Jerit Hati Penderita HIV-AIDS di Sultra

0

SUARAKENDARI.COM-Budi bukanlah nama sebenarnya. Nama ini sengaja Kami samarkan atas permintaan dan demi menghormati privasi korban. Dalam wawancara khusus dengan pria yang masih duduk di bangku salah satu perguruan di Sultra ini, diketahui jika korban HIV AIDS benar-benar perubahan besar dalam kehidupannya. Meski begitu, Ia masih  memiliki semangat hidup dan beraktifitas seperti biasa. Berikut Wawancaranya dengan wartawan Suara Kendari:

[highlight]SK:  Sejak Kapan Anda menderita HIV ?[/highlight]

Budi: Sejak tahun 2013 lalu

[highlight]SK: Bagaimana awalnya Anda tahu  mengidap HIV-AIDS[/highlight]

Budi: Ceritanya,  tanpa sengaja berobat di salah satu Rumah Sakit  di Kota Kendari. Saat itu saya mengalami demam dan flu yang berkepanjangan. Pihak rumah sakit lalu mengambil sampel darah saya dan  petugas medis memberitahukan saya positif terjangkit HIV AIDS.  Waktu itu saya tidak yakin dengan hasil pemeriksaan medis dan saya kembali mencoba memeriksakan diri ke rumah sakit dan lagi-lagi hasil medik menunjukkan saya positif HIV-AIDS.

[highlight]SK: Bagaimana reaksi Anda ketika pertama kali mendengar terjangkit HIV -AIDS?[/highlight]

Budi: Mendengar hasil pemeriksaan medis saya benar-benar syok.  Vonis itu benar-benar membuat hati saya hancur . Dalam keputusasaan itu Saya sempat berpikir mengambil jalan pintas mengakhiri hidup.

[highlight]SK: Lantas bagaimana Anda bisa tegas bertahan hidup?   [/highlight]

Budi:  Ada beberapa teman  memberikan bimbingan, dorongan dan masukan dari sahabat untuk tetap memberikan kekuatan bertahan hidup, lantas dari mereka pula saya mendapat arahan untuk memilih bergabung dengan komunitas penderita HIV-AIDS di Kendari di bawah binaan LAHA Sultra.

[highlight]SK: Bagimana dengan keluarga? Apakah mereka sudah mengetahui tentang penyakit yang Anda derita? [/highlight]

Budi: Hingga kini mereka belum  tahu, karena saya belum mau memberitahu keluarga di kampung halaman. Terus terang sampai sekarang, keluarga tidak tahu kalau saya terjangkit virus HIV-AIDS. Saya tidak berani memberitahu mereka.

[highlight]SK: Bagaimana pendapat Anda tentang persepsi masyarakat tentang penyakit HIV AIDS di Sultra?[/highlight]

Budi: Saya benar-benar prihatin dengan kurangnya kepedulian pemerintah serta prespsi masyarakat terhadap penyakit ini. Mereka masih banyak mengucilkan para penderita seperti kami ini.

[highlight]SK: Apa saran Anda buat pemerintah tentang upaya mengatasi penyakit HIV-AIDS di Sultra?[/highlight]

Budi: Saya berharap ada solusi dan upaya penyuluhan yang terus menerus atas masalah HIV-AIDS, terutama sosialisasi di Tempat Hiburan Malam (THM), karena di lokasi inilah sangat rentan terjadi penyebaran virus ini. Jadi bukan hanya karyawan THM saja yang diberikan penyuluhan, tetapi juga para pengunjung. Selain itu, kampanye Nasional, seminar dan lokakarya, dapat digunakan sebagai alat untuk menyampaikan kepada masyarakat secara luas tentang apa sebenarnya virus HIV ini, dan pelatihan penanggulangan para penderita HIV-AIDS, juga harus diberikan kepada para tenaga medis khususnya para perawat. Pasalnya, dari beberapa contoh kasus yang ditemukannya, ODHA sering juga mendapat perlakuan yang tidak manusiawi dari beberapa perawat sehingga hal itu pula yang menjadikan pasien menjadi ‘Droup’.

[highlight]SK: Apa saran Anda buat generasi muda? [/highlight]

Jika saya punya keberanian yang lebih, saya akan mengatakan secara terang-terangan kepada generasi muda, khususnya para pelajar untuk menghindari perilaku seks bebas. Karena, hal seperti itu sangat memungkinkan kita terjangkit virus tersebut. Selain itu, jauhi Narkoba dan hindari pemakaian jarum suntik secara bergantian. ***

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.