Connect with us

Potensi Situs Ramsar TNRAW Peluang Pengembangan Pariwisata Sultra

Pariwisata

Potensi Situs Ramsar TNRAW Peluang Pengembangan Pariwisata Sultra

Potensi Situs Ramsar TNRAW Peluang Pengembangan Pariwisata Sultra

Loaksi situs ramsar di TNRAW berkah bagi nelayan lokal. foto: Yoshasrul

SUARAKENDARI.COM-Konvensi tentang Lahan Basah pertama kali  berlangsung di Iran tahun 1971 dan  disebut “Konvensi Ramsar”. Konvensi ini merupakan perjanjian antar pemerintah yang mewujudkan komitmen negara-negara anggotanya untuk menjaga karakter ekologis dari Wetlands International.

Berbeda dengan konvensi lingkungan global lainnya, Ramsar tidak berafiliasi dengan sistem PBB Perjanjian Lingkungan Multilateral, tetapi bekerja sangat erat dengan MEA lain dan merupakan mitra penuh di antara cluster “keanekaragaman hayati” perjanjian dan kesepakatan.

Indonesia sendiri hingga saat ini telah memiliki 5 situs yang ditunjuk sebagai Wetlands International dengan luas permukaan 964.600 hektar, TNRAW adalah salah satunya.

Ditunjuknya TNRAW sebagai situs ramsar dunia, sebagai mana ditulis dalam Website Ramsar, tak lepas dari kondisi TNRAW yang merupakan salah satu kawasan konservasi yang paling penting di kawasan Wallacea, yang terdiri dari mangrove, padang rumput rawa gambut, hutan hujan dataran rendah tropis dan sub-montana hutan.

Situs ini kaya secara biologis, dengan lebih dari 500 spesies yang dicatat flora, 200 spesies burung, sebelas spesies reptil dan lebih dari 20 jenis ikan dan mamalia. Spesies endemik dan terancam banyak ditemukan di sini, dengan lebih dari 15 mamalia endemik Sulawesi seperti Anoa dataran rendah yang terancam punah (Bubalus depressicornis) dan rentan Sulawesi Luwak (Macrogalidia musschenbroeckii).

Taman ini merupakan persinggahan burung air bermigrasi penting untuk, dan mendukung populasi lebih dari 170 Sakti Bangau rentan (Mycteria cinerea) yang morethan tiga persen dari populasi dunia. Situs ini berisi habitat mangrove yang tersisa besar di Sulawesi Tenggara yang merupakan wilayah pembibitan penting dan pemijahan bagi ikan, udang dan kepiting.

Rawa-rawa dalam taman nasional (terutama Aopa Rawa Gambut) adalah pengatur penting dari air. Ini bertindak sebagai reservoir untuk air tawar, sedangkan run-off habitat membantu untuk mengontrol debit air. Rawa Aopa adalah lahan basah rawa gambut hanya mewakili di Sulawesi. Potensi situs ramsar berkelas dunia ini tentu saja membuka peluang baru bagi pengembangan pariwisata di Sulawesi Tenggara, yang jika dikelola dan dilindungi secara bijaksana akan memberikan dampak positif bagi pemerkonomian daerah. “Ini peluang yang harus ditangkap pemerintah kita untuk dapat dikembangkan menjadi bagian dari pengembangan sektor pariwisata berbasis edukasi lingkungan,”kata Yasrin Fior, pemerhati  pariwisata dari komunitas Ruruhi Project.

Sayangnya, ancaman ke situs ini cukup besar terutama ancaman penguasaan lahan oleh warga pendatang yang membuka perkebunan dan pertambangan termasuk pembalakan liar, perburuan burung air dan pengumpulan telur. Belum lagi adanya upaya pengalihan air Rawa Aopa sedang dikuras untuk mengarahkan air ke sekitar daerah-daerah pertanian.

Dampak paling serius dari berbagai tekanan yang dialami TNRAW saat ini adalah berpengaruh langsung pada ekosistem dalam kawasan. “Praktik illegal logging, perambahan dan pembakaran  menjadi ancaman paling nyata terhadapan keanekaragaman hayati di sana saat ini. Sebab taman nasional tak hanya rawa, melainkan memiliki kekayaan ekologis dengan tipe  ekosistem berbeda seperti, ekosistem mangrove, savanna dan hutan dataran. Bentangan topografis bervariasi, mulai dari datar, bergelombang sampai berbukit,”kata Yasrin.

Tekanan terhadap keberadaan taman nasional tentu saja dengan beragam kepentingan  melatarinya. Dalam analisis kepentingan  politik, pemerintah dan DPPRD sangat besar. Ini bisa jadi  soal jaul beli suara pada setiap momen pemilu.  Dan paling memprihatinkan lagi pemerintah telah melakukan pembiaran terhadap upaya pemilik modal sector pertambangan merambah kawasan TNRAW. Operasi pertambangan telah memasuki jauh ke jantung taman nasional dengan merusak kawasan hutan yang merupakan pertahanan terakhir sumber daya air. Kehadiran perusahaan-perusahaan tambang ini telah menimbulkan kecemasan besar dari warga dan pengelola taman nasional. Mereka berharap agar pemerintah daerah memberikan sikap tegas penolakan pada kehadiran tambang merambah kawasan taman nasional.

Luas ekosistem Rawa sendiri mencapai 24 ribu hektar, sedangkan  savana sekitar 30 ribu  hektar, dan ekosistem hutan mangrove (bakau) yang luasnya sekitar 6.000 hektar, setiap ekosistemnya memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi baik berupa flora (tumbuhan) maupun fauna (satwa).

Kondisi tersebut menyebabkan tingginya  keanekaragaman hayati jenis flora dan fauna yang terdapat didalamnya. Sampai dengan tahun 2002 telah tercatat beberapa jenis satwa liar yang berhasil diidentifikasi. Dari kelompok mamalia sebanyak 23 jenis, reptilian 7 jenis, pisces  8 jenis, aves 2007 jenis, ampibi 4 jenis, insecta, dan lain-lain.

Berdasarkan data hasil survey inventarisasi yang sudah dilakukan hingga tahun 2002, setidaknya di kawasan TNRAW tercatat sebanyak 501 jenis tumbuhan dari 110 famili. Diantaranya terdapat beberapa jenis tumbuhan yang dilindungi seperti Damar (Agathis homii) dan Kasumeeto (Dyospyros malabarica).

Sedangkan satwa liarnya, telah tercatat kurang lebih 23 jenis mamalia (antara lain :Codot Roset Sulawesi, Kuskus Beruang, Monyet Digo, Musang Sulawesi, Babi Hutan Sulawesi, Anoa, Rusa/Jonga, serta memiliki kurang lebih 7 jenis reftil antara lain : Biawak, Bulus, Buaya Muara, Ular Sawah, Soa-Soa dan Tokek). Selain itu TNRAW juga memiliki kurang lebih 8 jenis Pisces antara lain :Tambakang, Gabus, Lele, 207 jenis aves seperti Maleo, Mandar Dengkur, Kakatua Kecil Jambu Kuning dan 4 jenis amphibi dan jenis-je nis insecta.

Keanekaragaman tumbuhan di dalam kawasan ini sangat menonjol yaitu setidaknya tercatat 89 famili, 257 genus dan 323 spesies tumbuhan, diantaranya lara (Metrosideros petiolata), sisio (Cratoxylum formosum), kalapi (Callicarpa celebica), tongke (Bruguiera gimnorrhiza), lontar (Borassus flabellifer), dan bunga teratai (Victoria spp.).

Jenis primata yang ada yaitu tangkasi/podi (Tarsius spectrum spectrum) dan monyet hitam (Macaca nigra nigra). Satwa langka dan dilindungi lainnya seperti anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis), anoa pegunungan (B. quarlesi), soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), kuskus kerdil (Strigocuscus celebensis celebensis), rusa (Cervus timorensis djonga), babirusa (Babyrousa babyrussa celebensis), dan musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii musschenbroekii).

Dari sekian banyak jenis satwa yang mendiami areal Taman Nasional Rawa Watumohai, setidaknya terdapat 2 jenis satwa khas endemik Sulawesi yaitu Anoa (Bubalus sp) dan Maleo (Macrocephalon maleo). Selain itu masih banyak jenis satwa lain yang merupakan satwa endemik Sulawesi yang terdapat di areal TNRAW. Inilah yang melatar belakangi sehingga Rawa Aopa Watumohai ditetapkan sebagai Taman Nasional.

Rawa Aopa yang ditetapkan berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 756/kpts-II/1990 ini, telah ditata batas sejak tahun 1985 s/d 1987, dengan panjang batas keseluruhan 366.647 km yang terletak di empat wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Konawe, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Konawe Selatan, dan Kabupaten Bombana.

Minimnya jumlah petugas menjadi problem tersendiri menjaga luasnya kawasan TNRAW. Saat ini seluruh personil Balai TNRAW hanya ada 30 petugas polhut dan  enam orang staf kantor.

Dengan luas kawasan 105.000 hektar maka dari julah petugas yang ada tentu tidak sebanding, yang artinya seorang petugas polhut harus menjaga 3500 hektar. Padahal idealnya satu petugas harusnya menjaga 900 Hektar pada kondisi  taman yang sudah lengkap sarana dan prasarana sebagaimana yangberlaku di sejumlah taman nasional di pulau Jawa.

Kondisi ini membuat tingkat sedimentasi dalam ekosistem rawa semakin tahun semakin besar. Hingga tahun 2011 sedimentasi lumpur terus meningkat dan sebagain lahan basah telah menjadi lahan kering. “Tahun 1980-an dalamnya rawa mencapai 12 meter, dan pada hasil pengukuran terakhir tahun 2011 ini kedalaman tinggal 6 meter saja,”ungkap Ajat Sudrajat, mantan petugas Balai TNRAW. (YOS HASRUL)

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Pariwisata

To Top