Connect with us

Berjalan Sukses, Tradisi Wonua Mosehe Sedot Ribuan Pengunjung

Uncategorized

Berjalan Sukses, Tradisi Wonua Mosehe Sedot Ribuan Pengunjung

KOLAKA,SUARAKENDARI.COM- Ribuan pengunjung dari dalam dan luar kota Kolaka, Sulawesi Tenggara memadati kompleks makam Raja Mekongga di Kecamatan Wundulako. Sejak subuh mereka telah berada di makam Raja Sangia Nibandera, raja ke delapan dari kerajaan Mekongga. Yang dimana Sangia Nibandera merupakan raja Mekongga pertama yang memeluk agama islam pada tahun 1630 Masehi.

Kedatangan para pengunjung yang terdiri dari anak dan orang dewasa ini untuk melihat dan mengikuti secara langsung prosesi adat yang sangat sakral, yaitu prosesi adat Wonua Mosehe. Wonua Mosehe ini sebuah prosesi adat pensucian negeri dan pensucian pemimpin daerah. Sejumlah kegiatan adat dilakukan dalam prosesi tersebut. Yang pertama adalah pensucian diri. Dalam proses ini Bupati dan wakil Bupati Kolaka yang didampingi istri masing-masing diarak kesebuah sungai kecil dalam kompleks makam raja untuk dimandikan oleh tetua adat suku Mekongga.

Nampak sejumlah bambu ukuran satu meter telah terisi air laut yang dicampur dengan air kelapa muda. Nantinya air tersebut akan disiramkan ke sekujur tubuh bupati dan wakil bupati Kolaka beserta istri masing-masing sebagai tanda pensucian diri. Proses penyiraman pun berjalan dengan khitmat. Ribuan pengunjung yang menyaksikan prosesi itu terdiam kaku sebagai tandap penghayatan pensucian ini, sebab ritual semacam ini dinilai sangat sakral oleh masyarakat Kolaka khususnya suku Mekongga.

Usai melewati pensucian diri, bupati dan wakil bupati kembali ke gaseboh induk guna mengikuti acara ritual selanjutnya. Dihadapan para tamu undangan baik itu dari sejumlah daerah maupun perwakilan darei persatuan kerajaan nusantara Haminto Dahlan, yang ditunjuk untuk menceritakan sejarah suku Mekongga mengatakan bahwa dengan digelarnya Wonua Mosehe atau pensucian negeri semoga seluruh penduduk Kolaka terhindar dari mara bahaya.

“Prosesi adat ini adalah pensucian negeri atau pensucian diri. Prosesi adat semacam ini ada sejak zaman nenek moyang kami dan terus dilestarkan hingga saat ini. Sangat banyak kegiatan yang dilakukan dalam prosesi adat Wonua Mosehe. Salah satunya tarian lulo tujuh macam yang dilakukan selama tujuh hari. Penyembelihan kerbau putih sebagai hewan kurban, mandi dengan air asin dan ziarah ke makam raja Mekongga. Intinya semoga kita semua akan terhindar dari marah bahaya atau tolak bala yang tentunya atas izin Allah SWT,” ucapnya, Selasa (05/20/2014).

Selang waktu berjalan, prosesi adat terus berlanjut. Tibalah saat penyembelihan kerbau putih yang telah disiapkan panitia adat sebagai hewan kurban. Ribuan pengunjung napak ringset mendekati kerbau yang akan disembelih tersebut guna melihat secara dekat. Lagi semua pengunjung tertunjuk membisu saat prosesi itu berlangsung.

Tidak berhenti di prosesi penyembelihan kerbau putih, tetua adat kembali melanjutkan ritual menuju makam raja Mekongga yaitu Raja Sangia Nibandera. Dalam makam tersebut Bupati didampingi sejumlah tokoh adat dan pejabat Kolaka terlihat memanjatkan doa kepada sanga pencipta untuk raja pemeluk agama islam pertama di tanah Kolaka.

Kepada suara kendari Bupati Kolaka, Ahmad Safei merasa bersyukur sebab kegiatan ini bisa berjalan dengan lancer. Dirinya pun kembali mengatakan jika sebenarnya Kolaka itu kaya akan budaya sehingga tidak salah jika Kolaka masuk dalam daftar destinasi wisaata budaya bagi para pelancong di dunia. “Saya merasa bahagia dengan suksesnya prosesi adat Wonua Mosehe ini. Menandakan daerah kami kaya akan budaya dan tetap melestarikannya. Semiga hal ini dapat menarik wisatawan yang ada di dalam dan luar negeri,” katanya.

Berdasarkan data dari Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Kolaka, Raja Sangia Nibandera adalah Raja yang ke delapan. Berikut ini nama raja-raja yang ada di Tanah Mekongga (Kolaka, red).

 

  1. Sangia Larumbalangi            : tahun 1200 s/d 1260 masehi
  2. Sangia Lakonggu                   : tahun 1260 s/d 1320 masehi
  3. Sangia Melanga                    : tahun 1320 s/d 1380 masehi
  4. Sangia Lagaliso                      : tahun 1380 s/d 1430 masehi
  5. Sangia Lamba-lambasa        : tahun 1430 s/d 1490 masehi
  6. Sangia Lombo-lombo           : tahun 1490 s/d 1550 masehi
  7. Sangia Teporambe               : tahun 1550 s/d 1630 masehi
  8. Sangia Ladumaa                    : tahun 1630 s/d 1680 masehi
  9. Bokeo Lasikiri                       : tahun 1680 s/d 1690 masehi
  10. Bokeo Lasipole                     : tahun 1690 s/d 1780 masehi
  11. Bokeo Robe                          : tahun 1780 s/d 1781 masehi
  12. Bokeo Mburi                         : tahun 1781 s/d 1840 masehi
  13. Bokeo Bula                            : tahun 1840 s/d 1905 masehi
  14. Bokeo Latambaga                 : tahun 1905 s/d 1932 masehi
  15. Bokeo Indumo                      : tahun 1932 s/d 1945 masehi
  16. Bokeo Guro                           : tahun 1945 s/d 1949 masehi
  17. Bokeo Puuwatu                    : tahun 1949 masehi

 

Usai kepemimpinan raja-raja tersebut kini kultur dan budaya Suku Mekongga dijalankan oleh para keturunan langsung para raja dengan cara melakukan sinkronisasi dengan pemeritah daerah. Namun untuk anda penggla budaya jangan takut dan ragu, di Kolaka masih banyak suguhan budaya lain yang bisa anda jumpai. Contohnya sejumlah budaya kuliner, tumbuhan dan masih banyak lagi. ABDI

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Uncategorized

To Top