Fakta Mengerikan Meningkatnya Penderita HIV-AIDS di Sulawesi Tenggara

0

SUARAKENDARI.COM-Jumlah pengidap virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) di Sulawesi Tenggara (Sultra), terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini dapat dilihat dari data yang dirilis berbagai lembaga yang konsen mengawasi penyebaran penyakit mematikan ini.

Data Dinas Kesehatan Sultra, dari 2004 sampai 2015 sudah mencapai kurang lebih 282 orang.

Sedang data yang dirilis Lembaga Advokasi HIV-AIDS Sultra (LAHA Sultra), sebuah lembaga yang menaruh perhatian besar pada masalah HIV-AIDS terungkap, sejak Januari 2012 hingga Oktober 2013 terdapat sedikitnya 60 kasus penderita HIV AIDS di Sultra. Sehingga total jumlah penderita dari tahun 2006 sampai 2013 mencapai 187 kasus.

Penyakit HIV/AIDS yang merupakan new emerging diseases, dan merupakan pandemi pada semua kawasan, penyakit ini telah sejak lama menyita perhatian berbagai kalangan, tidak hanya terkait dengan domain kesehatan saja. Sering kali HIV/AIDS tertulis dan disebut sebagai satu istilah. Akan tetapi HIV dan AIDS mempunyai arti yang berbeda. HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini merupakan virus yang dapat menyebabkan AIDS. Jika anda terinfeksi HIV, anda akan dipanggil HIV positif. Ini berarti virus HIV telah masuk ke dalam aliran darah anda. Sampai saat ini, belum ada obat yang bisa menyembuhkan HIV/AIDS dan virus itu akan tetap berada dalam tubuh anda.

AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. AIDS jarang sekali terdiri dari satu penyakit saja tetapi terdiri dari sebuah kumpulan atau kombinasi berbagai macam penyakit yang muncul karena sistem kekebalan tubuhnya tidak dapat melawan penyakit lagi seperti dulu. Pada saat darah terinfeksi virus HIV maka sistem kekebalan tubuh diserang dan dirusak dengan perlahan-lahan sehingga sistem kekebalan tubuh tidak dapat melawan infeksi dan penyakit biasa lagi. Setelah melewati waktu tertentu (biasanya bertahun-tahun), sistem kekebalan tubuh kita akan melemah. Hanya seorang HIV positif yang didiagnosa dengan satu atau lebih penyakit dapat dikatakan menderita AIDS.

Virus HIV dapat ditularkan dari seseorang ke orang lain melalui aliran darah. AIDS itu merupakan sebuah penyakit yang muncul setelah virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh selama beberapa tahun. Anda tidak dapat “terkena” atau “memberikan” AIDS kepada orang lain, tetapi anda dapat menularkan HIV. Apabila anda dipanggil HIV positif ini berarti anda telah terinfeksi oleh virus HIV. Ini bukan berarti anda sakit AIDS. Banyak obat-obatan yang tersedia sekarang tidak dapat menyembuhkan HIV tetapi dapat mencegah berkembangnya AIDS.

Penyakit yang kemunculannya seperti fenomena gunung es (iceberg phenomena), yaitu jumlah penderita yang dilaporkan jauh lebih kecil daripada jumlah penderita yang sebenarnya, ini sudah menyebar di sebagian besar provinsi di Indonesia termasuk di Sultra. Hal ini berarti bahwa jumlah pengidap infeksi HIV/AIDS yang sebenarnya di Indonesia masih sangat sulit diukur dan belum diketahui secara pasti. Diperkirakan jumlah orang dengan HIV di Indonesia pada akhir tahun 2003 mencapai 90.000–130.000 orang. Sementara jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS yang dilaporkan sampai dengan 31 Desember 2003 sebanyak 4.091 kasus, yang terdiri dari 2.720 kasus infeksi HIV dan 1.371 kasus AIDS, dan 479 kasus diantaranya telah meninggal dunia. Cara penularan HIV/AIDS yang menonjol adalah melalui hubungan seks (heteroseksual) yakni sebesar 50,62% dan penyalah-gunaan Napza melalui suntik (IDU = Intravena Drug Use) yakni sebesar 26,26%, serta melalui hubungan homoseksual, yaitu sebesar 9,34%.

 

Kasus penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh ini, di Indonesia senantiasa meningkat dari tahun ke tahun. Angka yang dirilis oleh Ditjen PP&PL Depkes RI menyebutkan bahwa hingga Desember 2007, pengidap HIV positif berjumlah 6.066 orang dengan penderita AIDS sebanyak 11.141 orang. Selama satu dasawarsa terakhir (1997-2007) peningkatan kasus AIDS terjadi lebih 40 kali.

Saat ini Indonesia telah digolongkan sebagai negara dengan tngkat epidemi yang terkonsentrasi (concentrated level epidemic), yaitu adanya prevalensi lebih dari 5% pada sub populasi tertentu misalnya pada kelompok penjaja seks dan pada para penyalahguna narkoba dan zat adiktif (Napza). Tingkat epidemi ini menunjukkan tingkat perilaku beresiko yang cukup aktif menularkan di dalam suatu sub populasi tertentu. Selanjutnya perjalanan epidemi akan ditentukan oleh jumlah dan sifat hubungan antara kelompok beresiko tinggi dengan populasi umum.

Di seluruh dunia, ODHA (orang dengan HIV/AIDS) mencapai 5,2 juta jiwa. Padahal pada tahun lalu, jumlahnya hanya 1,2 juta jiwa saja. Lagi-lagi itu adalah data yang tercatat. Angka pastinya tidak diketahui karena banyak pengidap HIV/AIDS tidak mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi virus mematikan tersebut.

“HIV/AIDS bagaikan fenomena gunung es, di mana yang terlihat hanya sekitar 20 persen saja,” ujarnya Abu Hasan, Direktur LAHA Sultra.

Kalau demikian, jumlah yang nyata bisa lima kali lipatnya. Bahkan ada yang memperkirakan jumlahnya bisa jauh lebih banyak lagi. Mungkin 10 hingga 100 kali lipat. Dari data yang ada, lebih dari 70 persen di antaranya pengidap HIV – AIDS adalah generasi muda usia produktif berkisar 20-39 tahun. Data World Health Organization (WHO) mengungkapkan, 7.000 orang terinfeksi penyakit itu setiap harinya.

Umur para penderita HIV AIDS pun kian bervariasi, dari yang berusia remaja hingga usia senja. Namun lebih banyak di usia produktif, antara 20 sampai 25 tahun, dan rata-rata masih duduk di bangku kuliah. Bahkan, teranyar temuan di Kabupaten Konawe dua balita diduga menderita HIV AIDS.

“Anak berinisial A awalnya terkena gejala demam, sementara N mengalami muntah-muntah dan buang air besar terus menerus. Setelah kami tes laboratorium, kedua anak tersebut dinyatakan positif HIV AIDS,” ujar Dr Rahmawati Anggota Komisi Penanggulanggan AIDS (KPA) RSUD Konawe.

“Kami sengaja merujuk pasien karena mengakibatkan komplikasi karena virus itu menyerang kekebalan tubuh, sehingga penyakit apapun dapat dengan mudah masuk,” tambah Kepala unit Humas BLUD RSUD Konawe, Nur Rizki Kurniawan,SKM.

Teori gunung es pada kasus HIV AIDS memang tengah berlaku di bumi anoa, kini. karena faktanya angkanya penderita setiap tahun terus saja bertambah. Inilah yang terjadi di Kota Kendari, dalam rentang waktu lima bulan saja Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) berhasil menemukan 15 kasus penderita HIV/ AIDS di kota ini , yakni pada periode Januari-Mei 2013. Untuk mengetahui trend peningkatan kasus, para aktifitas melakukan pengumpulan data setiap bulan.

Lembaga KPA Kota Kendari menduga, kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terjangkit virus HIV/AIDS umumnya para perempuan pekerja seks komersial. Sementara LAHA menduga, meningkatnya penyebaran penyakit mematikan ini karena lalu lintas para pekerja yang masuk Bumi Anoa kebanyakan kaum imigran.

Dalam menanggulangi penyebaran virus HIV/AIDS KPA membagi empat tahapan atau langkah penanggulangan, yakni memperkuat kelembagaan KPA, mulai dari tingkat kota, kecamatan hingga tingkat kelurahan.

Langkah kedua adalah memisahkan atau mengelompokkan masyarakat yang berisiko terjangkit virus HIV/AIDS dan mereka sudah terjangkit virus HIV/AIDS. Ketiga, membuat program penanganan terhadap masyarakat masyarakat yang berisiko dan keempat, membuat program penanganan terhadap mereka yang sudah terjangkit virus HIV/AIDS.

Penderita yang sudah terjangkit, kata Rahmaningrum, akan didampingi agar secara rutin memeriksa kesehatan di rumah sakit Provinsi Sulawesi Tenggara. “Dukungan moril kami berikan. Karena bagiamana pun pasti ada rasa minder dan putus asa karena mengetahui kondisi penyakit yang diderita adalah salah satu jenis penyakit mematikan,” kata Rahmaningrum. Belum lagi kondisi masyarakat yang umumnya mencemooh dan menjauhi para penderita HIV/AIDS.

Dalam memberdayakan para Odha, tim pendamping LAHA Sultra, telah banyak memberikan layanan kesehatan yang maksimal, agar tidak ada rasa putus asa dari penderita tersebut. Selain itu, penguatan kelembagaan, pemberian pemahaman dan yang paling utama, menyalurkan pekerjaan sesuai dengan keahlian yang dimilikinya. “Banyak para penderita HIV/AIDS, yang mendapatkan perlakuan yang kurang nyaman, baik di keluarganya, maupun di lingkungan tempat tinggalnya. Itu, yang ingin kami rubah. Jangan ada diskriminasi,” tambahnya.

Respon masyarakat terhadap virus HIV merupakan pengaruh bagi ODHA. Sebagian besar masyarakat belum bisa menerima ODHA di lingkungan mereka karena hal tersebut dianggap sangat berbahaya. Perlakuan yang kerap mereka dapatkan seperti isolasi sosial, kehilangan pekerjaan, menjadi korban diskriminasi, korban kekerasan di keluarga dan dikucilkan, serta menjadi sasaran pelecehan dan penghinan masyarakat. Namun, jika saja orang memahami kondisi dari penderita ini, sebenarnya dukungan dan respon yang positif dari orang-orang disekitar ODHA adalah orang-orang yang sebenarnya bisa memberikan semangat untuk berpikir positif untuk hidupnya dan juga bisa memberikan hal-hal yang berguna bagi masyarakat disekitar ODHA tersebut.

Abu Hasan mengaku menanggulangi HIV AIDS butuh kerjasama semua pihak. Sejauh ini LAHA bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), Kemenkes, Badan pemeberdayaan perempuan dan Kementerian Sosial (Kemensos). Namun sejauh ini dana yang digunakan LAHA memberdayakan para ODHA ini, berasal dari LSM dunia di Genewa Swiss, Global Fun (GIF). “Namun, MoU yang ditandatangani untuk menanggulangi dana tersebut, hanya sampai 2015,” katanya.

 

LAHA sendiri mengharapkan, dengan lahirnya perda tersebut tidak hanya mengatur tentang pendanaan APBD, tetapi para pihak dapat membantu nasib para penderita.”Saya berharap dalam Perda jangan ada satu pun pasal yang sifatnya menghakimi ODHA, tetapi pasal itu bagaimana kemudian kita bisa meminimalisir anggota ODHA bisa berkurang agar tidak menjadi bahan ejekan masyarakat,”tegas Abu. ARN/SK

Leave A Reply

Your email address will not be published.