Sebagian Besar Jalan di Wilayah Buton Utara Rusak Berat

Suarakendari.com-Cukup memprihatinkan, sebagai salah satu daerah penghasil aspal kondisi jalan di Buton Utara justeru mengalami rusak berat khususnya jalan di kecamatan Kambowa, kecamatan Bonegunu yang selama ini menjadi akses jalan penghubung Buton Utara dan Kota Baubau. Ironisnya, kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. “Kami sudah tidak tau mau bilang apalagi soal jalan di sini, sudah bertahun-tahun dibiarkan rusak seperti ini, entah kemana nurani pemerintah kita,”kata Firman, warga Kambowa.

Pemerintah Buton Utara dinilai telah melakukan pembiaran karena warga sudah berkali-kali menuntut perbaikan jalan di wilayah ini. “Sudah berulangkali warga demo tapi tidak ada juga tanggapan baik dari wakil rakyat maupun pemerintah,”ungkapnya.

Saat jurnalis suarakendari.com melakukan perjalanan ke wilayah ini nampak akses jalan sebagaian besar sudah mengalami kerusakan parah, bahkan sebagian jalan di wilayah Kambowa dan Bonegunu sudah menjadi kubangan. Demikian pula jalan dari wilayah Labuan Bajo sudah tidak beraspal.

Diperkirakan Akses jalan yang rusak mencapai 100 KM yang menghubungkan lebih dari empat kecamatan di Buton Utara.

Seorang sopir asal Kambowa mengaku sangat tersiksa dengan kondisi ini, “Konsisi jalan ini telah mematikan usaha ekonomi Kami. Setiap bulan onderdil mobil pasti diganti,”kataUsman.

“Tolong pak, dimuat ke media, beritahu Pak Bupati Butur kalau Kami ini juga masih bagian dari Buton Utara, tolon Pak bupati perbaiki jalan di sini (kambowa, bonegunu,Red) “ujar Usman. SK

INI FILOSOFI TANAH BAGI ORANG KABAENA

UMUMNYA, penduduk Pulau Kabaena membangun pemukiman di lembah-lembah gunung yang terdapat aliran sungai dan sebagian lagi memilih bermukim di pesisir pantai. Di lembah, mereka menggarap tanah dan bercocok tanam. Sejak lama, tanah yang subur menjadikan sektor pertanian sebagai penyokong utama ekonomi warga Kabaena. Tak heran jika kerajaan buton saat itu menjuluki daerah ini dengan nama “kabaena” yang artinya negeri penghasil beras, meski orang-orang eropa lebih suka menyebutnya sebagai “comboina”. Orang-orang pribumi sendiri menyebut kampung halaman mereka sebagai tokotua. Nama “Tokotua Wonuanto” diabadikan warga di gerbang rumah berdampingan dengan tulisan nama desa dan kecamatan.  “Jadi Tokotua adalah nama lain dari Kabaena,”kata Abdul Madjid Ege.

Letak Desa Tangkeno berada di ketinggian, sekitar 650 meter dari permukaan laut (Mdpl), tepat di bawah kaki gunung Watu Sangia memiliki ketinggian 1100 Mdpl. Suhu udaranya cukup dingin.  Terlebih di bulan Oktober. Angin bertiup kencang, membuat atap-atap rumah seolah mau lepas dari jepitan. Di bulan itu warga menyiapkan jaket dan selimut tebal.  Di musim tertentu, awan akan sangat dekat dengan kepala Anda. Tak heran jika Desa Tangkeno dijuluki dengan nama “Negeri di Awan”.

Gunung Sangia Wita sebenarnya lebih rendah dari tiga gunung lain, masing-masing Gunung Sabampolulu yang memiliki ketinggian 1,500 mdpl (gunung tertinggi di Sulawesi Tenggara),  Gunung Puputandasa dan gunung Putolimbo yang memiliki ketinggian 1,200 Mdpl. Sedang di bagian depan ke empat gunung tadi berdiri kokoh gunung Watu Sangia (1,100 meter Mpdl).

Sangia Wita berarti Tanah Dewa, Watu Sangia berarti Batu Dewa.  Sedangkan, Sabampolulu artinya muncul dan mengejar. Sabampolulu sendiri memiliki arti muncul dan mengejar. “Jika dikaitkan dengan rencana Kabaena  menjadi daerah otonomi baru maka berarti nama Sabampolulu menjadi strategis, yakni, daerah baru yang mengejar ketertinggalan dari daerah lain,”ujar Madjid Ege.

Sejak dulu gunung-gunung Kabaena menjadi incaran para investor tambang. Di jaman penjajahan, tentara Jepang pernah berusaha untuk menambang nikel di kawasan ini. “Saat datang, Mereka (Jepang) memaksa rakyat menggali tanah dan membawanya ke kapal yang berlabuh di Sikeli,”kata Marudi, warga Tangkeno. Tak heran banyak terdapat lubang-lubang galian di sekitar gunung Sangia Wita, Puputandasa dan gunung Putolimbo.

Perang berakhir tak berarti penjajahan sumber daya alam pergi dari Kabaena. Kabaena menjadi daerah incaran investor asing. PT INCO, Tbk, bahkan, mengklaim wilayah  kabaena di bagian selatan dan tengah menjadi wilayah konsesi mereka, namun urun ditambang tanpa alasan yang jelas.

Booming tambang di tahun  2008 silam, negeri tokotua diserbu perusahaan tambang, dari  investor luar hingga lokalan. Tanah di seantero pulau Kabaena tak ada yang tidak dikapling. Tambang benar-benar mengubah pola hidup rakyat. Mereka  yang terlanjur tergiur duit instan berlomba menjual tanah. Budaya dan kearifan lokal pun terpinggirkan.  Kondisi yang membuat Madjid Ege resah.  “Dulu orang tua kami punya falsafah yang kuat atas tanah yang wajib dijunjung tinggi. Kehadiran tambang telah membuat orang-orang kabaena silau mata. Falsafah  leluhur itu telah diabaikan,”kata Abdul Madjid Ege.

Bagi Madjid, tanah adalah ruang hidup orang-orang Tokotua. Tak heran tanah benar-benar mendapat perlakuan  istimewa sebagaimana termaktub dalam falsafah hidup orang Tokotua.

Tentang itu, Madjid Ege menjelaskan tiga palsafah tentang tanah, yakni, wita wutonto atau Tanah adalah diri kita yang berarti, janganlah menjual tanah karena sama artinya menjual diri kita.

Kemudian, , wita toroanto  atau tanah adalah tempat kehidupan, mengandung arti Tanah adalah kehidupan kita, maka janganlah menjual tanah karena sama saja kamu menjual sebagian kehidupanmu. Dan, wita petanoanto atau tanah adalah kuburan kita yang mengandung arti janganlah engkau menjual tanah, karena sama saja menjual kuburanmu sendiri.

Dengan falsafah itu, orang kabaena saat hendak menjual tanah, maka pantang bagi mereka menyebut menjual tanah, melainkan menjual kebun atau rumah.  “Tidak boleh menyebut  menjual tanah, mengingat  tanah adalah sumber kehidupan kita,”kata Madjid.

Berpedoman pada falsafah itu, membuat Madjid teguh pada pendiriannya. Pria yang pernah meraih penghargaan sebagai Tokoh Anti Tambang dari Organisasi Jaringan Anti Tambang di Jakarta dengan tegas  menolak tanah-tanah di Pulau Kabaena eksploitasi untuk kepentingan tambang. “Walau sebagian besar tanah Kabaena sudah dieksploitasi oleh pertambangan, namun tidak untuk Desa Tangkeno !!!,”tegasnya. sk

CUACA BURUK, KAPAL FERRY DI KOLAKA NYARIS TENGGELAM

Suarakendari.com-Dihantam ombak setinggi 3 hingga 4 meter, KM Permata Nusantara  nyaris tenggelam saat berlayar dari pelabuhan kolaka menuju kapal pelabuhan bajoe, Selasa dini hari 22 januari 2019. Tak hanya itu,  tiga bus antar provinsi yang ada di atas kapal juga terbalik  sehingga KM Permata Nusantara tak melanjutkan pelayaran dan kembali ke pelabuhan kolaka.

Hantaman ombak setinggi tiga hingga empat meter sempat membuat panik seluruh penumpang, lantaran tiga mobil bus antar provinsi yang ada di atas kapal juga terbalik.

Thomas mudjianto, pjs nahkoda KM. Permata Nusantara mengatakan, kejadian ini bermula saat kapal yang dinakhodainya berangkat dari pelabuhan kolaka menuju pelabuhan bajoe pada pukul 01.30 wita dengan mengangkut 111 penumpang,  13 unit kendaraan roda dua minibus dan truk. Namun setelah berlayar kurang lebih dua jam,  kapal  tiba – tiba dihantam ombak setinggi 3-4 meter.

“Ombak keras membuat penumpang sempat panik, terlebih saat tiga mobil bus antar provinsi terbalik di dalam kapal, sehingga kami memutuskan untuk memutar balik arah kapal menuju ke pelabuhan ferry kalaka,”ujarnya.

Suardi, salah satu penumpang bercerita,  pada saat kapal berangkat gelombang tinggi sudah mulai terasa. Namun saat berada disekitar pulau lambasina  kapal mulai oleng karena gelombang tinggi  sehingga penumpang panik dan mulai mengenakan jaket pelampung.

Meski tidak ada korban jiwa,namun kerugian akibat kerusakan mobil ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Sementara seluruh penumpang yang sudah diturunkan dari atas kapal  akan diberangkatkan menggunakan kapal lain sambil menunggu cuaca kembali normal. YS

Banjir Besar Landa Desa Lamokula

. Dokumentan foto: candra Suarakendari-Tingginya intensitas hujan membuat banjir melanda sejumlah daerah di Sulawesi Tenggara. Seperti tahun-tahun sebelumnya, banjir besar kerap menyambangi Desa Lamokula, Kecamata Moramo, Kabupaten Konawe Selatan. Banjir yang diakibatkan meluapnya sungai Lamokula ini merendam seratusan rumah dan memaksa penghuni rumah mengungsi ke lokasi yang aman, Senin (25/6/2018). Di desa ini terdapat tiga dusun yang terendam banjir setinggi satu sampai dua meter dan nyaris menenggelamkan rumah warga. SK

Perempuan Tua Asal Muna Tewas Ditelan Ular Piton

Suarakendari.com-Nass menimpa Wa Tiba (54). Wanita asal Desa Mabolu, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara tewas setelah ditelan hidup-hidup oleh seekor ular piton di sebuah kebun milik warga. Saat ditemukan oleh warga, Jumat, (15/6/18), kondisi korban cukup mengenaskan, tubuh wanita tua ini remuk dan berada dalam perut ular sepanjang delapan meter tersebut.

Penemuan mayat yang ditelan ular piton di Muna ini sempat viral di media social. Dari video dan foto yang diunggah di social media facebook, tampak warga beramai-ramai membelah perut ular besar tersebut, dan berhasil mengeluarkan korban dari perut ular. Diduga korban telah dua hari berada dalam perut ular sebelum akhirnya berhasil ditemukan.

Informasi menyebut, korban sempat dicari pihak keluarga karena sudah seharian tidak balik ke rumah. Sebelum tewas, korban diketahui hendak ke kebun, namun tidak kembali ke rumahnya. Keluarga yang cemas kemudian meminta bantuan polisi mencari korban.
Setelah dilakukan pencarian di sekitar kebun dan semak belukar, akhirnya warga menemukan seekor ular python dengan perut membesar di sekitar kebun warga. Warga yang curiga kemudian membelah perut ular dan menemukan tubuh korban. SK

Desa Batu Jaya Kaya Potensi Wisata Alam

Suarakendari-Satu lagi desa yang kaya akan potensi wisata alam di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Adalah Desa Batu Jaya yang berada di Kecamatan Laonti, memiliki potensi pariwisata yang patut diperhitungkan. Desa yang bertetangga langsung dengan Desa Wisata Namu ini kini tengah berbenah menuju pengelolaan pariwisata desa yang lebih serius.

“Saat ini kami tengah mendata potensi pariwsata desa Kami, yang pasti wisata alam seperti air terjun, pantai dan alam bawah laut menjadi potensi yang layak untuk kami kelola,”kata Basman, Kepala Desa Batu Jaya.

Desa dengan luas keseluruhan mencapai 16 KM2 ini juga memiliki potensi sumber air panas dan kekayaan flora dan fauna, seperti anoa, burung halo dan aneka ikan hias.

“Kami menyediakan satu spot andalan yang mungkin tidak ada di desa lain, yakni spot pengamatan anoa sekaligus menjadi lokasi tracking mangrove,”ungkap Basman.

Kades yang baru menjalankan tugas di periode pertama ini optimis Batu Jaya akan bisa mengikuti langkah kesuksesan desa tetangganya, Desa Wisata Namu. “Yang pasti Kami selalu siap untuk mengelola potensi wisata desa kami dan berharap bisa menjadi desa wisata,”ujarnya. YOS

Diaspora Nelayan Desa Lamongupa di Konawe Kepulauan

Suarakendari.com, KONKEP-Enam puluh Delapan tahun silam mereka hadir sebagai saudagar beras. gula, Oleh kebijakan distrik pada saat itu. mereka dibukakan satu desa khusus.Kini mereka 75 persen bekerja sebagai nelayan.
Hari menjelang sore, Burhan (49 tahun) nampak sibuk menghampar ikan di pinggir jalan desa yang tak seberapa luas. Ikan-ikan ini baru saja turun dari perahu sehingga nampak segar. Orang di kampong menyebutnya ikan sori, mungkin karena bentuk mulut ikan yang panjang. Burhan langsung menyimpan ke dalam baskom yang sudah dia siapkan sebelumnya, selanjutnya dijual ke warga sekitar dan warga di desa-desa tetangga.
Nama Lamongupa berasal dari dua suku kata yaitu Laa = sungai/kali (bahasa Wawonii) dan Mongupa = jambu/manggopa. Karena di sekitar wilayah Lamongupa saat itu terdapat kali besar yang hanya ditumbuhi oleh satu tanaman mongupa.
Desa ini merupakan wilayah pesisir pantai yang dihuni oleh sebagian besar para perantau Bugis – Bone. Proses diaspora suku Bugis di desa ini terjadi sekitar tahun 1947. Pada awal kehadirannya di Wawonii, mereka hadir sebagai pedagang menjual gula, beras dan lain-lain.
Karena mereka merasa cocok dan terjalin hubungan baik dengan masyarakat Wawonii pada saat itu, maka mereka memilih tinggal. Oleh kepala distrik Wawonii saat itu, mereka kemudian diberikan izin untuk tinggal di Desa Lamongupa.
Pada tahun 1957, Lamongupa yang masih merupakan salah satu dusun di Desa Lampeapi ditetapkan menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Wawonii yang pada saat itu camat pertama dijabat oleh Bapak Lasikende dan berkembang hingga kini.
Total jumlah penduduk Desa Lamongupa adalah sebanyak 68 KK (Kepala Keluarga), sebagian besar di dominasi oleh suku Bugis – Bone, kemudian Suku Tolaki/Wawonii dan sebagian kecil suku Buton. Seratus persen warganya beragama Islam.
Berberda dengan desa-desa sebelumnya, penduduk Desa Lamongupa justru menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Hal ini lebih didukung oleh kondisi desa yang sebagian besar wilayahnya merupakan daerah pesisir.
Sedangkan di bidang pertanian, hanya dijalankan oleh sebagian kecil masyarakat di desa ini dan hanya dianggap sebagai kegiatan sampingan bagi mereka.
Ikan hasil tangkapan biasanya di pasarkan oleh ibu-ibu ke desa-desa tengga hingga ke wilayah Kecamatan Wawonii Selatan.
Sukardin – Tokoh Adat – memaparkan bahwa Desa Lamongupa menyediakan suplay ikan bagi desa-desa tentangga di Wawonii Tengah, termasuk Wawonii Selatan.
Menurutnya, ada beberapa kendala yang kerap dihadapi oleh para nelayan di Desa Lamungupa, yakni belum tersedianya energi listrik di desa ini. Hal ini sangat berpengaruh terhadap tingkat kesegaran ikan hasil tangkapan terlebih jika ikan-ikan tersebut sudah tertangkap beberapa jam.
Keberadaan Desa Lamongupa juga memiliki pertautan sejarah perjalanan pendidikan di Sulawesi Tenggara. Sukardin – tokoh adat Lamongupa mengaku, bahwa DDI (madrasah ibtidaiyah tempo dulu) pertama di Sulawesi Tenggara berada di desa Lamongupa.
Selanjutnya pada tahun 1997 Desa Lamongupa dimekarkan menjadi sebuah desa. Sampai tahun ini, telah terjadi 3 kali pergantian kepala desa dan kepala desa yang ketiga bernama Abdul Rasyid.
Hak kepemilikan atas tanah di desa ini ditentukan oleh usaha di atas tanah warisan yang telah berlangsung secara turun temurun. Sayangnya hingg kini belum ada Program Nasional (Prona) sertifikasi lahan di desa ini. Ini juga menjadi kekhawatiran warga menyusul mekarnya wawonii sebagai daerah otonomi baru. Terlebih jika melihat fakta sumber daya alam desa yang konon terdapat potensi sumber daya mineral di sana.
Informasi yang diperoleh dari beberapa informan, disebutkan bahwa di desa ini terdapat 3 jenis sumber daya mineral, yaitu Chrome, Besi dan Pasir Kuarsa.
Sekitar tahun 2007, bahkan, pihak perusahaan tambang telah melakukan eksplorasi terhadap jenis-jenis sumber daya tersebut. Tetapi oleh masyarakat setempat, aktivitas ini di tolak dan akhirnya berhenti atas desakan masyarakat. ***

Ratu Kegelapan Tampil Memukau, Hibur Warga di Festival Benua

Suarakendari-Ratu Kegelapan akhirnya tampil dalam Opera Van Ndolaki di Festival Benua, yang berlangsung meriah, Sabtu (23/12/17). Selama kurang lebih 30 menit, Ratu Kegelapan bersama crew tampil memukau dihadapan ratusan warga yang hari itu antusias hadir dengan memadati panggung festival demi melihat langsung lawakan berkualitas san Ratu Kegelapan yang selama ini dikenal dengan humor khas berbahasa daerah Tolaki. Selain pementasan, Crew Ratu Kegelapan dengan ramah memberi kesempatan pada warga maupun fans mereka untuk berfoto bersama.

Penampilan Ratu Kegelapan di Festival Benua merupakan wujud dari komitmen mereka untuk terus membangun kesadaran kolektif agar warga khususnya di Bumi Konawe untuk bisa terus melestarikan budaya mereka, khususnya budaya cinta Bahasa Tolaki. “Ini merupakan upaya dari Kami selaku generasi muda Tolaki untuk terus melestarikan budaya dan bahasa tolaki di masyarakat melalui bidang seni,”kata Eko, manajer Ratu Kegelapan.

Eko mengaku terkesan dan bangga atas digelarnya Festival Benua sebagai ajang memperkenalkan kembali budaya Tolaki yang hampir punah, sepertti tradisi lulo ngganda ke masyarakat. “Semoga kegiatan pelestarian budaya melalui festival dapat terus dilakukan setiap tahun,”harapnya.

Crew Ratu kegelapan sendiri dikenal lewat penampilan mereka dalam film pendek bergendre humor bernuasa lokal Kendari. Mereka bahkan mereja panggung media social facebook di Sulawesi Tenggara. Short movie bergendre drama komedi yang diproduksi dengan peralatan yang cukup sederhana ini, bahkan mengalahkan seluruh film lokal yang pernah di produksi di bumi anoa dengan jumlah penonton mencapai 1 juta lebih penonton. Menariknya, para pemeran di film tersebut adalah orang-orang baru yang notabene tidak pernah terlibat produksi film sebelumnya.

Jumail Nick, salah satu pemeran film lokal mengatakan sangat senang dengan apresiasi yang diberikan para penonton di festival benua serta atas film-film pendek yang telah mereka produksi. SK

Tentang Lulo Ngganda

Suarakendari.com-Masyarakat Tolaki memiliki kekayaan tradisi adat istiadat yang hingga kini masih tetap lestari di tengah masyarakat. Salah satunya tradisi Lulo Ngganda. Lulo artinya goyang, Ngganda asal kata kanda. Lulo Ngganda artinya lulo yang diancang-ancang ke atas sambil mengikuti irama gendang. Lulo Ngganda menurut orang tolak khususnya di Kecamatan Benua sudah ada sejak dunia pertama sampai sekarang. Dunia pertama artinya, sebelum tenggelam dunia ini, yakni sebelum jaman Firaun. Lulo Ngganda semula adalah menggunakan gendang-gendang tanah, setelah ini adalah gendang yang dasarnya dari pelepah daun, sekarang adalah kayu yang namanya poli’o.

Lulongganda dilaksanakan setiap setahun sekali sebagai upacara pesta tahunan yaitu satu tahun berlalu dan memohon kepada Allah agar tahun berikutnya panen menghasilkan hasil yang lebih banyak. Dahulu lulongganda ada 7 macam, tapi dalam perjalanan waktu kini tinggal 5 macam, itu pun yang lazim dipakai di Benua tinggal 3 macam lulo, yakni pertama lulongganda Titiisu, kedua lolongganda kolialiangako, dan lulongganda polerusi. ada pun yang keempat, lulongganda watolengga dan lulongganda leseahoa sudah tidak digunakan karena sudah tidak ada yang tau.
Lulongganda Titiisu menurut orang Tolaki Benua adalah dewa padi, burung Titiisu adalah jenis burung puyu yang hidup di tengah-tengah padi saat musim padi hinbgga menjelang panen padi. Lulongganda kolialiangako artinya lulu saat membuka hutan dimana hutan lebat dengan kayu-kayu besar jadi kolialiangako adalah melewati kayu-kayu besar. Lulongganda polerusi artinya kalau kita bekerja keras maka kita akan mendapatkan hasil yang banyak.
Lulongganda dilakukan tiga malam, pertama malam ke 13 bulan di langit, atau orang tolaki menyebut tombaralenggea, malam kedua disebut matamolambu dan malam ke tiga adalah mataumehe. Setelah tiga malam ketiga dilakukan Lolongganda maka selanjutnya dilakukan Mosehe sebagai upacara syukuran atas hasil panen melimpah yang diperoleh tahun ini. Sekaligus membuang kesalahan yang kita perbuat di tahun-tahun yang silam dan tanaman yang tidak menguntungkan di tahun-tahun lalu kita ganti dengan tanaman baru.
Mosehe Ndiolu artinya mosehe dengan cara sederhana dengan menggunakan telur sebagai upacara doa kepada Allah agar mendapatkan hasil lebih baik di tahun-tahun berikutnya. Setelah acara mosehe selesai maka dilakukan acara kesenian dan olah raga sebagai bagian dari pesta syukuran yang dirayakan dengan kegembiraan.
Adapun urutan acara Festival Lulongganda terdiri:
Acara Ritual:
Lulo Ngganda
mosehe
Acara Seni:
lariangi
mewuwuho
meoreore wuku
meoreore nggowuna
moanggo
mekabia
metainango
mesongguru
melolama
Acara Olahraga:
cakalele/umoara
mekonda’u / pencaksilat
modinggu
mobiti
mehule
tumotadi
metinggo

60 Kades di Konkep Dilantik Massal

Suarakendari-60 kepala desa se Kabupaten Konawe Kepulauan dilantik serentak Bupati Konawe Kepulauan, Amrullah, diaula sekretariat kabupaten. Pelantikan tersebut sebagai rangkaian hasil pemilihan kepala desa serentak Oktober 2017 silam. Dalam amanatnya,Bupati Konawe Kepulauan, Amrulah menghimbau agar para kades yang dilantik untuk amanah menjalankan pemerintahan di desa dan senantiasa melibatkan masyarakat dalam setiap kegiatan di desa. Para kades juga diminta untuk segera menyusun rencana kerja pemerintah desa agar pembangunan desa segera berjalan dengan terencana. Dan yag terpenting pesan Amrullah agar para kepala desa dapat menjalankan pembangunan desa secara transparan dan akuntabel.”Akuntabiltas pengelolaan anggaran desa harus benar-benar dijalankan,”pesan Amrullah. SK