KONDA COCOK JADI LOKASI WISATA PEMANCINGAN

Sebenarnya bisnis ikan air tawar di Keccamatan Konda ini telah ada sejak lama, hanya saja pelaku bisnis masih dapat dihitung jari. Semula dikembangkan oleh satu orang, namun kini semakin berkembang. Terdapat lebih dari tujuh lokasi dengan luas empang berbeda-beda. Setiap pemilik empang membuat petak-petak empang dengan saluran air yang terawat baik. Di isi dengan ikan yang berbeda jenis pula. Ada yang khusus mengembangkan ikan lele, nila dan mas.

Lokasi milih warga transmigran ini, tak hanya beranfaat untuk bisnis ikan, namun juga menumbuhkan munat para wisatawan local untuk menikmati liburan. Selain disuguhkan pemandangan empang ikan di lokasi ini warga juga dapat menikmati aneka suguhan makanan dengan menu ikan air tawar yang gurih. Dan saat musim buah kita akan dapat menikmati buah-buahan segar seperti rambutan dan durian di tempat ini, karena di sisi sepanjang empat para pemilik menanam pohon produktif seperti  aneka buah-buahan.

Keberadaan kampung air tawar ini telah dipantau lama oleh Pemerintah Daerah Konawe Selatan melalui
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) dan tentu saja dengan langsung memberikan bantuan, baik bantuan modal usaha maupun pendampingan. Tak hanya itu Kecamatan Konda kini menjadi salah satu penyangga program minadesa yang digagas pemerintah konsel saat ini.

“Kegiatan perikanan air tawar di Konda menjadi prospek bagi daerah Konsel dan ini salah satu wilayah penyanggah program minapolitan sekaligus wisata ,”kata Tahir seorang petugas perikanan Konsel.

Saat itu sejumlah wartawan berkesempatan melihat langsung lokasi empang air tawar yang luasnya berhektar-hektar itu, sekaligus menyaksikan panen ikan lele di Lambusa. Panen dilakukan dengan cara menguras air empang lebih dahulu, lalu membiarkan ikan keluar melalui pipa saluran air. Di mulut saluran para pekerja memasang jarring dan karung agar ikan dapat langsung diangkut ke dalam boks ikan. Satu empang yang luasnya enam kali delapan meter dapat menampung ikan sebanyak dua ribu ekor yang jika ditimbang beratnya dapat mencapai ratusan kilo gram. SK

KULINER EKSTRIM DARI TANAH KONAWE

Makan ulat bagi  sebagaian orang  memang menjijikkan. Namun tidak bagi sebagain masyarakat di daratan Konawe tradisi makan ulat sagu sudah ada sejak dulu. Tentu saja bukan ulat sembarangan melainkan ulat sagu yang dikenal kaya protein. Dalam bahasa tolaki disebut Uwato.

Mencari ulat sagu bagi Bio bukanlah pekerjaan rutin yang dilakoni. Warga di salah satu desa di Kecamatan Lambuya  ini punya kegiatan musiman mencari ulat sagu yang banyak terdapat di batang sagu mati. Ulat sagu dalam istilah etnis tolaki konawe disebut uwato.

Bagi Bio mencari ulat   tidaklah sulit, cukup membawa sebilah kampak lalu membongkar batang sagu yang telah ditebang. Sebelumnya pohon sagu yang dipilih yakni pohon yang baru saja ditebang atau telah diolah.

Ulat sagu biasanya terselip diantara bongkahan batang sagu bagian dalam. Proses pembusukan batang pohon sagu menjadi tempat ulat sagu hidup.

Menurut pemuda ini, ulat sagu merupakan sari pati dari pohon sagu, karena itu ulat sagu dapat dimakan mentah meski tanpa lebih dulu melalui proses dimasak atau dibakar.

Dahulu ulat sagumejadi santapan sebagaian warga, terutama mereka yang tengah membuat sagu. Ulat sagu dikonsumsi sebagai pengganti ikan. Biasanya pencarian ulat berangsung saat panen sagu tengah berlangsung. Namun seiring waktu /kini ulat  sagu kian jarang dinikmati. SK

MENGAIS UNTUNG ATAP SAGU

Bagi masyarakat etnis tolaki tradisi pembuatan atap dari daun sagu boleh ibilang  merupakan warisan nenek moyang mereka demi melindungi diri dari terpaan hujan dan sinar matahari. Kendati arus modernisasi telah bergulir cepat, namun penggunaan atap tradisional ini tetap digunakan masyarakat.

Mudin, salah satu orang yang masih bertahan dengan bahan lama ini. Pria uzur yang berdomisili di Desa Ambesea Kabupaten Konawe Selatan  ini menghabiskan waktunya dengan membuat atap rumah. Keseluruhan bahan atap terbuat dari daun sagu yang dianyam secara apik. Bahan-bahan cukup mudah diperoleh sekitar rumahnya.

Bagi Mudin, pembuatan atap sagu cukup mudah. Pertama dengan mengumpulkan lembaran-lembaran  daun sagu yang telah lebih dulu dipisahkan dari tangkainya. lembaran daun pilihan haruslah daun tua. Panjang helai harus mencapai satu meter setengah agar daun dapat dilipat dua. Diantara  lipatan daun tersebut diselip bambu yang telah diraut dan kemudian dianyam dengan tali yang terbuat dari rotan.

Sebuah atap membutuhkan sedikitnya 20 lembar daun sagu yang disusun sejajar.  Nah, atap yang telah jadi kemudian dijemur hingga daun  berubah warna dari hijau menjadi coklat

Mudin mengaku menggeluti profesi pembuat atap sejak tiga puluh tahun silam, dari membuat atap ia bisa menghidupi keluarganya. Perlembar atap dijual mudin sebesar 1500 rupiah. ”Lumayan banyak yang memesan,”kata Mudin.

Sehari Mudin yang dibantu dua anaknya bisa menyelesaikan seratus atap  sagu.

Pembelinya, selain berasal dari desa juga mendapat pesanan dari desa-desa lain di Konawe Selatan.

Di desa ini, tak hanya Mudin yang membuat atap, melainkan sejumah warga lain juga berbisnis yang sama. ”Selain sya, ada beberapa warga di desa yang juga membuat atap,”katanya.

Sayangnya seiring waktu, tradisi membuat atap ini kian memudar. Selain Mudin dan rekan-rekannya di desa, tak banyak lagi  orang bisa membuat atap daun sagu. Ini disebabkan penggunaan atap seng lebih diminati warga ketimbang daun sagu yang dianggap tidak memiliki daya tahan yang lama. YY

Spot Wisata Dibangun di Desa Sumber Sari

Suarakendari.com- Pembangunan spot wisata mulai dikebut di Desa Sumber Sari, Kecamatan Moramno, Kabupaten Konawe Selatan. Pembangunan dilakukan atas prakarsa para penggiat wisata di desa sumber sari yang bekerjasama dengan Jurusan IT Fakultas Teknik Universitas Haluoleo dan Komunitas Ruruhi Project.

Spot wisata yang dibangun diantaranya, papan branding selamat datang di Desa Wisata Sumber Sari, spot selfie kupu-kupu dan taman wisata desa yang terletak di areal persawahan desa sumber sari. Spot-spot wisata ini sebagai pemantik giat wisata desa yang bertujuan untuk menggerakkan ekonomi desa dan menjaga kulitas lingkungan hisup di desa sumber sari.

“Pembangunan spot wisata ini adalah gerakan mendorong desa sumber sari untuk maju dan berkembang sesuai potensi yang dimiliki,”kata Isnawati, penggiat wisata desa sekligus dosen pembimbing dari mahasiswa IT Fakultas Teknik UHO.

Selanjutnya, pembangunan spot wisata masih akan diteruskan dengan membangun spot wisata seperti jembatan bambu di atas sawah dan pembangunan cafe sawah yang dapat menarik minat wisatawan lokal untuk berkunjung.

Menggenjot pembangun wisata di sumber sari tentu punya potensi besar, mengingat, sumber sari merupakan yang dilewati wisatwan saat berwisata ke air terjun moramo. “Dengan kata lain, desa sumber sari adalah penyangga pariwisata air terjun moramo,”jelasnya. SK

Kegiatan Bursa Inovasi Desa di Konsel Tak Sesuai Harapan

Suarakendari.com-Pelaksanaan kegiatan Bursa Inovasi Desa tak sesuai yang diharapkan seperti tujuannya sebagai forum penyebaran dan pertukaran inisiatif atau inovasi masyarakat. Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Konawe Selatan ini digelar terkesan asal-asalan dan tidak profesional. “Terlihat jika kegiatan ini dilaksanakan secara tidak profesional alias asal jadi,”kata Iman, anggota tim Ruruhi Project selaku salah satu komunitas konsultan desa yang diundang di kegiatan tersebut.

Tidak profesionalnya panitia penyelenggara bursa inovasi desa terlihat dari kondisi persiapan di arena kegiatan bursa, panitia hanya menyediakan tenda besi sebanyak tiga lokal yang disulap sebagai bilik yang hanya dibatasi dengan tirai kain, sehingga suara antara bilik benar-benar berisik. Sebagian bilik tidak dilengkapi dengan alat pengeras suara, sehingga membuat forum konsultasi antara pelaku desa dan konsultan tidak berjalan baik.

Kegiatan konsultasi juga terkesan amburadul, sebab, para peserta inovasi desa tidak tertib dan terkesan ada pembiaran dari panitia. “Kegiatan benar-benar tidak tertib, peserta inovasi dibiarkan berkeliaran dan sebagian tidak tidak ambil peduli untuk melakukan konsultasi secara teratur,”ungkap Iman.

Dari sisi konten kegiatan juga dianggap tidak berjalan sesuai yang harapkan. Sebagaimana termaktub dalam maksud pelaksanaan Bursa Inovasi Desa yaitu untuk menjembatani kebutuhan pemerintah desa akan solusi bagi penyelesaian masalah, serta inisiatif atau altenatif kegiatan pembangunan desa dalam rangka penggunaan dana desa yang lebih efektif dan dan inovatif. “Sangat disayangkan, peserta bursa hanya datang mencatat menu yang dberikan tanpa berkonsultasi secara mendalam terkait potensi-potensi yang ada di desa mereka,”kata Iman.

Kegiatan-kegiatan yang akan dipamerkan dalam Bursa Inovasi Desa juga ikut disorot, yakni yang seharusnya berupa kegiatan-kegiatan yang bernilai inovatif dalam pembangunan desa. “Kita berharap ada ide-ide kreatif yang lahir dan berkembang di desa-desa dan bisa saling berbagi informasi. Tapi itu tidak muncul,”keluh Indah dari Komunitas Teras.

Kegiatan Bursa Inovasi Desa juga terkesan miskin ide, para konsultan seolah hadir hanya sebagai penjual produk. “Awalnya kita ingin ada konsultasi yang lebih mendalam dan tugas kami membantu pelaku desa untuk mengidentifikasi potensi desa mereka dan memberikan solusi pengelolaan desa,”ujarnya.

Kegiatan Bursa Inovasi Desa di Kabupaten Konawe Selatan berlangsung tiga hari (20-22 September 2018) merupakan kegiatan yang sudah berlangsung dua tahun dan menghadirkan kurang lebih 350 desa di konawe selatan.

Tujuan dari Bursa Inovasi Desa, antara lain sebagai berikut:

Mendiseminasikan informasi pokok terkait Program Inovasi Desa (PID) secara umum, serta Program Pengelolaan Pengetahuan dan Inovasi Desa secara khusus.
Menginformasikan secara singkat pelaku-pelaku program di tingkat Kabupaten, Kecamatan dan Desa.
Memperkenalkan inisiatif atau inovasi masyarakat yang berkembang di desa-desa dalam menyelesaikan masalah dan menjalankan kegiatan pembangunan.
Membagi kegiatan inovasi yang telah di dokumentasikan dalam bentuk video maupun tulisan.
Membangun komitmen replikasi.
Menjaring inovasi yang belum terdokumentasi.
Membagi informasi Penyedia Jasa Layanan Teknis (PJLT).
Untuk diketahui bahwa Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Desa memiliki dua kewenangan khusus, yaitu kewenangan berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal skala Desa. Untuk mendukung desa dalam pelaksanaan kedua kewenangan tersebut, Pemerintah telah mengucurkan Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) sejak tahun 2015. Dengan adanya kuncuran dana ke desa-desa, diharapkan desa berkemampuan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya secara efektif, guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa.

Namun, disadari bahwa kapasitas Desa dalam menyelenggarakan pembangunan dalam perspektif “Desa Membangun”, masih terbatas. Keterbatasan itu tampak dalam kapasitas aparat Pemerintah Desa dan masyarakat, kualitas tata kelola Desa, maupun sistem pendukung yang mewujud melalui regulasi dan kebijakan Pemerintah yang terkait dengan Desa.

Sebagai dampaknya, kualitas perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pemanfaatan kegiatan pembangunan Desa kurang optimal dan kurang memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa.

Pembangunan desa lebih terfokus pada kegiatan infrastruktur seperti pembuatan rabat beton, pembangunan gedung, dll. Sedangkan, kegiatan-kegiatan yang bersifat pemberdayaan masyarakat porsinya dalam APBDes (Anggaran Pendapatan Belanja Desa) masih sangat minim.

Oleh karena itu, Program Inovasi Desa (PID) dimunculkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui peningkatan kapasitas desa dalam mengembangkan rencana dan pelaksanaan pembangunan desa secara berkualitas. SK

Desa Sumber Sari Moramo Berpotensi Jadi Desa Wisata

Suarakendari.com-Dengan ragam potensi sumber daya alam yang dimiliki, Desa Sumber Sari, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan dapat berpotensi menjadi desa wisata. Potensi yang dimiliki desa berpenduduk kurang lebih 200 KK ini diantaranya. potensi pertanian sawah dan palawija, perikanan darat dengan ikan air tawar, Kehutanan baik hutan maupun hutan non kayu seperti rotan, madu, anggrek.

Jika terwujud, tentunya, akan sangat berpotensi menggaet minat wisatwan lokal yang selama ini biasa hidup di perkotaan dan beraktifitas di tengah hutan beton dan polusi udara. Mereka dapat merasakan sensasi berwisata di areal persawahan seperti menikmati makan di pinggir sawah. Begitu pula jika saja perikanan darat dikembangkan, maka wisatwan dapat menikmati sensasi memancing ikan air tawar di kolam ikan yang luas, sembari menikmati hidangan ikan bakar ala pedesaan.

Potensi ini kian besar karena Desa Sumber Sari menjadi pintu masuk di area pariwisata air terjun moramo yang dikenal memiliki keindahan tangga airnya, sehingga sangat cocok dikembangkan menjadi sebuah desa wisata. Tak hanya itu, desa yang didiami berbagai etnis ini memiliki ragam budaya dan agama yang dapat dikemas menjadi obyek wisata berbasis etnik.

Kepala Desa Sumber Sari mengaku sangat berharap agar desanya dapat berbenah menjadi salah satu desa yang mengembangkan pariwisata. “Mudah-mudahan kita dapat bekerja sama dengan banyak pihak mendorong terwujudnya desa wisata sumber sari,”ujarnya saat pertemuan dengan sejumlah komunitas wisata dan perguruan tinggi.

Untuk sarana rumah singgah maka desa sumber sari cukup layak mengembangkan homestay mengingat banyaknya rumah warga yang layak huni. Demikian pula potensi sumber daya manusia untuk mengembangkan guide wisata, karang taruna, kelompok sadar wisata sudah cukup memadai. SK

Desa Batu Jaya Kaya Potensi Wisata Alam

Suarakendari-Satu lagi desa yang kaya akan potensi wisata alam di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Adalah Desa Batu Jaya yang berada di Kecamatan Laonti, memiliki potensi pariwisata yang patut diperhitungkan. Desa yang bertetangga langsung dengan Desa Wisata Namu ini kini tengah berbenah menuju pengelolaan pariwisata desa yang lebih serius.

“Saat ini kami tengah mendata potensi pariwsata desa Kami, yang pasti wisata alam seperti air terjun, pantai dan alam bawah laut menjadi potensi yang layak untuk kami kelola,”kata Basman, Kepala Desa Batu Jaya.

Desa dengan luas keseluruhan mencapai 16 KM2 ini juga memiliki potensi sumber air panas dan kekayaan flora dan fauna, seperti anoa, burung halo dan aneka ikan hias.

“Kami menyediakan satu spot andalan yang mungkin tidak ada di desa lain, yakni spot pengamatan anoa sekaligus menjadi lokasi tracking mangrove,”ungkap Basman.

Kades yang baru menjalankan tugas di periode pertama ini optimis Batu Jaya akan bisa mengikuti langkah kesuksesan desa tetangganya, Desa Wisata Namu. “Yang pasti Kami selalu siap untuk mengelola potensi wisata desa kami dan berharap bisa menjadi desa wisata,”ujarnya. YOS

Diaspora Nelayan Desa Lamongupa di Konawe Kepulauan

Suarakendari.com, KONKEP-Enam puluh Delapan tahun silam mereka hadir sebagai saudagar beras. gula, Oleh kebijakan distrik pada saat itu. mereka dibukakan satu desa khusus.Kini mereka 75 persen bekerja sebagai nelayan.
Hari menjelang sore, Burhan (49 tahun) nampak sibuk menghampar ikan di pinggir jalan desa yang tak seberapa luas. Ikan-ikan ini baru saja turun dari perahu sehingga nampak segar. Orang di kampong menyebutnya ikan sori, mungkin karena bentuk mulut ikan yang panjang. Burhan langsung menyimpan ke dalam baskom yang sudah dia siapkan sebelumnya, selanjutnya dijual ke warga sekitar dan warga di desa-desa tetangga.
Nama Lamongupa berasal dari dua suku kata yaitu Laa = sungai/kali (bahasa Wawonii) dan Mongupa = jambu/manggopa. Karena di sekitar wilayah Lamongupa saat itu terdapat kali besar yang hanya ditumbuhi oleh satu tanaman mongupa.
Desa ini merupakan wilayah pesisir pantai yang dihuni oleh sebagian besar para perantau Bugis – Bone. Proses diaspora suku Bugis di desa ini terjadi sekitar tahun 1947. Pada awal kehadirannya di Wawonii, mereka hadir sebagai pedagang menjual gula, beras dan lain-lain.
Karena mereka merasa cocok dan terjalin hubungan baik dengan masyarakat Wawonii pada saat itu, maka mereka memilih tinggal. Oleh kepala distrik Wawonii saat itu, mereka kemudian diberikan izin untuk tinggal di Desa Lamongupa.
Pada tahun 1957, Lamongupa yang masih merupakan salah satu dusun di Desa Lampeapi ditetapkan menjadi pusat pemerintahan Kecamatan Wawonii yang pada saat itu camat pertama dijabat oleh Bapak Lasikende dan berkembang hingga kini.
Total jumlah penduduk Desa Lamongupa adalah sebanyak 68 KK (Kepala Keluarga), sebagian besar di dominasi oleh suku Bugis – Bone, kemudian Suku Tolaki/Wawonii dan sebagian kecil suku Buton. Seratus persen warganya beragama Islam.
Berberda dengan desa-desa sebelumnya, penduduk Desa Lamongupa justru menggantungkan hidupnya sebagai nelayan. Hal ini lebih didukung oleh kondisi desa yang sebagian besar wilayahnya merupakan daerah pesisir.
Sedangkan di bidang pertanian, hanya dijalankan oleh sebagian kecil masyarakat di desa ini dan hanya dianggap sebagai kegiatan sampingan bagi mereka.
Ikan hasil tangkapan biasanya di pasarkan oleh ibu-ibu ke desa-desa tengga hingga ke wilayah Kecamatan Wawonii Selatan.
Sukardin – Tokoh Adat – memaparkan bahwa Desa Lamongupa menyediakan suplay ikan bagi desa-desa tentangga di Wawonii Tengah, termasuk Wawonii Selatan.
Menurutnya, ada beberapa kendala yang kerap dihadapi oleh para nelayan di Desa Lamungupa, yakni belum tersedianya energi listrik di desa ini. Hal ini sangat berpengaruh terhadap tingkat kesegaran ikan hasil tangkapan terlebih jika ikan-ikan tersebut sudah tertangkap beberapa jam.
Keberadaan Desa Lamongupa juga memiliki pertautan sejarah perjalanan pendidikan di Sulawesi Tenggara. Sukardin – tokoh adat Lamongupa mengaku, bahwa DDI (madrasah ibtidaiyah tempo dulu) pertama di Sulawesi Tenggara berada di desa Lamongupa.
Selanjutnya pada tahun 1997 Desa Lamongupa dimekarkan menjadi sebuah desa. Sampai tahun ini, telah terjadi 3 kali pergantian kepala desa dan kepala desa yang ketiga bernama Abdul Rasyid.
Hak kepemilikan atas tanah di desa ini ditentukan oleh usaha di atas tanah warisan yang telah berlangsung secara turun temurun. Sayangnya hingg kini belum ada Program Nasional (Prona) sertifikasi lahan di desa ini. Ini juga menjadi kekhawatiran warga menyusul mekarnya wawonii sebagai daerah otonomi baru. Terlebih jika melihat fakta sumber daya alam desa yang konon terdapat potensi sumber daya mineral di sana.
Informasi yang diperoleh dari beberapa informan, disebutkan bahwa di desa ini terdapat 3 jenis sumber daya mineral, yaitu Chrome, Besi dan Pasir Kuarsa.
Sekitar tahun 2007, bahkan, pihak perusahaan tambang telah melakukan eksplorasi terhadap jenis-jenis sumber daya tersebut. Tetapi oleh masyarakat setempat, aktivitas ini di tolak dan akhirnya berhenti atas desakan masyarakat. ***

Pembangunan Desa Harus Transparan

Suarakendari.com- Kelahiran Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang desa tentu menjadi harapan baru bagi pembangunan daerah pedesaan di Indonesia. Dana yang mengalir ke desa pun tidak sedikit, jumlah mencapai triliunan rupiah yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan harapan desa dapat berdikari demi kesejahteraan rakayt. Namun, sayang sejak digulirkan tiga tahun silam harapan desa bisa sejahtera, nampaknyamasih jauh “panggang dari api”, alih-alih desa menjadi maju, yang terjadi progres pembangunan benar-benar belum terlihat sama sekali.

Dan yang membuat miris, banyak sekali elit desa khususnya Kepala Desa justeru terjerumus ke lembah korupsi. Padahal, tak sedikit himbauan dari pemerintah termasuk presiden Joko Widodo agar pemerintah desa dapat menggunakan dana desa secara transparan dan terencana sesuai kebutuhan pembangunan yang dimusyawarakan secara bersama rakyat.

Pengamat sosial yang juga akademisi Universitas Halu Oleo (UHO) Saifuddin Suhri Kasim dalam sesi pelatihan tata kelola aset desa mengatakan, dengan pemberian anggaran yang besar ke desa, maka sebaiknya pemerintah desa dapat lebih serius dan lebih fokus pada pembangunan desa mereka. Membangun dengan benar-benar sesuai potensi yang dimiliki desa, seperti jika desa memiliki potensi wisata maka sebaiknya desa memberikan prioritas besar pada perencanaan mereka. “Namun, fakta yang ada sebagian besar desa-desa belum benar-benar menerapkan pembangunan berbasis potensi, yang ada measih menggunakan paradigma lama menggunakan dana desa membangun sarana dan prasarana fisik saja. Ini tentu sangat disayangkan,”ungkap Saifudddin. SK