Ini Kronologis Pembunuhan Aktifis Lingkungan di Lumajang

0

Suarakendari.com- Aksi pembunuhan terhadap aktifis lingkungan membawa keprihatinan banyak pihak . Sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM), seperti Walhi, Jatam  dengan lantang  mendesak  kepolisian segera  mengusut kasus yang dinilai melanggar  hukum dan prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia tersebut.

Dalam rilis yang dikirim ke sejumlah media sosial, diketahui  kronologis kejadian pembunuhan bermula, pada 26 September pagi, telah terjadi penganiayaan dan pembunuhan terhadap petani penolak tambang di Desa, Selok Awar-Awar, Lumajang, Jawa Timur.

Korban yang mati terbunuh, yakni, Salim Kancil. Dia dijemput oleh sejumlah preman yang disinyalir suruhan kepala desa dari rumahnya dan dibawa ke Kantor Desa Selok Awar-Awar. Dia dianiaya secara beramai-ramai dengan kedua tangan terikat. Mereka kemudian membantainya dengan cara kepala dicangkul, dipukul dengan batu dan benda keras lainnya. Setelah meninggal, mayatnya dibuang di tepi jalan dekat areal perkebunan warga.

Berikutnya, korban penganiayaan Bapak Tosan, saat ini mengalami luka parah dan dalam kondisi kritis di rumah sakit di Malang. Dia juga dijemput paksa di rumahnya, Bapak Tosan melawan dan dihajar beramai-ramai di dekat rumahnya dan beliau sempat melakukan perlawanan. Dia diselamatkan warga lain dan segera dibawa ke rumah sakit.

Sudah sejak lama warga petani di desa ini diintimidasi oleh Kepala desa dan kroninya bila melawan aktivitas pertambangan pasir yang dijalankan oleh sang kepala desa. Kedua korban termasuk petani dari sekian banyak petani lainnya yang kukuh bertahan melakukan penolakan secara terbuka. Fakta ini menunjukkan betapa petani telah dirampas ruang produksinya sekaligus dicabut nyawanya secara paksa.

Atas kejadian itu  JATAM menyampaikan duka yang mendalam sekaligus rasa keprihatinan atas terjadinya peristiwa ini. “Bagi kami, peristiwa ini menambah deret panjang kejatahan tambang di Indonesia. Petani menjadi salahsatu aktor yang kerap menjadi korban,”tulis JATAM. Oleh karena itu, JATAM mengutuk keras peristiwa ini dan meminta kepolisian dan pihak terkait lainnya segera usut secara tuntas pelaku pembunuhan dan penganiayaan sampai ke aktor intelektualnya. Meminta menghentikan pertambangan pasir di Lumajang dan hentikan perampasan lahan pertanian menjadi lahan pertambangan.  Meminta pemerintah untuk melindungi hak bersuara dan hak produksi petani di kampung-kampung dari intimidasi, penganiayaan, pembunuhan hingga perampasan lahan.

“Kami juga mengharapkan agar publik luas turut mengawal kasus ini agar tidak menjadi preseden yang menjalar ke tempat-tempat lain di mana petani melakukan penolakan tambang,” tulisnya. SK/rilis JATAM

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.