Connect with us

Sungai Lahundape Nasibmu Kini

Suara Lingkungan

Sungai Lahundape Nasibmu Kini

 

Banyak Warga Peduli, Pemerintah Minim Perhatian

BERSIH dan jernih. Inilah sungai Lahundape. Sungai yang membelah di bagian sisi barat Kota Kendari ini nampak kinclong dibanding sungai-sungai lain di kota ini. Tak ada sampah yang mengambang di permukaan sungai. Dari 13 anak sungai yang membelah kota Kendari, mungkin hanya di sungai inilah yang air sungainya terjaga. Bahkan anak-anak di kawasan ini dengan bebas mandi di air sungai ini.

Menjaga sungai agar bersih tentu memiliki cerita panjang. Dulunya sungai ini tak ada bedanya dengan sungai-sungai lain di kota ini. Jorok dan dipenuhi timbunan sampah rumah tangga. Warga yang umumnya membangun rumah di bantaran sungai menjadikan sungai Lahundape sebagai bak sampah alami. “Sampah-sampah basah dan kering semua dibuang ke dalam sungai,” kenang Agussalim, tokoh masyarakat setempat.

Kondisi sungai yang memprihatinkan itu mendorong kesadaran sebagian warga untuk memanfaatkannya. Mula-mula hanya dilakukan empat orang warga saja. Mereka membersihkan dan membedung sungai dengan batu gunung yang diikat kawat, untuk menampung air.  Benih-benih ikan diturunkan ke sungai dan dijaga selama kurang lebih empat bulan. Alhasil, mereka berhasil memanen ikan dan membagi-bagikan pada warga lainnya.

Keberhasilan inilah yang memantik kemauan warga lainnya untuk beramai-ramai membendung sungai dan menjaganya hingga kini.  Warga juga membuat aturan main dalam menjaga kebersihan, seperti bekerja berkelompok  dan saling mengingatkan untuk tidak membuang sampah. Tidak ada sanksi yang diberikan, tetapi hanya saling mengingatkan dan menghargai.

Saya menyempatkan diri mampir ke daerah ini,  Pagi-pagi benar Yusuf (36 tahun) sudah memberi makan ikan-ikan miliknya di sungai yang panjangnya kurang lebih 50 meter itu. Hampir sepuluh tahun sudah Yusuf memanfaatkan sungai kecil ini untuk memelihara berbagai jenis ikan air tawar. Tapi lebih banyak ikan berjenis nila, mujair dan ikan mas.

Yusuf sedikit terbantu dengan adanya pasar kecil di tengah pemukiman warga. Pasar pagi yang telah berdiri dua puluh tahun ini menjadi pasar penyanggah bagi warga yang bermukim di kawasan ini. Ia melihat peluang lain dengan kehadiran pasar ini, terlebih saat para pedagang ikan sering membuang limbah ikan mereka ke sungai.

Sejak saat itu, Yusuf  menyarankan agar pedagang-pedagang ikan yang berjualan di sisi sungai untuk terus membuang limbah ikan ke sungai ini. “Saya berkomunikasi dengan mereka (pedagang, Red) untuk terus membuang limbah ikan mereka ke sungai, tapi dengan syarat tidak dengan plastik,”kata Yusuf.

Saat limbah ikan dibuang ribuan ikan-ikan berebut memakannya. “Nah, limbah inilah yang membatu penggemukan ikan,”ujar Yusuf. Limbah ikan memang memiliki kandungan protein yang baik untuk kesehatan ikan, dibanding makanan ikan seperti Pelet yang memilki kandungan kimiawi tinggi. Bagi warga makan pelet hanya menjadi makanan tambahan saja.

Memelihara ikan di sungai tentu memiliki banyak resiko, teruma saat musim hujan tiba. Banjir yang datang dari hulu sungai  dipastikan menyapu bersih semua yang dilaluinya dibagian hilir. Yusuf  bercerita dirinya telah tiga kali mengalami kerugian akibat ikan-ikan miliknya tersapu  banjir. Dari kejadian itulah warga kemudian mengantisipasinya dengan membuat karamba apung yang diletakkan di sisi kiri sungai. Warga cukup melihat cuaca, jika musim penghujan tiba, ikan-ikan segera dipanen dan disimpan dalam karamba.

Kegigihan warga menjaga sungai, membuat pemerintah Kota Kendari menjadikan sungai Lahundape  menjadi sungai percontohan bagi sungai-sungai lainnya di Kendari. Sayang itu hanya terjadi  Tahun 2003 silam, saat Kota Kendari dipimpin  Masyhur Masie Abunawas sebagai walikota. Bahkan, ketika itu pemerintah membantu memberikan bibit ikan buat warga  setempat. Saatnya pemerintah kota untuk kembali memberikan perhartian pada warga dan menggalakkan gerakan sungai bersih di kota ini. (Yoshasrul)

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Suara Lingkungan

To Top