beberapa kekurangan disejumlah kecamatan, karena masih kurang fasilitas komposter sehingga, harus dibenahi.

“Mudah-mudahan nilai kita bisa diatas 75 agar langsung verifikasi tanpa melalui peniaian tahap dua,” katanya.

ia menambahkan jika tanpa penilaian tahap 2, maka diperkirakan verifikasi akan dilakukan sekitar bulan Maret atau April oleh tim penilai dari kementerian Lingkungan Hidup.

Untuk penilaian TPA Dakon masih optimis TPA Puuwatu masih menjadi TPA terbaik di Indonesia.

Penilaian tahap pertama di Kota Kendari ikut hadir perwakilan Kabupaten Konawe Selatan yang melakukan studi banding melihat bagaimana Kota Kendari bisa meraih adipura 9 kali berturut-turut.

Penilaian adipura tahap pertama di Kota Kendari berlangsung sekitar 1 minggu oleh tim penilai dari Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Sulawesi dan Maluku Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.(ALIN)

APBD Kota Kendari Tahun 2018 Rp1,7 Triliun

Suarakendari-Walikota Kendari, Adriatma Dwi Putra menyerahkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2018 dan Raperda Pengelolaan barang milik daerah kepada DPRD Kota Kendari untuk dibahas.

Walikota Kendari dalam pidato pengantarnya mengatakan APBD Kota Kendari tahun 2018 merupakan penyusunan anggaran diperiode pertamanya sehingga mereka menetapkan sejumlah program strategis diantaranya Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Infrastruktur, Lingkungan, Kepemudaan dan Ketenagakerjaan.

“Penyusunan RAPBD tahun 2018 tetap mengedepankan prioritas pembangunan daerah yang telah kita sepakati bersama dalam KUA PPAS, yakni, pembangunan sarana dan prasarana penunjang utama dan fasilitas umum kepada masyarakat,” ujarnya.

Mantan Anggota DPRD Sultra ini menjelaskan APBD Kota Kendari Tahun 2018 teridiri dari Pendapatan Daerah sebesar Rp1.708 miliar, meliputi, Pendapatan Asli Daerah Rp672 miliar, dana perimbangan Rp946 miliar,serta lain-lain pendapatan daerah yang sah Rp90,3 miliar.

Sedangkan Belanja Daerah terdiri dari belanja tidak langsung Rp802,7 miliar dan belanja langsung sebesar Rp975,9 miliar.

Pembahasan RAPBD Kota Kendari tahun 2018 akan dilanjutkan hari ini Kamis (23/11/2017) ini dengan agenda pandangan umum fraksi-fraksi di DPRD Kota Kendari.(Alin)

Pembangunan Kebun Raya Kendari Tahap Dua Mencapai 85 Persen

DCIM100MEDIADJI_0106.JPG

Suarakendari-Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terus menggenjot pembangunan Kebun raya Kendari tahap 2 tahun 2017, saat ini pembangunan Kebun Raya Kendari sudah mencapai angka 85 persen.

Kepala unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) UPTD Kebun Raya Kendari Laode Yama, Rabu (22/11/2017) mengatakan, tahun 2017 ini Kebun Raya Kendari mendapat alokasi anggaran sekira Rp11 miliar untuk membangun 9 item pekerjaan, yaitu, pembangunan rumah arboretum, peningkatan jalan utama dan pediatrian, pembangunan area parkir kendaraan, pembangunan rumah paranet/nursery, pembangunan rumah harsdscape arboretum, pembangunan hardscape campign ground, pembangunan hardscape taman ultra basic, pembangunan landscape visitor centre dan landscape gedung pengelola, serta pembangunan pintu gerbang dan pagar pengaman tanggul.

Untuk tahun 2018 Kebun Raya Kendari akan mengusulkan 3 kegiatan baru dan 1 kegiatan lanjutan pada Kementerian PUPR.

“Rencana pekerjaan Kebun Raya Kendari tahun 2018 yaitu, pekerjaan pembangunan gedung konservasi, pekerjaan pembangunan gedung edukasi, pagar keliling, dan pagar pengaman tanggul lanjutan, serta jalan lingkungan yang akan dikerjakan oleh Pemerintah Kota Kendari,”

Lanjut Yama, untuk besaran anggaran pekerjaan beberapa item kegiatan tersebut masih menunggu pagu anggaran dari kementerian PUPR.

Sebelumnya tanggal 16 April lalu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI menyerahkan sejumlah asetnya yang dibangun di daerah kepada pemerintah setempat, proses penyerahan aset itu ditandai dengan penandatanganan berita acara yang diikuti sejumlah daerah salah satunya kota Kendari.

Walikota Kendari Adriatma Dwi Putra menandatangani langsung berita acara penyerahan hibah barang milik negara dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Jakarta, Kamis (16/11/2017).

Aset yang diserahkan pemerintah pusat kepada Kota Kendari ialah Pembangunan Kebun Raya Kendari tahap pertama dengan anggaran sekira Rp13 miliar, terdiri dari bangunan pendukung senilai Rp7,6 m dan penataan ruang senilai Rp6,3 m.
Aset yang diserahkan tersebut merupakan pekerjaan tahap pertama yang sudah rampung tahun 2016 seperti, gedung visitor centre dan gedung pengelola, serta gerbang utama, campign ground, toilet, musollah, pematangan jalan dan turap.

Rencananya pembangunan Kebun Raya Kendari akan tuntas dan dilaunching tahun 2019.

Kebun Raya Kendari dirintis sejak tahun 2008 berlokasi pada kawasan hutan lindung dan hutan produksi Nanga-nanga Papalia Kelurahan Andonohu Kecamatan Poasia dengan luas sekira 96 ha terdiri dari 78 ha hutan produksi dan sekira 18 ha hutan lindung.
Berdasarkan master plan Kebun Raya Kendari, kawasan ini memiliki sejumlah habitat didalamnya diantaranya 38 jenis flora tingkat pohon, 15 jenis tumbuhan bawah (efipit), 4 jenis rotan dan beberapa jenis fauna endemik.

Selain itu Kebun Raya juga sudah memiliki tanaman koleksi, tanaman hias dan tanaman obat-obatan sekira 5000 specimen dari sekira 100 species, yang diperoleh dari kerjasama antara Kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Kendari.(Sumarlin)

Gempa Guncang Wilayah Sultra

Suarakendari-Gempa bumi tektonik mengguncang wilayah Sulawesi Tenggara, Selasa malam, 21 November 2017. Rilis Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan gempa terjadi pada pukul 22:36:43 WITA dengan kekuatan 2.8 SR dengan episenter pada koordinat, 4.17º LS – 122.63º BT sekitar 23.4 KM Tenggara Kendari, tepatnya berpusat di wilayah Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, pada kedalaman 10.2 KM. Peta guncangan (Shakemap) BMKG menunjukan bahwa dampak gempa bumiterasa di wilayah Kota Kendari dalam skala intensitas II SIG-BMKG (II-III MMI). SK

Dengan Gas Metan Kendari, Toyota Layani Listrik Warga

Naoaki Amiya tengah berbaju putih, didampingi kadis DLHK Kota Kendari Moh.Nur Rasak dan Kabid Persampahan dan Limbah B3 Prayitno saat mengunjungi TPA Puwatu April lalu.(foto;Istimewa)

Suarakendari.com-Naoaki Amiya, seorang warga jepang , langsung datang dari Jepang atas perintah pemerintah jepang untuk melihat Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Puuwatu, Kota Kendari, Propinsi Sulawesi Tenggara.
Kedatangan Amiya, pada bulan April 2017, setelah mendapat informasi dari sebuah lembaga swadaya masyarakat di Jerman GIZ yang membuat laporan tentang pemanfaatan gas metan sebagai bahan bakar kompor dan bahan bakar pembangkit listrik yang dibuat pemerintah Kota Kendari di TPA Puuwatu.
“Kata Toyota dalam laporan GIZ yang membuat orang jepang itu penasaran sampai datang ke Kendari lihat TPA Puuwatu,” ujar Pelaksana Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kota Kendari, Moh. Nur Rasak, pekan lalu 10 November.
Nur Rasak menjelaskan ketertarikan pihak Jepang ke Kota Kendari, karena teknologi yang digunakan untuk mengaktifkan mesin mobil Toyota cukup sederhana dan murah namun dengan hasil yang maksimal.
Mesin mobil yang awalnya berbahan bakar premium (bensin) diubah menjadi bahan bakar gas metan dengan melakukan inovasi.
Awalnya inovasi yang dilakukan Dinas Kebersihan kala itu hanya ingin mengelola TPA agar bisa menghasilkan gas metan sehingga bisa dimanfaatkan untuk memasak, namun dorongan yang kuat dan tantangan dari Ir. Asrun Walikota Kendari saat itu, sehingga Nur Rasak dan rekan-rekannya akhirnya berhasil.
“Tahun 2013 kita sukses merekayasa genset kapasitas 7000 watt dengan bahan bakar gas metan, sehingga bisa menerangi kawasan TPA malam hari,” katanya.
Tak sampai disitu, inovasi terus mereka lakukan, sebuah mesin Mobil Toyota type 2F tahun 1978 menjadi sasaran inovasi. Sejumlah peralatan mobil pun dibongkar, sekira 20 unit karburator dan beberapa peralatan lainnya menjadi korban inovasi karyawan di workshop Dinas Kebersihan.
Ditambah sebuah dinamo, alhasil sebuah mesin genset dengan kekuatan 25 Kva berhasil mereka buat, dan bisa melayani listrik warga di kampung mandiri energi.
Kampung yang dihuni sekira 122 kepala keluarga ini mendapat pasokan listrik dari genset berbahan bakar gas metan di TPA Puuwatu, setiap rumah warga dialiri listrik sebesar 450 watt. Warga yang berprofesi sebagai pemulung dan petugas dinas kebersihan ini, menikmati listrik sekira 5-6 jam setiap harinya.
“Sekarang sudah ada 2 mesin genset yang kita punya, mesin yang satunya jenis Toyota Kijang tahun 1983, itu kita pasangkan dinamo dan bisa mengasilkan listrik 40 Kva”
Meskipun umur mesin terbilang tua, namun hingga kini masih berfungsi dengan baik, kalaupun terjadi keruskan, bukan pada mesinnya namun pada dinamo.
“Mesin Toyota ini kita pilih karena menurut teman-teman bandel dan peralatannya cukup mudah ditemukan”kata Nur Rasak.
Selain listrik, warga juga mendapatkan pasokan gas metan dari TPA untuk kebutuhan memasak sehingga mereka bisa menghemat membayar listrik dan kebutuhan gas LPG.
“Alhamdulillah, bantuan pemerintah kota ini sangat membantu kami, kami dibuatkan rumah, listriknya gratis, untuk memasak juga gratis karena pake gas metan,” ungkap Fajar Petugas DLHK Kota Kendari, salah satu penghuni kampung mandiri energi.
Kesuksesan mengelola TPA mendapat apresiasi dari berbagai pihak, sejumlah penghargaan diraih pemerintah Kota Kendari berkat TPA Puuwatu, diantaranya Adipura Kencana tahun 2014 dan 2015, TPA terbaik tahun 2016 dan 2017 dari Kementerian Libgkungan Hidup dan Kehutanan RI dan Penghargaan Energi Prabawa kategori the most inspiring dari kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI tahun 2015.
Menjadi TPA terbaik di Indonesia saat ini, TPA yang juga berfungsi tempat belajar dan tempat wisata ini, menjadi sasaran studi banding. Lebih dari 250 kabupaten dan kota di Indonesia telah berkunjung di TPA ini, bahkan sejumlah pemangku kepentingan dari beberapa negara didunia juga pernah menginjakkan kakinya di TPA wisata ini.
Dinas lingkungan Hidup mencatat, beberapa negara yang pernah berkunjung ke TPA diantaranya, Perancis, Belanda, Jerman, Amerika Serikat, India, Jepang, Australia dan Singapura.
Kesuksesan mengelola TPA dan menghasilkan gas metan tak hanya dirasakan sendiri oleh Kota Kendari, pengelolaan TPA dengan sistem sanitary land fill ini juga sudah diduplikasi sejumalah kabupaten Kota di Indonesia dengan pendampingan langsung dari DLHK Kota Kendari, diantaranya Kota Bau-bau, Bone, Maros, Bulukumba, Kota Palopo, Tebo, dan Pasuruan.
Kota Palopo salah satunya, melalui pendampingan langsung, saat ini mereka telah mengelola TPA nya dengan sistem sanitary land fill dan menghasilkan gas metan.
“Alhamdulillah Kota Palopo sudah punya TPA dengan sistem sanitary land fill, berkat pendampingan Kota Kendari. Gas metan untuk kompor juga sudah dinikmati warga dan mesin genset 9000 watt sudah menyala” tutur Ibnu, Kasubid Sengketa Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Palopo via telepon.
Ia mengungkapkan untuk meningkatkan kapasitas TPA, saat ini Pemerintah Kota Palopo masih akan menambah luas TPA yang saat ini memiliki luas 13 Ha.
Saat ini mesin genset berbahan bakar gas metan masih digunakan untuk kebutuhan di dalam TPA, sedangkan untuk cita-cita yang lebih besar seperti kota Kendari, Ia hanya bisa menunggu kebijakan dari Walikota Palopo. (Sumarlin)

RSUD Kendari Butuh Tambahan Dokter dan Perawat

Suara Kendari- Pembangunan  gedung baru dan penambahan fasilitas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Kendari sejatinya harus dibarengi dengan penambahan tenaga medis seiring dengan peningkatan jumlah pasien. Kebutuhan penambahan jumlah tenaga  medis seperti dokter di instalasi gawat darurat RSUD Kota Kendari dipandang hal yang harus segera diadakan.

Direktur RSUD Kota Kendari, dr.Asridah Mukkadim mengatakan saat ini manajemen RSUD membutuhkan dokter di IGD dengan kualifikasi pegawai negeri sipil (PNS).  “Untuk dokter spesialis saya rasa cukup, tetapi Kami butuh tambahan dokter untuk di IGD karena memang masih kekurangan. Jadi mungkin sudah saatnya untuk merekrut dokter IGD,” kata Asridah Mukkadim.

Selain tenaga dokter, RSUD Kota Kendari juga masih kekurangan tenaga perawat untuk membantu kelancaran pelayanan medis. Beberapa perawat di RSUD saat ini didominasi tenaga perawat yang masih berstatus honorer. Ironisnya, kondisi kesejahteraan tenaga perawat masih jauh dari harapan, upah atau insentif yang diterima tidak sebanding dengan beban kerja perawat hononer. “Iya kondisi kesejahteraan perawat kita masih jauh dari kata sejahtera. Perawat juga butuh makan, kami juga tidak enak hati menyuruh mereka dengan berbagai tugas sementara imbalan yang diperoleh jauh dari kata layak,” ungkap Asridah. SK