Connect with us

Tradisi Anak Pesisir Berburu “Tumbelu”

Tradisi Anak Pesisir Berburu “Tumbelu”

Pagi-pagi benar Udin, Awal dan Rahmat, tiga sekawan ini sudah mengayuh sampan. Mereka . Bergantian mendayung mengitari kawasan hutan bakau (mangrove), sekitar dua mil dari rumah mereka di Desa Puupi, Kecamatan Kolono, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Mereka mengejar waktu, sebelum metti (air pasang) mengairi hutan bakau. Hari itu tepat waktu liburan sekolah. Mereka memanfaatkan waktu dengan berburu “tumbelu”, hewan mirip cacing yang hidup di kayu bakau untuk dikonsumsi. Tumbelu sendiri hidup dan berkembang biak dalam pori-pori kayu bakau yang mati.

Tumbelu memang belum lama dikenal warga setempat. “Baru sekitar tujuh tahunan, ditemukan oleh warga etnis Tolaki yang bermukim di pesisir,”kata Burhan, sesepuh nelayan Desa Puupi. Uniknya, justeru masyarakat bajo sendiri sebagai suku laut, tidak mahir mencari tudmbelu. Bahkan nama tumbelu berasal dari bahasa Tolaki yang artinya cacing kayu.

Meski cukup berlumpur, anak-anak cukup menikmati mencari tumbelu. Udin (10 tahun) seorang anak pencari tumbelu mengaku senang mencari tumbelu, terutama saat musim liburan tiba. “Saya bersama teman-teman selalu mencari tumbelu di bako-bako (hutan bakau,Red), biasanya kami mencari di kayu bakau yang sudah lapuk,”katanya.
Cara mengambil tumbelu tidaklah rumit, dengan menggunakan kampak, kayu bakau yang telah rebah dibelah dua dan di dalam kayu berpori, tumbelu lalu diambil hidup-hidup. Sepintas Tumbelu mirip cacing tanah, panjang dan berlendir, hanya saja tumbelu sedikit lebih besar dan berwarna putih cerah.

Umumnya warga tidak memasak tumbelu, melainkan dimakan langsung dengan cara membersihkan dan membuang bagian isi perut tumbelu lalu di telan hidup-hidup. Bagi warga pesisir makan tumbelu memiliki kasiat untuk kesehatan tubuh. Tumbelu sendiri memiliki kandungan antitoksin yang tinggi yang berguna untuk kekebalan tubuh manusia.

Hutan mangrove di desa puupi memiliki kawasan paling luas dibanding ari desa-desa lain pesisir di kecamatan kolono. Setidaknya terdapat kurang lebih lima belas ribu hektar hutan mangrove dikawasan ini. Hutan mangrove sendiri memiliki fungsi menyimpan ekosistem rantai makanan di perairan laut, bermanfdaat besar bagi pelestarian kawasan pesisir. (SK)

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Daerah

To Top