MENGAIS UNTUNG ATAP SAGU

Bagi masyarakat etnis tolaki tradisi pembuatan atap dari daun sagu boleh ibilang  merupakan warisan nenek moyang mereka demi melindungi diri dari terpaan hujan dan sinar matahari. Kendati arus modernisasi telah bergulir cepat, namun penggunaan atap tradisional ini tetap digunakan masyarakat.

Mudin, salah satu orang yang masih bertahan dengan bahan lama ini. Pria uzur yang berdomisili di Desa Ambesea Kabupaten Konawe Selatan  ini menghabiskan waktunya dengan membuat atap rumah. Keseluruhan bahan atap terbuat dari daun sagu yang dianyam secara apik. Bahan-bahan cukup mudah diperoleh sekitar rumahnya.

Bagi Mudin, pembuatan atap sagu cukup mudah. Pertama dengan mengumpulkan lembaran-lembaran  daun sagu yang telah lebih dulu dipisahkan dari tangkainya. lembaran daun pilihan haruslah daun tua. Panjang helai harus mencapai satu meter setengah agar daun dapat dilipat dua. Diantara  lipatan daun tersebut diselip bambu yang telah diraut dan kemudian dianyam dengan tali yang terbuat dari rotan.

Sebuah atap membutuhkan sedikitnya 20 lembar daun sagu yang disusun sejajar.  Nah, atap yang telah jadi kemudian dijemur hingga daun  berubah warna dari hijau menjadi coklat

Mudin mengaku menggeluti profesi pembuat atap sejak tiga puluh tahun silam, dari membuat atap ia bisa menghidupi keluarganya. Perlembar atap dijual mudin sebesar 1500 rupiah. ”Lumayan banyak yang memesan,”kata Mudin.

Sehari Mudin yang dibantu dua anaknya bisa menyelesaikan seratus atap  sagu.

Pembelinya, selain berasal dari desa juga mendapat pesanan dari desa-desa lain di Konawe Selatan.

Di desa ini, tak hanya Mudin yang membuat atap, melainkan sejumah warga lain juga berbisnis yang sama. ”Selain sya, ada beberapa warga di desa yang juga membuat atap,”katanya.

Sayangnya seiring waktu, tradisi membuat atap ini kian memudar. Selain Mudin dan rekan-rekannya di desa, tak banyak lagi  orang bisa membuat atap daun sagu. Ini disebabkan penggunaan atap seng lebih diminati warga ketimbang daun sagu yang dianggap tidak memiliki daya tahan yang lama. YY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.