Kerasnya Hidup Para Pemburu Guano

0

SUARAKENDARI.COM – Kemarau panjang melanda bumi Soropia membuat tanah jadi kering kerontang. Kondisi yang tak disukai petani, karena, memaksa mereka lebih banyak berdiam diri di rumah. Sebagian petani  tak lagi bisa tanah menggarap tanah, banyak tanaman tak lagi bisa diselamatkan, dibiarkan mengering dan mati. Meski begitu, tak semua warga resah dengan kemarau tahun ini.  Warga di Desa Sawapudo, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, misalnya, menyambut musim panas dengan raut gembira. Bagi mereka, musim panas adalah waktu mendulang rupiah.

Mereka adalah  warga yang selama belasan tahun bekerja sebagai pengumpul kotoran kelelawar yang mereka sebut guano.  Guano sendiri adalah nama atau istilah yang digunakan warga setempat yang berarti kotoran kelelawar gua yang diduga telah menumpuk antara puluhan hingga ratusan tahun. Guano dianggap lebih tinggi unsur fosfatnya dibanding pupuk lainnya. Dan konon sangat cocok untuk pembentukan buah.

Tingginya permintaan petani buah terhadap guano untuk dijadikan pupuk menggiur semangat sejumlah warga berburu guano di dasar gua.  Apalagi goa tempat guano  tidak jauh dari pemukiman mereka. Dengan peralatan sederhana seperti lampu petromaks, senter dan headlamp, para penambang ini memulai aktivitas menelusuri ceruk goa, tanpa mempertimbangkan prosedur keamanan dan keselamatan mereka.

Adalah Ridwan (40 tahun) bersama dua rekannya, Samrin dan Edi  yang selama ini menggarap guano. Bagi ketiganya,  masuk ke dalam memang tak mudah, sebab harus merayap, menyusuri dinding batu yang tajam,  lembab hingga membuat lantai tanah tempat berpijak menjadi licin. Belum lagi mulut gua cukup kecil, hanya untuk satu orang. Makin ke dalam goa, pasokan udara kian tipis.

Untuk memasuki goa, para penambang telah menyediakan sebuah tangga seadanya yang terbuat dari dolken atau anakan kayu dengan ketinggian sekitar empat meter, persis didepan mulut goa. Alat penerang yang telah disediakan seperti petromaks dan headlamp cukup membantu menerangi perjalanan didalam goa yang semakin kedalam semakin sempit dan gelap. Para penambang ini beberapa kali harus merayap diantara celah sempit dinding dan lantai goa yang lembab.

Perjalanan yang terbilang berbahaya ini mereka lakukan tanpa peralatan memadai sedikitpun seperti yang umumnya kerap digunakan para peneliti maupun penelusur goa profesional. Tanpa berbekal peta goa, para penambang tradisional ini dengan mudah menemukan lokasi penambangan guano yang terletak sekitar seratus meter dari mulut goa. Saat tiba di dasar, ribuan kelelawar berkelantungan di dinding dan stalaktit.

Berbekal pacul dan karung, para penambang dengan mudah mengerus dan mengumpulkan tumpukan kotoran kelelawar yang telah menyatu dengan lantai goa selama puluhan bahkan ratusan tahun. Kesulitan utama tentu saja adalah perjalanan pulang melewati setiap celah goa dengan memanggul sekarung guano.

Dalam sehari para penambang yang masih bertalian keluarga ini mampu mengumpulkan hingga 30 karung perhari. Setiap karung guano dihargai oleh pengumpul dengan nilai tiga ribu rupiah. Sementara pengumpul biasanya melepasnya kepada petani dengan harga lima belas ribu rupiah. Setiap karung guano memiliki berat antara 25 sampai 30 kilogram.

Entah bagaimana mulanya, para penambang ini pun mengetahui jika kotoran kelelawar dalam goa mengandung fosfat yang tinggi sehingga sangat baik untuk digunakan sebagai pupuk tanaman khususnya sayur dan buah-buahan dengan kualitas tinggi. “Untuk pasarnya kita baru rencana khusus untuk daerah Konawe Selatan. Dulu pernah datang permintaan dari luar daerah seperti Surabaya bahkan Jepang,”kata Ridwan.

Seingat Ridwan, pemerintah lagi menggalakkan penggunaan pupuk organic karena dinilai lebih sehat. “Jadi guano saya kira salah satu pupuk organic yang paling pas,”ujarnya. Fosfat atau guano, pupuk dari kotoran kelelawar dengan kualitas tinggi ini, kini menjadi buruan para penambang dan incaran petani. Didasar gua sekalipun. SK/BK

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.