Berjuang Demi Perbaikan Lingkungan Pesisir Morut

SUARA KENDARI-Saifudin (48 tahun) bukanlah orang sembarang, di desanya Ia mungkin tergolong manusia langka. Dari tiga ratusan orang warga yang berdomisili dipesisir  kecamatan Moramo Utara, boleh dikata yang peduli lingkungan pesisir dapat dihitung jari, salah satunya adalah  Saifudin.

Bapak tiga anak ini  sehari-hari bekerja sebagai nelayan tangkap dan budidaya di desanya. Kepeduliannya terhadap keberadaan terumbu karang  dan memerangi aktifitas pemboman ikan, menempatkan dirinya menjadi salah satu pejuang lingkungan di desanya.

Ia berkisah, suatu ketika Ia merasakan betapa sulitnya memperoleh ikan, padahal laut cukup dekat dari rumahnya. Kesulitan ini bukan tanpa sebab, aktifitas pemboman ikan telah menyebabkan habitat ikan rusak total. “Banyak sekali terumbu karang yang hancur akibat pemboman ikan, ini membuat kami masyarakat nelayan kesulitan karena ikan sudah tidak ada lagi yang bisa dikail,”kata Saifudin.

Ia pun berusaha memberikan nasihat pada pelaku-pelaku pembom ikan di desanya agar tidak lagi membom ikan, tapi niat baiknya tersebut justeru berbuah cibiran. “Saya dianggap sebagai   penghalang kegiatan illegal mereka,”kata Saifudin  mengenang kisah pilu itu.

Selain dikucilkan tak jarang Ia mendapat ancaman terror dari para pelaku. “Prinsip saya sepanjang niat baik untuk kebaikan bersama, maka saya pantang untuk mundur,”tegasnya.

Tak hanya memberikan nasihat, Saifudin bahkan dengan suka rela memperbaiki kembali terumbu karang yang rusak dengan merehabilitasi karang-karang buatan. Aktifitas saifudin ini sempat dianggap warga sebagai kegiatan orang gila. “Saya tidak peduli dengan cibiran orang, bekerja untuk memperbaiki lingkungan pesisir sudah menjadi tekad saya,”ungkapnya.

Dua tahun bergelut dengan perbaikan terumbu karang, warga pun menuai hasil. Dan ikan-ikan kembali berkembang biak dan warga pun senang.

Dari sanalah Saifudin diam-diam mendapat dukungan sebagian warga terutama para tokoh dan sesepuh kampong serta kepala desa. Bahkan inisiatif membentuk lembaga pengawas pesisir pun dibentuk dengan suka rela. “Alhamdulillah perjuangan saya tidak sia-sia kini banyak warga yang sudah beralih mendukung kegiatan perbaikan lingkungan pesisir,”ujar Saifudin.

Warga dan aparat desa juga membentuk kesepakatan untuk memerangi pemboman ikan, warga dengan suka rela melaporkan setiap temuan aktifitas pemboman ikan, jika perlu diteruskan ke aparat berwajib, sehingga perlahan membuat jera para pelaku.

Atas jasanya itu, kini Saifudin menjadi mitra tetap dinas kelautan dan perikanan Kabupaten Konawe Selatan, sebagai ketua kelompok kerja mitra bahari. (js)

Sensasi Memancing di Rumah Bagang

SUARAKENDARI.COM-Memancing di sungai atau di laut mungkin sudah biasa, namun memancing di rumah bagang patut dicoba sebagai menjadi alternatif pilihan diwaktu liburan anda di akhir pecan. Selain bisa memilih ikan berbagai jenis sesuka hati, Anda juga menikmati ikan bakar hasil pancingan sambil terus mengulurkan kail ke laut.

Ya,inilah yang dilakukan sekelompok warga di pesisir desa, Kecamatan Laonti,  Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara yang memanfaatkan waktu liburan akhir pekan mereka dengan memancing di sebuah rumah bagang milik Sarifudin, warga nelayan setempat.

Rumah bagang sendiri berukuran 6 x 8 meter persegi, merupakan rumah panggung terbuat dari kayu yang berdiri kokoh di atas laut  dan di bagian bawah rumah disimpan berbagai jenis ikan  laut. ikan-ikan berbagai jenis dan ukuran ini disimpan dalam kolam air yang diseluruh sisinya di pasangi jaring -jaring   yang berfungsi sebagai pembatas  agar ikan tidak lari.

Memancing di bagang yang penuh ikan ini memang memiliki sensasi tersendiri bagi para pemancing, sebab di rumah bagang ini para pemancing  bisa memilih jenis dan ukuran ikan hidup yang akan dipancingnya. Cara memancing pun sedikit berbeda dimana kail harus di turunkan melalui celah lantai rumah yang terbuat dari kayu. Tak hanya itu hasil pancingan yang masih hidup dapat langsung di bakar di perapian yang sudah disiapkan pemilik bagang.

Sarifudin pemilik bagang mengaku setiap minggunya, rumah bagang miliknya selalu di kunjungi para pemancing yang berasal dari Kota Kendari. Selain menawarkan paket ikan murah memancing di rumah bagang juga terasa alami karena didukung panorama alam laut yang alam sehinggai membuat orang yang datang betah duduk berlama-lama di rumah bagang.

Perairan laut konawe selatan memang menyimpan surga ikan bagi nelayan setempat. Apalagi di sepanjang pesisir daerah kecamatan laonti belum banyak dikembangkan rumah bagang seperti milik Sarifudin tersebut. Pemerintah konawe selatan masih berusaha mengembang pemberdayaan rumah bagang  yang dapat mensejahterakan warga setempat.SK

Menanti Kiprah Pabrik Gula Konsel

KONSEL, SUARAKENDARI.COM-Pabrik gula  segera dibangun di kabupaten Konawe Selatan. Jadi masyarakat tak perlu lagi jauh-jauh belajar proses pembuatan gula hingga keluar Konsel sana, seperti yang selama ini berlaku. Dimana, dulunya, warga harus ke Kabupaten Takalar Provinsi Sulawesi Selatan untuk belajar. “Kita berharap nantinya warga sudah bisa melihat sekaligus bekerja di pabrik pembuatan gula di daerahnya sendiri.”kata DR Arsalim Arifin, Kepala Bappeda Konawe Selatan.

Menurutnya tidak ada lagi persoalan yang menghambat pembangunan pabrik gula di Konsel, sehingga sesegera mungkin pihak perusahaan membangun pabrik, agar masyarakat bisa bekerja mendapatkan penghasilan yang layak dan menggenjot APBD, serta mengurangi pengangguran khususnya di Konsel dan pada umumnya di Sultra,”ungkapnya.

Pembangunan pabrik gula ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara yang menyambut baik proyek percepatan pembangunan pabrik gula Bahteramas di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel). Wakil Gubenur Saleh Lasata menyatakan, kebijakan nasional untuk memenuhi kebutuhan gula nasional harus menjadi prioritas utama dengan tidak mengesampingkan aturan yang menjadi kepentingan bersama, baik pemerintah daerah maupun provinsi termasuk investor.

“Dan tak ada lagi alasan untuk menghambat proses pembangunan pabrik gula di daerah ini,”jelasnya.

Tercatat, luas wilayah daerah berjuluk Laiwoi Selatan ini mencapai 451.421 ha atau 11,83 persen dari luas wilayah daratan Sulawesi Tenggara. Dengan luas wilayah yang ada diperkirakan dapat menyuplai kebutuhan gula nasional. Dan yang terpenting keehadiran pabrik dapat memberdayakan masyarakat setempat untuk bekerja mendapatkan penghasilan yang layak dan pada gilirannya mengurangi pengangguran.

Kehadiran investor yang menanamkan modal di sector perkebunan tebu mendapat dukungan warga. “Sebagai warga masyarakat saya sangat mendukung pembangunan pabrik gula di daerah saya dan saya warga nantinya bisa diberikan lapangan kerja,”ujar Usman, warga Desa Lolobao bangga.

Warga Bororo Nikmati Dermaga danTambatan Perahu

KONSEL, SUARAKENDARI.COM-Upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan tengah bergulir di hamper seluruh pesisir Konawe Selatan (Konsel). Ini bagian dari upaya pemkab Konsel memajukan wilayah pesisir dari ketertinggalan melalui program andalan Minapolitan. Salah satu upaya yang dilakukan yakni, dengan membangun infrastruktur dermaga mini yang terbuat dari kayu serta membangun tambatan perahu dalam rangka memudahkan aktifitas nelayan melaut.

Di Desa Bororo misalnya, sebuah tambatan perahu sepanjang tiga puluh meter , berdiri memanjang di tengah-tengah pemukiman penduduk desa. Warga yang hendak menyeberang ke desa lain di sekitar Bororo nampak senang dengan hadirnya tambatan perahu yang digagas Dinas Kelautan dan Perikanan Konsel ini. Sebab, tak hanya Warga Bororo yang menikmatinya, tetapi juga warga desa lain seperti Pundambeabarata. Padahal empat tahun silam, warga terpaksa harus bersusah payah menuju pinggir laut untuk mencapai perahu mereka.

Dengan adanya dermaga mini, selain memudahkan warga untuk menanti perahu yang lewat, juga pemilik perahu merasa nyaman karena tidak lagi erlu khawatir dengan nasib perahu mereka, yang sebaktu-waktu bisa hilang atau terbawaair pasang. ‘Kami sangat bersyukur dengan dibangunnya tambatan perahu ini, karena perahu bisa aman diikuat di bawah dermaga ini,”kata Umar, warga nelayan. YOS

Debut Bisnis Ikan Air Tawar di Konda

KONSEL, SUARAKENDARI.COM-Desa  Lambusa dan Desa Cialam, Kecamatan Konda, Konawe Selatan punya julukan kampung ikan air tawar.  Dua desa ini menjadi tujuan para pebisnis ikan di Sultra, terutama  restoran dan rumah makan. Bahkan para pemilik empang  air tawar kini sudah mengembangkan bisnis mereka ke luar kabupaten konsel, seperti Kota Kendari hingga ke Kota Baubau. “Alhamdulillah, banyak pesanan ikan,”kata junaedi, pemilik empang air tawar di Konda.

Per kilo harga ikan air tawar bervariasi, seperti ikan mas, nila dan lele memiliki nilai bervariasi, dari harga 30 ribu rupiah perkilogram hingga 50 ribu rupiah. Para pebisnis ikan bahkan sudah melakukan sitem kontrak kepada pemilik empang.  “Setiap bulannya tak ada ikan yang tersisa, bahkan sudah diborong jauh sebelumnya,”kata Junaedi, pria beranak dua itu tersenyum.

Sebenarnya bisnis ikan air tawar di Keccamatan Konda ini telah ada sejak lama, hanya saja pelaku bisnis masih dapat dihitung jari. Semula dikembangkan oleh satu orang, namun kini semakin berkembang. Terdapat lebih dari tujuh lokasi dengan luas empang berbeda-beda. Setiap pemilik empang membuat petak-petak empang dengan saluran air yang terawat baik. Di isi dengan ikan yang berbeda jenis pula. Ada yang khusus mengembangkan ikan lele, nila dan mas.

Keberadaan kampung air tawar ini telah dipantau lama oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Konawe Selatan dan tentu saja dengan langsung memberikan bantuan, baik bantuan modal usaha maupun pendampingan. Tak hanya itu Kecamatan Konda kini menjadi salah satu penyangga program minapolitan yang digagas pemerintah konsel saat ini.

“Kegiatan perikanan air tawar di Konda menjadi prospek bagi daerah Konsel dan ini salah satu wilayah penyanggah program minapolitan,”kata Ir Adywarsyah Toar MSi, Kepala Dinas DKP Konsel usai panen ikan lele di Desa Lambusa, berapa waktu lalu.

Saat itu sejumlah wartawan berkesempatan melihat langsung lokasi empang air tawar yang luasnya berhektar-hektar itu, sekaligus menyaksikan panen ikan lele di Lambusa. Panen dilakukan dengan cara menguras air empang lebih dahulu, lalu membiarkan ikan keluar melalui pipa saluran air. Di mulut saluran para pekerja memasang jarring dan karung agar ikan dapat langsung diangkut ke dalam boks ikan. Satu empang yang luasnya enam kali delapan meter dapat menampung ikan sebanyak dua ribu ekor yang jika ditimbang beratnya dapat mencapai ratusan kilo gram.

Joko, Kepala Desa Lambusa mengaku bangga dengan warganya yang giat mengembangkan bisnis ikan air tawar. Pasalnya keberadaan kampung Lambusa menjadi terkenal sampai ke daerah lain di Sultra. “Kegiatan ini positif membawa nama Desa Lambusa menjadi lebih terkenal sampai keluar daerah,”katanya. Ia juga bersyukur dengan itikat baik pemerintah Konsel melalui Dinas Kelautan dan Perikanan yang telah memberikan bantuan kepada masyarakat Lambusa khususnya para pebisnis ikan air tawar. “Ini menjadi bagian dari peran desa mendukung program minapolitan yang digagas Bapak Bupati Imran,”kata Joko. Ia berharap bantuan pemerintah ini dapat terus dikembangkan dan menyentuh para usahawan lain di Konda. YOS

Penyakit Ice-Ice Musuh Nelayan Rumput Laut

KONSEL, SUARAKENDARI.COM-Para pembudidaya rumput laut di pesisir Kecamatan Moramo dan Moramo Utara diresahkan oleh penyakit Ice-Ice yang menyerang budidaya rumput laut mereka setahun belakangan ini. Penyakit ini menyebabkan semakin berkurangnya aktivitas budidaya rumput laut oleh kelompok masyarakat pembudidaya di wilayah itu.

Dalam pertemuan antara Kelompok Budidaya Moramo Utara dan tim DKP Konsel terungkap bahwa, penyakit Ice-Ice ini akibat dari musim panas sepanjang tahun 2013 sampai 2014 iniyang menyebabkan rumput laut menjadi memutih dan melepuh. Penyakit ini mengakibatkan tidak adanya penghasilan yang didapatkan dari budidaya rumput laut sepanjang tahun 2012 hingga 2013. Ini sangat berbeda dengan tahun 2011, setiap kelompok berhasil mendapatkan 14 Ton rumput laut setiap panen.

“Para pembudidaya rumput laut banyak yang beralih menjadi nelayan dan buruh untuk sumber penghasilannya,”kata Mina, kelompok nelayan di Desa Wiawia, Moramo Utara.

Lebih lanjut Mina menjelaskan bahwa kelompoknya berencana akan kembali menanam rumput laut di tahun 2013 ini. Bantuan kepada pembudidaya rumput laut ini sangat diharapkan agar kelompoknya memperoleh hasil panen rumput laut yang memuaskan.

Sementara Ernanto Tawulo, Kabid Budidaya DKP Konsel menjelaskan, bahwa penyakit   Ice-Ice yang menyerang rumput laut disebabkan banyak factor, salah satunya kurang sehatnya air laut tempat lokasi budidaya, hal ini sebabkan lokasi telah tercemar sendimentasi limbah atau juga akibat pemboman ikan. Karena itu Ernanto meminta peran aktif nelayan untuk lebih meahami cara budi daya yang baik serta mengawasi aktifitas illegal seperti pemboman dan pembiusan karang. “Aktifitas illegal seperti pemboman ikan dan pembiusan karang telah membawa dampak kerusakan tidak hanya lingkungan tetapi juga hasil budidaya nelayan kita,”katanya. TIM

Pentingnya Peran Kelompok Masyarakat Pengawas Laut

KONSEL, SUARAKENDARI.COM-Jufri warga Desa Wawatu, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe selatan mengarahkan pandangan ke arah suara ledakan bom di ujung perairan desa. Ia meninggalkan alat pancing dan bergegas ke arah bunyi ledakan saat menjelang magrib. Di sana, pria parubaya itu menyaksikan empat nelayan tengah asyik mengumpulkan ikan  hasil bom yang mengapung di atas permukaan air. Ke empat nelayan yang tak dikenalinya itu buru-buru pergi saat tau Jufri datang. Amarahnya mencuat melihat patahan-patahan terumbu karang yang hancur akibat bom ikan tersebut. Apalah daya dia hanya seorang diri tidak mampu berbuat apa-apa. Namun ia tak patah semangat, Ia pun berjuang melawan para pembom ikan.

Beberapa bulan kemudian kesempatan itu tiba, saat tim survey wilayah pesisir Dinas Kelautan dan Perikanan Konawe Selatanmampir ke desanya. “Saat itu saya sedang di pantai dan melihat tim survey datang ke desa saya,”kata Jufri.

Dari sinilah awal mula perubahan terjadi. Jufri sang nelayan mengungkap semua kegundahannya sebagai nelayan pesisir yang setiap saat melihat aksi pemboman ikan. Jusfri mengadu kerusakan terumbu karang akibat illegal fhising telah merusak lingklungan pesisir serta merusak perekonomian nelayan yang selama ini sangat bergantung pada keramahan laut. “Kerusakan pesisir telah membuat kami susah memperoleh hasil tangkapan dan berdampak pada kehidupan ekonomi keluarga kami,”kata Jufri. Mendengar keluhan Jufri, petugas dinas menyarankan agar nelayan membentuk Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas).

Setelah mendapat saran, maka sejak 2009 silam, warga membentuk komunitas kelompok yang diberinama Kelompok Masyarakat Pengawas Laut

(Pokmaswas) Samaturu yang diketuai oleh Jufri. Pokmawas pun mulai melakukan pengawasan dan membuat Daerah Perlindungan Laut (DPL) di sekitar perairan Pulau Lara tempat nelayan-nelayan destructive fishing melakukan pemboman ikan. Alhasil, upaya Jufri dan kawan-kawan membuahkn hasil, selain pembom ikan semakin berkurang, hasil tangkapan nelayan pun mulai kembali normal seiring makin baiknya terumbu karang. Tak hanya mengawasi, pokmawas melalui bantuan dinas, juga membuat traspalasi karang yang rusak dan mendapatkan bantuan modal usaha bersama.

Agar nelayan atau anggota Pokmaswas Samaturu dapat menjalankan operasinya maka mulailah dikelola Pulau Lara sebagai daerah ekowisata. Pulau Lara yang tadinya kotor dengan sampah-sampah masyarakat pesisir mulai dibersihkan oleh anggota Pokmaswas Samaturu. Semakin lama pengunjung mulai berdatangan, pundi-pundi dana Pokmaswas Samaturu pun mulai ada dalam menjaga (DPL) di sekitar perairan Pulau Lara. Pundi-pundi dana ini berasal dari sumbangan nelayan Desa Wawatu sebesar Rp. 10.000 per satu kali mengantar wisatawan maupun mahasiswa dalam penelitian.

Dengan adanya ekowisata Pulau Lara perekonomian Desa Wawatu mulai bergejolak naik ada yang menjadi tukang parkir, kios hingga penyewaan perahu. Sehingga tugas dalam melindungi Daerah Perlindungan Laut (DPL) di sekitar perairan Pulau Lara tidak memata-mata tanggung jawab anggota Pokmaswas Samaturu tapi hampir sebagian besar masyarakat Desa Wawatu. Nelayan pun dalam menangkap ikan tidak terlalu jauh disekitar daerah pemanfaatan DPL Pulau Lara karena ikan-ikan mulai banyak di daerah transplansi karang (pembiakan karang) yang dilakukan para mahasiswa.

Jufri kini bisa tersenyum, dengan melakukan hal kecil (membentuk Pokmaswas) tetapi memberi efek perubahan sungguh besar bagi masyarakat dan ilmu penelitian. (TIM DKP Konsel)

 

 

Membangun Kesejahteraan Nelayan Lewat Program Minapolitan

KONSEL, SUARAKENDARI.COM-Sedia payung sebelum hujan. Ungkapan itu sepertinya pas menggambarkan program Bupati Konawe Selatan, Drs H Imran MSi dalam pemberdayaan masyarakat pesisir.

”Potensi ekonomi laut di pesisir harus diterus dikembangkan, kita memiliki  potensi besar di perikanan tangkap, perikanan budidaya, rumput laut, pariwisata dan sektor turunan lainnya,”ungkap Imran.

Pemkab Konsel, kata Imran telah menetapkan lokasi-lokasi pengembangan kawasan perikanan terpadu yang disebut “Minapolitan Konsel”, berdasarkan potensinya masing-masing. Lima kawasan tersebut meliputi Pelabuhan Perikanan dan kawasan budidaya rumput laut kecamatan tinanggea, kawasan budidaya kerang dan kawasan pangkalan pendaratan ikan (PPI) Tinanggea.

”Lokasi itu merupakan sentra pengembangan perikanan yang diprioritaskan. Sejak  2013 lalu, kawasan perikanan tersebut akan menjadi kawasan Minapolitan untuk jenis perikanan tangkap. Di samping itu, juga akan dikembangkan perikanan budidaya di wilayah pesisir,” tambah Imran.

Imran meyakini, strategi ini tidak hanya akan memacu kesejahteraan masyarakat pesisir yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan, tetapi juga akan mempercepat laju pembangunan dan pemerataan perekonomian daerah itu.

Proyek pengembangan kawasan “Minapolitan Konsel” ditargetkan akan menjadi pilot project bagi sektor kelautan dan perikanan di wilayah pesisir lainnya di Konsel.

Karena itu, proyek ini perlu dikawal oleh seluruh elemen masyarakat agar berhasil. Pengembangan kawasan minapolitan harus menjadi prioritas utama yang dikerjakan sungguh-sungguh di masing-masing daerah. Dukungan dan kerja sama semua pihak sangat dibutuhkan untuk menyukseskan program strategis ini, sehingga kesenjangan pembangunan dapat teratasi. YOS

Meraih Untung di Keramba Apung

KONSEL, SUARAKENDARI.COM-Ismail (59 tahun) sumringah. Warga desa Landipo, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan ini akhirnya bernapas lega  setelah berhasil  merehap rumahnya . “Alhamdulillah saya sudah bisa mengganti atap rumah dengan seng,”kata Ismail, sambil menunjuk atap rumahnya yang ciber. Tak hanya atap, Ismail juga mengganti seluruh dinding rumah dengan papan baru. “Papan yang lama sudah lapuk jadi harus diganti,”katanya.

Ismail mengaku, delapan bulan lalu, rumahnya masih beratap rumbia yang sebagain besar  sudah bolong-bolong. Saat musim hujan, air langsung jatuh ke lantai rumah. “Terpaksakami harus menyedikan baskom untuk menadah air hujan,”kayanya mengenang.

Asrul juga demikian. Pria satu anak ini sudah bisa mengabulkan cita-cita membeli perahu berikut mesinnya. Perahu atau bodi (istilah warga nelayan setempat) digunakan Asrul  untuk mencari ikan tanpa harus lagi menyewa. “Dulu, sebelum punya bodi, saya selalu menumpang ke kapal teman untuk mencari ikan,”ujar Asrul.

Perubahan nasib kedua lelaki ini bukan tanpa alasan. Berkat menekuni program kelompok nelayan, kesejahteraan mereka perlahan mulai berubah. Nasib mempertemukan keduanya tepat setahun yang  lalu, “Saat itu, Kami berdua berinisiatif membentuk kelompok nelayan dengan program kerja keramba jaring apung,”kata Ismail. Ide ini muncul, setelah berdiskusi dengan intens dan berkat bimbingan Hasanudin, seorang penyuluh lapangan dari Unit Pengelola Perikanan (UPP) Konsel, yang kebetulan bertugas di wilayah   Moramo.

Kelompok yang dibentuk bernama Nelayan Abadi ini kian melejit setelah mendapat bantuan khusus dari Dinas Kelautan dan Perikanan Konawe Selatan sebanyak sepuluh unit keramba.  Termasuk pembangunan rumah apung  bagi sepuluh orang  yang semuanya tergabung dalam kelompok Nelayan Abadi. “Hasilnya pun kami nikmati,”jelas Ismail.

Sebelumnya, lanjut Ismail, dia dan warga nelayan sangat kesulitan dalam berusaha hasil laut. “Kadang kami berhari-hari mencari ikan tapi hasil tidak signifikan, bahkan hasilnya hanya cukup untuk makan bersama keluarga,kenang Ismail.

Kendala utama  lagi-lagi soal peralatan tangkap yang minim, termasuk masih menggunakan menggunakan cara tradisonal dalam membudidaya.  “Dulu kesulitan utama kami, yakni, tidak adanya keramba, sehingga sebagian bibit ikan hasil tangkapan banyak yang hilang, akibat peralatan  keramba jaring tidak memadai. Ditambah lagi kami harus menghadapi  para pelaku pencuri ikan hasil budidaya, yang pelakunya banyak berkeliaran di sekitar perairan desa Landipo,”kata Ismail. Ismail menduga para pencuri berasal dari luar desa Landipo.

Saat berkunjung ke keramba milik Ismail, Jumat pekan lalu, tampak keramba apung modern berdiri kokoh dan mampu menampung ratusan ekor ikan berbagai jenis. Kelompok Nelayan Abadi sendiri telah melakukan panen ikan sebanyak dua kali di tahun pertama. Hasil budidaya ini dijual dipasaran dengan harga yang lumayan menggiurkan. “Setelah kami timbang basah, hasil budidaya keramba  apung mencapai seratus kilogram,”kata Ismail.

Harga ikan jenis kurapu    di pasaran untuk perkilonya sebesar 90 ribu rupiah. Proses memasarkan ikan pun tidak sulit, sebab, saat panen para pembeli sudah memesan duluan. “Untuk penjualan kami tidak kesulitan, para pemesan ikan kebanyakan dari kalangan pengusaha restoran,”kata Asrul.

Jenis ikan yang dipelihara pun tidak hanya satu jenis ikan saja, melainkan beberapa jenis, diantaranya jenis ikan putih,  baronang, kurapu hingga udang lobster.

Budidaya ikan laut sendiri  memang terbilang gampang-gampang susah. Gampangnya, pertama, karena sirkulasi air tempat hidup ikan, tidak perlu diganti karena terjadinya proses pasang surut air laut yang menyebabkan pergantian air laut terus terjadi. Kedua, pakan yang digunakan memberi  makan ikan mudah diperoleh yang berasal dari laut itu sendiri.

Nah, untuk susahnya, para pemilik keramba terpaksa harus  bersiaga siang malam menjaga keramba. “Kalau tidak dijaga, para pencuri kerap menyantroni isi keramba,”kata Ismail. “Ya, beruntung kalo hanya  ikan yang diambil, terkadang para pencuri juga merusak jarring keramba,”tambahnya.

Sebagai solusi, rumah bagang pun sengaja dibangun yang dipakai untuk lokasi berjaga sekaligus memantau para pencuri. Sistem kerja kelompok nelayan yang diprakarsai Ismail, ini diam-diam mendapat perhatian luar dari warga nelayan lainnya di Desa Landipo. “Alhamdulillah kerja keras kami mendapat perhatian warga lainnya dan saya dengar mereka juga telah membentuk kelompok nelayan. Dengan begitu saya yakin ekonomi nelayan Landipo akan lebih baik,”katanya.

Keduanya pun menaruh harapan, agar pemerintaah tetap memberi perhatian pada nasib nelayan dan membantu mereka meraih kesejahteraan.

Butuh Pelatihan

Keterbatasan pengetahuan cara budi daya ikan di karambah jarring apung tentu saja mempengaruhi hasil produksi dan berdampak pada pendapatan ekonomi nelayan. Para nelayan pun berharap agar turun tangan memberikan pembekalan pengetahuan bagi nelayan di desa Landipo.  “Terus terang pengetahuan kami tentang membudidaya  ikan di karamba jarring apung masih minim, karenanya, kami berharap ada pembekalan pelatihan bagi kami agar hasil produksi budidaya kami meningkat,”kata Ismail. TIM

Bisnis Ikan Sidat yang Menggiurkan

KONSEL, SUARAKENDARI.COM-Potensi sumber daya perairan laut dan darat Konawe Selatan (Konsel) cukup besar dan beragam. Sejumlah spesies ikan di perairan darat Konsel yang kini banyak dikembangkan adalah ikan Mujair, Nila , Mas, Belida dan Gurame. Lokasi budidaya pun tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Konda, Laeya dan Angata. Meski begitu, salah satu spesies yang juga tak kalah menggiurkan adalah bisnis ikan jenis sidat sidat (Anguilla sp). Sidat sendiri sebenarnya berasal dari lautan dalam ini merupakan ikan yang memiliki tubuh menyerupai belut.

Sidat merupakan spesies amfibiotik yang menghabiskan periode pembesarannya di sungai sebelum kembali ke laut untuk memijah. Data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Konsel, Spesies sidat ini banyak terdapat pada tiga sungai utama yakni Sungai Osena, Sungai Laeya dan Sungai Roraya. Ikan sidat dilokasi tersebut telah dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar sungai melalui kegiatan penangkapan.

“Ikan sidat merupakan spesies bernilai ekonomis tinggi dan merupakan komoditi ekspor, namun di wilayah ini usaha penangkapannya pada umumnya masih bersifat artisanal atau untuk dikonsumsi sendiri. Karena itulah produksi ikan ini belum tercatat dalam statistik perikanan setempat,”kata Ernanto Tawulo, Kepala Bidang Budidaya DKP Konsel.

Di Jepang, ikan sidat cukup terkenal. Dagingnya dianggap lezat dan memiliki kandungan vitamin yang sangat tinggi. Sehingga, banyak restoran-restoran Jepang yang menjadikan sidat sebagai menu andalan, seperti Kabyaki dan Unadon.

Sementara di Indonesia, ikan sidat masih terdengar asing di telinga. Apalagi manfaat-manfaatnya. Bentuknya yang bulat dan memanjang seperti belut atau ular membuatnya tidak terlalu menarik bagi masyarakat Indonesia. Itu yang menyebabkan tingkat konsumsi sidat terbilang rendah.

Menurut Rohkmin Dahuri, Kketua umum Masyarakat Akuakultur Indonesia, selain dagingnya yang lezat, sidat juga memiliki harga yang fantastis di pasar luar negeri.

“Untuk sidat yang masih benih (Glass eel) harganya US$7, atau setara Rp70.000 per ekor. Sedangkan per kilogramnya yang terdiri dari 5.000 benih bisa mencapai Rp350 juta,” kata Rokmin, di acara Diskusi Peran Riset, Teknologi Budaya, dan Pemasaran Ikan Sidat di Kantor BPPT, Jakarta.

Di pasar luar negeri, harga ikan sidat dewasa mencapai Rp70 juta per kilogram, sementara di pasar Indonesia harganya Rp1,2 juta per kilogram.

“Harga yang luar biasa mahal itu yang membuat ikan sidat lebih banyak diekspor, baik dalam bentuk benih atau yang sudah dewasa,” kata Rokhmin.

Menurut Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu, kegiatan ekspor dapat membahayakan, karena nilai tambahnya tidak ada di Indonesia. Kalau negara ini mau menjadi besar, seharusnya dapat melihat ikan sidat sebagai peluang.”Saya lebih menginginkan ikan sidat menjadi komoditas unggulan. Kenapa? Karena kebutuhan ikan sidat di pasar di Indonesia cukup tinggi, terutama untuk restoran-restoran Jepang,” kata Rokhmin.

Saat ini, pembibitan ikan sidat masih sangat sulit dilakukan. Banyak peneliti Jepang yang sudah menelitinya, namun tidak berhasil. YOS/VIVA