Sepenggal Sejarah Pergerakan Perempuan di Sultra

SUARAKENDARI.COM- Di Sulawesi Tenggara, pergerakan perempuan mengikuti alur reformasi negeri ini. Tahun 1999 saat Soeharto turun tahta, beberapa aktifis perempuan di Sulawesi Tenggara mulai aktif menyuarakan pentingnya hak-hak perempuan diperjuangkan. Bermula gerakan dari diskusi ke diskusi, kemudian menggalang aksi lapangan hingga meramu program pemberdayaan untuk perempuan.

Sebagian aktifis perempuan di Sultra sadar, jika tak bersatu maka gerakan atau perjuangan mereka tidak akan pernah di dengar. Mereka lalu membentuk simpul-simpul jaringan agar terkoneksi dari kabupaten/kota di Sultra dengan gerakan aktifis di level nasional. Bermula dari gerakan bermotif ekonomi, dimana perempuan tidak diberi ruang akses ekonomi apakah itu tempat maupun untuk modal usaha. Kondisi ini memantik gerakan kuat dengan menghimpun pelaku usaha-usaha kecil melalui himpunan perempuan pengusaha kecil (Himpuk) yang dimotori oleh sejumlah NGO di Sultra. Sejumlah organisasi perempuan dideklarasikan di Sultra, diantaranya, Aliansi Perempuan (ALPEN) Sultra, Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Sultra, Solidaritas Perempuan (SP) Kendari, Uplink Kendari.

Dari kendari organisasi-organisasi perempuan ini membangun simpul hingga ke daerah pelosok. Mereka bersinergi dengan kelompok-kelompok jurnalis perempuan di Kendari. Berharap agar gerakan perempuan membumi dan mengetuk hati para pengambil kebijakan negeri ini. Mereka terus berusaha menebar “virus”gerakkan feminisme di bumi anoa. Ini satu-satunya cara membuka mata public, bahwa perempuan itu punya suara, punya hak yang sama dengan kaum laki-laki. Mereka dengan lantang menyebut hak perempuan harus dilindungi dari penindasan.

Tahun 2002, saat kasus perdagangan perempuan terkuak ke media massa, para aktifis perempuan segera mengirim alert atau peringatan kepada semua pihak, terutama aparat penegak hokum di Kendari. Mereka memprotes keras kasus perdagangan yang kala itu melibatkan oknum pengusaha di Kendari. Meski kasus tersebut kemudian berakhir “di bawah meja”. Gelombang demonstrasi kaum perempuan menggeliat manakala kasus pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan terjadi.

Di tahun ke lima pasca reformasi, aroma keadilan gender kian menebar jauh hingga ke pelosok. Membangun kemunikasi yang cukup intens dengan mengangkat berbagai isu. Hak tidak hanya bisa diperjuangkan melalui gerakan ekstra parlementer, tetapi juga memasuki ruang-ruang politik, ini terbukti dengan banyaknya perempuan masuki partai politik demi merubah pandangan para politikus laki-laki terhadap perempuan. Perempuan terus berjuang menerabas budaya patriarki dengan memandang perempuan sebelah mata, dimana buaya patriarki memandang bahwa perempuan hanya berurusan dengan urusan domestik semata. Nasib perempuan hanya bisa berubah manakala system juga memihak pada keadialan gender. Selama berpuluh tahun, perempuan sadar benar hanya menjadi komoditas politik kaum laki-laki. Tak ada cara lain, perempuan harus keluar dari belenggu dan butuh keadilan politik.

Saat pentas Pemilu 2004 berlangsung, perempuan Sultra mulai melirik partai politik sebagai kendaraan perjuangan. Mereka berusaha merebut ruang-ruang parlemen bersaing dengan kaum laki-laki. Sayang pemilu saat itu suara perempuan tergolong kecil. Di tingkat nasional perempuan mendorong partai-partai politik dan penyelenggara pemilu untuk memperjuangkan 30 persen aturan keterwakilan perempuan di system pemilu. Perjuangan itu tidak sia-sia setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengakomodir dan mengesahkan 30 persen keterwakilan perempuan di parlemen.

Berkat kegigihan dan kesabaran membangun komunikasi politik, -meski belum terlalu signifikan- namun perjuangan perempuan perlahan menuai hasil. Di parlemen perwakilan perempuan di seluruh Sultra puluhan perempuan berhasil duduk sebagai wakil rakyat. Perjuangan tidak berhenti, mereka juga membentuk kaukus perempuan parlemen sebagai wadah pemersatu gerakan perempuan di parlemen. Perempuan juga tak berhenti memperjuangkan keadilan politik demi merebut hak di Pemilukada. SK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *