Connect with us

Puluhan Ruko Berdiri di Tanah Negara, Kerugian Mencapai Milyaran Rupiah

Uncategorized

Puluhan Ruko Berdiri di Tanah Negara, Kerugian Mencapai Milyaran Rupiah

 

KOLAKA,SUARAKENDARI.COM- Puluhan ruko yang sementara dibangun tertata rapi didepan kompleks pasar sentral Mekongga, Kolaka, Sulawesi Tenggara dianggap ilegal. Bahkan hal tersebut disinyalir kuat merugikan Negara hingga Puluhan Milyar Rupiah. Bangunan tingkat dua dan tiga tersebut nantinya sebagian besar akan digunakan sebagai tempat berjulan oleh para pemilik. Namun ada yang aneh dengan lokasi berdirinya ruko-ruko mewah itu. Lokasi tanah yang kurang lebih seluas 6 hektar adalah milik Peda Kolaka.

Belakangan diketahui lokasi itu sudah bersertifikat dan dikuasai oleh sejumlah masyarakat yang ada. Padahal Pemda Kolaka dalam rencana penataan Kota, lokasi tersebut diperuntukan sebagai ruang terbuka hijau. Hal ini pun menuai protes dari kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat.

Misalnya LSM Lingkar Demokrasi Rakyat (Lider) Sultra. Kordinator LSM Lider Sultra, Herman menilai jika berhitung kerugian Negara bisa mencapai puluhan Milyar, sebab saat ini harga jula lokasi disekitar pasar sentral Mekongga paling rendah satu juta rupiah per meternya. Bahkan terindikasi ada sejumlah mantan petinggi daerah Kolaka yang ikut bermain dilokasi tersebut sehingga pembangunan dilokasi itu bisa berjalan dengan mulus.

“Perubahan status dari milik pemda ke milik pribadi itu saat Amir Sahaka menjabat sebagai Plt Bupati Kolaka akhir tahun 2013 lalu. Bicara masalah kerugian bisa sampai puluhan milyar sebab lokasi tanah disitu kelas utama dengan nilai jual per meter paling rendah satu juta rupiah,” jelas Herman, kordinator LSM Lider Sultra, Kamis (01/05/2014).

Dia menambahkan lokasi tersebut hasil tukar guling antara Pemda Kolaka dengan pemilik awal dari keluarga Hapsah Tohanapi. “Saat Kabupaten Kolaka masih dipimpin Adel Berty, lahan tersebut memang dimiliki secara pribadi oleh keluarga Hapsah Tohanapi. Namun pada awal tahun 2000-an, lahan yang sebagian besar masih berupa rawa tersebut, ditukar guling (ruislag) dengan lokasi milik Pemda Kolaka  di bagian timur pasar Mekongga,” jelasnya.

Meski secara hukum tanah tersebut dimiliki Pemda, namun beberapa pihak mengklaimnya sebagai milik pribadi, yang dibuktikan dengan sertifikat kepemilikan. “Makanya sewaktu pak Buhari Matta masih Bupati, polisi pamong praja dikerahkan untuk menghentikan upaya pembangunan ruko di atas lahan itu. Buhari Matta menegaskan bahwa itu jalur hijau, milik pemerintah,” jelas Herman.

Kepemilikan Pemda Kolaka terhadap lokasi tersebut diperkuat oleh Kepala Inspektorat Kolaka, Arman Wahab. Kata dia beberapa tahun lalu saat masih menjabat sebagai camat Kolaka, memang lokasi itu merupakan milik Pemda Kolaka, namun dalam perjalanannya entah kenapa bisa berubah menjadi milik pribadi sejumlah pihak. “Itu hasil tukar guling, apakah itu jalur hijau atau bukan, yang saya tau itu memang milik pemerintah,” tegasnya.

Dia menambahkan proses tukar guling lokasi milik pemda, dengan lahan keluarga Hapsah Tohanapi, dilakukan saat ia masih menjabat sebagai camat Kolaka. “Saya sudah tidak ingat lagi persisnya berapa luasnya itu lokasi, tapi kalau tidak salah 6 hektar. Itu diambil, terus ditukar dengan lokasi milik pemda yang sekarang berdiri hotel Sutan Raja. Yang saya dengar memang ada tumpang tindih. Tapi tidak taulah itu. Soalnya kita tidak pegang dokumennya. Tapi itu bisa ditelusuri kalau mau,” ujarnya. ABDI

1 Comment

1 Comment

  1. baco

    May 2, 2014 at 9:52 pm

    kasi hijau mi dulu sisa2 kubangan hasil pertambangan yang ditinggalkan, toh juga lokasi ini bersertifikat SHM, bertambahnya ruko di kolaka yg masih minim bisa menambah geliat ekonomi, kasi selesai mi cepat jalan bypass pomalaa. itu lebih positif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Uncategorized

To Top