Mencegah Kerusakan Permanen Perairan Teluk Kolono

0

SUARAKENDARI.COM-Kerusakan permanen disepanjang perairan laut Teluk Kolono kini kian nyata. Penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan, seperti potassium, pembiusan hingga penggunaan bom ikan diduga menjadi pemicu kerusakan pada habitat laut daerah ini.  Dimana sepanjang bentang laut kondisi terumbu karang laut kolono dalam fase yang kritis dan butuh tindakan nyata penyelamatan semua pihak.

Ini tak lepas dari keberadaan Teluk Kolono yang merupakan salah satu teluk yang berada di Kabupaten Konawe Selatan sebagai ruang hidup ribuan warga pesisir. Teluk dengan panjang garis pantai± 54 Km² yang pemanfaatannya sebagai tempat mencari ikan bagi nelayan setempat dan Budidaya Perairan memenuhi kebutuhan hidup masyarakat sehari-harinya.

Berbagai alat tangkap yang mereka gunakan dalam mencari ikan diantaranya, pancing, sero, pukat, panja dan bagang. Akan tetapi masih ada sebagian masyarakat yang berada di teluk Kolono yang menggunakan alat tangkap yang merusak seperti penggunaan bom, aktifitas ini dapat menyebabkan kerusakan ekosistem terumbu karang yang merupakan tempat habitat berbagai ikan karang maupun biota lainnya serta dapat juga menyebabkan penangkapan berlebih atau overfishing kegiatan ini bila terus dilakukan tanpa ada upaya-upaya untuk mencegah, baik dari masyarakat setempat maupun dari pemerintah setempat maka akan dapat menurunkan kemampuan regenerasi mereka dalam mengelola sumberdaya perikanan yang berada pada perairan Teluk Kolono.

Berdasarkan data penelitian dari tim minapolitan Konawe Selatan tahun 2011, terumbu karang yang ada di Teluk Kolono telah mengalami kerusakan dengan persentase kerusakan 15-45% . Hasil pengukuran langsung pada awal tahun 2013 tutupan terumbu karang hidup tinggal 30 %. “Bila hal ini terus dibiarkan maka diperkirakan ekosistem terumbu karang yang berada di wilayah Teluk Kolono akan mengalami kerusakan secara permanen,”kata Musriadi dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Konawe Selatan.

Menurutnya, pemerintah Kabupaten Konawe Selatan, tentu dengan dukungan masyarakat tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Sebab jika hal tersebut menjadi kenyataan akan menjadi bencana bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil itu sendiri. Terumbu karang berfungsi sebagai tempat bertelur, beranak/memijah dan membesarkan berbagai jenis ikan/kepiting/gurita, sumber kesuburan perairan, pemecah ombak sehingga mencegah pengikisan/abrasi pulau kecil serta sebagai penyuplai oksigen bagi kehidupan laut dan kerusakannya juga berdampak terhadap perubahan iklim. Dengan demikian bila fungsi terumbu karang itu menjadi hilang maka akan terjadi penurunan stock populasi ikan yang akan berdampak pada kehidupan nelayan, terjadinya pengikisan/degradasi daratan pulau dan berkontribusi terhadap peningkatan suhu bumi.
Seperti diketahui Kabupaten Konawe Selatan merupakan daerah kepulauan yang memiliki 26 buah pulau dimana 6 buah berpenghuni, 20 buah tidak berpenghuni dengan luas Luas wilayah Kabupaten Konawe Selatan adalah 451.421 Ha atau 11.83% dari luas wilayah daratan Sulawesi Tenggara sedangkan luas wilayah perairan (laut) ± 9.268 km² serta panjang garis pantai 399,76 km²,. Potensi tangkap perairan laut 170.000/pertahun, potensi pengembangan budidaya laut seluas 722.820 ha dan potensi kolam seluas 225.106 ha, serta potensi areal pengembangan budidaya tambak khususnya untuk pemeliharaan udang windu dan ikan bandeng seluas 221.921 ha.

Secara administrasi Kabupaten Konawe Selatan terbagi dalam 22 kecamatan serta 336 desa dan 15 kelurahan dimana 105 desa pesisir, yang dihuni oleh sekitar ± 38 % dari total jumlah penduduk Kab. Konawe Selatan. Berdasarkan kondisi tersebut, terlihat bahwa masyarakat Kabupaten Konawe Selatan memiliki ketergantungan terhadap sumberdaya pesisir dan laut. Namun dengan segudang potensi yang dimiliki tersebut, juga terdapat kekhawatiran yang mengiringi.

Kata Musriadi, Dinas Kelautan dan Perikanan telah terus beupaya melakukan pembinaan pada warga pesisir kolono, sebagai wujud kepedulian pemerintah. Saat ini pemerintah tengah konsen pada pembangunan lingkungan, khususnya ekosistem laut, meski  memang  kegiatan yang secara umum tersebut cukup sulit diukur dan menilainya membutuhkan waktu yang sangat lama. “Sebagai contoh pemulihan ekosistem terumbu karang membutuhkan waktu setidaknya 20 tahun, untuk kembali seperti semula. Namun apabila kerusakan itu terus kita tambah maka akan mengarah pada kerusakan permanen dan suatu saat nanti laut kita akan menjadi seperti gurun pasir yang hampir tidak ada kehidupan yang kita bisa temui disana,”ungkapnya.

Ya, perairan Teluk Kolono adalah segudang potensi yang harus kita jaga dan lestarikan. Hal ini kita jadikan sebagai sebuah kebanggaan, karena Teluk Kolono memiliki hamparan, terumbu karang, ikan yang beraneka ragam dan hutan mangrove yang sangat indah dan hanya sedikit tempat di dunia ini yang dikaruniai oleh Allah SWT seperti itu. SK

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.