FOTO: Rusa di TNRAW

Beberapa ekor rusa ini merupakan sisa-sisa kejayaan familia Cervidae di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW). Kawanan rusa ini saya temukan di lokasi penangkaran tepat dibelakang perumahan Kantor Balai TNRAW di Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan. Jejak hewan mamalia ini kian langka dan tak lagi terlihat di area perlindungan taman seluas 105 ribu hektar. Keberadaanya terus terdesak akibat perburuan liar masyarakat sekitar. foto: Yoshasrul/SK

Spanduk Kebhinekaan, Spirit Kemerdekaan

Parade perayaan kemerdekaan di Kendari. foto: Yos Hasrul

SEBUAH spanduk terpasang di pinggir jalan poros ibukota Sulawesi Tenggara, Kendari, tepat saat parade perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa (15/8/17) pagi. Dalam spanduk berukuran 2 x 1 meter tersebut tertoreh tulisan “kemerdekaan Kebhinekaan dalam persatuan adalah kekuatan dasyat yang memerdekakan bangsa”.

Saya membacanya saat barisan karnaval murid SDS Excellen School yang seluruhnya didominasi warga Tionghoa Kendari melalui jalan itu. Seperti peserta lain, murid SDS Excellen School juga berdandan ala pejuang kemerdekaan dihiasi dengan asesoris pita merah putih di kepala mereka.

Isi spanduk yang mencoba menggelitik sekaligus membangkitkan ingatan kita, dan saya rasa cukup tepat mengambil momentum di tengah makin renggangnya rasa toleransi sebagian besar rakyat beberapa tahun belakangan ini.
Hemm.. sayang hampir tak satu pun orang peduli dengan isi tulisan di spanduk itu, sebab, mata warga terkosentrasi penuh pada barisan karnaval yang diikuti ribuan pelajar dan dimeriahkan tetabuhan drum band pelajar.

Saban tahun Saya selalu menjadi penonton setia parade kemerdekaan di Kota ini. Bersama warga lainnya, Saya turun ke jalan hanya untuk merasakan spirit besar rakyat dan menyaksikan eratnya persatuan rakyat meneriakkan patriotisme di sepanjang jalan. Namun di tegah gegap gempita, Saya nyaris tak pernah menyaksikan warga tionghoa di Kota Kendari dilibatkan maupun melibatkan diri dalam setiap parade perayaan ini. Padahal, jika melihat populasi etnis Tionghoa di Kendari mungkin tidaklah terlalu besar, namun tidak juga terlalu kecil. Apalagi penguasaan ekonomi,khususnya barang dan jasa sebagian besar dalam penguasaan saudara-saudara kita dari etnis Tionghoa.

Dalam sejarah perjalanan orang tionghoa di Negeri Kalosara mungkin sangat melekat kuat berpegag teguh dengan adat budaya setempat, mengakar dalam kehidupan sosial yang meneguhkan sikap toleransi. Di kota ini, orang-orang tionghoa membentuk rantai ekonomi. Tradisi bisnis, ulet serta konsisten dalam berusaha menjadi bagian dari proses transfer pengetahuan bagi orang local di Kendari. Ini pula yang mengantarkan terjadinya proses asimilasi lebih dari setengah abad hingga diperkirakan jumlah orang Tionghoa terus bertambah dan menyebar ke sejumlah wiyalah di Sulawesi Tenggara.

Kembali ke bingkai sejarah perjuangan bangsa, maka sepatutnya, saudara kita dari etnis tionghoa melebur diri dalam semangat patriotisme tahunan. Pun demikian pemerintah, baik pusat hingga daerah sedapatnya membuka kran berekspresi pada semua warga negara untuk meluapkan semangat patriotisme mereka. Bukankah sejarah telah mencatat pemuda-pemudi Indonesia, tanpa melihat latarbelakang, mau itu agama, suku, dll. termasuk etnis tionghoa ikut andil dalam memerdekakan negeri ini.

Sebutlah seperti tokoh John Lie Tjeng Tjoan alias Jahja Daniel Dharma. Lelaki kelahiran Manado 9 Maret 1911 ini diberi gelar pahlawan nasional atas jasanya dalam perang kemerdekaan,dan mendapat Bintang Mahaputra Adipradana (2009). Besarnya jasa John Lie, sampai-sampai pemerintah memakai namanya sebagai nama salah satu kapal perang RI, yaitu KRI John Lie (358) pada akhir 2014.

Asal tahu saja, John Lie adalah perwira tinggi AL RI dengan pangkat Laksamana Muda. Dia menembus pertahanan Belanda di laut untuk menukar komoditas ekspor dengan senjata. Daerah operasinya meliputi Singapura, Penang, Bangkok, Rangoon, Manila, dan New Delhi. John Lie dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Ada lagi keturunan CIna lain yang berjasa besar, namun namanya tenggelam dalam sejarah, yaitu Liem Koen Hian. Menurut sejarawan Didi Kwartanada, Liem Koen Hian adalah salah satu orang yang ikut merancang UUD 1945. Selain itu, ia adalah wartawan dan anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dan masih banyak lagi.

Nah, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya kembali menonton perayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia pagi itu, dimana ribuan siswa di Kota Kendari menggelar karnaval bertema kemerdekaan. Dengan berdandan ala pejuang kemerdekaan para siswa berjalan kaki menyusuri ruas jalan kota. Beberapa diantara kelompok siswa bahkan melakukan atraksi seperti menggelar pragmen atau aksi teatrikal jalanan yang menggambarkan semangat perjuangan melawan penjajah. Seperti yang dilakukan murid-murid SDS Excellen Schoolt yang membuat teatrikal diakhir perjalanan mereka, tentu lah tontonan yang cukup heroik berlatar era perjuangan melawan penjajahan belanda. (Yoshasrul)

Ini Daerah Penghasil Cabe Terbesar di Sulawesi Tenggara

Rustam petani cabe asal Desa Batu Putih, Kecamatan Kolono Timur tengah memanen cabe miliknya. foto: Yoshasrul

Kebun cabe di Desa Batu Putih yang sudah siap panen. foto: Yoshasrul

Suarakendari.com-Tak disangka Sulawesi Tenggara rupanya menjadi salah satu daerah pemasok cabe di Indonesia. Adalah Kecamatan Kolono Timur, Kabupaten Konawe Selatan yang kini menjadi daerah tujuan para saudagar cabe di Makasaar dan daerah Jawa.  “Jauh hari sebelum panen, pesanan sudah berdatangan dari Jawa dan Makassar,”ungkap Rustam petani Cabe di Desa Batu Putih, Kolono Timur.

Di tengah meroketnya harga cabe di pasaran, membuat Rustam dan petani cabe lainnya mendapat keuntungan besar. “Kami melepas di pasaran dengan harga 75 ribu per kilo gram cabe,”kata Rustam. Harga yang tidak seberapa tinggi ini, lanjut Rustam menjadi buruan para pedagang dari luar. “Kami tidak memasang harga tinggi karena ini sudah sesuai dengan ongkos buruh dan biaya perawatan tanaman kami,”jelasnya.

Di Desa Batu Putih sendiri terdapat sekira 25 hektar tanaman cabe milik petani. Ada yang bekerja berkelompok, ada pula yang secara individu. Dan untuk seluruh Konawe Selatan diperkirakan  ada ratusan hektar tanaman cabe yang kini dikembangkan. Kegiatan penanaman cabe dilakukan warga sudah berlangsung setahun terakhir dan booming harga cabe nampaknya menjadi pemicu dan dimanfaatkan warga untuk menanam cabe secara beramai-ramai.

Menurut Rustam, kesadaran yang tinggi serta adanya info harga pasaran membuat warga di wilayah Kolono dan Kolono Timur kini warga kin terus menggiatkan penanaman cabe.  “Semoga petani cabe mencapai kesejahteraan,”harapnya. YOS

Ini Foto-Foto Mantan Presiden Soeharto Pimpin Shalat

SUARAKENDARI.COM-Mantan Presiden Republik Indonesia HM Soeharto adalah salah satu sosok pemimpin yang sangat disegani di masanya yang pernah memimpin Indonesia. Namun di balik ketegasannya Pemimpin Orde Baru tersebut ternyata adalah sosok religius dan kerap memimpin shalat untuk koleganya. Berikut deretan foto-foto Soeharto memimpin shalat. Foto ini diunggah di Facebook Ahmad Zuhud, dalam akun facebooknya.12195916_966046113466929_8720237530234852358_n

12195862_966046166800257_4299275622291629330_n

12191402_966045956800278_8824959385296973058_n