Pemkab Konsel Sambut Baik Rencana Festival Benua

Suarakendari-Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan menyambut baik rencana pagelaran Festival Benua pertengahan Desember 2017 mendatang. Festival yang rencanannya akan menampilkan sejumlah atraksi budaya tolaki tersebut merupakan ivent tahunan untuk mendukung pencanangan kawasan pariwisata di Kabupaten Selatan.

“Kita tentu menyambut baik rencana festival benua ini, selain sebagai upaya melestarikan budaya tolaki juga sekaligus untuk mendukung pencanangan kawasan pariwisata Konawe Selatan.”kata Arsalim Arifin, Wakil Bupati Konawe Selatan, saat menerima perwakilan kepanitiaan Festival Benua, usai kegiatan pencanangan pariwsisata di kawasan Rawa Aopa, Kecamatan Angata, Rabu (15/11/2017).

Untuk itu, Arsalim meminta Dinas Pariwisata Konawe Selatan untuk bersama-sama mewujudkan terselenggaranya kegiatan festival benua 2017. Pada auidens pertemuan perdana tersebut, sejumlah perwakilan dari kepanitiaan festival diwakili diantaranya, Kadis Pariwisata Konsel, Ir.Randa, MSi, Kabag Humas Pemkab Konsel, Hermawan, Sos, Camat Benua, Rasul Simpatik, para pengurus Komunitas Ruruhi Project serta pengurus Wahana Lingkungan Hidup (Walhi ) Sultra.

Selain pagelaran budaya, festival juga akan menampilkan sejumlah kegiatan seperti parade komunitas, pameran budaya dan potensi desa, lomba foto, lomba kuliner berbahan pangan lokal serta atraksi seni dan budaya. SK

Pemkab Konsel Bidik Potensi Rawa Aopa

Suarakendari- Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan tertarik untuk mengembangkan kawasan rawa aopa sebagai salah satu destinasi wisata berbasis lingkungan mengingat potensi yang dimiliki rawa terbesar di Sulawesi Tenggara tersebut. Pengembangan kawasan wisata rawa aopa sendiri nantinya akan bekerja sama dengan multistakholder seperti Balai Taman Nasional Rawa Aopa (BTNRAW) dan tentu saja masyarakat sekitar kawasan.

Untuk pencanangan kawasan wisata, pemkab Konsel berencana menjadikan rawa aopa sebagai pariwisata berbasis air dengan membenahi dan membangun sarana pariwisata di sejumlah tempat, seperti pulau harapan satu dan pulau harapan dua sebagai area spot wisata. Di dua pulau ini pengunjung dapat menikmati pemandangan kawasan rawa dengan melihat ribuan burung air. Warga juga dapat menyaksikan aktifitas hewan air lainnya dan aktifitas nelayan lokal yang mencari ikan di kawasan ini dengan menggunakan sarana transportasi perahu.

Bupati Konawe Selatan, Drs.H. Surunudin Dangga menjelaskan, selain wisata setidaknya ada sejumlah potensi lain yang dapat dikembangkan di rawa aopa, yakni, potensi perikanan berupa budi daya ikan air tawar, potensi tanaman sagu untuk lumbung ketahanan pangan lokal, serta potensi ekologi sumber daya hayati kawasan mengingat kawasan aopa sebagai kawasan situs ramsar dunia.

Khusus untuk penyelamatan dan pengembangan sumbar pangan lokal, sagu pemda penyediakan puluhan hektar lahan budi daya sagu. Pencanangan yang ditandai dengan penanaman tanaman sagu perdana sudah dilakukan muspida Konsel bersama BTNRAW, pada Rabu, 15 November 2017.

Untuk pengembangannya, akan ada sinergi antara dinas terkait seperti pariwisata. dinas perikanan, dinas pertanian dan dinas kehutanan bersama Balai TNRAW dan masyarakat komunitas. SK

Penyuluh dan Petani Belajar Sistem Informasi KATAM TERPADU di KP Wawotobi BPTP Balitbangtan Sultra

Suarakendari-Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tenggara melaksanakan pelatihan Kalender Tanam Terpadu dan Pola Tanam, yang dilaksanakan di Kabupaten Konawe bertempat di Aula Kebun Percobaan Wawotobi BPTP Balitbangtan Sulawesi Tenggara.

Peserta pelatihan adalah para penyuluh pertanian dan beberapa Kelompok Tani di Kabupaten Konawe.

Acara dibuka oleh Kepala BPTP Balitbangtan Sulawesi Tenggara Ir. Muh. Asaad, M.Sc dan dihadiri juga oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikulturan dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Konawe Ir. Sahruddin, M.Si dan Kepala BMKG Ranomeeto Provinsi Sulawesi Tenggara Aris Yunatas, SP.

Narasumber pada kegiatan pelatihan Katam Terpadu dan Pola Tanam terdiri dari (1) Dr. Ir Muhammad Alwi Mustaha, M.Si (Penanggung Jawab Katam Terpad Sulawesi Tenggara); yang memaparkan tentang sistem kalender tanam terpadu, (2) Rahmat Nur, SP (Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas TPHP Kabupaten Konawe); menjelaskan tentang dukungan Dinas TPHP terhadap program strategis Kementerian Pertanian di Kabupaten Konawe, (3) Ir. Yasir Arafat, M.Si (KJF Penyuluh, Kabupaten Konawe): Dukungan Penyuluh terhadap program strategis Kementerian Pertanian; (4) Risnayah, S.ST (Staf Stasiun Klimarologi Ranomeeto Sulawesi Tenggara); menjelaskan tentang Informasi Iklim Sulawesi Tenggara Update November 2017; dan (5) Abdul Rasyid, SP (Kepala Laboratorium Hama/Penyakit, BPTPH Provinsi Sulawesi Tenggara), beliau memberikan penjelasan tentang informasi OPT di Kabupaten Konawe.

Pada kesempatan ini, peserta pelatihan juga diberikan pembekalan tentang bagaimana memprediksi awal tanam dengan mempertimbangkan prediksi awal musim dari BMKG, tipologi lahan dan pola curah hujan.

Selain itu dijelaskan juga tentang bagaimana memilih atau menentukan komoditas yang sesuai berdasarkan prediksi curah hujan dan cara mendapatkan informasi Katam Terpadu. (SJ/14/10/2017).(ika)

Tradisi Anak Pesisir Berburu “Tumbelu”

Pagi-pagi benar Udin, Awal dan Rahmat, tiga sekawan ini sudah mengayuh sampan. Mereka . Bergantian mendayung mengitari kawasan hutan bakau (mangrove), sekitar dua mil dari rumah mereka di Desa Puupi, Kecamatan Kolono, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Mereka mengejar waktu, sebelum metti (air pasang) mengairi hutan bakau. Hari itu tepat waktu liburan sekolah. Mereka memanfaatkan waktu dengan berburu “tumbelu”, hewan mirip cacing yang hidup di kayu bakau untuk dikonsumsi. Tumbelu sendiri hidup dan berkembang biak dalam pori-pori kayu bakau yang mati.

Tumbelu memang belum lama dikenal warga setempat. “Baru sekitar tujuh tahunan, ditemukan oleh warga etnis Tolaki yang bermukim di pesisir,”kata Burhan, sesepuh nelayan Desa Puupi. Uniknya, justeru masyarakat bajo sendiri sebagai suku laut, tidak mahir mencari tudmbelu. Bahkan nama tumbelu berasal dari bahasa Tolaki yang artinya cacing kayu.

Meski cukup berlumpur, anak-anak cukup menikmati mencari tumbelu. Udin (10 tahun) seorang anak pencari tumbelu mengaku senang mencari tumbelu, terutama saat musim liburan tiba. “Saya bersama teman-teman selalu mencari tumbelu di bako-bako (hutan bakau,Red), biasanya kami mencari di kayu bakau yang sudah lapuk,”katanya.
Cara mengambil tumbelu tidaklah rumit, dengan menggunakan kampak, kayu bakau yang telah rebah dibelah dua dan di dalam kayu berpori, tumbelu lalu diambil hidup-hidup. Sepintas Tumbelu mirip cacing tanah, panjang dan berlendir, hanya saja tumbelu sedikit lebih besar dan berwarna putih cerah.

Umumnya warga tidak memasak tumbelu, melainkan dimakan langsung dengan cara membersihkan dan membuang bagian isi perut tumbelu lalu di telan hidup-hidup. Bagi warga pesisir makan tumbelu memiliki kasiat untuk kesehatan tubuh. Tumbelu sendiri memiliki kandungan antitoksin yang tinggi yang berguna untuk kekebalan tubuh manusia.

Hutan mangrove di desa puupi memiliki kawasan paling luas dibanding ari desa-desa lain pesisir di kecamatan kolono. Setidaknya terdapat kurang lebih lima belas ribu hektar hutan mangrove dikawasan ini. Hutan mangrove sendiri memiliki fungsi menyimpan ekosistem rantai makanan di perairan laut, bermanfdaat besar bagi pelestarian kawasan pesisir. (SK)

Gerak Cepat Penanganan Kesehatan Ternak Sapi di Konsel

SUARAKENDARI.COM-Tim peternakan BPTP-Balitbangtan Sulawesi Tenggara bersama Disnak Kabupaten Konawwe Selatan ( Konsel), Tim Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara  melakukan gerakan massal penanganan kesehatan hewan.  Kegiatan ini merupakan respon atas menururnya kesehatan ternak khususnya sapi di Desa Tosiba, Kecamatan, Konsel berapa waktu lalu.
Gerakan massal tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Peternakan  Konsel, dengan menurunkan 10 orang tenaga teknis dan didukung oleh 2 orang Dokter Hewan dari Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi  Sulawesi Tenggara  serta 3 orang tenaga teknis  BPTP-Balitbangtan Sulawesi Tenggara.
“Dalam kurun 2 hari sebanyak 700 ekor sapi telah tertangani, dan Insha Allah dua hari ke depan akan tuntas dan terlayani semua”, kata Yusuf.  Selanjutnya yusuf menyampaikan bahwa total populasi sapi di desa Tosiba, kurang lebih 1500, mudah-mudahan pelayanan tersebut membuahkan hasil yang signifikan.
Metode pelayanan dilakukan dengan cara membentuk pusat-pusat layanan di masing-masing dusun. Jenis pekayanan kesehatan yang dilakukan antara lain: pelayanan infeksi cacing hati, cacing lambung, pemberian multi vitamin dan pemberian antibiotik pada ternak yang sakit.
Di hadapan peternak sapi, Ir. Yusuf Usman, MSi, menyampaikan bahwa tanda-klinis serangan penyakit hewan, antara lain :  dalam waktu kurang lebih dua bulan kondisi kesehatan ternak berangsur-angsur menurun (badan menjadi kurus),  diikuti denga diare yang berkepanjangan, 3) bulu terlihat kusam nampak seperti komplikasi serangan cacing hati dan cacing lambung lambat laun terbentuk odema (pembengkakan yang berisi eksudat) pada mulut bagian bawah, selanjutnya muncul gejala kelumpuhan.
“Peternak harus tahu tanda-tanda tersebut sebelum ternak sapi menjadi kurus dan lumpuh” kata Yusuf.
Pada kondisi tersebut biasanya peternak terpaksa menjual murah, sehingga  nilai kerugian ekonomi  mencapai 60-90 persen.  SK/IKA

Sultra Pacu Luas Tambah Tanam Padi

SUARAKENDARI.COM-Rapat koordinasi Percepatan Target LTT Juli 2017 Provinsi Sulawesi Tenggara kembali digelar hari ini (5/7) di Aula Tamalaki Korem 143 Halu Oleo Kendari. Rakor dihadiri Direktur Serealia Ditjentan, Penjab Upsus Sultra, Kadis Pertanian Sultra dan Danrem Haluoleo. Ikut hadir Para Pasiter, Kabidtan Pangan Kabupaten se Sultra, Kepala BPTP Sultra, Peneliti dan Penyuluh BPTP Sultra, Kabid Distan Prov. Sultra serta staf Distan Prov Sultra.
Menurut Direktur Serealia Dr. Ali Jamil, rapat bertujuan untuk menetapkan target tanam bulan Juli 2017. Hasil rapat disepakati luas tambah tanam padi bulan Juli 2017 yaitu seluas 35.500 ha. Bila dibanding realisasi bulan Juli 2016 luas tanam padi hanya 19.191 ha.
Jika  target tanam bulan Juli 2017 tersebut tercapai maka terdapat kenaikan yang sangat signifikan.Target tersebut masih berpeluang untuk ditingkatkan mengingat masih adanya lahan kosong yang belum dimanfaatkan.
Bulan Juli menurut hasil kajian BPTP Sultra adalah bulan terbaik untuk tanam padi, utamanya dilihat dari potensi gangguan OPT. Hasil kajian BPTP menyebutkan bahwa luas tanam tanam benih langsung (tabela) di Sultra sekitar 60 persen, sehingga berpeluang untuk mengejar waktu tanam. Direktur Serealia sangat mengapresiasi hasil kajian BPTP Sultra tersebut.
Guna menambah areal tanam padi maka rapat nanti dilanjutkan di Kabupaten Kolaka Timur dan Kabupaten Konawe. (ik/Hr)

Rakor Upsus Pajale Digelar

SUARAKENDARI.COM-Dalam upaya percepatan luas tambah tanam padi, jagung dan kedelai di Sulawesi Tenggara, digelar  Rakor Upsus Pajale bertempat di Aula Korem 143 Halu Oleo Kendari. Hadir dalam rakor tersebut Penjab Upsus Sultra, Kadistan Provinsi Sultra, Danrem 143 Halu Oleo, Kalaplak Cetak Sawah, Ka BPTP Sultra, Ka BPS Sultra, Kadistan Kabupaten se Sultra, Kabid Produksi Tan Pangan se Sultra, Peneliti BPTP Sultra dan Dandim Kendari.
Materi yang dibahas adalah target dan realisasi luas tanam April-September 2017 dan Pelaksanaan Cetak Sawah 2017′.
Hasil bahasan mengemuka bahwa, ada perbedaan data realisasi luas tanam Upsus dengan BPS, namun dijelaskan bahwa data BPS bersifat bulanan sedangkan Data Upsus sifatnya harian. Oleh karena itu maka perlu ada kolaborasi antara data Upsus dengan laporan SP.
Menurut Penjab Upsus Andi Nur Alamsyah ST MTP, data LTT Padi dan Jagung sangat penting karena menjadi bahantu Kebijakan Menteri Pertanian dalam penetapan impor beras maupun jagung. Sementara itu Danrem 143 HO menyatakan bahwa peran TNI dalam Ketahanan Pangan adalah dalam rangka turut membantu peningkatan produksi pangan. Dikatakan bahwa bila produksi pangan aman maka negara akan aman. Luas cetak sawah di Sultra tahun 2017 yaitu 4.500 ha dan dilapangan melibatkan Babinsa. SK

PSU Pilkada Bombana, Pasangan Tafdil -Johan Unggul Suara

SUARAKENDARI.COM-Pemilihan Suara Ulang di 7 TPS Pilkada Bombana menempat Pasangan H.Tafdil – Johan Salim dipastikan unggul dari rivalnya, Kasra Jaru Munara-Man Arfah, yang berlangsung Rabu (7/6). Dari tujuh TPS pasangan Tafdil-Johan unggul 980  suara, sedangkan pasangan Kasra Jaru Munara-Man Arfah meraih 794 suara.

Tafdil kepada wartawan mengatakan kemenangan yang diraihnya  merupakan kemenangan semua warga Bombana. “Ini adalah kemenangan seluruh masyarakat Bombana,”ujarnya.

PSU dilakukan di 7 TPS masing-masing: TPS 2 Desa Tahi Ite, Kecamatan Rarowatu;  TPS 1 Desa Larette, Kecamatan Poleang Tenggara;  TPS 1 Desa Marampuka (TPS  Lemo), Kecamatan Poleang Tenggara;  TPS 2 Desa Marampuka (TPD 2 Larette), Kecamatan Poleang Tenggara;  TPS 1 Desa Lamoare, Kecamatan Poleang Tenggara,
TPS 1 Desa Hukaea, Kecamatan Rarowatu Utara; dan  TPS 2 Desa Lantari, Kecamatan Lantari Jaya. SK

Buton Utara Dilanda Banjir Bandang

Banjir di Butur. foto: Heny/FB

SUARAKENDARI.COM-Banjir bandang menerjang dua desa masing-masing Desa Lambale dan Desa
Kotawo.  Badan Penanggulangan Bencana Daerah Buton Utara merilis banjir besar ini merendam sekitar 200 rumah dan menewaskan satu orang warga.  Ketinggian air mencapai dua meter membuat warga terpaksa harus mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi. Intensitas hujan yang tinggi selama dua hari membuat sejumlah sungai di Kabupaten Utara meluap. Hingga kini belum diketahui jumlah kerugian akibat bencana ini. SK

Jalur Transportasi di Konawe Utara Rusak Berat

Kondisi Jalan di Konawe Utara. dok foto milik Irawan Amarul/ FB
Ratusan kendaraan terpaksa antri. dok foto milik: dedi/FB

SUARAKENDARI.COM-Jalur transportasi yang menghubungkan Kota Kendari dan Kabupaten Konawe Utara kini mengalami rusak berat. Akibatnya, banyak  kendaraan yang melintas terjebak macet selama berjam-jam lamanya.

Sejumlah kendaraan yang mencoba nekat merobos kubangan jalan dilaporkan terguling di tengah jalan, sedang kndaraan terjebak dan nyaris tertimbun oleh lumpur merah. “Kondisi jalan yang rusak ini sudah berlangsung hampir dua pekan,”kata Mustaman.

Rusaknya jalur transportasi ini juga mengganggu arus  distribusi barang ke daerah itu mulai terganggu dan menyebabkan harga sembilan bahan pokok melambung tinggi karena minimnya pasokan.

Pihak kontraktor dituding sebagai biang kerusakan jalan, karena diduga tidak mengerjakan pekerjaan sesuai bestek.  SK