Connect with us

Ragam Pesona Desa Tangkeno, Negeri di Awan

Opini

Ragam Pesona Desa Tangkeno, Negeri di Awan

MAU berwisata ke Desa Tangkeno yang mengusung slogan (tagline) Negeri di Awan? Anda tidak bakal kecewa. Banyak pilihan menarik dan unik di sana. Ada batu beranak dan telapak kaki manusia di atas lempengan batu di Kali Waombu, batu lesung dan air terjun di Kali Mata Lakambula, sejumlah benteng pertahanan yang tersusun dari batu tanpa perekat, dan tentu saja panorama alam pegunungan yang diperkaya dengan pemandangan laut dan pantai dari kejauhan. Karang atol Pulau Sagori dapat dinikmati kemolekannya dari Tangkeno.

Tetapi ke Tangkeno, pakai transportasi apa dulu? Untuk mencapai kawasan wisata di Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), itu Anda tentu harus lewat Kendari atau Bau-Bau. Kedua kota wisata ini terakses dengan berbagai maskapai penerbangan dalam negeri maupun kapal laut. Dari kedua kota tersebut Anda melanjutkan perjalanan dengan kapal feri atau kapal laut ke Kabaena. Jika melalui Kendari, ibu kota provinsi yang dikenal sebagai kota kerajinan perak, Anda harus naik mobil penumpang ke Kasipute, ibukota Bombana. Dari Kasipute Anda menyeberang ke pulau nikel itu dengan kapal penumpang.

Kawasan wisata Desa Tangkeno sendiri terletak di ketinggian 650 meter dari permukaan laut, di lereng Gunung Sangia Wita (1850 m dpl). Perjalanan ke sana bisa dengan mobil atau sepeda motor selama kurang lebih satu jam dari pelabuhan Sikeli di pantai barat atau Dongkala, pelabuhan feri di pantai timur Pulau Kabaena.

 Penetapan Desa Tangkeno sebagai kawasan destinasi wisata merupakan program Bupati Bombana Tafdil dalam rangka mendorong pembangunan agar melaju lebih cepat di Pulau Kabaena umumnya dan di desa itu sendiri pada khususnya. Pengembangan sektor pariwisata membutuhkan dukungan infrastruktur. Faktor pariwisatalah yang menjadi pertimbangan bupati menetapkan pembangunan infrastruktur di Kabaena menjadi prioritas tinggi. Maka masyarakat Kabaena pun kini sebenarnya dituntut bekerja keras untuk meningkatkan produksi dan produktivitas guna mengimbangi kebijakan pemerintah yang pro-rakyat tersebut.

Adalah Gubernur Sultra Nur Alam yang “mendeklarasikan” pertama kali Tangkeno sebagai desa wisata di depan publik Kabaena, di awal November tahun lalu, saat dia berorasi dalam rangka kampanye Pilkada Sultra 2012. Kata berjawab gayung bersambut. Bupati Tafdil segera menindaklanjuti apa yang disampaikan gubernur, kendati perihal tersebut sesungguhnya adalah orisinal gagasan Tafdil. Bulan Mei, tepatnya tanggal 16 Mei 2013, Tafdil memukul gong pencanangan Desa Tangkeno sebagai kawasan destinasi wisata di Kabupaten Bombana. Gong itu akan terus bergema ke segenap penjuru mata angin. Pemerintah bersama rakyat Bombana di Desa Tangkeno, kini mulai berbenah menyambut kunjungan wisatawan.

Sebagaimana diungkapkan Kepala Desa Tangkeno Abdul Madjid Ege, saat kunjungan pertama ke Tangkeno dalam rangka sosialisasi sebagai bakal calon Bupati Bombana, Tafdil berjanji akan memperhatian pemeliharaan benteng-benteng peninggalan masa lalu di Tangkeno sebagai obyek wisata, jika dia terpilih. “Ketika itu dia menggonceng istrinya, Andi Nirwana, dengan sepeda motor menanjak ke bukit lokasi benteng Tuntu Tari”, ujar Madjid.

Dari benteng itu panorama alam akan tampak nyaris lebih sempurna. Karang atol Sagori yang sering dikunjungi turis Eropa dengan kapal pesiar (cruise ship) tampak lebih mempesona. Pulau Sagori menampilkan sapuan empat warna, yakni biru tua sebagai garis terluar, biru muda, garis putih, kemudian hijau di tengah pulau. Warna hijau terpancar dari tajuk-tajuk pohon cemara yang melindungi pulau tersebut (Sagori, Segitiga Bermuda di Kabaena; Yamin Indas, Kompas Jumat 6 Januari 2006).

Lereng dan puncak Gunung Watu Sangia juga akan lebih molek dilihat dari benteng itu. Dinding dan puncak batu raksasa itu berkilau diterpa sinar mentari pagi, pada saat dia bersih dari sungkupan awan. Dari benteng Tuntu Tari pula terlihat kemilau Kota Bau-Bau di waktu malam. Sangat romantis! Kota itu mempunyai hubungan emosional dengan masyarakat Kabaena. Bau-Bau adalah pusat kekuasaan politik, sosial, dan ekonomi bagi Kabaena baik di zaman Kesultanan Buton maupun di era kemerdekaan hingga terjadi pemekaran di era reformasi yang penuh gonjang ganjing. Kabaena melepaskan diri dari Kabupaten Buton dan bergabung dengan Kabupaten Bombana.

Desa Tangkeno dijuluki negeri di awan. Desa di lereng gunung Sangia Wita itu setiap saat tersungkup awan. Awan sedang merangkak turun di perkampungan Manuolo di desa tersebut.

Lalu, seperti apa batu beranak itu? Di atas sebidang lahan urukan batu kali, batu yang dimaksud menggeletak dalam posisi tengkurap. Sepintas lalu dari arah ekor batu itu tampak seperti buaya buntung (tanpa ekor). Di sebelah kanannya tengkurap pula batu serupa. Ini anaknya sebagaimana dimitoskan penduduk setempat. Disebut anaknya karena bentuk dan warnanya sama. Bedanya, dia lebih kecil. Panjang batu induk 1,3 meter dengan garis tengah kurang lebih 0,6 meter. Sedangkan anaknya cuma 52 centimeter panjang dengan garis menengah 21 centimeter.

Batu ajaib itu sebetulnya memiliki dua anak. Namun anak yang lebih kecil sering “dipinjam” tangan-tangan jahil. Keanehan terjadi menyusul pengambilan anak batu tersebut. Hujan lokal pasti turun jika anak batu dibawa pergi dari induknya. Alam seolah menangis sedih. “Ini bukan cerita, saya lihat dan rasakan sendiri peristiwa alam itu terjadi dalam cuaca musim kemarau”, tutur Dino, Sabtu tanggal 13 Oktober 2012 di lokasi batu beranak. Dino adalah warga Desa Lengora yang mengolah gula aren di sekitar batu beranak. Penduduk setempat menyebutnya watu amala-a (batu tempat memuja).

Warna watu amala-a sedikit berubah sesuai musim yang sedang berlangsung. Di musim kemarau, batu induk dan anaknya berwarna batu kali berbintik-bintik putih. Kemudian berwarna agak gelap berselimutkan lumut pada musim hujan. “Si bungsu” yang dipinjam penduduk bertangan jahil sekitar awal tahun 2012, hingga kini belum dikembalikan kepada induknya. Mudah-mudahan saja warga bersangkutan segera mengembalikan anak batu tersebut.

Menurut tradisi lisan, watu amala-a ditemukan seorang bernama Beledunia. Semula, Beledunia sering menunggangi batu itu di tengah arus Kali Waombu. Setelah sang penemu meninggal dunia, warga memindahkan batu itu ke tepian. Lokasinya dibuat agak tinggi dengan susunan batu kali. Sebelum agama Islam masuk Pulau Kabaena, batu itu menjadi tempat sesembahan.

Sekitar satu kilometer ke arah hilir Kali Waombu, terdapat pula sebuah jejak mirip telapak kaki manusia di lempengan batu. Penduduk setempat menyebutnya pinindano kalamboro (jejak telapak kaki raksasa). Dalam dongeng-dongeng rakyat masyarakat Kabaena raksasa diartikan sebagai manusia super: besar, kuat. Sehingga menginjak batu pun kalamboro meninggalkan jejak telapak kakinya.

Jejak itu tidak sempurna lagi. Jari-jari kaki tidak ada, mungkin akibat gerusan air sepanjang masa. Tetapi jejak itu sangat jelas adalah kaki kiri. Panjang jejak dari tumit hingga ke ujung ibu jari 33 centimeter, lebar di daerah pangkal jari-jari 22 centimeter, dan tengah 18 centimeter, dekat ujung tumit 11 centimeter. Di sekitar situ ada pula sebuah jejak tapak kuda di batu. Tidak begitu jelas apakah kaki kiri atau kanan. Perlu penelitian untuk diketahui apakah jejak-jejak itu mempunyai arti arkeologis atau hanya sebuah situs yang terbentuk oleh proses alam biasa, seperti halnya bangunan stalaktik dan stalaknit di goa-goa pegunungan karst.

Yang diduga keras merupakan jejak-jejak kehidupan purbakala adalah lesung batu (watu nohu) di Mata Lakambula (hulu Sungai Lakambula), tidak jauh dari air terjun (tondopa) yang menjadi salah satu obyek wisata menarik di Tangkeno. Lesung tersebut merupakan lubang dari lempengan batu besar yang permukaannya agak rata di tepi sebuah telaga di hulu Kali Lakambula. Ada lima lesung di lokasi itu namun hanya satu yang terbuat lebih sempurna dengan diameter mulut sekitar 25-30 centimeter. Dasar lasung mengerucut seperti lesung umumnya. Menurut penduduk setempat, watu nohu itu meiliki tiga alu. Salah salah satu di antaranya agak panjang, sedang dua lainnya lebih pendek. Salah satu yang lebih pendek sempat ditemukan anggota rombongan penulis saat ke mengunjungi situs tersebut tahun 1996. Alu yang menyerupai batu ulekan sambel, itu ditemukan terbenam di dasar telaga.

Boleh jadi lesung batu tersebut merupakan produk kebudayaan zaman mesolitikum (zaman batu tengah), lebih tua dari zaman batu besar (megalitikum). Menurut referensi yang ada, pada zaman mesolitikum kehidupan manusia dipandang lebih maju dibanding kehidupan masa batu tua (paelotikum). Manusia mulai hidup agak menetap dan mempunyai alat untuk mengolah makanan seperti lesung batu tadi.  (tulisan: Yamin Indas/ www.yaminindas.com)

 

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Opini

To Top