Connect with us

Tiga Mantan Direksi Perusda Kolaka Jadi Tersangka

Uncategorized

Tiga Mantan Direksi Perusda Kolaka Jadi Tersangka

KOLAKA,SUARAKENDARI.COM- Kejaksaan Negeri Kolaka, Sulawesi Tenggara menetapkan tiga mantan direksi Perusahaan Daerah (PD.Aneka Usaha) Kolaka sebagai tersangka kasus korupsi penyalahgunaan keuangan kantor tersebut. Menurut Kejaksaan Negeri Kolaka, mereka yang terlibat adalah Dudung Djuhana sebagai mantan Direktur Utama, Yan Iswan sebagai pelaksana tugas Dirut Perusda dan Rahmat Nadjib sebagai mantan Direktur Keuangan Perusda Kolaka.

 Kasi Intel Kejaksaan Negeri Kolaka, Arif Suhartono menilai mereka yang ditetapkan ini paling bertangung jawab atas pinjaman dana kas Perusda Kolaka sejumlah Rp.1,5 milyar pada beberapa tahun lalu. “Selain perkara yang diusut Polres Kolaka, kami juga tengah menyidik kasus penyalahgunaan keuangan Perusda. Untuk sementara dalam kasus ini kami baru menetapkan tiga tersangka. Ketiganya adalah mantan direksi Perusda. Tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka lain, sepanjang masih ada kaitannya dalam perkara ini. Kami masih mengumpulkan beberapa alat bukti lagi,” ungkapnya, Senin (19/05/2014).

 Dia menambahkan dalam kasus ini ada kejanggalan pengelolaan anggaran di Perusda Kolaka dalam rentang waktu 2010 hingga 2012 lalu. Bahkan dalam kasus ini juga dicurigai ada pejabat di lingkup Pemda Kolaka yang terlibat. Sebab dalam perkara tersebut menyangkut masalah pinjaman kas Perusda ke Pemda Kolaka saat itu. “Perkaranya menyangkut pinjaman kas Perusda oleh para kepala Satuan Kerja Perangkat Dinas (SKPD) lingkup Pemda. Yang memberikan pinjaman adalah Direksi yang menjabat kala itu, yakni Dudung Djuhana (2010-2011) dan Yan Iswan (2011-2012). Sementara Rahmat Nadjib adalah Dirkeu pada masa keduanya menjabat,” tambahnya.

Informasi yang dihumpun dilapangan kerugai Negara diperkirakana Rp 2 miliar. Meski demikian, Kejari belum mau mengungkap jumlah total kerugian negara berdasarkan temuan. Namun Kasi Intel Kejari mengatakan, pihaknya mengumpulkan semua hasil audit baik dari BPK, independen, maupun investigasi jaksa sendiri.

 Secara terpisah, Yan Iswan salah satu tersangka, yang juga caleg terpilih dari Partai Golkar tersebut mengatakan memang saat dirinya menjabat sebagai pelaksana direktur utama Perusda mengaku pernah meminjamkan uang kepada pejabat Pemda Kolaka. Diantaranya Kepala Bappeda Fachruddin Rahim untuk keperluan mengikuti Expo di Jakarta, Kabag Pemerintahan Muh. Akbar untuk keperluan tim pemekaran Kolaka Timur, serta Dharma Wanita Persatuan untuk kegiatannya.

Menurutnya pinjaman tersebut sudah lunas terbayar semua. Namun ia tidak memungkiri bahwa pada masa sebelum dia menjabat, banyak pinjaman yang belum dikembalikan. Totalnya lebih dari Rp 1 miliar. Itu masih ada hingga saat ini. “Tapi ini kan pinjaman. Dan yang pinjam juga orang Pemda. Seharusnya orang Pemda juga dijadikan tersangka kalau mau disangkutkan korupsi. Ada kepala BPKAD yang punya pinjaman sampai hari ini belum kembali, ada yang dipinjam pak Nadjib sendiri, ada juga yang dipinjamkan oleh Dirkeu sekarang pak Riamin yang totalnya Rp 1,5 miliar tapi yang kembali Rp1,2 miliar. Di masanya pak Dudung itu malah paling besar,” tegasnya.

 Rahmat Nadjib yang ditemui di kediamannya, juga mengakui pernah meminjam uang Perusda secara pribadi. Totalnya menurut dia, hanya Rp 20 juta. Belum dikembalikannya dengan alasan sebagai pengganti tunjangan selama dia menjabat yang tidak diberikan oleh Perusda kala itu. Selain itu, peminjaman oleh Pemda diberikannya karena ada permintaan tertulis kepada Perusda. Namun kata dia, tidak ada batasan waktu peminjaman yang diberikan.

 Dengan penetapan tiga tersangka mantan direksi ini maka total tersangka dalam pengelolaan anggaran Perusda mencapai tujuh orang dalam kasus yang berbeda. Empat orang yang lain ditetapkan oleh Polres Kolaka yang juga menyangkut masalah dana kas Perusda yang tidak jelas peruntukannya. ABDI

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Uncategorized

To Top