Merajut Asa di Lereng Gunung Meluhu

0
Prev1 of 4
Use your ← → (arrow) keys to browse

Paletei (58), berjalan gontai diantara pematang sawah. Panas terik yang menghujam bumi  tak dipedulikan. Dengan pasti, jejak langkahnya terhenti di depan sebuah pondok. Sejenak Ia mengisap tembako dijemarinya. Sambil menghela nafas panjang, ia memandang jauh ke seluruh areal persawahan sebelum akhirnya menatap rumah panggung berukuran 2 kali 4 meter. Pondok beratap rumbia yang hanya dibalut setengah dinding papan.  “Ini rumah sawah saya,” celetuk Palatei.

Dari dalam pondok, seorang wanita berkerudung menyambutnya dengan senyum khas. Wanita itu bernama Tebu (57), istri Palatei. Sudah hampir sepekan ini keduanya sibuk dan kerap menghabiskan waktu dipondok itu memilah bibit padi yang akan segera ditanam. Maklum, musim tanam padi akan segera tiba. Setiap harinya, Palatei bersama istri selalu berada di sawah, mulai pukul 08.00 Wita hingga 16.00 Wita.

Palatei adalah petani yang sudah cukup lama mengolah padi sawah di lereng gunung Meluhu. Sejak 1973, ia bersama istri sudah menggarap sawah di tempat itu. Lahan seluas 2,20 hektare, telah membuatnya mendapatkan segalanya. Setidaknya, Palatei bisa membuktikan diri sebagai tulang punggung keluarga. Selain istri, dari hasil produksi sawahnya, ia juga bisa membiayai kebutuhan lima orang anaknya.

“Setiap tahunnya, produksi sawah saya cukup lumayan. Selain bisa dijual, sisanya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Palatei.

Palatei hanyalah satu dari sekian petani padi sawah yang merajut asa di lereng gunung Meluhu. Areal perwasahan di lereng itu berada di Desa Lamelay, Kecamatan Meluhu. Daerah ini dikenal sebagai salah basis penghasil beras di Kabupaten Konawe. Secara geografis, daerah itu  berada di sudut Kota Unaaha dengan jarak tempuh kurang lebih 40 kilometer dari pusat kota. Untuk menjangkau lokasi itu, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam dengan jarak tempuh sekitar 7 kilometer dari batas Desa Anggotoa, Kecamatan Wawotobi.

Saat menyusuri jalan menggunakan sepeda motor menuju kawasan itu, udara segar dan hawa sejuk langsung terasa. Pandangan mata akan dimanjakan dengan seonggok hutan dan sederet pepohonan besar di sepanjang ruas jalan yang mengelilingi gunung. Perpaduan itu melukiskan, betapa suburnya daerah itu. Namun, jangan salah, dibalik ‘keindahan’ itu, ada secuil kekhawatiran akan asa petani di lereng gunung Meluhu.

Prev1 of 4
Use your ← → (arrow) keys to browse

Leave A Reply

Your email address will not be published.