Kegiatan Bursa Inovasi Desa di Konsel Tak Sesuai Harapan

0

Suarakendari.com-Pelaksanaan kegiatan Bursa Inovasi Desa tak sesuai yang diharapkan seperti tujuannya sebagai forum penyebaran dan pertukaran inisiatif atau inovasi masyarakat. Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Konawe Selatan ini digelar terkesan asal-asalan dan tidak profesional. “Terlihat jika kegiatan ini dilaksanakan secara tidak profesional alias asal jadi,”kata Iman, anggota tim Ruruhi Project selaku salah satu komunitas konsultan desa yang diundang di kegiatan tersebut.

Tidak profesionalnya panitia penyelenggara bursa inovasi desa terlihat dari kondisi persiapan di arena kegiatan bursa, panitia hanya menyediakan tenda besi sebanyak tiga lokal yang disulap sebagai bilik yang hanya dibatasi dengan tirai kain, sehingga suara antara bilik benar-benar berisik. Sebagian bilik tidak dilengkapi dengan alat pengeras suara, sehingga membuat forum konsultasi antara pelaku desa dan konsultan tidak berjalan baik.

Kegiatan konsultasi juga terkesan amburadul, sebab, para peserta inovasi desa tidak tertib dan terkesan ada pembiaran dari panitia. “Kegiatan benar-benar tidak tertib, peserta inovasi dibiarkan berkeliaran dan sebagian tidak tidak ambil peduli untuk melakukan konsultasi secara teratur,”ungkap Iman.

Dari sisi konten kegiatan juga dianggap tidak berjalan sesuai yang harapkan. Sebagaimana termaktub dalam maksud pelaksanaan Bursa Inovasi Desa yaitu untuk menjembatani kebutuhan pemerintah desa akan solusi bagi penyelesaian masalah, serta inisiatif atau altenatif kegiatan pembangunan desa dalam rangka penggunaan dana desa yang lebih efektif dan dan inovatif. “Sangat disayangkan, peserta bursa hanya datang mencatat menu yang dberikan tanpa berkonsultasi secara mendalam terkait potensi-potensi yang ada di desa mereka,”kata Iman.

Kegiatan-kegiatan yang akan dipamerkan dalam Bursa Inovasi Desa juga ikut disorot, yakni yang seharusnya berupa kegiatan-kegiatan yang bernilai inovatif dalam pembangunan desa. “Kita berharap ada ide-ide kreatif yang lahir dan berkembang di desa-desa dan bisa saling berbagi informasi. Tapi itu tidak muncul,”keluh Indah dari Komunitas Teras.

Kegiatan Bursa Inovasi Desa juga terkesan miskin ide, para konsultan seolah hadir hanya sebagai penjual produk. “Awalnya kita ingin ada konsultasi yang lebih mendalam dan tugas kami membantu pelaku desa untuk mengidentifikasi potensi desa mereka dan memberikan solusi pengelolaan desa,”ujarnya.

Kegiatan Bursa Inovasi Desa di Kabupaten Konawe Selatan berlangsung tiga hari (20-22 September 2018) merupakan kegiatan yang sudah berlangsung dua tahun dan menghadirkan kurang lebih 350 desa di konawe selatan.

Tujuan dari Bursa Inovasi Desa, antara lain sebagai berikut:

Mendiseminasikan informasi pokok terkait Program Inovasi Desa (PID) secara umum, serta Program Pengelolaan Pengetahuan dan Inovasi Desa secara khusus.
Menginformasikan secara singkat pelaku-pelaku program di tingkat Kabupaten, Kecamatan dan Desa.
Memperkenalkan inisiatif atau inovasi masyarakat yang berkembang di desa-desa dalam menyelesaikan masalah dan menjalankan kegiatan pembangunan.
Membagi kegiatan inovasi yang telah di dokumentasikan dalam bentuk video maupun tulisan.
Membangun komitmen replikasi.
Menjaring inovasi yang belum terdokumentasi.
Membagi informasi Penyedia Jasa Layanan Teknis (PJLT).
Untuk diketahui bahwa Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Desa memiliki dua kewenangan khusus, yaitu kewenangan berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal skala Desa. Untuk mendukung desa dalam pelaksanaan kedua kewenangan tersebut, Pemerintah telah mengucurkan Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) sejak tahun 2015. Dengan adanya kuncuran dana ke desa-desa, diharapkan desa berkemampuan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya secara efektif, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa.

Namun, disadari bahwa kapasitas Desa dalam menyelenggarakan pembangunan dalam perspektif “Desa Membangun”, masih terbatas. Keterbatasan itu tampak dalam kapasitas aparat Pemerintah Desa dan masyarakat, kualitas tata kelola Desa, maupun sistem pendukung yang mewujud melalui regulasi dan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan Desa.

Sebagai dampaknya, kualitas perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pemanfaatan kegiatan pembangunan Desa kurang optimal dan kurang memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa.

Pembangunan desa lebih terfokus pada kegiatan infrastruktur seperti pembuatan rabat beton, pembangunan gedung, dll. Sedangkan, kegiatan-kegiatan yang bersifat pemberdayaan masyarakat porsinya dalam APBDes (Anggaran Pendapatan Belanja Desa) masih sangat minim.

Oleh karena itu, Program Inovasi Desa (PID) dimunculkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui peningkatan kapasitas desa dalam mengembangkan rencana dan pelaksanaan pembangunan desa secara berkualitas. SK

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.