Connect with us

Seri Kendari Undercover (1)

Investigasi

Seri Kendari Undercover (1)

 

Demi Kuliah, Tubuh Dijajakan

KENDARI, SUARAKENDARI.Com-Beberapa perempuan berdandan menor melempar senyum. Senyum makin merekah manakala yang lewat didepan mereka adalah pria berkendaraan roda empat. Tak mempan dengan senyum, rayuan meningkat dengan lambaian tangan. Sebahagian lainnya tak ragu merajut kepada beberapa pria yang melintas dan menengok agak malu-malu kearah mereka. Pemandangan seperti ini mudah dijumpai di areal Kendari Beach, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Kawasan Kendari Beach hanyalah salah satu dari sekian kawasan yang menjadi arena transaksi seks komersil yang dikoordinir oleh beberapa germo. Tentu saja masih ada sejumlah kawasan lainnya. Ada juga yang kerap berpindah-pindah lokasi. Namun ada juga Perempuan Seks Komersial (PSK) yang memilih solo karir atau tidak bergantung kepada germo. Mereka mengembangkan jaringan dan memilih pelanggan sendiri.

Lewat seorang kawan yang pernah berprofesi sebagai pengamen di kawasan Kendari Beach, Suara Kendari memperoleh nomor handphone salah seorang Perempuan yang berprofesi sebagai penjaja seks.

Diujung telepon, sapaan “halo” seorang perempuan terdengar agak mendesah. Setelah berbasa-basi sejenak, rayuan kembali terlontar dari perempuan itu. Dengan sopan, BR lalu meminta maaf percakapan kami harus dihentikan. Ada seorang pelanggan yang harus ia layani. Tapi ia tak ragu membuat janji untuk bertemu dan berkenalan lebih dekat. Sabtu, (21/12) malam adalah hari yang kami pilih. Itulah awal perkenalan Reporter Suara Kendari  dengan BR, PSK yang bekerja lepas.

Semula BR agak ragu. Namun, setelah diyakinkan ia akhirnya bersedia membagi kisahnya. BR (19), salah seorang mahasiswa kesehatan angkatan 2013 disalah satu perguruan tinggi kesehatan di Kota Kendari. “saya terpaksa kerja begini karena butuh uang untuk kuliah,” katanya tegas.

Namun sebelum nekat terjun ke dunia hitam, BR mengaku punya pengalaman buruk soal seks. Anak kedua dari 3 bersaudara ini melepas kegadisannya kepada sang pacar saat masih duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Atas (SMA). Ia luluh atas rayuan sang pacar untuk menyerahkan aset berharganya. “ saya sangat mencintai pacar saya itu. Dan waktu itu kita tidak punya banyak pertimbangan. Namanya juga masih labil,” begitu alasannya.

Setelah putus dengan sang pacar, perempuan berdarah Manado-Bajo ini mulai menyesali perbuatannya. Dalam situasi yang gamang, pikiran negatif mulai menguasai dirinya. Terlebih himpitan ekonomi yang ia alami makin membuat otaknya makin tak karuan.

“saya hanya dapat kiriman Rp 500 ribu tiap bulan untuk biaya kuliah. itu pun sudah termasuk pembayaran rumah kos,” ujarnya.

Tak kuat hidup dalam kondisi serba tidak berkecukupan, ia pun memutuskan untuk menjajakan tubuhnya.

“karena terdesak biaya kuliah, saya kemudian minta bantuan teman untuk dicarikan pria yang mau melakukan begituan. Awalnya saya dapat orang tambang,” BR tertunduk menyembunyikan raut muka yang malu bercampur sedih.

Setelah pengalaman pertama itu dan melihat hasilnya, BR makin tergiur menggeluti profesinya. Ia mulai memperluas jaringan. Selain lewat teman, handphone,  BR pun tak lagi ragu merambah pelanggan lewat jejaring sosial.

“Biasanya saya kasi tarif Rp 1.000.000. Dari situ mereka menawar, tapi saya patok hanya sebatas Rp 800.000 saja, karena biaya kuliah saya sangat mahal, belum lagi untuk makan dan bayar rumah kos,” jelasnya.

BR mengaku, tak ada satupun anggota keluarga yang tahu tentang kegiatannya itu. Jika saja orang tuanya tahu, mungkin namanya akan dihapus dalam daftar keluarga. Pasalnya, keluarganya sangat menjunjung tinggi moral dan agama.

“Saya bingung, mungkin ibu saya sudah tahu. Setiap tiga bulannya dia sering berkunjung ke kamar kost saya untuk memperhatikan perkembangan kuliah saya serta melihat kondisi kesehatan saya,” katanya ragu.

Rasa penyesalan kerap timbul di dalam benaknya. Namun, karena statusnya masih mahasiswa baru dan keinginannya untuk kuliah masih meletup-letup, dirinya tidak yakin pekerjaan ini akan segera ia hentikan. (MIN)

Continue Reading
You may also like...
1 Comment

1 Comment

  1. kuliah karyawan jakarta timur

    May 21, 2015 at 8:59 pm

    Yuk sekolah.. mari kuliah… kuliah bisa sambil kerja sebagai karyawan / usahawan. Bener khan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Investigasi

To Top