Ini Daerah di Sultra yang Warganya Paling Banyak Menderita Diabetes

Suarakendari.com- Abad ini Penyakit diabetes menjadi momok menakutkan mengingat angka penderita diabetes yang cukup fantastis. Sample Registration Survey 2014 menyatakan diabetes menjadi pembunuh nomor tiga di Indonesia. Sedangkan Data International Diabates Federation (IDF) menunjukkan, jumlah penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan sebesar 10 juta dan menempati urutan ketujuh tertinggi di dunia.

Lantas bagaimana dengan Sulawesi Tenggara? Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI melalui Direktur Pemcegahan dan Pengendalian Masalah kesehatan jiwa dan Nafza, dr Fidiansjah, merilis data penyakit tidak menular tahun 2018 menunjukkan Sulawesi Tenggara menjadi salah satu daerah yang warganya banyak mengidap diabetes. Dari data yang dirilis diketahui jumlah penderita diabetes di Sulawesi Tenggara mencapai 6.309 jiwa.

Dan menariknya, ada lima daerah yang warganya paling banyak mengidap masing-masing Kabupaten Buton Tengah berada diurutan pertama, disusul Muna, Muna Barat, Konawe Kepulauan, Buton Utara dan Baubau. SK

RSUD Kendari Butuh Tambahan Dokter dan Perawat

Suara Kendari- Pembangunan  gedung baru dan penambahan fasilitas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Kendari sejatinya harus dibarengi dengan penambahan tenaga medis seiring dengan peningkatan jumlah pasien. Kebutuhan penambahan jumlah tenaga  medis seperti dokter di instalasi gawat darurat RSUD Kota Kendari dipandang hal yang harus segera diadakan.

Direktur RSUD Kota Kendari, dr.Asridah Mukkadim mengatakan saat ini manajemen RSUD membutuhkan dokter di IGD dengan kualifikasi pegawai negeri sipil (PNS).  “Untuk dokter spesialis saya rasa cukup, tetapi Kami butuh tambahan dokter untuk di IGD karena memang masih kekurangan. Jadi mungkin sudah saatnya untuk merekrut dokter IGD,” kata Asridah Mukkadim.

Selain tenaga dokter, RSUD Kota Kendari juga masih kekurangan tenaga perawat untuk membantu kelancaran pelayanan medis. Beberapa perawat di RSUD saat ini didominasi tenaga perawat yang masih berstatus honorer. Ironisnya, kondisi kesejahteraan tenaga perawat masih jauh dari harapan, upah atau insentif yang diterima tidak sebanding dengan beban kerja perawat hononer. “Iya kondisi kesejahteraan perawat kita masih jauh dari kata sejahtera. Perawat juga butuh makan, kami juga tidak enak hati menyuruh mereka dengan berbagai tugas sementara imbalan yang diperoleh jauh dari kata layak,” ungkap Asridah. SK

RSUD Kendari Punya Lima Gedung Baru

SUARA KENDARI-Rumah Sakit umum Daerah (RSUD) Kendari menambah lima gedung baru dengan standar kualitas  cukup baik. Pembangunan lima gedung ini menelan anggaran Rp 14,8 milyar dan telah diresmikan Wali Kota kendari DR.Ir.H.Asrun, M.Eng. Anggaran pembangunan gedung baru RSUD Kendari sendiri bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) Kota Kendari 2016.

Selain sarana gedung baru, Pemkot Kendari juga menyediakan fasilitas tempat tidur sebanyak 154 buah yang didistribusikan ke Kelas III sebanyak 97, kelas II sebanyak 24, kelas I sebanyak 17 buah dan VIP 16 buah.

“Komitmen yang kuat  dari semua pihak dalam mendukung terselenggaranya pelayanan kesehatan lebih baik sehingga pembangunan dapat terwujud dalam waktu singkat. Setelah diresmikan, sarana kesehatan ini langsung dimanfaatkan pihak pengelola rumah sakit,”kata Asrun.

Direktur RSUD Kota Kendari dr. Asrida mengungkapkan, pembangunan lima sarana baru ini merupakan upaya mengantisipasi meningkatnya jumlah pasien dari tahun ke tahun. Peningkatan dapat dilihat dari grafik kenaikan jumlah pasien dari tahun ke tahun. Pada tahun 2012 misalnya, jumlah pasien RSUD Kendari  hanya 7.091 orang dan pada 2016 mencapai 11.018 pasien. SK

Wali Kota Resmikan Puskesmas Perumnas Kadia

SUARAKENDARI.COM-Wali kota Kendari, DR. Ir.H. Asrun, M.Eng, meresmikan penggunaan Puskesmas Perumnas Kadia, Senin (8/5) pagi. Puskesman ini dilengkapi dengan fasilitas kesehatan yang cukup lengkap sehingga diharapkan dapat memberikan pelayanan prima bagi masyarakat sekitar. Saat peresmian, Wali Kota didampingi Wakil Wali Kota Kendari, Musadar Mappasomba.

“Pembangunan Infrastruktur sudah banyak yang dilakukan di Kota yang kita cintai ini, namun tak lengkap jika belum didukung dengan fasilitas kesehatan, apalagi hampir semua puskesmas di Kota Kendari sudah terakreditasi, Selamat atas peresmian Puskesmas Perumnas Kadia,”kata Asrun. SK

Dukun Pilihan Si Miskin

ilustrasi

SUARAKENDARI.COM-Wanita tua itu mencoba berkosentrasi penuh. Matanya terpejam. Mulutnya terus komat-kamit. Ia seperti meniup-niup sesuatu di piring berisi air putih. Tiupan itu berisi doa-doa yang diyakini mujarab. Air putih yang telah diberi ‘mantera’ itu lalu diberikan pada pasien untuk diminum. “Air ini telah diberi doa-doa agar pasien ini sembuh,”katanya. Ya, Dialah Wemana (60 tahun) dukun kampung tersohor di Desa Puuloro, Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe.

Tak cukup dengan memberi air putih berisi mantera. Wemana juga memberi tambahan pemijatan gratis pada pasien. Bermodal minyak tawon, perempuan beranak lima itu memijat-mijat bagian tubuh pasien yang terasa sakit. “Biasanya pasien patah tulang banyak yang datang,”katanya.

Hari itu Wemana memang tengah sibuk melayani para pasien di rumahnya. Ia melayani pasien di ruang tamu berukuran sedang. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak korban patah tulang dan sebagian lagi ibu hamil untuk memeriksa kondisi mereka.

Selain membuka praktik di rumahnya, Wemana juga biasa mendapat job panggilan ke rumah-rumah warga. Perlakuan khusus  ini hanya diberikan pada pasien hamil. “Umumnya mereka tidak lagi bisa berjalan jauh. Maka  saya harus mendatangi mereka,”kata Wemana. Namun, seiring waktu, tenaga yang mulai berkurang serta  umur Wemana yang mulai uzur terkadang, Ia  tidak lagi mampu melayani seluruh permintaan pasien. “Saya juga kadang sedih tidak bisa melayani semua permintaan,’katanya.

Saat menjalankan profesi, Wemana mengaku tidak membebani pasien dengan uang. Namun ada  saja pasien yang merasa iba padanya.“Terkadang ada yang berbaik hati memberi  makanan dan sedikit uang,”katanya.

Profesi dukun baginya bukanlah hal baru. Sudah hampir tiga puluh tahun Ia menjalani profesi sebagai dukun di desanya. Pasiennya beragam dari anak-anak hingga lanjut usia. Dulu ibu Wemana juga seorang dukun. Saat ibunya meninggal, Wemana pun melanjutkan tradisi dukun kampung. Ia semakin tergerak di saat tidak adanya jaminan pelayanan kesehatan di desanya.

Wemana memang menikmati profesinya dengan suka rela. Ia mengaku murni menjalankan tugas kemanusiaan itu semampu yang Ia bisa.

Desa Puuloro sendiri adalah sebuah desa kecil di Kabupaten Konawe. Desa ini berada di balik bukit yang sebenarnya bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Desa Puuloro bertetangga dengan Desa Bondoala yang secara geografis cukup dekat dengan wilayah administratif Kota kendari. Ke arah timur kurang lebih 7 KM saja.  Ke dua desa berada di wilayah administrasi Kabupaten Konawe, maka jadilah ke dua desa ini terisolir dan dapat dikategori sangat miskin. Tidak adanya perhatian pemerintah menjadikan desa ini sangat terbelakang baik dari ekonomi, kesehatan hingga pendidikan.

 

Soal fasilitas kesehatan dan pendidikan jangan ditanya. Jauh dari harapan. Ada satu puskesmas pembantu (Pustu) yang terletak di tengah desa, tapi sayang tidak berfungsi maksimal. Petugas kesehatan hanya datang sebulan sekali. “Itu pun kadang telat,”kata Rahim warga Desa Puuloro.

Selebihnya warga terpaksa harus gigit jari dan terpaksa memanfaatkan jasa dukun kampung untuk berobat. Tak hanya harus melayani pasien di desa puuloro, Wemana juga harus melayani Desa Bondoala, sebuah  tetangga.

Wemana mengaku prihatin dengan kondisi pelayanan kesehatan warga. ““Hidup kami susah di sini, untuk berobat terpaksa kami harus ke puskesmas yang jaraknya 12 KM di kecamatan,”ungkapnya.

Keprihatinan yang sama juga diungkapkan Puto (50 tahun), mantan Kepala Desa Puuloro. Ia  mengaku, saat masih menjabat kepala desa kondisi pelayanan kesehatan masyarakat benar-benar memprihatinkan. Jarangnya petugas kesehatan yang datang berdampak buruk pada kesehatan warganya.

Data pemerintah desa Puuloro Tahun 2009, tercatat ada 12 warga khususnya perempuan hamil meninggal dunia karena tidak adanya pelayanan medis. (SK)

12 Anak Terserang DBD

SUARAKENDARI.COM, Sebanyak 12 anak terserang penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan dirawat di Rumah Sakit Umum Kota Kendari. Kepala Rumah Sakit Umum Kota Kendari, dr. Asridah mengatakan bahwa 12 anak yang terserang DBD tersebut tidak hanya berasal dari Kota Kendari saja.

“Memasuki bulan Januari hingga saat ini, pasien kami sudah dirawat dengan DBD yakni sebanyak 12 anak, ada juga yang datang dari luar Kota Kendari. Dari 12 pasien yang kami terima delapan pasien sudah diperbolehkan pulang, sisa empat pasien yang masih rawat inap,” terangnya, Selasa (12/1/2016).

Menurutnya, pasien DBD yang ada saat ini belum seberapa jika dibandingkan pada bulan Maret mendatang. Pasalnya, pasien DBD yang diterima rumah sakit ini sudah merupakan kejadian yang hampir setiap tahun terulang.

“Untuk pasien DBD sendiri, biasanya membludaknya pada Maret, kalau Januari ini belum seberapa. Hampir setiap tahun seperti ini, biasanya karena pergantian musim,” ujarnya.

dr.Asridah menambahkan pada Desember 2015, jumlah pasien DBD yang dirawat di Rumah Sakit Umum Kota Kendari yakni sebanyak 40 pasien, 60 persen pasien berasal dari Kota Kendari dan sisanya dari luar daerah seperti Wakatobi dan Buton Utara.

Rumah Sakit Bahteramas sendiri, hingga saat ini sudah menerima pasien DBD sebanyak dua pasien. Hal tersebut dikatakan Humas Rumah Sakit Bahteramas, Masita. “Hingga saat ini, pasien DBD kami ada dua dari Poasia Kota Kendari dan dari Landono, Konawe Selatan,” katanya. (LINA)

Warga Diminta Waspada DBD

SUARAKENDARI.COM-Selama bulan Januari 2016 Rumah Sakit Umum Bahteramas Sulawesi Tenggara merawat sedikitnya 2 pasien penderita demam berdarah. Dua pasien yang terjangkit DBD masih tergolong anak – anak.

Jumlah pasien penderita DBD menurut Humas Rumah Sakit Bahteramas, Masyita, masih relatif minim . Bahkan, pada november dan desember tahun 2015 kasus DBD nihil. Serangan demam berdarah disebutkan masyita harus di waspadai saat tibanya musim penghujan.

Imbauan pencegahan siklus penyakit demam berdarah, minimal menjaga kebersihan lingkungan dengan menerapakan pola 3 M, yakni, menguras dan menutup tempat penampungan air serta mengubur benda yang bisa menampung air.YJ

Dua Anak di Kendari Ditemukan Menderita HIV/AIDS

SUARAKENDARI.COM-Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Kendari, Sulawesi Tenggara menemukan dua anak yang berusia di bawah empat tahun menderita HIV/AIDS. Dua openderita yang dirahasiakan identitasnya tersebut, kini dalam asuhan orang tuanya, yang juga diduga menderita penyakit yang sama. Penemuan ini tentu menambah daftar panjang dari kasus HIV/AIDS di kota ini.

Sebagaimana dilansir Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota ,  dari Januari hingga Oktober 2015 terdapat sekitar 37 warga yang menderita HIV/AIDS. Ironisnya, penderita HIV/AIDS didominasi  mereka yang berusia produktif atau sekitar 25 hingga 49 tahun.

Sekretaris KPA Kendari, dr Ningrum, mengungkap, penderita yang ditemukan pada umur dibawah empat tahun terdapat dua kasus dan umur 20 tahun sampai 24 tahun sebanyak empat kasus.

“HIV merupakan penyebab dibalik infeksi AIDS, HIV dapat dikendalikan dengan antivirus sedangkan AIDS merupakan stadium lanjut yang terjadi setelah dua sampai 15 tahun terinfeksi HIV ,” ujarnya.

Menurutnya, jika penderita HIV tidak segera berkonsultasi dengan dokter atau pakar kesehatan maka virus itu akan berkembang menjadi AIDS, maka itu diperlukan kesadaran diri untuk segera melakukan pemeriksaan sehingga dapat diantisipasi sedini mungkin.

Adapun gejala HIV akut yaitu pembengkakan kelenjar getah bening, penurunan berat badan yang cepat, kehilangan nafsu makan, sesak napas, depresi, kebingungan serta kesemutan di kaki, tangan dan wajah. SK/AN

 

Wah, Gara-gara Penyakit Ini Warga Baubau Ramai-ramai Minum Obat

SUARAKENDARI.COM-Minum obat bagi seseorang mungkin biasa, tapi gimana kalau minumnya secara massal alias ramai-ramai? Inilah yang dilakukan warga Kota Baubau, Sulawesi Tenggara yang melakukan aksi minum obat secara bersama-sama. Kegiatan minum obat massal ini merupakan gerakan dari program Pemerintah Kota Baubau mencanangkan minum obat secara massal dalam upaya mengantisipasi dan mengeliminasi penyakit `filariasis` atau kaki gajah, yang digelar di pelataran Kantor Dinas Kesehatan Kota Baubau.

Meski begitu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau, Edy Natsir mengaku gerakan minum obat massal itu bukan berarti Kota Baubau masuk pada wilayah endemis penyakit kaki gajah, tetapi merupakan sosialisasi dunia termasuk Indonesia, khususnya di Kota Baubau.

“Gerakan ini untuk mencegah merebaknya penyakit tersebut karena Kota Baubau punya keinginan yang kuat mengeliminasi kasus penyakit,” ujar Edy.

Dinas Kesehatan menilai, timbulnya penyakit kaki gajah itu disebabkan cacing filaria yang masuk ke tubuh manusia kemudian mencari kelenjar dan menyumbat benih limpah, sehingga terjadi pembengkakan pada kaki.

Di Kota Baubau sendiri, awalnya ditemukan dua kasus penyakit kaki gajah di Kelurahan Lowu-lowu tahun 2005, sehingga adanya kasus tersebut itu tim peneliti Kementrian Kesehatan melakukan Survei Darah Jari (SDJ).

Nah, dari hasil survei itulah Kota Baubau diharuskan melakukan pencanangan dan antisipasi sebelum terjadinya penularan yang akan terus bertambah, karena penyakit kaki gajah ini bisa menularkan penyakit melalui gigitan dari berbagai jenis nyamuk. “Berbeda kalau demam berdarah hanya satu jenis nyamuk Aides Agepty saja, tapi sumber penyakit kaki gajah ini dari banyak jenis nyamuk. Maka itu kita tidak mau ada penyakit ini di Kota Baubau,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi tumbuhnya penyakit tersebut, dinas membagikan obat pada warga. Adapun jenis obat yang diberikan merupakan obat cacing biasa yang sering diminum anak-anak pada enam bulan sekali di usia enam tahun. “Para ahli di dunia menyarankan agar obat cacing sebagai penangkal penyakit kaki gajah tersebut cukup diminum sekali setahun selama lima tahun berturut-turut, sehingga kalau sampai tahun 2020 maka Baubau bisa akan bebas dari penyakit itu,”ujarnya.

Pemerintah Baubau mengharapkan semua masyarakat bisa meminum obat tersebut demi mengantispasi merebaknya penyakit yang berkategori cukup berbahaya tersebut.AN/SK

Fakta Mengerikan Meningkatnya Penderita HIV-AIDS di Sulawesi Tenggara

SUARAKENDARI.COM-Jumlah pengidap virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) di Sulawesi Tenggara (Sultra), terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini dapat dilihat dari data yang dirilis berbagai lembaga yang konsen mengawasi penyebaran penyakit mematikan ini.

Data Dinas Kesehatan Sultra, dari 2004 sampai 2015 sudah mencapai kurang lebih 282 orang.

Sedang data yang dirilis Lembaga Advokasi HIV-AIDS Sultra (LAHA Sultra), sebuah lembaga yang menaruh perhatian besar pada masalah HIV-AIDS terungkap, sejak Januari 2012 hingga Oktober 2013 terdapat sedikitnya 60 kasus penderita HIV AIDS di Sultra. Sehingga total jumlah penderita dari tahun 2006 sampai 2013 mencapai 187 kasus.

Penyakit HIV/AIDS yang merupakan new emerging diseases, dan merupakan pandemi pada semua kawasan, penyakit ini telah sejak lama menyita perhatian berbagai kalangan, tidak hanya terkait dengan domain kesehatan saja. Sering kali HIV/AIDS tertulis dan disebut sebagai satu istilah. Akan tetapi HIV dan AIDS mempunyai arti yang berbeda. HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini merupakan virus yang dapat menyebabkan AIDS. Jika anda terinfeksi HIV, anda akan dipanggil HIV positif. Ini berarti virus HIV telah masuk ke dalam aliran darah anda. Sampai saat ini, belum ada obat yang bisa menyembuhkan HIV/AIDS dan virus itu akan tetap berada dalam tubuh anda.

AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. AIDS jarang sekali terdiri dari satu penyakit saja tetapi terdiri dari sebuah kumpulan atau kombinasi berbagai macam penyakit yang muncul karena sistem kekebalan tubuhnya tidak dapat melawan penyakit lagi seperti dulu. Pada saat darah terinfeksi virus HIV maka sistem kekebalan tubuh diserang dan dirusak dengan perlahan-lahan sehingga sistem kekebalan tubuh tidak dapat melawan infeksi dan penyakit biasa lagi. Setelah melewati waktu tertentu (biasanya bertahun-tahun), sistem kekebalan tubuh kita akan melemah. Hanya seorang HIV positif yang didiagnosa dengan satu atau lebih penyakit dapat dikatakan menderita AIDS.

Virus HIV dapat ditularkan dari seseorang ke orang lain melalui aliran darah. AIDS itu merupakan sebuah penyakit yang muncul setelah virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh selama beberapa tahun. Anda tidak dapat “terkena” atau “memberikan” AIDS kepada orang lain, tetapi anda dapat menularkan HIV. Apabila anda dipanggil HIV positif ini berarti anda telah terinfeksi oleh virus HIV. Ini bukan berarti anda sakit AIDS. Banyak obat-obatan yang tersedia sekarang tidak dapat menyembuhkan HIV tetapi dapat mencegah berkembangnya AIDS.

Penyakit yang kemunculannya seperti fenomena gunung es (iceberg phenomena), yaitu jumlah penderita yang dilaporkan jauh lebih kecil daripada jumlah penderita yang sebenarnya, ini sudah menyebar di sebagian besar provinsi di Indonesia termasuk di Sultra. Hal ini berarti bahwa jumlah pengidap infeksi HIV/AIDS yang sebenarnya di Indonesia masih sangat sulit diukur dan belum diketahui secara pasti. Diperkirakan jumlah orang dengan HIV di Indonesia pada akhir tahun 2003 mencapai 90.000–130.000 orang. Sementara jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS yang dilaporkan sampai dengan 31 Desember 2003 sebanyak 4.091 kasus, yang terdiri dari 2.720 kasus infeksi HIV dan 1.371 kasus AIDS, dan 479 kasus diantaranya telah meninggal dunia. Cara penularan HIV/AIDS yang menonjol adalah melalui hubungan seks (heteroseksual) yakni sebesar 50,62% dan penyalah-gunaan Napza melalui suntik (IDU = Intravena Drug Use) yakni sebesar 26,26%, serta melalui hubungan homoseksual, yaitu sebesar 9,34%.

 

Kasus penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh ini, di Indonesia senantiasa meningkat dari tahun ke tahun. Angka yang dirilis oleh Ditjen PP&PL Depkes RI menyebutkan bahwa hingga Desember 2007, pengidap HIV positif berjumlah 6.066 orang dengan penderita AIDS sebanyak 11.141 orang. Selama satu dasawarsa terakhir (1997-2007) peningkatan kasus AIDS terjadi lebih 40 kali.

Saat ini Indonesia telah digolongkan sebagai negara dengan tngkat epidemi yang terkonsentrasi (concentrated level epidemic), yaitu adanya prevalensi lebih dari 5% pada sub populasi tertentu misalnya pada kelompok penjaja seks dan pada para penyalahguna narkoba dan zat adiktif (Napza). Tingkat epidemi ini menunjukkan tingkat perilaku beresiko yang cukup aktif menularkan di dalam suatu sub populasi tertentu. Selanjutnya perjalanan epidemi akan ditentukan oleh jumlah dan sifat hubungan antara kelompok beresiko tinggi dengan populasi umum.

Di seluruh dunia, ODHA (orang dengan HIV/AIDS) mencapai 5,2 juta jiwa. Padahal pada tahun lalu, jumlahnya hanya 1,2 juta jiwa saja. Lagi-lagi itu adalah data yang tercatat. Angka pastinya tidak diketahui karena banyak pengidap HIV/AIDS tidak mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi virus mematikan tersebut.

“HIV/AIDS bagaikan fenomena gunung es, di mana yang terlihat hanya sekitar 20 persen saja,” ujarnya Abu Hasan, Direktur LAHA Sultra.

Kalau demikian, jumlah yang nyata bisa lima kali lipatnya. Bahkan ada yang memperkirakan jumlahnya bisa jauh lebih banyak lagi. Mungkin 10 hingga 100 kali lipat. Dari data yang ada, lebih dari 70 persen di antaranya pengidap HIV – AIDS adalah generasi muda usia produktif berkisar 20-39 tahun. Data World Health Organization (WHO) mengungkapkan, 7.000 orang terinfeksi penyakit itu setiap harinya.

Umur para penderita HIV AIDS pun kian bervariasi, dari yang berusia remaja hingga usia senja. Namun lebih banyak di usia produktif, antara 20 sampai 25 tahun, dan rata-rata masih duduk di bangku kuliah. Bahkan, teranyar temuan di Kabupaten Konawe dua balita diduga menderita HIV AIDS.

“Anak berinisial A awalnya terkena gejala demam, sementara N mengalami muntah-muntah dan buang air besar terus menerus. Setelah kami tes laboratorium, kedua anak tersebut dinyatakan positif HIV AIDS,” ujar Dr Rahmawati Anggota Komisi Penanggulanggan AIDS (KPA) RSUD Konawe.

“Kami sengaja merujuk pasien karena mengakibatkan komplikasi karena virus itu menyerang kekebalan tubuh, sehingga penyakit apapun dapat dengan mudah masuk,” tambah Kepala unit Humas BLUD RSUD Konawe, Nur Rizki Kurniawan,SKM.

Teori gunung es pada kasus HIV AIDS memang tengah berlaku di bumi anoa, kini. karena faktanya angkanya penderita setiap tahun terus saja bertambah. Inilah yang terjadi di Kota Kendari, dalam rentang waktu lima bulan saja Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) berhasil menemukan 15 kasus penderita HIV/ AIDS di kota ini , yakni pada periode Januari-Mei 2013. Untuk mengetahui trend peningkatan kasus, para aktifitas melakukan pengumpulan data setiap bulan.

Lembaga KPA Kota Kendari menduga, kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terjangkit virus HIV/AIDS umumnya para perempuan pekerja seks komersial. Sementara LAHA menduga, meningkatnya penyebaran penyakit mematikan ini karena lalu lintas para pekerja yang masuk Bumi Anoa kebanyakan kaum imigran.

Dalam menanggulangi penyebaran virus HIV/AIDS KPA membagi empat tahapan atau langkah penanggulangan, yakni memperkuat kelembagaan KPA, mulai dari tingkat kota, kecamatan hingga tingkat kelurahan.

Langkah kedua adalah memisahkan atau mengelompokkan masyarakat yang berisiko terjangkit virus HIV/AIDS dan mereka sudah terjangkit virus HIV/AIDS. Ketiga, membuat program penanganan terhadap masyarakat masyarakat yang berisiko dan keempat, membuat program penanganan terhadap mereka yang sudah terjangkit virus HIV/AIDS.

Penderita yang sudah terjangkit, kata Rahmaningrum, akan didampingi agar secara rutin memeriksa kesehatan di rumah sakit Provinsi Sulawesi Tenggara. “Dukungan moril kami berikan. Karena bagiamana pun pasti ada rasa minder dan putus asa karena mengetahui kondisi penyakit yang diderita adalah salah satu jenis penyakit mematikan,” kata Rahmaningrum. Belum lagi kondisi masyarakat yang umumnya mencemooh dan menjauhi para penderita HIV/AIDS.

Dalam memberdayakan para Odha, tim pendamping LAHA Sultra, telah banyak memberikan layanan kesehatan yang maksimal, agar tidak ada rasa putus asa dari penderita tersebut. Selain itu, penguatan kelembagaan, pemberian pemahaman dan yang paling utama, menyalurkan pekerjaan sesuai dengan keahlian yang dimilikinya. “Banyak para penderita HIV/AIDS, yang mendapatkan perlakuan yang kurang nyaman, baik di keluarganya, maupun di lingkungan tempat tinggalnya. Itu, yang ingin kami rubah. Jangan ada diskriminasi,” tambahnya.

Respon masyarakat terhadap virus HIV merupakan pengaruh bagi ODHA. Sebagian besar masyarakat belum bisa menerima ODHA di lingkungan mereka karena hal tersebut dianggap sangat berbahaya. Perlakuan yang kerap mereka dapatkan seperti isolasi sosial, kehilangan pekerjaan, menjadi korban diskriminasi, korban kekerasan di keluarga dan dikucilkan, serta menjadi sasaran pelecehan dan penghinan masyarakat. Namun, jika saja orang memahami kondisi dari penderita ini, sebenarnya dukungan dan respon yang positif dari orang-orang disekitar ODHA adalah orang-orang yang sebenarnya bisa memberikan semangat untuk berpikir positif untuk hidupnya dan juga bisa memberikan hal-hal yang berguna bagi masyarakat disekitar ODHA tersebut.

Abu Hasan mengaku menanggulangi HIV AIDS butuh kerjasama semua pihak. Sejauh ini LAHA bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), Kemenkes, Badan pemeberdayaan perempuan dan Kementerian Sosial (Kemensos). Namun sejauh ini dana yang digunakan LAHA memberdayakan para ODHA ini, berasal dari LSM dunia di Genewa Swiss, Global Fun (GIF). “Namun, MoU yang ditandatangani untuk menanggulangi dana tersebut, hanya sampai 2015,” katanya.

 

LAHA sendiri mengharapkan, dengan lahirnya perda tersebut tidak hanya mengatur tentang pendanaan APBD, tetapi para pihak dapat membantu nasib para penderita.”Saya berharap dalam Perda jangan ada satu pun pasal yang sifatnya menghakimi ODHA, tetapi pasal itu bagaimana kemudian kita bisa meminimalisir anggota ODHA bisa berkurang agar tidak menjadi bahan ejekan masyarakat,”tegas Abu. ARN/SK