Peringatan Kota Kendari 1831-2015

KENDARI, SUARAKENDARI.COM-Kota Kendari dalam berbagai dimensi dapat dikatakan sudah cukup tua. Semua sejarah itu didasari atas fakta pengakuan lisan maupun dokumentasi. Dan seperti tertulis tentang kendari diperoleh dari Vosmaer (1839) yang pernah mendatangi Kendari pada tanggal 9 Mei 1831. Dalam rentang tersebut Kota kendari pun sudah berusia 184, tepat hari ini 9 Mei 2015.

Terbentuknya Kota Kendari yang berpenduduk asli suku Tolaki ini sebelumnya diawali dengan terbukanya teluk yang kemudian menjadi pelabuhan bagi pedagang bajo dan bugis. Terakhir dua etnis ini bermukim disekitar teluk kendari.

Pada awal abad ke-19 hingga pada kunjungan seorang Belanda bernama Vosmaer di tahun 1831, kendari sudah menjadi tempat penimbunan barang (pelabuhan transit) hasil bumi pedalaman dans ekitar teluk Tolo (Sulawesi tengah). Komoditi ini kemudian dikirim ke Makassar, kawasan barat nusantara hingga ke singapura.

Saat datang 184 silam Vosmaer kemudian membuat peta teluk kendari yang yang kemudian dikenal dengan Vosmaer’s Baai. Ia lalu mendirikan Lodge (Loji=kantor dagang) di sisi utara teluk kendari. Satu tahun kemudian Vosmaer mendirikan rumah bagi raja Laiwoi yang bernama Tebau yang sbeelumnya bermukim di wilayah Baruga. Dari runtutan sejarah tersebut terungkap Kota kendari memang telah ada sejak awal abad 19. dan secara resmi menjadi ibukotra kerajaan Laiwoi di eksitar teluk tahun 1832.

Kota kendari di masa Pemerintahan Kolonial Belanda merupakan ibu kota kewedanan dan pusat onder afdeling Laiwoi yang luas wilayahnya mencapai 31.420 kilo meter persegi. Sejalan dengan perkembangan dan dinamika ekonomi sebagai sentar perdagangan dan pelabuhan laut antarpulau makakendari terus tumbuh hingga menjadi ibukota kabupaten dan masuk dalam wilayah provinsi Sulawesi Selatan Tenggara.

Dengan terbitnya UU Nomor 13 tahun 1964 tentang pembentukan Sultra, maka Kota Kendari menjadi ibukota provinsi dengan dua kecamatan yakni Mandonga dan Kendari dengan cakupan luas wilayah 76.760 kilo meter persegi. Melalui perjuangan panjang untuk merubah status wilayah , maka UU nomor 6 tahun 1995 tanggal 3 agustus, status kota adminstratif (Kotif) berumah menjadi kota madya dan diremikan langsung oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) ketika ituYogi S Memet pada tanggal 27 september 1995.

Dengan status kota madya, sampai kini kendari tercatat telah dipimpin lima periode empat pejabat yakni Lasjkar Koedoes (Pj Walikota 1995-1996), Masyhur Masie Abunawas (1996-2001), Andi Kaharuddin (Pj Walikota 2002) Masyhur Masie Abunawas – Andi Musakiir Mustafa (2002-2007). Dan kini Ir Asrun M.Eng – Musadar Mappasomba SP, MP dipilih oleh rakyat Kota Kendari memegang kendali pemerintahan hingga 2012 mendatang.

Dengan geliat pembangunan yang kian merangkak pesat kota kendari kini mempunyai 10 kecamatan dan 64 kelurahan dengan jumlah penduduk mencapai 280.239 jiwa Untuk mengimbangi laju pembangunan ke depan.(Tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *