Sebagian Besar Jalan di Wilayah Buton Utara Rusak Berat

Suarakendari.com-Cukup memprihatinkan, sebagai salah satu daerah penghasil aspal kondisi jalan di Buton Utara justeru mengalami rusak berat khususnya jalan di kecamatan Kambowa, kecamatan Bonegunu yang selama ini menjadi akses jalan penghubung Buton Utara dan Kota Baubau. Ironisnya, kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya. “Kami sudah tidak tau mau bilang apalagi soal jalan di sini, sudah bertahun-tahun dibiarkan rusak seperti ini, entah kemana nurani pemerintah kita,”kata Firman, warga Kambowa.

Pemerintah Buton Utara dinilai telah melakukan pembiaran karena warga sudah berkali-kali menuntut perbaikan jalan di wilayah ini. “Sudah berulangkali warga demo tapi tidak ada juga tanggapan baik dari wakil rakyat maupun pemerintah,”ungkapnya.

Saat jurnalis suarakendari.com melakukan perjalanan ke wilayah ini nampak akses jalan sebagaian besar sudah mengalami kerusakan parah, bahkan sebagian jalan di wilayah Kambowa dan Bonegunu sudah menjadi kubangan. Demikian pula jalan dari wilayah Labuan Bajo sudah tidak beraspal.

Diperkirakan Akses jalan yang rusak mencapai 100 KM yang menghubungkan lebih dari empat kecamatan di Buton Utara.

Seorang sopir asal Kambowa mengaku sangat tersiksa dengan kondisi ini, “Konsisi jalan ini telah mematikan usaha ekonomi Kami. Setiap bulan onderdil mobil pasti diganti,”kataUsman.

“Tolong pak, dimuat ke media, beritahu Pak Bupati Butur kalau Kami ini juga masih bagian dari Buton Utara, tolon Pak bupati perbaiki jalan di sini (kambowa, bonegunu,Red) “ujar Usman. SK

Dinas Pendidikan dan Olah Raga Bantah Ada Penganiayaan Siswa

Suarakendari.com-Kepala Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga Kota Kendari Sartini Sarlita membantah jika kepala SD negeri 19 kendari telah melakukan penganiayaan terhadap siswanya sendiri.

Hal ini berdasarkan hasil koordinasi dengan pihak kepala sekolah yang telah memberikan keterangan kepada Dinas Pendidikan Kota Kendari.

Menurutnya dugaan tindakan penganiayaan itu bukanlah tindakan penganiayaan tetapi merupakan salah satu cara mendidik bagi siswa sebagai orang tua di dalam lingkungan sekolah.

“Kepala sekolah Sudah melapor, kami Sudah mediasi dengan salah seorang peseta didik, yang katanya dianiaya, sebenarnya tidak dianiaya pak, namanya juga orang tua dan anak, kan guru itu orang tua ke dua dari rumah, ungkapnya.

Dari keterangan pelaku, Sartini mengatakan, kepala sekolah tidak menampar siswa tersebut  melainkan saat hendak di tampar korban mengelak dan akhirnya terbentur tembok sekolah sehingga mengakibatkan memar di bagian wajah korban, begitupula dengan siswa yang mengalami luka di bagian kepala akibat paku.

“Guru itu, (sambil menampar kearah jurnalis) begini toh, secara spontanitas anak itu melarikan mukanya maka tersentuhlan dinding, sehingga biru barulha sedikit disini, (muka). Bebernya

Sebelumnya, dugaan tindakan penganiayaan dilakukan oleh oknum kepala sekolah dasar (SD) 19 kendari Zainuddin, telah dilaporkan orang tua siswa, dan di tangani oleh aparat kepolisian sektor (Polsek) mandonga, Hal itu berdasarkan laporan polisi nomor: LP/57/II/2019/SPKT.C/Sek Mdg Res Kendari, pertanggal 23 februari lalu.

Dalam laporan tersebut, pelaku diduga menampar korban bersama 6  rekan lainnya, akibat tamparan tersebut dua  korban mengalami luka dan memar di bagian pipi kanan, dan satu korban lainnya mengalami pendarahan di bagian kepala. akibat terbentur tembok sekolah. UT

INI FILOSOFI TANAH BAGI ORANG KABAENA

UMUMNYA, penduduk Pulau Kabaena membangun pemukiman di lembah-lembah gunung yang terdapat aliran sungai dan sebagian lagi memilih bermukim di pesisir pantai. Di lembah, mereka menggarap tanah dan bercocok tanam. Sejak lama, tanah yang subur menjadikan sektor pertanian sebagai penyokong utama ekonomi warga Kabaena. Tak heran jika kerajaan buton saat itu menjuluki daerah ini dengan nama “kabaena” yang artinya negeri penghasil beras, meski orang-orang eropa lebih suka menyebutnya sebagai “comboina”. Orang-orang pribumi sendiri menyebut kampung halaman mereka sebagai tokotua. Nama “Tokotua Wonuanto” diabadikan warga di gerbang rumah berdampingan dengan tulisan nama desa dan kecamatan.  “Jadi Tokotua adalah nama lain dari Kabaena,”kata Abdul Madjid Ege.

Letak Desa Tangkeno berada di ketinggian, sekitar 650 meter dari permukaan laut (Mdpl), tepat di bawah kaki gunung Watu Sangia memiliki ketinggian 1100 Mdpl. Suhu udaranya cukup dingin.  Terlebih di bulan Oktober. Angin bertiup kencang, membuat atap-atap rumah seolah mau lepas dari jepitan. Di bulan itu warga menyiapkan jaket dan selimut tebal.  Di musim tertentu, awan akan sangat dekat dengan kepala Anda. Tak heran jika Desa Tangkeno dijuluki dengan nama “Negeri di Awan”.

Gunung Sangia Wita sebenarnya lebih rendah dari tiga gunung lain, masing-masing Gunung Sabampolulu yang memiliki ketinggian 1,500 mdpl (gunung tertinggi di Sulawesi Tenggara),  Gunung Puputandasa dan gunung Putolimbo yang memiliki ketinggian 1,200 Mdpl. Sedang di bagian depan ke empat gunung tadi berdiri kokoh gunung Watu Sangia (1,100 meter Mpdl).

Sangia Wita berarti Tanah Dewa, Watu Sangia berarti Batu Dewa.  Sedangkan, Sabampolulu artinya muncul dan mengejar. Sabampolulu sendiri memiliki arti muncul dan mengejar. “Jika dikaitkan dengan rencana Kabaena  menjadi daerah otonomi baru maka berarti nama Sabampolulu menjadi strategis, yakni, daerah baru yang mengejar ketertinggalan dari daerah lain,”ujar Madjid Ege.

Sejak dulu gunung-gunung Kabaena menjadi incaran para investor tambang. Di jaman penjajahan, tentara Jepang pernah berusaha untuk menambang nikel di kawasan ini. “Saat datang, Mereka (Jepang) memaksa rakyat menggali tanah dan membawanya ke kapal yang berlabuh di Sikeli,”kata Marudi, warga Tangkeno. Tak heran banyak terdapat lubang-lubang galian di sekitar gunung Sangia Wita, Puputandasa dan gunung Putolimbo.

Perang berakhir tak berarti penjajahan sumber daya alam pergi dari Kabaena. Kabaena menjadi daerah incaran investor asing. PT INCO, Tbk, bahkan, mengklaim wilayah  kabaena di bagian selatan dan tengah menjadi wilayah konsesi mereka, namun urun ditambang tanpa alasan yang jelas.

Booming tambang di tahun  2008 silam, negeri tokotua diserbu perusahaan tambang, dari  investor luar hingga lokalan. Tanah di seantero pulau Kabaena tak ada yang tidak dikapling. Tambang benar-benar mengubah pola hidup rakyat. Mereka  yang terlanjur tergiur duit instan berlomba menjual tanah. Budaya dan kearifan lokal pun terpinggirkan.  Kondisi yang membuat Madjid Ege resah.  “Dulu orang tua kami punya falsafah yang kuat atas tanah yang wajib dijunjung tinggi. Kehadiran tambang telah membuat orang-orang kabaena silau mata. Falsafah  leluhur itu telah diabaikan,”kata Abdul Madjid Ege.

Bagi Madjid, tanah adalah ruang hidup orang-orang Tokotua. Tak heran tanah benar-benar mendapat perlakuan  istimewa sebagaimana termaktub dalam falsafah hidup orang Tokotua.

Tentang itu, Madjid Ege menjelaskan tiga palsafah tentang tanah, yakni, wita wutonto atau Tanah adalah diri kita yang berarti, janganlah menjual tanah karena sama artinya menjual diri kita.

Kemudian, , wita toroanto  atau tanah adalah tempat kehidupan, mengandung arti Tanah adalah kehidupan kita, maka janganlah menjual tanah karena sama saja kamu menjual sebagian kehidupanmu. Dan, wita petanoanto atau tanah adalah kuburan kita yang mengandung arti janganlah engkau menjual tanah, karena sama saja menjual kuburanmu sendiri.

Dengan falsafah itu, orang kabaena saat hendak menjual tanah, maka pantang bagi mereka menyebut menjual tanah, melainkan menjual kebun atau rumah.  “Tidak boleh menyebut  menjual tanah, mengingat  tanah adalah sumber kehidupan kita,”kata Madjid.

Berpedoman pada falsafah itu, membuat Madjid teguh pada pendiriannya. Pria yang pernah meraih penghargaan sebagai Tokoh Anti Tambang dari Organisasi Jaringan Anti Tambang di Jakarta dengan tegas  menolak tanah-tanah di Pulau Kabaena eksploitasi untuk kepentingan tambang. “Walau sebagian besar tanah Kabaena sudah dieksploitasi oleh pertambangan, namun tidak untuk Desa Tangkeno !!!,”tegasnya. sk

CUACA BURUK, KAPAL FERRY DI KOLAKA NYARIS TENGGELAM

Suarakendari.com-Dihantam ombak setinggi 3 hingga 4 meter, KM Permata Nusantara  nyaris tenggelam saat berlayar dari pelabuhan kolaka menuju kapal pelabuhan bajoe, Selasa dini hari 22 januari 2019. Tak hanya itu,  tiga bus antar provinsi yang ada di atas kapal juga terbalik  sehingga KM Permata Nusantara tak melanjutkan pelayaran dan kembali ke pelabuhan kolaka.

Hantaman ombak setinggi tiga hingga empat meter sempat membuat panik seluruh penumpang, lantaran tiga mobil bus antar provinsi yang ada di atas kapal juga terbalik.

Thomas mudjianto, pjs nahkoda KM. Permata Nusantara mengatakan, kejadian ini bermula saat kapal yang dinakhodainya berangkat dari pelabuhan kolaka menuju pelabuhan bajoe pada pukul 01.30 wita dengan mengangkut 111 penumpang,  13 unit kendaraan roda dua minibus dan truk. Namun setelah berlayar kurang lebih dua jam,  kapal  tiba – tiba dihantam ombak setinggi 3-4 meter.

“Ombak keras membuat penumpang sempat panik, terlebih saat tiga mobil bus antar provinsi terbalik di dalam kapal, sehingga kami memutuskan untuk memutar balik arah kapal menuju ke pelabuhan ferry kalaka,”ujarnya.

Suardi, salah satu penumpang bercerita,  pada saat kapal berangkat gelombang tinggi sudah mulai terasa. Namun saat berada disekitar pulau lambasina  kapal mulai oleng karena gelombang tinggi  sehingga penumpang panik dan mulai mengenakan jaket pelampung.

Meski tidak ada korban jiwa,namun kerugian akibat kerusakan mobil ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Sementara seluruh penumpang yang sudah diturunkan dari atas kapal  akan diberangkatkan menggunakan kapal lain sambil menunggu cuaca kembali normal. YS

DANREM 143/HO BERGANTI


Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto, S.E, M.Si

Suarakendari.com- Tongkat Komando Komandan Korem 143/Halu Oleo (Danrem 143/HO) bakal diserahterimakan hari ini, Selasa, 22 Januari 2019 yang rencananya serah terima jabatan tersebut akan di pimpin langsung oleh Panglima Kodam XIV/Hasanuddin (Pangdam) Mayjen TNI Surawahadi, S.I.P., M.Si, di Markas Komando Daerah Militer XIV/Hasanuddin, Kota Makassar.

Komandan Korem 143/Halu Oleo Kolonel Arm Dedi Nurhadiman, S.I.P., akan mendapatkan promosi jabatan baru sebagai Dirbinter (Direktur Pembinaan Teritorial Angkatan Darat), di Pusat Teritorial Angkatan Darat (Pusterad).

Pergantian pejabat dalam lingkungan TNI-AD sendairi adalah hal yang biasa, hal tersebut dilakukan untuk kepentingan organisasi TNI-AD yang lebih besar dan untuk kepentingan karier yang bersangkutan. Dimana salah satu fungsi utama TNI AD adalah pembinaan Teritorial, Dirbinter adalah jabatan Kolonel mantan Danrem, merupakan pembantu utama Danpusterad yang bertanggung-jawab dalam menyelenggarakan kegiatan di bidang pembinaan teritorial, dengan tugas dan kewajiban sebagai Pembantu Danpusterad (Komandan Pusat Teritorial Angkatan Darat) dalam menyiapkan saran kepada Kasad mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan pembinaan teritorial TNI AD.

Sedangkan Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto, S.E, M.Si, sebelumnya menjabat sebagai staf Ahli Pangdam XIV/HSN bidang Ideologi.

 Berikut Profil, Pejabat Baru Danrem 143/HO

 Nama Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto, S.E, M.Si, Abbitueren Akmil /1992, suami dari Mg. Prasetyati Budi Hartai dan ayah dari tiga anak; Stephanus Yerikho, G, Teresia Carissa A, Georgius Adhika, C.. Karier militer Kolonel Yustinus Nono Yulianto, S.E, M.Si, cukup panjang, dimulai semasa perwira Pertama (Danton, Danki dan Pa Staf) sejak Th. 1993-2000.

Kurang lebih 7 tahun bertugas di lingkup Kodam III/SLW., ditahun 2002 mengikuti dik Suslapa If. Usai Suslapa if Januari 2002 bergabung di Kodam XVII/TKR, sebagai Pasi Binkanwil Rem 171/PVT, kemudian pada Juni 2003 menjabat Wadanyonif 752 Rem 171/PVT, setelah itu pada Desember 2004 mendapatkan promosi jabatan sebagai Kasdim 1710/MMK Rem 171/PVT Kodam XVII/TKR.

Pada Maret 2006 dipercaya selaku Kadep Tekknik/Gumil Tik Rindam Kodam XVII/TKR. Selanjutnya pada oktober 2008 menduduki jabatan Ps. Pabandya Binkar Spers Dam XVII/Cendrawasih. Usai mengikuti pendidikan Seskoad 2009 Kolonel Yustinus bertugas di Kodam Jaya selaku Pabandya Dik Spersdam Jaya. Setelah itu mendapatkan kepercayaan sebagai Dandim 0505/JT Rem 051/WKT Kodam Jaya pada bulan Mei 2011.

 Selanjutnya pada Maret 2012 mendapat jabatan baru sebagai Waaster Kasdam Jaya. Pada bulan Februari 2012 mendapatkan amanah baru sebagai Dosen Madya Seskoad, selanjutnya di bulan Desember tahun yang sama menjadi Patun Seskoad. Tahun 2017

Kolonel Yustinus mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Pendidikan Sesko TNI dan sementara itu mendapatkan jabatan sebagai Pamen Mabesad. Setelah mengikuti pendidikan Sesko TNI selanjutnya mendapatkan promosi jabatan sebagai staf Ahli Pangdam XIV/HSN bidang Ideologi pada Februari 2018.

Pada tanggal 28 Desember 2018, satu berdasarkan Surat Keputusan Kasad No. Kep/1077/XII/2018, Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto, S.E, M.Si, ditunjuk sebagai pejabat Danrem 143/Halu Oleo Kodam XIV/Hasanuddin. Dilihat dari riwayat Penugasan, Kolonel Inf Yustinus sarat dengan pengalaman tugas ; tercatat 3 kali penugasan operasi yang beliau ikuti antara lain: Ops Tim-Tim Tahun 1995, Ops Irian Jaya Tahun 1996, Ops Tim-Tim Tahun 1998, sedangkan penugasan luar negeri yang pernah diikuti KKLN tahun 2017. (Penrem143).

DANSATGAS YONIF 725/WRG PERERAT SILATURAHMI DENGAN TOKOH MASYARAKAT DAN APARAT PEMERINTAHAN SENGGI PAPUA

Suarakendari.com- Guna membangun dan mempererat tali silaturahmi, Dansatgas Yonif 725/Wrg Letkol Inf Hendry Ginting S., S.I.P. melangsungkan acara tatap muka bersama dengan Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Pemuda dan Aparat Pemerintahan Distrik Senggi di Pos Kotis Senggi Kab. Keerom. Senin, (21/1).

Dalam sambutannya Dansatgas Yonif 725/Wrg mengatakan, dirinya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada tokoh-tokoh masyarakat serta aparat pemerintahan Distrik Senggi yang sudah menyambut baik kehadiran Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 725/Wrg.

Pada kesempatan tersebut juga Dansatgas Yonif 725/Wrg berharap akan tetap terus terjalin hubungan silaturahmi yang baik antara Satgas Yonif 725/Wrg dengan masyarakat khususnya yang berada di Distrik senggi. Disamping itu juga Dansatgas Yonif 725/Wrg menambahkan, bahwa disamping menjalankan tugas pokoknya sebagai Satuan Pengamanan Perbatasan RI-PNG juga bersedia akan membantu dalam mengatasi kesulitan-kesulitan serta dalam mensejahterakan masyarakat di wilayah perbatasan.

Tak lupa pada acara Tatap Muka tersebut juga Kepala Distrik Senggi menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh anggota Satgas Yonif 725/Wrg khususnya yang berada di Kotis Senggi yang telah melaksanakan Tugas dan Tanggung Jawabnya serta turut berpartisipasi dalam membantu masyarakat. S

elain itu juga harapan Ketua Klasis Distrik Senggi dengan adanya kehadiran Satgas Yonif 725/Wrg akan selalu memberikan hal-hal yang positif serta tidak memberikan citra yang negatif di wilayah perbatasan terlebih khususnya pada masayarakat Distrik Senggi itu sendiri.

Turut hadir dalam acara tersebut diantaranya Kapolsek Senggi Iptu Ambo, Danpos Satgas Bant Lettu Inf Rangga, Babinsa Koramil Senggi Kopda Mustamin, Kepala Puskesmas / yang mewakili Dr. Nurlyanti Rustam, Ketua Klasis Distrik Senggi, Kepala Distrik Senggi, Kepala Kp. senggi, Kepala Suku Kp. Senggi, Kepala Kp. Warleyf, Kepala Suku Kp. Warleyf, Kepala Kp. Woslay dan Seluruh Perwira Staf Satgas Yonif 725/Wrg. (22/1).YS

ASAL MUASAL NAMA KENDARI

Penamaan Kendari Sebuah Pelurusan Sejarah

Selama ini historiografi Kendari menjadi perdebatan. Salah satunya terutama masalah penamaan Kendari, dan parahnya lagi seakan-akan penamaan Kendari terkesan mitologis dan melegenda. Hal ini disebabkan konstruksi yang dibangun tidak menggunakan sumber-sumber primer. 

Dalam tulisan Sejarah Kota Kendari yang dikarang oleh Prof. Dr. H. Anwar Hafid, M.Pd, (beliau  S1 pend.Sejarah,  S2 dan S3 jurusan pendidikan luar sekolah), disebutkan bahwa nama Kandari telah ditemukan dalam tahun 1926, kemudian dalam kata pengantar Wali Kota dan Ketua DPR pada saat itu memperkuat pendapat mereka, dan yang memberi nama adalah orang-orang Belanda. (Lihat Sejarah Kota Kendari, Bandung: Humaniora, tahun 2006 hlm. 30). Maupun karya-karya seperti Prof. Dr. Abdurrauf Tarimana, dan Prof. Dr. Rustam Tamburaka). 

Menulis sejarah bukan masalah guru besar tetapi harus dibekali dengan metodologi sejarah, filsafat sejarah, dan terutama kemampuan membaca sumber-sumber sejarah berkaitan dengan language sources terutama Bahasa Belanda.  Evidensi ini merupakan kesalahan fatal dan menyesatkan. Beberapa tulisan tersebut di atas sifatnya melegenda, dan anakronisme tidak berdasarkan urut-urutan waktu.

Setiap generasi dapat menuliskan sejarahnya, karena sejarah adalah dialog tanpa akhir. Sejarah bisa ditulis ulang jika seorang sejarawan menemukan fakta baru berupa sumber-sumber baru atau interpretasi baru. Mereka harus siap dikritik karena itulah ciri orang ilmiah bersifat terbuka, dan ilmu bersifat relativitas atau memiliki keterbatasan.

Berikut sejarah penamaan Kandari atau Kendari diberikan oleh orang-orang Portugis dan sudah ada sejak abad ke-16. Sumber yang menjelaskan hal tersebut berasal dari laporan Controleur Kendari bernama  L. Fontjine dalam tulisannya berjudul “Adatstaatsinstellingen van Indonesische Rechtgemeenschappen” bahwa penyebutan istilah Raja, Hadat, dan Laiwui sebenarnya bukan berasal dari daerah ini dan pada masa itu tidak terdapat istilah-istilah ini. Hal ini menjadi jelas bahwa istilah ini diperkenalkan dan dipergunakan oleh wakil pemerintah Hindia Belanda. 

Nama Laiwui menjadi muncul disini oleh karena menurut sebuah cerita berasal dari ketidaktahuan orang-orang Portugis dan penduduk pribumi. Pada saat itu orang Portugis menanyakan nama daratan ini kepada penduduk dan penduduk mengira bahwa orang Portugis menanyakan dimanakah terdapat air minum?-maka dijawab dengan “Laiwui”  yang berarti “banyak terdapat air”. 

Sejak itulah maka daratan ini oleh orang-orang asing disebut dengan nama Laiwui. Lihat juga tulisan J. Paulus “Encyclopaedie van Nederlandsch Indie, Leiden: Martinus Nijhoff, 1917, menjelaskan tentang nama Laiwoi dan Kendari. Fakta ini diperkuat bukti dalam tulisan Jasper dalam laporan perjalanannya dari teluk Kendari ke teluk Lasolo tahun 1926.

Pada permulaan abad ke-15 pada saat bangsa Portugis berlayar kearah timur mencari kepulauan  Maluku yang terkenal dengan rempah-rempahnya, mereka singgah di teluk Kendari tersebut. Pada saat perlawatannya ke daerah ini mereka bertemu orang yang membawa rakit yang terbuat dari bambu dengan menggunakan dayung panjang. Orang Portugis tersebut segera mendekati simpembawa rakit, kemudian menanyakan nama kampung yang mereka singgahi. Orang yang ditanya tersebut mengira bahwa portugis itu menanyakan apa yang sementara dikerjakannya, sehingga langsung dijawab Kandai yang artinya dayung atau  (mekandai) mendayung. 

Jawaban orang tersebut dicatat oleh orang Portugis sebagai pertanda bahwa kampung yang mereka masuki itu bernama Kandari. Akhirnya nama Kandai menjadi Kendari akibat penulisan. Sebagai contoh nama Mekongga dalam naskah Lagaligo disebut Mengkoka sedangkan dalam naskah lontarak Luwu disebutkan Mingkoka, dan dalam beberapa tulisan maupun laporan Belanda, Jerman menuliskan dengan nama Mingkoka, Bangkoka, Bingkoka. (Lihat Basrin Melamba, Kota pelabuhan Kolaka di Kawasan Teluk Bone,1906-1942, 2010). Bandingkan dengan penulisan nama Magelang, Surabaya, Pontianak, Pekalongan, Buton, dan beberapa nama kota lama di nusantara.

Dalam peta VOC daerah ini sudah dikenal sebagai daerah Laiwoi. Pasca penandatangan Perjanjian Bongaya, pada abad ke-17 dan 18, daerah ini sudah disebutkan Laiwui dengan kedudukanya di Kendari sebagai Vassal of Luwu atau dicaplok oleh Luwu sebagai bagian dari kekuasaannya. (Lihat Jan M. Pluvier, Historical Atlas of South-East Asia, E. J. Brill, Leiden-New York-Koln, 1995), tetapi dalam kenyataannya Luwu tidak secara utuh menguasai daerah ini, meskipun dalam sejarah Konawe diakui bahwa Luwu pernah melaksanakan ekspedisi ke daerah ini pada masa pemerintahan Mokole Lakidende bergelar Sangia Ngginoburu abad ke-17.(lihat Baden, 1925)

Basrin Melamba, M. A.

(email/fb: melambabasrin@yahoo. com)

HP. 081229452311

 Penulis adalah Alumni  Departement History, Culture Science Faculty Gadjah Mada University. Dan pengurus DPP Lembaga Adat Tolaki (LAT).

Hitung Cepat Pilkada Sultra, Pasangan Ali Mazi-Lukman Unggul 42,52 Persen

Suarakendari.com-Hasil perhitungan cepat atau quick count pilkada gubernur Sulawesi Tenggara yang di lakukan oleh salah satu lembaga survey, The Haluoleo Institute menempatkan pasangan no urut satu Ali Mazi-Lukman Abunawas unggul dengan perolehan suara 42,52 persen, sementara no urut dua Asrun-Hugua 25,15 persen dan pasangan nomor urut tiga Rusda-Syafey,memperoleh 32,46 persen.
Hal ini terungkap dalam konfrensi pers rabu sore 27 juni 2018 dengan jumlah total suara yang masuk 95 koma 13 persen.
“Hasiil perhtungan cepat inidilakukan berdasarkan hasil perolehan suara 6 daerah pemilihan di 17 kabupten kota yang ada di wilayah sulawesi tenggara dimana pasangan no urut 1 menang telak di dapil 4 yakni kota bau ba, kabupaten buton, buton tengah, buton selatan dan wakatobi mencapai 60 ,54 persen,”kata Naslim Sarlinto, Ketua The Haluoleo Institute.
Namun dengan perhutungan semenetara ini, para calon diminta untuk tidak berpuas diri dulu karena bukanlah hasil tetap, dimana hasil resmi akan di lakukan oleh pihak KPUD provinsi Sultra nantinnya.SK

Korban Banjir Antusias Mencoblos di Pilgub Sultra

Suarakendari.com-Demi memberikan hak suaranya di pemilihan calon Gubernur Sultra warga korban banjir di Kota Kendari , Rabu pagi 27 juni 2018,antusias melakukan pencoblosan di tenda darurat yang berada di tengah tenda pengungsian. Warga pun banyak hanya menggunakan KTP dalam memilih dikarenakan surat panggilan hilang akibat banjir.

Dengan menggunakaan perahu karet,warga korban banjir yang berada di kawasan kali wanggu kelurahan lepo lepo, Kota Kendari, demi melakukan pencoblosan, wwarga terlihat antusias memberikan hak suara mereka di TPS 8 sebuah tenda darurat yang didirikan persis ditengah kawasan tenda pengungsian.

Warga korban banjir menyalurkan suara hanya dengan memperlihatkan KTP karena kartu surat panggilan yang mereka terima hilang akibat banjir dan diperbolehkan oleh pihak penyelenggara pilkada.

“Saya hanya memperlihatkan KTP suarat suara hilang karena banjir,”kata Arham, warga korban banjir.

Setelah melakukan pencoblosan mereka kembali kentenda untuk melakukan aktifitas , dimana air masih belum surut dan puluhan rumah warga masih terendam banjir , merekapun masih bertahan di pengungsian.

Jumlah wajib pilih yang berada di tps 8 ini merupakan korban banjir mencapai 363 wajib pilih, selain itu juga beberapa personil kepolisian terlihat membantu warga dan melakukan pengamanan penyelenggaraan pilkada ini. SK

Istri Asrun Sayangkan Sikap KPK

Suarakendari.com- Sriyatin ,isteri calon kepala daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, nomor urut dua Asrun yang kini jadi tersangka kasus korupsi oleh Komisi Pemerantasan Korupsi (KPK) menyayangkan sikap komisi anti rasuah yang tidak memberikan hak suara bagi suaminya untuk memilih di pemilihan kepala daerah langsung. Hal ini diungkapkan sriyatin usai mencoblos di tps 9 kelurahan lahundape / kecamatan kendari , Sulawesi Tenggara, Rabu pagi (27 juli 2018).

Menurut sri yatin seharusnya KPK dapat memberikan kesempatan pada suaminya, untuk menyalurkan hak suara nya sebagai warga negara, walau berstatus tersangka.

Meski begitu Sriyatin tetap menghormati keputusan KPK tersebut yang dinilai memiliki pertimbangan tersendiri, serta optimis pasangan asrun huga dapat terpilih di pilkada serentak.

“Harusnya beliau diberi kesempatan memilih, karena be;iau pasti sangat ingin menyalurkan hak pilihnya. Tapi kami optimis masih bisa memenangkan pilkada ,”kata Sriyatin.

Dalam tabel daftar pemilih tetap, Cakada Asrun mendapat kartu pemilih dari petugas pemilihan suara di TPS 9, Kelurahan Lahundape dan berada dalam daftar urut DPT 229.

Juswan, Ketua PPS setempat membenarkan jika Asrun mendapat surat suara di TPS 9. “Pak Asrun memilih di tps 9 ini, karena telah mendapat kertas suara sesuai domisili beliau, tapi saya tidak tau apakah beliau akan datang memilih atau tidak,”katanya.

Sesuai data di tps sembilan sendiri terdapat 493 wajib pilih yang menyalurkan hak suaranya di pilkada serentak tahun ini.

Pada plikada serentak di sulawesi tenggara diikuti tiga pasang calon masing-masing, nomor urut satu pasangan Ali Mazi-Lukman Abunawas, pasangan calon urut dua ditempat pasangan Asrun-Hugua dan pasangan urut tiga masing-masing Rusda Mahmud- Syafei Kahar. Semnetara untuk jumlah pemilih sesuai dpt di sulawesi tenggara terdapat 1.628.320 suara. SK