Hampir Tenggelam, Pulau Bokori Kini Tampil Menawan

0

Penulis : Sitti Harlina

Destinasi Wisata Hingga Mancanegara

[dropcap]L[/dropcap]iburan sejenak untuk menghilangkan kepenatan dari segala aktivitas sehari-hari dapat dijadikan sebagai salah satu cara untuk tetap menikmati hidup, siapa yang tidak ingin melihat keindahan alam dengan berbagai kesejukan dan pesona alam yang begitu menakjubkan. Destinasi wisata yang ada di Indonesia sangatlah beragam, mulai dari wisata pegununan, air terjun, goa, pantai dan pulau-pulau yang sangat eksotik. Berbicara tentang wisata, tentu saja sebagian besar sudah mengenal keindahan Candi Borobudur, Gunung Bromo, Kawah Putih, Pulau Dewata Bali, Raja Ampat dan Wakatobi yang sudah mulai diminati oleh turis-turis dari luar negeri.

Bagi mereka pecinta bawah laut sudah pasti tidak akan asing dengan Wakatobi yang merupakan salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Tenggara (Sultra) dengan keindahan bawah laut yang tidak kalah dengan keindahan bawah laut yang ada di Raja Ampat, Papua Barat. Namun, jangan salah pesona wisata yang ditawarkan Sultra tidak hanya berbatas pada keindahan bawah laut milik Wakatobi, tetapi saat ini Pemerintah Provinsi Sultra sedang intens untuk membangun Pulau Bokori. Ya, nama Bokori mungkin saja hampir terlupakan dari ingatan, namun siapa sangka jika upaya dan kerja keras yang dilakukan pemerintah dengan bersungguh-sungguh mampu menyulap pulau yang nyaris tenggelam ini menjadi salah satu objek wisata yang akan bersaing.

Pulau Bokori bahkan nyaris tenggelam oleh abrasi pantai, tapi hal itu tidak menghentikan upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk terus membangun dan menghidupkan ruh sebenarnya dari Pulau Bokori untuk menjadi salah satu objek wisata yang akan diunggulkan. Pulau Bokori yang terkenal dengan pasir putihnya yang panjang juga sangat memukau bagi setiap mata yang memandang.

foto adit
Foto Praweding Aditya Dharma bersama Granita di Pulau Bokori.

Pasangan suami istri, Aditya Arya Dharma (33) dan Granita Ghantari (31) yang berdomisili di Jakarta ini, memilih Pulau Bokori sebagai salah satu spot untuk dijadikan sebagai lokasi pengambilan gambar prawedding pada tahun 2012 sebelum keduanya melangsungkan pernikahan. Menurut Aditya, ia begitu jatuh cinta dengan pasir putih yang ada di Pulau Bokori, berbeda dengan pasir di pulau-pulau lainnya.

“Saya jatuh cinta dengan pasir putihnya yang panjang, ketika air laut surut maka akan terlihat pemandangan yang begitu istimewah akan keindahan pasir putihnya yang begitu panjang,” terangnya, Minggu (11/10/2015).

Hal lain yang membuat Pulau Bokori begitu istimewah, menurut pasangan ini yakni pemandangan yang bisa dirasakan dari Pulau Bokori masih sangat alami, sehingga bisa merelaksasi diri meninggalkan segala kepenatan dan hiruk pikuk aktivitas di ibu kota. Mata mana yang tidak takjub melihat pasir putih yang terhampar luas bak lapangan bola. Mengenal lebih dekat objek wisata ini, memiliki keistimewahan lainnya yakni terdapat sebuah lapangan yang bisa digunakan untuk bermain bola, saat air laut sedang pasang lapangan tersebut akan terisi air laut sehingga akan tampak sebuah pemandangan layaknya danau di tengah laut.

Tentu saja, apa yang dirasakan pasangan ini akan menjadi sebuah kenyataan baru tentang Pulau Bokori, tidak ada khayalan didalamnya, tetapi keindahan dan nuansa alami masih bisa dirasakan di pulau ini. Alasan itu pula yang membuat Gubernur Sultra, Nur Alam, kembali melirik Pulau Bokori sebagai salah satu destinasi wisata. Orang nomor satu di Sultra ini, menceritakan sejarah singkat ia melirik Pulau Bokori untuk kembali dikembangkan.

“Sekitar November 2014 lalu saya bersama Kabinda ( Andi Sumangerukka, red) sedang duduk dan makan siang di karamba yang letaknya tidak jauh dengan Pulau Bokori, saya melihat pulau ini indah, disitulah muncul pemikiran saya untuk kembali membangun Pulau Bokori agar bisa dilirik kembali,” katanya saat membuka launching Festival Pulau Bokori, Senin (12/10/2015).

Saat itu ia menyadari bahwa Pulau Bokori memiliki potensi wisata yang sangat besar jika dikembangkan menjadi tujuan wisatawan. Langkah cepat itulah yang diambilnya saat itu sehingga hanya butuh waktu kurang lebih satu bulan ia langsung merencanakan untuk membuat perayaan pergantian tahun dari 2014 ke 2015 di pulau yang sudah hampir menjadi kenangan itu. Jadilah seluruh SKPD serta Muspida merayakan pergantian tahun dengan sejuta harapan indah di pulau nan menawan itu Pulau Bokori.

Namun orang nomor satu di Sultra itu tidak hanya berhenti pada moment pergantian tahun saja, melainkan ia terus melakukan koordinasi dengan seluruh SKPD agar bisa membangun sarana dan prasarana yang melengkapi Pulau Bokori.

“Usaha yang kami lakukan untuk mengembangkan Pulau Bokori bukanlah usaha yang main-main, sehingga kami dirikan cottage (Vila mini,Red) sebagai tempat peristirahatan bagi tamu, bisa digunakan untuk menginap, jadi tidak ada alasan bagi wisatawan untuk tidak menghabiskan waktunya lebih lama lagi di pulau kita,” ujarnya.

Belum genap setahun pulau itu dikembangkan oleh pemerintah untuk menjadi salah satu destinasi wisata, rupanya pemerintah provinsi sudah berhasil meyakinkan pemerintah pusat untuk menyelenggarakaan event nasional yang bertempat di Pulau Bokori. Tahun ini, tepatnya pada tanggal 29 Oktober hingga 1 November 2015 mendatang, Sultra akan menjadi tuan rumah diselenggarakannya Voly Pantai tingkat nasional. Event nasional tersebut tentunya menjadi sebuah kehormatan bagi Sultra dan akan menjadi ajang promosi wisata pantai pasir putih yang dimiliki Sultra. Keindahan pasir putih yang dimiliki Pulau Bokori sangat didukung oleh birunya laut Pulau Bokori.

Dikatakan Nur Alam bahwa dengan terpilihnya Sultra sebagai tuan rumah Voly Pantai khususnya Pulau Bokori memberikan dampak positif. Pasalnya, melalui event tersebut sudah pasti semua o rang dari Sultra akan berkunjung ke Bokori dan bisa melihat secara langsung keindahan Pulau Bokori. Ia juga memastikan bahwa keunikan yang dimiliki pulau tersebut karena memiliki pasir putih yang tidak perlu didatangkan dari luar.

“Itulah hebatnya karena belum cukup setahun tapi sudah bisa menarik perhatian pemerintah pusat, kita juga bisa membuktikan bahwa pasir putih di Pulau Bokori merupakan pasir asli yang tidak perlu diimpor dari tempat lain, asli milik Pulau Bokori karena jika melakukan pertandingan Voly Pantai perlu diperhatikan pasirnya juga,” ujarnya.

Sudah dapat dipastikan usaha yang dilakukan pemerintah selama ini untuk terus mengembangkan Pulau Bokori sudah menuai hasil didepan mata. Ia juga mengatakan bahwa Pulau Bokori kedepannya bisa menjadi destinasi yang menyuguhkan keindahan alamnya serta dapat dijangkau dengan mudah. Letak Pulau Bokori yang tidak jauh dari Kota Kendari memberikan satu lagi keunikan dari pulai ini. Dimana untuk menjangkau pulau tersebut bisa dilakukan dalam waktu 30 menit dari Kota Kendari menggunakan roda dua atau roda empat,kemudian menyebrang menggunakan kapal dari Desa Mekar atau Desa Bokori sekitar 10 hingga 15 menit. Tentu saja letak Pulau Bokori yang sangat mudah dijangkau akan memberikan satu pelayanan yang akan disukai oleh pengunjung.

Wisatawan Lokal, Menikmati Panorama Alam Pulau Bokori yang Eksotik
Wisatawan Lokal, Menikmati Panorama Alam Pulau Bokori yang Eksotik. Foto : Sitti Harlina

Letak Pulau Bokori yang tidak terlalu jauh dan mudah dijangkau memberikan keunggulan dari pulau ini dibandingkan dengan wisata lain yang ada di Sultra. Jarak tempuh ini juga yang menjadi salah satu alasan dari pasangan Aditya dan Granita memilih Pulau Bokori sebagai tempat untuk melangsungkan foto session prawedding pasangan ini. “Mudah dijangkau, jadi tidak usah repot mikir perjalanan jauh,” kata Aditya.

Hal senada juga dikatakan Rini, (33) seorang ibu rumah tangga yang saat itu dijumpai di Pulau Bokori untuk menghabiskan akhir pekannya bersama suami dan anak sematang wayangnya. “Baru pertama ke sini (Pulau Bokori, Red), pemandangannya bagus, enak buat liburan, kami juga senang karena dekat jadi merasa memiliki pulau sendiri,” katanya, Minggu (18/10/2015).

Ibu satu anak ini mengaku kagum dengan keindahan Pulau Bokori, bukan hanya pasir putihnya yang ia puji tetapi juga ia mengaku mendapatkan ketenangan di pulau itu dengan menikmati keindahan biru laut dan angin yang bertiup.

pulau bokori

Pemerintah memang memiliki rencana agar pulau ini bisa menjadi wisata yang dikenal oleh dunia, bukan hanya di Indonesia saja. Hal itu dibuktikan dengan rencana pemerintah yang akan mengajak tamu-tamu Festival Keraton ASEAN untuk kembali berkunjung di Pulau Bokori. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sultra, Damsid.

“Sultra jadi tuan rumah Festival Keraton yang akan berlangsung sejak tanggal 12 sampai 15 November, dalam festival tersebut berbagai kegiatan akan dilakukan, salah satu jadwal kita nantinya itu mengunjungi Pulau Bokori untuk memberikan jamuan kepada tamu kita, jadi bisa memberikan pelayanan dan memperkenalkan salah satu objek wisata yang ada di Sultra, ketika pulau ke daerah masing-masing, para tamu juga sudah bisa bercerita tentang wisata kita dan akan menarik minat tamu lain lagi,” terangnya, Kamis (15/10/2015).

Dengan upaya yang dilakukan pemerintah untuk terus menjadikan Pulau Bokori lebih dikenal lagi bagi wisatawan dalam negeri hingga ke mancanegara bukanlah sebuah cita-cita yang mudah, namun selangkah demi selangkah hal tersebut mulai dibuktikan. Tidak hanya dengan melakukan event nasional, tetapi pemerintah juga sudah berhasil membuat sebuah kegiatan tingkat ASEAN. Dengan banyaknya tamu yang akan melihat keindahan Pulau Bokori, pemerintah berharap agar kedatangan tersebut tidak hanya sekali, tetapi bisa bercerita sepulang ditempat asal masing-masing dan akan kembali dengan jumlah yang lebih banyak.

Ketika pemerintah melakukan sebuah pembangunan sarana dan prasarana wisata serta giat melakukan berbagai kegiatan dan promosi tempat wisata dampak positifnya tidak hanya akan dirasakan oleh pemerintah provinsi, melainkan juga dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat setempat yang bermukim di dekat pulau tersebut.

Risal (27), salah seorang warga Desa Mekar, dimana dari desa tersebut Pulau Bokori nampak jelas dan dapat ditempuh dengan menggunakan perahu atau katinting hanya dengan waktu kurang lebih sepuluh hingga lima belas menit. Menurut Risal, dengan upaya pemerintah untuk menghidupkan kembali Pulau Bokori menjadi sebuah tempat wisata memberikan dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Sekarangkan sedang genjar melakukan pembangunan, segala fasilitas yang mendukung sedang dibangun, pekerja yang bekerja disana (Bokori, Red) rata-rata dari warga desa disekitar Pulau Bokori, sehingga warga mendapatkan pekerjaan dan bisa hidup lebih baik lagi,” katanya, Minggu (18/10/2015).

Warga juga merasa sangat beruntung karena sebagian besar pengunjung yang akan menikmati keindahan Pulau Bokori diantar langsung dengan menggunakan perahu atau katinting milik warga hanya dengan membayar Rp. 25.000 per orang. Meskipun warga belum tahu kedepannya terkait masa depan Pulau Bokori, namun ia berharap agar pulau tersebut bisa terus menjadi destinasi wisata dan tidak akan terlupakan lagi.

“Mudah-mudahan pemerintah betul-betul serius sehingga Pulau Bokori ini terus berkembang dan akan semakin banyak pengunjung, Pulau Bokori sebenarnya sangat indah, letaknya juga mudah dijangkau hanya selama ini terkesan terlupakan. Saya berharap agar kedepannya pulau ini terus menjadi tujuan wisata, meskipun kepemimpinan pemerintah kedepannya berganti, Bokori bisa terus dijaga dan dipelihara,” harapnya.

Intip Pemukiman Desa Bokori Sebelum Direlokasi

Pulau Bokori yang saat ini sedang dibangun kembali oleh Pemerintah Provinsi Sultra untuk dijadikan sebagai salah satu destinasi wisata di Sultra, sebelumnya pernah menjadi pemukiman warga yang ditempati hingga tahun 90-an. Desa Bokori, Kecamatan Soropia, Kabupaten Kendari, begitu nama tempat tersebut yang dihuni oleh sekitar 325 Kepala Keluarga (KK). Perkembangan yang dilakukan oleh pemerintah dengan bergantinya kepemimpinan, maka saat ini Pulau Bokori berada pada Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, berdasarkan pemekaran.

Rasyid Lamidi (64), mantan Kepala Desa Mekar saat itu, menuturkan bahwa isu pemekaran Desa Bokori menjadi Desa Mekar sudah mulai diwacanakan pada tahun 1984. Pasalnya, Desa Bokori saat itu dikhawatirkan akan tenggelam karena adanya abrasi.

“Waktu itu namanya Desa Bokori, sudah mulai diisukan untuk direlokasi pada tahun 1984, gubernur saat itu masih Pak Alala. Sejak tahun 1984, saya bersama istri dan anak sulung saya sudah mulai menempati Desa Mekar berdasarkan instruksi dari Pak Alala, namun saat itu penduduk belum menyetujui untuk pindah,” terangnya saat ditemui di kediamannya, Minggu (18/10/2015).

Saat itu ia merasa seorang diri harus menjaga Desa Mekar, tapi karena khawatir dengan tumbuh kembang si sulung, akhirnya ia memutuskan untuk setiap minggunya tetap masuk ke Desa Bokori, agar anaknya bisa tetap bersosialisasi dengan orang lain. Ia juga cukup dimudahkan waktu itu, meskipun sudah ada perintah untuk pindah, tapi pemerintah belum membongkar rumahnya yang ada di Desa Bokori, jadi setiap minggu masih bisa tetap bermalam di kediamannya tersebut.

Dua tahun berlalu, akhirnya melalui keputusan Mendagri, Desa Bokori resmi dimekarkan menjadi Desa Mekar secara definitif dan semua warga yang bermukim di Desa Bokori diwajibkan untuk pindah dengan adanya Surat Keputusan tersebut. Sayangnya, SK tersebut tidak membuat warga pindah begitu saja, tetap harus ada tahap yang dilalui.

“Awalnya keluar SK tersebut agar warga segera pindah, hanya tujuh KK saja yang mau, tapi setelahnya tahun 1987 warga sudah mulai pindah karena sudah ada proyek pembangunan. Saat itu jumlah KK yang pindah di Desa Mekar ini yakni 125 KK,” jelasnya.

Rasyid menyadari betul akan amanah yang diembannya saat itu sangatlah berarti, sehingga meskipun butuh beberapa tahun, namun ia tidak menyerah untuk tetap memberikan pemahaman kepada masyarakat agar setuju untuk direlokasi. Meskipun puluhan tahun telah berlalu, namun ia masih ingat betul tahapan demi tahapan dan tiga desa pertama yang dijadikan tempat relokasi.

“Desa Mekar sebagai awal mula direlokasi, kemudian Desa Bokori dan Bajo Indah, itu tiga tahap. Tahap awal itu sebanyak 125 KK, kemudian menyusul lagi 110 KK yang direlokasi di Desa Bokori tapi sudah didaratan dan terakhir di Bajo Indah sebanyak 90 KK. Saat ini sudah ada lima desa keseluruhan karena sudah mekar lagi jadi ada Desa Leppe dan Bajoe,” katanya.

Sudah puluhan tahun warga yang bermukim di Pulau Bokori sejak saat itu telah direlokasi, sejak pemerintahan Alala hingga pemerintahan La Ode Kaimuddin. Rasyid juga menyadari bahwa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk merelokasi warga merupakan kebijakan yang tepat. Bahkan, ia mengatakan bahwa saat ini jika warga ditanya ingin kembali bermukim di Pulau Bokori, sudah tidak ada yang menginginkan hal tersebut.

“Delu memang susah dipindahkan, tapi itulah pilihan terbaik, dulu itu anak-anak kalau ke sekolah kadang perahunya tenggelam, jadi memang sangat sulit. Sekarang tidak ada lagi yang ingin ke Pulau Bokori,” ujarnya.

Sebagai salah seorang yang mempunyai peranan penting ketika relokasi dilakukan, ia juga mendukung rencana pemerintah untuk membangun kembali Pulau Bokori yang sudah hampir terlupakan. “Pasti mendukung, karena dampaknya nanti akan lari kepada masyarakat juga, kami sangat senang jika pemerintah akan kembali membangun dan menjadikan Pulau Bokori sebagai salah satu destinasi wisata yang akan dikunjungi karena perahu kami yang ada disini pasti akan digunakan juga,” katanya.

Dititipkannya harapan yang sangat besar kepada pemerintahan saat ini dibawah kepemimpinan Nur Alam – Saleh Lasata agar bisa menjadikan Pulau Bokori kembali menjadi pulau yang ramai dikunjungi oleh wisatawan dalam negeri maupun luar negeri.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.